Kisah saya dan kursi kerja

Ceritanya hampir setiap pagi saat akan duduk dikursi kantor, saya menemukan banyak sekali bulu kucing bertebaran diatasnya. Tidak hanya dikursi yang biasa saya duduki saja, melainkan beberapa kursi lainnya juga. Ini bukan tentang masalah love the animal or no, namun hal demikian cukup mengganggu aktivitas pagi hari dikantor.

Apalagi diatas meja seringkali terdapat berkas dan dokumen penting beserta cangkir minum sehari-hari. Belum diantara rekan-rekan sejawat ada yang alergi terhadap bulu kucing. As personal, I don’t have any problem with the cat. Indeed I love cat and I have cats at home. So again, it is not about hate or love at all.

Saya kemudian teringat dengan salah satu cara yang pernah digunakan oleh Khalifah Umar ibn Khattab. Akhirnya saya ambil secarik kertas dan disana saya tuliskan: Bismillahirrohmanirrohim. Kucing dilarang duduk disini.

Alhamdulillah ternyata metode ini tentunya bi-idznillah, berhasil. Sejak surat tersebut saya tulis dan setiap pulang kerja saya letakkan diatas kursi kerja, tidak ada lagi bulu-bulu kucing bertebaran disana.

ilustrasi_kursi

Doesn’t make sense untuk anda? But this is my true story. Bukankah menurut Profesor Hashimoto dari Jepang, air yang notabene dalam anggapan kita selama ini benda mati ternyata molekul-molekulnya bisa memberikan reaksi terhadap suara yang kita berikan padanya?

Bukankah al-Qur’an secara jelas pula menceritakan bila Nabi Sulaiman bisa berbicara bahasa binatang? Atau another storynya ketika al-Qur’an merekam pembicaraan para semut yang lari menghindar dari injakan kaki tentara Nabi Sulaiman? Bukankah ada indikasi jika sebenarnya binatang pun dapat kita ajak berkomunikasi? Bukankah banyak kita lihat kisah persahabatan hewan dan manusia? We are able to have understanding each others and it is not impossible!

Adapun kisah tentang Khalifah Umar tadi, baiklah saya tuliskan juga disini. Abdul Hakim meriwayatkan dalam Futuhu Mishra (Sejarah penaklukan Mesir), dari Abu asy-Syaikh dan Ibnu Asakir dari Qais bin Hajjaj, dari orang yang menceritakannya:

“Ketika Amr bin Ash menaklukkan Mesir, maka para penduduk pun berdatangan kepadanya disaat mereka memasuki bulan Bu’unah dan mengadu kepadanya :

‘Wahai gubernur, sesungguhnya sungai Nil kami ini mempunyai suatu tradisi yang airnya tidak akan mengalir kecuali kalau kita melakukan tradisi tersebut.’

Amr bin Ash bertanya :
‘Tradisi apakah itu ?’; mereka menjawab : ‘Kalau sudah lewat tanggal 12 bulan ini, kami akan mengambil seorang anak gadis dari kedua orangtuanya, kami bujuk lalu ia akan kami hiasi dengan pakaian dan perhiasan yang menawan sampai akhirnya kami lemparkan kesungai Nil.’

Amr bin Ash lalu berkata kepada mereka :
‘Sesungguhnya tradisi ini tidak ada didalam Islam.
Islam menghapus segala tradisi para leluhur sebelumnya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.’

Lalu mereka bersabar menunggu selama 3 bulan berturut-turut (mulai bulan Bu’unah, Abib dan Masra -kalender non Arab yang berlaku di Mesir kala itu) tanpa menjatuhkan seorang korbanpun, tapi tidak sedikitpun air sungai Nil mengalir seperti yang diharapkan sehingga mereka berniat untuk pindah.

Ketika Amr bin Ash mengetahui peristiwa ini, ia segera berkirim surat kepada Khalifah Umar dikota Madinah yang isinya menceritakan peristiwa tersebut. Maka Khalifah Umar bin Khatab memberikan balasan surat yang isinya sebagai berikut :

“Engkau benar, sesungguhnya Islam menghilangkan segala tradisi para leluhur. Bersama surat ini, kukirimkan pula kepadamu beberapa lembar kertas, dan bila surat ini telah sampai kepadamu, maka lemparkanlah lembaran kertas itu kesungai Nil !”

Setelah surat dari Khalifah Umar ini diterimanya, lalu Amr bin Ash membuka lembaran kertas yang dimaksud, ternyata didalamnya terdapat tulisan :

“Dari hamba Allah Umar, Amirul Mukminin, kepada sungai Nil penduduk Mesir.,

Amma Ba’du.

Jika engkau mengalir semata-mata karena dirimu sendiri, maka janganlah mengalir !
Namun jika yang mengalirkanmu adalah Dzat yang Maha Esa lagi Maha Perkasa, maka kami memohon kepada Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa untuk mengalirkanmu.!”

Sehari sebelum hari salib (salah satu hari berdasarkan kalender Mesir saat itu), Amr bin Ash lalu melemparkan kertas dari Khalifah Umar ini kesungai Nil, sementara penduduk Mesir mulai berkemas untuk pindah kedaerah lain, sebab kesejahteraan mereka di Mesir ketika itu sangat bergantung pada sungai tersebut.

Maka pada pagi hari, tepatnya pada hari salib, Allah Swt telah mengalirkan air sungai Nil sampai sedalam 16 hasta. Dengan demikian, terhapuslah tradisi buruk itu dari penduduk Mesir.”

Demikianlah sedikit untaian riwayat salah seorang sahabat utama Rasullah Saw yang bernama Umar bin Khatab r.a, yang nama besar dan keagungan jiwanya tidak pernah terlepas dari sejarah peradaban Islam sepanjang masa, semoga ada hikmah yang bisa kita ambil didalamnya dan tentu saja akan menambah khasanah pengetahuan kita bersama.

Diambil dari buku:
“Fatwa dan Ijtihad Umar bin Khatab”
Ensiklopedia berbagai persoalan Fiqih
(Fatawa wa Aqdhiyah Amiril Mukminin Umar ibn al-Khathtab)
Karya Muhammad Abdul Aziz al-Halawi
Maktabah al-Qur’an, Bulaq – Kairo 1986
diterjemahkan oleh Wasmukan dan Ust. Zubeir Suryadi Abdullah, Lc
Terbitan Risalah Gusti 1999

Semoga bermanfaat.
Jakabaring, 28 April 2015

Mgs. Armansyah Sutan Sampono Azmatkhan.
Original Posted:
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10153190171768444&set=a.10150222596188444.336520.727558443&type=1.

Advertisements

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: