Raja Salman, Charlie Hebdo dan Kita

Kisah tentang Raja Salman yang meninggalkan Obama saat upacara penyambutannya di bandara Arab Saudi karena bertepatan dengan tibanya waktu sholat memang pantas untuk diapresiasi. Tetapi kiranya bagi kita tidak hanya selesai memberi apresiasi saja. Pertanyaannya adalah bagaimana dengan kita sendiri?

Sekedar kilas balik, sekitar 2009-2011, saya ada kelas siang. Mulai dari yang start jam 13.00 dan ada juga yang start jam 15.30. Saya membuat peraturan khusus yang wajib dilakukan oleh para siswa. Peraturan itu adalah mereka tidak saya perbolehkan masuk kedalam kelas jika mereka belum mendirikan sholatnya.

Kecerdasan dunia bisa dikejar, nilai hanyalah deretan angka diatas kertas. Tapi untuk menumbuhkan murid kita agar juga cerdas secara ukhrowinya adalah hal yang sulit. Kita juga sebagai guru ikut dibebani oleh dosa bila sampai melarang murid kita untuk mengerjakan sholat dan memburu mereka agar masuk kelas setelah makan siang. Apalagi bila makan siang dan sholatnya harus bergantian, harus antri dan sebagainya. Hal ini terus saya terapkan sampai hari ini dimana saya masih memiliki kelas sore. Untuk kelas pagi juga demikian. Ada siswa yang permisi ingin sholat Dhuha… ya silahkan. Tidak saya larang. Malah di support. Beri saja range waktu agar tidak disalah gunakan. Jika lewat dari waktu yang sudah kita tentukan maka harus ada konsekwensi tersendiri. Hal tersebut juga mengajarkan kedisiplinan buat mereka.

Intinya adalah jika bukan kita sendiri yang menghormati agama kita, siapa lagi yang kita harapkan? Akankah berharap pada charlie hebdo? Yang bener saja smile emoticon

Semoga cerita dan status ini bermanfaat.

Armansyah Azmatkhan.

Advertisements
%d bloggers like this: