Perjanjian dengan Setan: Hitler vs Copperfield

Maraknya pemberitaan terkait ditemukannya surat perjanjian antara Adolf Hitler dengan Iblis mengingatkan saya dengan pemberitaan sejenis pada David Copperfield yang disampaikan oleh seorang penulis buku bernama Muhammad Isa Dawud.

Terlepas dari benar atau tidaknya surat-surat yang dinyatakan tersebut, tetapi terjadinya persekutuan antara Jin dan manusia, merupakan fenomena adikodrati yang dibenarkan oleh al-Qur’an.

“Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”. (Sumber: al-Qur’an, surah al-Jin [72] ayat 6)

Biasanya kesepakatan yang terwujud antara manusia dan jin ini terkait dengan pemenuhan ambisi tertentu sang manusia itu sendiri agar dapat terpenuhi. Misalnya agar ia memperoleh harta yang berlimpah, jabatan, disegani masyarakat, memiliki ilmu kebal, ilmu gendam, guna-guna dan sebagainya dan seterusnya.

Jin sendiri dalam al-Qur’an dan al-Hadist memang digambarkan sebagai sosok makhluk yang digjaya dan memiliki sejumlah kemampuan diluar batas kesanggupan manusia normal. Misalnya ada Jin yang dapat terbang, Jin yang dapat memindahkan suatu benda yang berada pada lokasi yang sangat jauh dalam waktu kejapan mata sebagaimana terdapat dalam cerita Nabi Sulaiman dan Ifrit, ada Jin yang dapat menyerupai sosok manusia tertentu dan sebagainya dan seterusnya.

Singkatnya bahwa perjanjian antara jin dan manusia dapat dibenarkan secara nash dan akal sehat. Oleh sebab itu kita sering membaca dan mendengar adanya orang yang bersemedi digoa tertentu, merendam tubuhnya di kali ini dan kali itu, tidur di kuburan atau dibawah pohon-pohon besar yang dianggap kramat, menghaturkan sesajen pada penghuni gunung a dan gunung b dan lain sebagainya.

Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu semua kepada Adam”, lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?” Iblis berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil”.

Tuhan berfirman: “Pergilah, barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahanam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan yang berkendaraan dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, Kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga”. (Sumber: al-Qur’an surah al-Isra [76] ayat 61 s/d 65)

Anyway sahabatku semuanya…. apalah artinya jabatan dan kekayaan yang sifatnya temporary ini dibanding dengan kebahagiaan yang sebenarnya. Sampai berapa lama kita ini dapat bertahan hidup diatas dunia? Saya belum membaca ada orang yang dapat hidup lebih dari 200 tahun hanya karena ia berserikat dengan Jin. Bahkan Jin-jin itu sendiripun punya stock nyawa yang sama dengan kita, mereka juga dapat mati dan dapat terbunuh. Apakah kita akan menghambakan diri pada makhluk yang hakekatnya sama seperti kita?

Akankah kita menjual akidah kita, menjual iman kita, menjual agama kita, menjual kebahagiaan batin kita dengan mengikat perjanjian tertentu pada Jin-jin jahat itu? Sementara ada sebagian dari Jin itu sendiri malah bertaubat dan menjadi muslim, mengikuti ajaran Allah yang hanif sebagaiman dituntunkan oleh Rasulullah. Tidakkah orang-orang yang waras akalnya mau berpikir?

Shahih Muslim 682: Ibnu Mas’d berkata : “Kami pernah pada suatu malam bersama Rasulullah, lalu kami kehilangan beliau sehingga kami mencarinya di lembah dan setapak jelan ke gunung. Maka kami berkata, ‘Jin membawanya pergi atau membunuhnya secara sembunyi-sembunyi.’ Maka kami bermalam dengan malam yang jelek yang para sahabat turut bersama melalui malam itu. Pada pagi harinya, tiba-tiba beliau datang dari arah Hira’. Perawi berkata, “Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami telah kehilanganmu, lalu mencarimu, maka kami tidak mendapatkanmu hingga kami bermalam pada malam yang jelek yang para sahabat turut bersama melalui malam-malam itu.’ Beliau menjawab, ‘Seorang dai dari kalangan jin mendatangiku, maka aku pergi bersamanya, lalu aku membaca al-Qur’an di hadapan mereka.’ Perawi berkata, ‘Lalu beliau beranjak pergi bersama kami untuk menunjukkan jejak-jejak mereka dan jejak perapian mereka.

Musnad Ahmad 3758: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar telah menceritakan kepada kami Yunus dari Az Zuhri dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semalam aku membacakan Al Qur`an kepada sekumpulan jin di Al Hujun.”

Akhirnya, hanya kepada Allah saja kita pantas untuk menghambakan diri. Memohon dan berharap. Tidak menyekutukan Allah dengan makhluk-makhlukNya, siapapun mereka adanya. Toh mereka sendiri berharap dan bergantung pada Allah juga. Jika Allah tidak mengizinkan perbuatan mereka terjadi ya tidak akan terjadi juga, meskipun mereka adalah bangsa Jin yang memiliki kemampuan hebat seperti apapun.

Lalu bagaimana cara menghadapi orang-orang yang berserikat dengan Jin itu? Jawabnya bisa menjadi sangat panjang dengan penguraian yang lebih detil, tetapi saat ini saya cukupkan saja satu cara untuk melawan orang-orang yang ngelmu dengan bersekutu pada Jin untuk menundukkan manusia lainnya semacam ilmu gendam, ilmu guna-guna dan sejenisnya. InsyaAllah jika dilakukan dengan keyakinan yang penuh kepada Allah, akan bermanfaat.

Sunan Nasa’i 5399: Telah mengabarkan kepada kami Hillal bin Al ‘Ala ia berkata; telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Sulaiman ia berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Abbad dari Al Jurairi dari Abu Nadlrah dari Abu Sa’id ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berlindung dari tatapan mata jahat bangsa jin dan manusia. Maka saat turun surat Mu’awwidzatain (surat Al falaq dan surat An Naas) beliau membaca keduanya dan meninggalkan selain itu.”

Salam dari Palembang Darussalam.
10 Pebruari 2015

Mgs. Armansyah Azmatkhan.

https://www.facebook.com/armansyah/posts/10153007728988444

Advertisements

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: