Pemimpin dan Boss

Pemimpin itu tidak harus terbatas pada seseorang yang menjabat suatu jabatan struktural tertentu. Misalnya ia sebagai seorang raja, presiden, gubernur, kepala dinas, kepala bagian, direktur, kepala sekolah, ketua yayasan, ketua akademik, ketua rt dan seterusnya dan sebagainya. Itu hanya kepemimpinan yang bersifat sementara. Kepemimpinan periodik. Ada batas waktunya. Begitu selesai periode dia menjabat maka posisi itu akan beralih pada orang lain.

Tidak, bukan semata-mata yang begini ini disebut sebagai pemimpin. Pemimpin tidak harus selalu mendapatkan legitimasi formal.

Menurut Rasulullah, Kullukum roo’in wamas’uulun ‘an roo’iyyatihi. Fal-imaamu roo’in wa mas’uulun ‘an roo’iyyatihi war-rojulu fii ahlihi roo’in wa huwa mas’uulun ‘an roo’iyyatih wal mar aatu fii bayti zawjiha roo ‘iyatu wahiya mas ‘uulatu ‘an roo’iyyatiha wal khoodimu fii maali sayyidihi roo ‘in wahuwa mas ‘uulun ‘an roo ‘iyyatihi

Artinya : Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam (kepala Negara) adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami dalam keluarganya adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas orang yang dipimpinnya. Seorang isteri di dalam rumah tangga suaminya adalah pemimpin dia akan diminta pertanggung jawaban atas siapa yang dipimpinnya. Seorang pembantu dalam urusan harta tuannya adalah pemimpin dan dia akan diminta pertanggung jawaban atasnya. (Shahih Bukhari No. 2371)

Disisi lain, al-Qur’an pada surah Az-Zukhruf ayat 54 juga menggambarkan bagaimana seorang Fir’aun dapat memberikan pengaruh pada kaumnya sehingga mereka tunduk dibawah keinginannya. Hal ini selaras pula dengan apa yang dikatakan oleh John Quincy Adams: If your actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more, you are a leader.

Oleh sebab itu maka pemimpin dan kepemimpinan memang secara langsung berkaitan dengan tanggung jawab dan pengaruh, tetapi hal itu bukan sebatas posisi sektoral tertentu. Semua orang, semua kita, apapun fungsi dan jabatan kita, apapun posisi kita ditengah masyarakat, ditengah keluarga bahkan terhadap diri kita sendiripun maka kita adalah seorang pemimpin. Bukankah jelas ayatnya di al-Qur’an surah al-Israa ayat 36 : Walaa taqfu maa laisa laka bihi ‘ilmun innassam’a wal bashara wal fu’aada kullu uula-ika kaana ‘anhu mas-uulaa yang artinya:

Dan janganlah kamu mengikuti, apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya; sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-jawabannya.

Pemimpin periodik adalah orang yang ditunjuk, diserahi mandat dan diberikan kekuasaan dalam batas waktu tertentu. Boleh jadi sebenarnya orang itu tidak memiliki kredibelitas sebagai seorang pemimpin. Boleh jadi, jabatan kepemimpinan itu didapat karena faktor pencitraan yang luar biasa bagus, menjilat atasan umpamanya, atau boleh jadi pula karena ia didukung dengan permainan uang atau money politic yang besar, kedekatan lobi-lobi pada sejumlah pihak yang berkompeten serta adanya sentimen kepentingan tertentu.

Pernah dalam sebuah sesi presentasi, ada siswa yang menampilkan sebuah slide berisikan cita-cita di masa depan dengan tulisan : I am not like a boss, I am a boss (soon).

Kalimat ini saya rubah menjadi I am not like a leader, I am a leader. Perubahan ada pada kata Boss menjadi Leader.

Ketika kita menggunakan term Boss maka istilah tersebut cenderung bermakna negatif. Boss lebih kepada sifat pemerintahan yang otoriter, egois dan suka-suka dalam mengatur dan membuat kebijakan. Boss menciptakan suasana ketakutan serta tidak nyaman pada lingkungannya, pada anak buahnya atau pada karyawannya. Sementara Leader adalah pemimpin yang justru menumbuhkan iklim kepercayaan dan persahabatan. Ketika terjadi kesalahan maka Boss akan mulai mencari kesalahan itu pada lingkungannya dan mencari pembenaran akan tindakannya.

Boss akan main atur ini begini dan itu begitu bahkan tanpa sebuah kejelasan dari aturan itu sendiri, sementara Leader akan memusyawarahkan bersama dan mengembangkan iklim komunikatif dengan lingkungannya serta mengambil kebijakan yang telah didahului oleh pertimbangan yang matang. Sistematis atau terstruktur.

Pemimpin sejati adalah orang yang memang pengaruhnya di ikuti oleh banyak orang, tindakannya menjadi inspirasi, kata-kata dan pemikirannya menjadi pertimbangan lahirnya sebuah keputusan serta orang yang dapat menjaga kehormatan amanah yang ada padanya.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (Surah al-Anfaal ayat 27)

Salam dari Palembang Darussalam.
Armansyah Azmatkhan, 03 Pebruari 2015

Advertisements

Raja Salman, Charlie Hebdo dan Kita

Kisah tentang Raja Salman yang meninggalkan Obama saat upacara penyambutannya di bandara Arab Saudi karena bertepatan dengan tibanya waktu sholat memang pantas untuk diapresiasi. Tetapi kiranya bagi kita tidak hanya selesai memberi apresiasi saja. Pertanyaannya adalah bagaimana dengan kita sendiri?

Sekedar kilas balik, sekitar 2009-2011, saya ada kelas siang. Mulai dari yang start jam 13.00 dan ada juga yang start jam 15.30. Saya membuat peraturan khusus yang wajib dilakukan oleh para siswa. Peraturan itu adalah mereka tidak saya perbolehkan masuk kedalam kelas jika mereka belum mendirikan sholatnya.

Kecerdasan dunia bisa dikejar, nilai hanyalah deretan angka diatas kertas. Tapi untuk menumbuhkan murid kita agar juga cerdas secara ukhrowinya adalah hal yang sulit. Kita juga sebagai guru ikut dibebani oleh dosa bila sampai melarang murid kita untuk mengerjakan sholat dan memburu mereka agar masuk kelas setelah makan siang. Apalagi bila makan siang dan sholatnya harus bergantian, harus antri dan sebagainya. Hal ini terus saya terapkan sampai hari ini dimana saya masih memiliki kelas sore. Untuk kelas pagi juga demikian. Ada siswa yang permisi ingin sholat Dhuha… ya silahkan. Tidak saya larang. Malah di support. Beri saja range waktu agar tidak disalah gunakan. Jika lewat dari waktu yang sudah kita tentukan maka harus ada konsekwensi tersendiri. Hal tersebut juga mengajarkan kedisiplinan buat mereka.

Intinya adalah jika bukan kita sendiri yang menghormati agama kita, siapa lagi yang kita harapkan? Akankah berharap pada charlie hebdo? Yang bener saja smile emoticon

Semoga cerita dan status ini bermanfaat.

Armansyah Azmatkhan.

Wafatnya Raja Abdullah dan kebencian kita

Sejak Raja Abdullah wafat, saya melihat cukup banyak ekspresi orang yang kesenangan terhadap kematiannya karena beberapa tindakan beliau selama ini yang dianggap tidak memihak pada kepentingan umat Islam, salah satunya misalnya adalah bersekutu dengan Amerika dan membuka hubungan bilateral dengan Israel.

Sebagai pribadi, saya juga sebenarnya juga demikian. Bisa dilihat posting-posting saya dibawah tahun 2012. Tapi ya sudahlah, sekarang orangnya juga sudah wafat. Tidak baik membuka aib orang yang sudah tidak ada lagi. Saya bukan tipikal orang yang suka melakukan hal-hal yang semacam itu. Adalah lebih baik kita mendoakan beliau saja agar dosa-dosanya itu diampuni Allah. Jikapun kelak Allah akan tetap menghukumnya, ya itu adalah hak prerogatifnya Allah. Sementara kita, lebih baik mencukupkan semua caci maki serta ekspresi kebencian tersebut dan tidak memperpanjangnya lagi.

Mari berharap agar raja Arab Saudi yang baru, Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dapat jauh lebih baik lagi dalam menjaga kepentingan umat Islam dan membela hak-hak mereka.

Shahih Bukhari 6035: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ja’d telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Al A’masy dari Mujahid dari ‘Aisyah mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mencaci orang yang telah mati, sebab mereka telah menghadapi apa yang mereka lakukan.”

Sunan Nasa’i 1910: Telah mengabarkan kepada kami Humaid bin Mas’adah dari Bisyr bin Al Mufadldlal dari Syu’bah dari Sulaiman Al A’masy dari Mujahid dari ‘Aisyah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mencela orang-orang yang telah meninggal dunia, karena mereka telah sampai kepada apa yang mereka lakukan (pembalasan amal).”

Musnad Ahmad 17499: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ziyad ia berkata, saya mendengar Al Mughirah bin Syu’bah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kami mencaci orang-orang yang telah menjadi mayat, sehingga kalian pun menyakiti mereka yang masih hidup.”

Salam dari Palembang Darussalam.
26 Januari 2015

Armansyah Azmatkhan.

Ananda bertanya tentang Alien

Selepas sholat Maghrib berjemaah beberapa malam lalu, ananda nomor dua, Haura, bertanya pada saya dalam sesi liqo:

Pa, apakah Alien itu memang ada? | Sambil senyum saya jawab dengan pertanyaan kembali: Nak, rumah kita ini ada berapa kamar? | Dijawab sama Haura : Ada 4 kamar pa. Kamar papa-mama, kamar kakak, kamar ayuk sama adek dan kamar Nyai (Nenek). | Nah, jika rumah kita ini punya 6 sampai 10 kamar, bagaimana? | Haura Jawab: Ya sia-sia dong Pa, masak dibiarkan kosong saja. | Nah, begitu juga kira-kira fungsi dari planet-planet yang ada di semesta kita nak. Khan Ayuk sudah belajar di IPA, bahwa selain bumi, diluar angkasa sana ada begitu banyak planet dan gugusan bintangnya, bahkan ada banyak juga galaksi. Lalu, apakah menurut Ayuk, Allah akan menciptakan tempat-tempat itu secara sia-sia tanpa pengisinya? Hanya untuk menjadi hiasan semata-mata? 

Haura tampaknya sudah menangkap arah pembicaraan saya, lalu kemudian menjawab: Jika begitu Alien itu ada disana yo Pa. | Saya: InsyaAllah pastinya demikian nak. Allah sudah mengatakan bahwa DIA menyebarkan Dabbah di langit dan dibumi serta apa-apa yang ada diantara keduanya. Semua itu diciptakan secara Haq agar menjadi pemikiran bagi kita orang yang berakal. Allah tidak menjadikan itu untuk main-main saja.

Haura bertanya lagi: Apakah Alien itu sama seperti kita pa? | Saya jawab: Namanya Dabbah itu adalah makhluk hidup. Baik dia berupa hewan maupun makhluk lainnya termasuk misalnya seperti kita ini, manusia, atau seperti Jin, seperti cacing, seperti lintah, seperti kecoak dan sebagainya. Bahkan jika air itu memiliki kehidupan, maka airpun termasuk sebagai Dabbah. Jika tetumbuhan itu memiliki kehidupan maka tumbuhan itupun termasuk sebagai Dabbah. Dan kita umumnya menyebut makhluk-makhluk yang diluar manusia di bumi sebagai Alien.

Si Kakak lalu tiba-tiba menyeletuk bertanya : Nah Pa, Kalau Alien itu adalah Dabbah seperti yang papa katakan tadi, mungkin saya ada yang seperti kita khan Pa? | Saya mengangguk membenarkan: ya, sangat bisa saja begitu nak. | Kakak Melanjutkan : Lalu apakah mereka punya Nabi dan Rasul juga Pa? Apakah Nabi Muhammad juga harus mereka imani Pa? | Saya tersenyum lalu jawab: Iya nak, didalam al-Qur’an sudah dijelaskan bahwa setiap umat itu pasti akan didatangkan Rasul-Rasul dari jenis mereka sendiri.

Jadi logikanya, jika di planet-planet itu atau di bintang-bintang itu ada makhluk hidup berakal seperti kita maka kepada mereka tentu juga diutus Rasul-Rasul Tuhan. Lalu tentang Nabi Muhammad, beliau adalah Bani Adam, maka misi utamanya ditujukan untuk kita para Bani Adam.

Jika kemudian Nabi Muhammad juga diutus kepada bangsa Jin seperti yang pernah papa ceritakan tempo hari maka disitulah universalitas kenabian Muhammad, Nabi kita itu diutus kepada semesta alam. Jadi syari’atnya tentu juga sama dengan syari’at para Nabi dan Rasul dimanapun termasuk diberbagai planet disemesta raya ini. Sebab mereka berasal dari satu Tuhan, yaitu Allah. Sehingga bila para Alien itu percaya pada Nabi-nabi mereka disana, tentu konsekwensi logisnya juga merekapun secara otomatis harus percaya dengan Nabi-nabi kita kaum Bani Adam.

Lalu Pa, apakah mungkin kita bertemu mereka? | InsyaAllah nak. Segala sesuatu dapat saja terjadi. Mereka juga hamba Allah, sama seperti kita. Jika teknologi kita sudah sampai pada taraf penerbangan antar planet seperti di film-film itu atau kita bisa teleportasi, maka besar kemungkinan kita dapat bertemu muka dengan mereka. Wallahu a’lam.

Semoga dialog ini bermanfaat.
Salam dari Palembang Darussalam.
29 Januari 2015

Armansyah Azmatkhan.

Bukan Bangga, tapi terhina jika Muslimah tampil di Miss Universe

Tampilnya perwakilan Indonesia di ajang Miss Universe sama sekali bukanlah hal yang membanggakan, ditinjau dari sudut pandang syari’at Islam sebagai agama yang dipeluk dan diyakini oleh mayoritas anak bangsa negeri ini. Islam sudah mengatur secara jelas batasan-batasan aurat dan juga penampilan seorang muslimah.

Mulai dari rambut yang wajib ditutup, dada yang wajib ditutup, berpakaian yang longgar dan tidak mencetak bentuk tubuh dan seterusnya.

 

batasan_aurat

Saya tidak meminta anda untuk mencari tahu tentang pakaian miss universe, sekali-kali tidak, sebab anda akan terjebak dengan zinah mata bila melakukannya dan sayapun kena getah dosanya sebab sudah meminta anda untuk melihatnya. Tapi saya sebagai muslim sama sekali tidak bangga bahkan merasa malu dan terhina jika malah diminta untuk memberi apresiasi positip terhadap perhelatan maksiat dunia tersebut.

Catatan akhir : Banyak orang muslim yang ternyata tidak hidup sebagai muslim. Banyak orang Islam yang justru tak tahu syari’at dan kewajibannya dalam beragama. Ingatlah bahwa umur tidaklah abadi, kita akan ditanya dan pasti akan ditanya oleh Allah. Mengapa kita mengabaikan syari’at-Nya?

Salam dari Palembang Darussalam.
31 Januari 2015

Armansyah Azmatkhan.

 

%d bloggers like this: