Seri TDL Kristologi: Logika Tauhid

Seri Tauhid dan Logika Kristologi.
“Logika Tauhid”
Oleh. Armansyah
Penulis Buku “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih” dan “Jejak Nabi Palsu”

Keimanan adalah keyakinan, yang dalam Islam wajib dicapai dengan penuh kesadaran dan pengertian, karena hanya dengan inilah kesetiaan tunggal pada Islam (tauhid) bisa diharapkan. Islam tidak menawarkan keyakinan terhadapnya melalui sebungkus mie instan atau kebutuhan bahan pokok tertentu. Oleh sebab itu banyak yang menjadi mualaf adalah orang-orang yang memang mau menggunakan akalnya untuk berpikir secara sehat terhadap agama.

Berbicara tentang keyakinan didalam Islam, maka kita akan bicara tentang konsep ketuhanannya. Ajaran Islam adalah ajaran Tauhid. Tuhan tidak dapat dipersepsikan sebagai makhluk, benda mati maupun penyimbolan tertentu.

Eksistensi Tuhan adalah Mukholafatuhu lil hawadist, Dia berbeda dengan ciptaan-Nya. Dia merupakan sentralisasi semua harapan, mimpi dan doa dari makhluk-makhluk-Nya. Dialah Ash-Shomad.

Mulai dari semut hitam kecil yang berjalan didalam gelap malam diatas sebuah batu berlumut yang licin hingga keteraturan alam raya dengan semesta isinya adalah kreasi dan memiliki ketergantungan terhadap izin-Nya.

Dia terlepas dari penyifatan kemakhlukan yang memiliki anak ataupun mengambil anak. Baik dalam arti kedagingan secara biologis ataupun hanya sebagai penamsilan. Dia bersifat Qiyamuhu Binafsihi, Maha Berdiri Sendiri. Dia tak punya sekutu dalam kerajaan-Nya. Tak pernah ada konsep Tuhan lahir dalam ajaran Islam seperti yang terjadi pada diri makhluk ciptaan-Nya. Olehnya maka Tuhan tidak memiliki Bapa maupun Ibu. Dia Lam Yalid Wa-lam Yuulad.

Dialah Alpha dan Omega, Dia yang Awwal dan Akhir, Dia Dzhohir dan Bathin. Maha Suci Dia dari apa yang disekutukan oleh para manusia terhadap eksistensi-Nya.

Pada masa lalu, keterbatasan pengetahuan manusia sering membuat mereka cepat lari pada “sesembahan” tertentu. Misalnya setiap ada fenomena yang tak bisa mereka mengerti seperti petir, gerhana matahari, gunung meleduk dan sejenisnya langsung diasumsikan sebagai bentuk perwujudan dari sang penguasa yang haus akan sesembahan melalui ritual tertentu.

Dalam kondisi gawat yang mengancam eksistensinya (misalnya terhempas ombak di tengah samudra, kebakaran, sakit dan sebagainya sementara pertolongan hampir mustahil diharapkan), fitrah manusia akan menyuruh dirinya untuk mengharapkan suatu keajaiban. Ya keajaiban yang bersifat adi kodrati.

Demikian juga ketika seseorang sedang dihadapkan pada persoalan yang sulit, sementara pendapat dari manusia lainnya berbeda-beda, ia akan mengharapkan petunjuk yang jelas yang bisa dipegangnya. Bila manusia tersebut menemukan seseorang yang bisa dipercayainya, maka dalam kondisi dilematis ini ia cenderung merujuk pada tokoh idolanya itu.

Dalam kondisi seperti ini, setiap manusia cenderung mencari “sesembahan”. Mungkin pada kasus pertama, sesembahan itu berupa dewa laut atau sebuah jimat pusaka. Pada kasus kedua, “sesembahan” itu bisa berupa raja (pepunden), bisa juga berupa tokoh filsafat, pemimpin revolusi bahkan seorang dukun yang sakti.

Bila di masa lalu, orang mengembalikan setiap fenomena alam pada suatu “sesembahan” (petir pada dewa petir, matahari pada dewa matahari, gunung pada penguasa gunung, laut pada penguasa laut), maka seiring dengan kemajuan jaman serta peradabannya, sampailah manusia pada suatu pikiran, bahwa pasti ada “sesuatu” yang di belakang itu semua, “sesuatu” yang di belakang dewa petir, dewa laut, dewa matahari atau penguasa gunung.

“Sesuatu” yang di belakang semua hukum alam.

“Sesuatu” itu, bila memiliki sifat-sifat ini:

1. Maha Kuasa
2. Tidak tergantung pada yang lain
3. Tak dibatasi ruang dan waktu
4. Memiliki keinginan yang absolut

Maka dia adalah Tuhan, dan berdasarkan sifat-sifat tersebut tidak mungkin Tuhan tersebut tersebut lebih dari satu, karena dengan demikian berarti satu sifat akan tereliminasi karena bertentangan dengan sifat yang lain. Inilah logika Tauhid yang dibangun didalam Islam.

Tidaklah logis bila ada cerita Tuhan yang bergantung pada Tuhan lainnya sebab itu menandakan diantara para Tuhan itu sendiri berlaku superioritas. Ada Tuhan yang lemah dan ada Tuhan yang lebih kuat. Begitupula bila kemudian disebut ada Tuhan yang eksistensinya dibatasi oleh ruang dan waktu tertentu. Misalnya Tuhan baru wujud pada jaman anu dan jaman anu melalui proses inkarnasi tertentu atau Tuhan diceritakan pernah berada sebagai seorang bayi yang dikandung dan disusui oleh manusia. Atau ada pula mitos tentang Tuhan yang berdoa agar Dia dibebaskan dari malapetaka tertentu. Hal-hal dimana ini kemudian tentu sekali lagi akan menghilangkan sifat-sifat ketuhanan yang harusnya memang menjadi kemutlakan-Nya.

Tidak dipungkiri bila kemampuan berpikir manusia memang tidaklah mungkin untuk mencapai pemahaman sempurna tentang eksistensi diri Sang Tuhan. Manusia hanya memiliki waktu hidup yang terhingga. Jumlah materi di alam ini juga terhingga. Ada batas usianya masing-masing. Dan karena jumlah kemungkinannya juga terhingga, maka manusia hanya memiliki kemampuan berpikir yang terhingga pula. Sedangkan Tuhan pastinya adalah tak terhingga (infinity). Dia yang tak hingga itu tak akan dapat dipahami secara utuh oleh sesuatu yang sifatnya fana. Meskipun demikian, jelas adalah sebuah kebodohan berpikir bila alasan itu membuat kita membenarkan konsep-konsep konyol tentang diri Tuhan yang berbilang.

Saya tidak akan percaya bila Tuhan yang sebetulnya Tuhan akan membebani manusia yang punya kemampuan berpikir terbatas dengan pemberitaan diri-Nya secara tidak terbatas. Itu namanya Tuhan yang tak paham makhluknya. Tuhan yang tidak pantas disebut sebagai Tuhan. Sebab jika Dia memang Tuhan yang betul-betul Tuhan, maka Dia tentu akan memperkenalkan diri-Nya melalui “bahasa” yang dapat dipikir dan dicerna secara akal sehat yang terbatas itu pada diri manusia.

Oleh sebab itu didalam al-Qur’an, Allah, sering memberikan analogi-analogi yang mengasah nalar kita sebagai umat-Nya dalam memahami eksistensi diri-Nya yang Maha Esa. Semua pemberitaan yang dinisbatkan pada Dia haruslah dapat dipahami secara sederhana tanpa harus berselubung misteri. Jika Dia mengatakan Dirinya adalah Maha Esa maka itu pastilah benar-benar Maha Esa. Wahdaniyah. Tak mungkin berbilang menjadi 2-3 dan seterusnya. Kemaha Esaan-Nya itu kemudian dapat dijabarkan secara logika manusia argumentasi yang menyertainya.

Janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara. (Surah an-Nisaa ayat 171)

Munculnya berbagai penyimpangan akal sehat dalam memahami eksistensi Tuhan dari jaman kejaman, sebenarnya bukan karena Tuhan memang tidak menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh umat-Nya, namun umat-Nya itu sendirilah yang telah terjebak dengan bentuk-bentuk tuhan palsu yang direkayasanya sendiri sesuai dengan kejahilannya.

Lahirnya paham Materialisme, Atheisme, Imperialisme, Individualisme, Orientalisme, Liberalisme dan sebagainya justru karena agama yang mereka anut dianggap tidak mampu memecahkan persoalan yang mereka hadapi sehingga mereka mencari pemecahan sendiri yang sangat berlawanan dengan agamanya.

Dengan demikian dapatlah kita menilai sampai dimana kebenaran agama tersebut. Apakah itu betul-betul sebagai suatu kabar yang diturunkan oleh Tuhan yang sesungguhnya atau Tuhan jadi-jadian. Tuhan yang dipersepsikan secara salah oleh komunitas masyarakat tertentu.

Sebagai Tuhan yang menjadi sumber dari eksistensi agama, Dia tentu ditantang oleh para manusia penganutnya untuk dapat menjawab setiap pertanyaan yang timbul diberbagai kondisi dan jaman berbeda. Apabila ini kemudian tidak dapat terpenuhi maka artinya pemeluk agama itu lebih pandai dari ajaran agama itu sendiri. Tuhan tidak lebih pintar dari makhluk yang Dia ciptakan.

Itulah salah satu penyebab mengapa Karl Marx berkata :

“Religion is the sigh of the oppressed creature the heart of heartless world, just as it is the spirit of a spiritless situation. It is the opium of the people”.

Dalam hal ini … siapakah diantaranya yang salah ?
Marx atau agama (Tuhan) ?

Kiranya semua orang berpendapat bahwa agama seyogyanya harus mampu menjawab dengan benar setiap pertanyaan dan masalah manusia sampai tuntas sehingga manusia puas atas kebenarannya. Jika agama tersebut tidak kuasa menjawab dengan benar, maka mohon maaf sekali lagi berarti agama itu berasal dari Tuhan yang lebih bodoh dari manusia. Mungkinkah?

Tentu Islam menolak konsep demikian. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persangkakan. Manusia yang demikian hanya mengukur eksistensi Tuhan sesuai gambaran dirinya sendiri selaku makhluk yang terbatas.

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti hancurlah langit dan bumi serta semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kebanggaan untuk mereka namun mereka berpaling dari kebanggaan tersebut.” (QS. Al-Mu’minuun ayat 71)

Olehnya maka para ulama kemudian menggagas 20 sifat mustahil bagi Tuhan. Diantaranya yaitu:

  1. ‘Adam, artinya tiada
  2. Huduts, artinya baru
  3. Fana’, artinya binasa
  4. Mumatsalatuhu Lilhawaditsi, artinya menyerupai akan makhlukNya
  5. Qiyamuhu Bighoyrihi, artinya berdiri dengan yang lain
  6. Ta’addudun, artinya berbilang – bilang
  7. ‘Ajzun, artinya lemah
  8. Karahah, artinya terpaksa
  9. Jahlun, artinya jahil
  10. Mautun, artinya mati
  11. Syomamun, artinya tuli
  12. ‘Umyun, artinya buta
  13. Bukmun, artinya bisu dan seterusnya

Sampai disini maka Islam merupakan ajaran Tauhid dan Logika. Ia sederhana dan mudah dipahami dengan segenap keterbatasan yang ada pada sisi manusia.

(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (Surah Ibrahim ayat 52).

Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. (Surah al-Anbiyaa ayat 22)

Mohon Maaf lahir batin.
InsyaAllah bersambung pada seri Tauhid dan Logika Kristologi berikutnya.
Salam dari Palembang Darussalam.

Armansyah Azmatkhan.

Diposting pertama kali di Timeline Facebook saya pribadi, 20 Des 2014
Penulis Buku “Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih, Jejak Nabi Palsu, Ramalan Imam Mahdi, Misteri Kecerdasan Syahadat, Israk Mikraj.

Advertisements

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: