Mengenal diri untuk mengenal Tuhan

Melengkapi tulisan terdahulu kembali saya ingin mengajak kita semua merenungi sebuah kalimah bijak : Man Arofa Nafsahu Faqod Arofa Robbahu, barang siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya.

Jika kita belum mengenal siapa diri kita sesungguhnya maka tidak heran bila kemudian kita melukiskan personifikasi Tuhan sesuai dengan gambaran pikiran kita yang sempit. Kita akan memberhalakan sosok Tuhan dalam rupa makhluk seperti adanya kita. Tuhan akhirnya menjadi dapat bicara, dapat merasa haus dan lapar, dapat ketakutan, dapat terluka bahkan Tuhanpun kita asumsikan dapat terbunuh.

Kenapa demikian? ya karena kita sesungguhnya belum mengenal siapa sesungguhnya diri kita ini dengan baik sehingga entitas yang kita atributkan pada Tuhanpun akan mengikuti daya khayali yang terwujud oleh kebodohan kita tadi.

Sebaliknya orang yang mengenal dirinya secara baik, paham terhadap arti keberadaannya didalam kehidupan ini, mampu membaca seluruh penciptaan alam semesta besar yang terwujud disekitarnya serta mampu pula ia membaca miniatur alam semesta pada struktur tulang, daging, darah dan organ-organ penyusun badannya ialah yang kemudian dapat melepaskan sekatan keberhalaan akan entitas Tuhan.

Ia akan sampai pada satu pemahaman besar bahwa Tuhan tak mungkin berbilang, Tuhan menjadi sentral semua aktivitas harapan serta kejadian, Tuhan tak mungkin pula mempersonifikasikan diri-Nya kedalam sekat makhluk ciptaan-Nya yang penuh keterbatasan yang DIA tetapkan, Dia tak pula bersumber dari dzat lain yang memungkinkan keberadaan-Nya baru terwujud kemudiannya, Tuhan adalah alpha dan omega, DIA adalah yang Maha Awwal dan DIA adalah yang Maha Akhir serta Tuhan yang Maha Suci nan Tak Terbatas itu tak akan pula pernah bisa dipersonifikasikan dalam rupa dan bentuk-bentuk rendah kemakhlukan.

DIA tidak dapat diserupakan dengan manusia suci manapun, DIA tidak dapat disimbolkan dalam bentuk patung, batu, air, pepohonan dan berbagai entitas keberhalaan lainnya yang mungkin terlintas dipikiran manusia.

Hakekat inilah yang diperoleh oleh Ibrahim ‘alayhissalam melalui perenungan mendalamnya terhadap penciptaan jagad raya, ketafakuran ini juga yang mengantarkan diri Muhammad Sallallahu ‘alayhi wasallam pada derajat tertinggi kemakhlukannya sehingga sampai pada alam syurgawi menjadi penutup pintu generasi kenabian yang memperkenalkan entitas Tuhan semesta alam terhadap para hamba yang sedang mencari-cari keberadaan-Nya.

Akhirnya…. selamat menjalani hari yang penuh hikmah. Semoga tak ada celah kemusryikan dan kekufuran terselip menyelinap didalam jiwa kita. Sebab DIA-lah Allah yang tak ada tuhan kecuali DIA. Maha Hidup dan terus menerus mengurus makhluk-Nya; tidak DIA mengantuk dan apalagi tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kekuasaan Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Palembang Darussalam, 04 Desember 2014

Armansyah

Advertisements

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: