Kesurupan Jin, Sihir dan Ruqyah

Kesurupan Jin, Sihir dan Ruqyah 

Oleh : Armansyah

 

Beberapa waktu terakhir ini, istilah ruqyah mendadak populer kembali ditengah kecamuk kehidupan kota besar yang sarat dengan teknologi canggih dan peradaban modernnya. Meski demikian, istilah ini biasanya selalu dihubungkan dengan fenomena kejadian adikodrati terkait kesurupan Jin yang mengenai satu atau sejumlah orang pada tempat tertentu.

ilustrasiruqyah

Sebelum berbicara panjang lebar tentang ruqyah, saya hendak mencoba berbicara dulu mengenai fenomena kerasukan Jin.

Untuk mengingatkan sejenak, dulu saya pernah membahas panjang lebar tentang Jin disini :

https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/07/11/melihat-jin/

begitupula akan halnya dengan setan, disini :

 https://arsiparmansyah.wordpress.com/2012/01/18/mengenal-setan/

Nah, adanya fenomena kerasukan Jin, entah apapun masyarakat menyebut entitasnya (ada yang menyebut dengan nama genderuwo, kuntilanak, pocong, lelembut, dedemit, ratu ini ratu itu, prabu anulah, leak dan sebagainya) adalah dimungkinkan dari sisi ilmiah maupun dalam nash agama Islam.

Wujud Jin dalam sejumlah nash agama disebut berasal dari api dan dengan wujudnya itu ia tak dapat terlihat oleh mata lahiriah manusia namun sebaliknya ia dapat melihat manusia.

Perbedaan bentuk fisik dan asal penciptaan ini juga yang pernah membuat Iblis (salah satu dari jenis Jin) merasa dirinya lebih mulia dan menolak tunduk pada ketentuan Allah agar bersujud terhadap bapak moyang manusia, Adam. Atas pembangkangannya itu, Iblis akhirnya di usir dari syurga (Jannah) setelah terlebih dahulu Allah menyetujui permintaan Iblis agar diberi kebebasan dalam mempengaruhi anak keturunan Adam kepada apa yang dikehendaki oleh Iblis.

Selanjutnya Iblis mulai menebar racun-racun tipu dayanya pada Bani Adam dengan seluruh bala tentaranya yang terdiri dari Jin-jin kafir (pembangkang) serta manusia-manusia jahat yang selanjutnya disebut sebagai setan-setan.

Musnad Ahmad 21257: Telah bercerita kepada kami Abu Mughirah telah bercerita kepada kami Mu’an bin Rifa’ah telah bercerita kepadaku ‘Ali bin Yazid dari Al Qasim Abu ‘Abdur Rahman dari Abu Umamah berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiWasallam duduk di masjid, mereka mengira wahyu turun pada beliau lalu mereka mengerumuni beliau hingga Abu Dzarr datang dan masuk kemudian duduk didekat Rasulullah Shallallahu ‘alaihiWasallam. Nabi Shallallahu’alaihiWasallam menghampiri mereka dan bersabda; “Hai Abu Dzarr! Apa kau sudah shalat hari ini?” Ia menjawab; Belum.

Rasulullah Shallallahu’alaihiWasallam bersabda; “Berdiri lalu shalatlah.” Seusai shalat empat rakaat dhuha, Abu Dzarr mengampiri beliau. Rasulullah Shallallahu’alaihiWasallam bersabda; “Hai Abu Dzarr! Berlindunglah dari setan-setan jin dan manusia.” Ia berkata; Hai nabi Allah, apa ada setan manusia? Rasulullah Shallallahu’alaihiWasallam bersabda; “Ya, setan-setan manusia dan jin saling membisikkan kata-kata yang dihiasi satu sama lain. Ucapkan; Laa haula wa laa quwwata illa billaah.” Ia berkata; Saya pun mengucapkan; Laa haula wa laa quwwata illa billaah.

Permusuhan antara manusia (dalam hal ini hamba-hamba Allah yang sholeh dan taat)  terhadap Jin yang kuffar, tidak hanya dari sudut godaannya mempermainkan hati manusia — yuwaswisufi sudurinnas– atau melalui penampakan visual dan suara tetapi juga dalam peperangan yang sesungguhnya sebagaimana hadis Rasulullah SAW berikut :

 

مسند أحمد ١٨٧٠٧: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ عَنْ رَجُلٍ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَاءُ أُمَّتِي بِالطَّعْنِ وَالطَّاعُونِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الطَّعْنُ قَدْ عَرَفْنَاهُ فَمَا الطَّاعُونُ قَالَ وَخْزُ أَعْدَائِكُمْ مِنْ الْجِنِّ وَفِي كُلٍّ شُهَدَاءُ

Musnad Ahmad 18707: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ziyad bin Ilaqah dari seorang laki-laki dari Abu Musa ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kehancuran umatku adalah karena Tha’n (fitnah) dan Tha’uun.” Kemudian ditanyakanlah, “Wahai Rasulallah, mengenai Ath Tha’n kami telah mengetahuinya, namun apakah yang dimaksud dengan Tha’un?” Beliau menjawab: “Tikaman musuh kalian dari golongan jin. Dan keduanya termasuk mati syahid.”

Oleh karena itu sangatlah dimungkinkan bagi kedatangan Jin kuffar pada tubuh manusia dan merasukinya, baik dalam makna membuat dia kesurupan seperti menimpa kesadarannya sehingga mendadak orang itu  meraung-raung, tertawa terkekeh-kekeh atau bergerak seolah sedang melakukan jurus-jurus silat tertentu, mendadak dapat berbahasa asing yang sebetulnya tidak ia kuasai ataupun dalam bentuk paket-paket tertentu di didiri manusia sejenis santet dan guna-guna.

Rasulullah SAW sendiri serta istri beliau, ‘Aisyah pernah terkena serangan Jin kuffar seperti hadist-hadist berikut ini:

Shahih Bukhari 2939: Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Al Mutsannaa telah bercerita kepada kami Yahya telah bercerita kepada kami Hisyam berkata telah bercerita kepadaku bapakku dari ‘Aisyah radliallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah disihir sehingga terbayang oleh beliau melakukan sesuatu padahal tidak.”

Sunan Nasa’i 4012: Telah mengabarkan kepada kami Hannad bin As Sari dari Abu Mu’awiyah dari Al A’masy dari Ibnu Hayyan yaitu Yazid dari Zaid bin Arqam, ia berkata; terdapat seorang laki-laki dari kalangan Yahudi yang menyihir Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga beliau beberapa hari sakit Karena hal tersebut. Kemudian beliau di datangi Jibril ‘alaihissalam dan berkata; sesungguhnya terdapat seorang laki-laki dari kalangan Yahudi Yang menyihimu. Ia mengikat buhul di sebuah sumur ini, dan ini. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirimkan orang dan mereka mengeluarkannya dan didatangkan kepada beliau. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri seolah-olah beliau terbebas dari ikatan. Dan beliau tidak menyebutkan hal tersebut kepada orang Yahudi itu dan beliau tidak melihatnya di wajahnya sama sekali.

Musnad Ahmad 22996: Telah menceritakan kepada kami Sufyan Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu Akhi Amrah tapi aku tidak tahu apakah benar dia atau selainnya, dari Amrah berkata; “Pernah ‘Aisyah mengeluh sakit dan sakitnya terus berkepanjangan. Maka seorang ahli kedokteran datang ke Madinah, lalu keponakan-keponakan Aisyah bertanya kepada si dokter tentang sakit yang diderita Aisyah. Si dokter menjawab; ‘Demi Allah, kalian menyifati seorang wanita yang terkena sihir, sungguh wanita ini terkena sihir oleh seorang budak permpuannya. Si budak perempuan mengaku terus terang dengan mengatakan; ‘Benar, saya ingin dia mati hingga saya bisa merdeka.'” Kata Amrah, budak tersebut adalah budak yang dijanjikan merdeka jika Aisyah meninggal, maka Aisyah berkata; “Juallah dia kepada orang Arab yang paling mulia dan jadikan harganya dengan harga pantas.”

Muwatha’ Malik 1481: Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Yahya bin Sa’id dari ‘Amrah binti Abdurrahman bahwa Abu Bakar As Shiddiq pernah menemui Aisyah yang saat itu sedang sakit, sementara di sisinya ada seorang wanita Yahudi sedang meruqyahnya. Kemudian Abu Bakar berkata; “Ruqyahlah dia dengan Kitabullah.”

Jika seorang Rasul saja dapat terkena sihir dan pengaruh Jin, walau hal itu tidak membahayakan atau mengganggu beliau SAW maka pertanyaannya kemudian adalah bagaimana dengan diri kita? Tentu sangat besar sekali kemungkinan untuk dapat terkena serangan-serangan Jin kuffar tersebut.

Sejak jaman dahulu hingga jaman sekarang ini, pada hakekatnya ada sejumlah cara untuk melakukan pengusiran Jin yang merasuki diri seseorang. Salah satu cara yang kemudian kita jadikan judul utama dari posting ini adalah rukyah. Nah, apa itu rukyah?

Pengertian dari istilah ruqyah sendiri diambil dari bahasa Arab “raqa, raqyan, ruqiyyan wa ruqyatan”. Ahmad Warson Munawwir dalam Kamus Arab-Indonesia menerjemahkannya sebagai mantra. John M.Echols dan Hassan Shadily dalam Kamus Inggris- Indonesia menulis bahwa spell tersebut artinya jampi, mantra (sihir).

Ruqyah selanjutnya diartikan sebagai bacaan mantra atau jampi-jampi yakni kalimat-kalimat yang dianggap berpotensi mendatangkan kekuatan gaib tertentu melalui susunan kata-katanya. Mantra biasanya dibaca oleh orang yang mempercayainya guna meminta bantuan kekuatan yang melebihi kakuatan natural, boleh jadi digunakan untuk meraih manfaat atau menampik mudhorat.

Beranjak dari pengertian ini, maka jampi-jampi atau mantra atau ruqyah itu sendiri ada yang bersifat syar’i dan ada pula yang bersifat syirik ataupun mungkar. Bersifat syar’i apabila mantra, jampi dan ruqyah itu ditujukan kepada Allah Azza Wajalla dan disebut syirik atau mungkar bila ia mengandung ucapan dan kata-kata yang memohon perlindungan kepada Jin, alam, bebatuan atau berhala-berhala lainnya diluar Allah.

Dengan demikian, maka pengertian rukyah syar’i itu tidak harus selalu menginduk sama persis pada bacaan dan cara rukyah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam proses yang pernah beliau lakukan. Boleh saja menggunakan metode ruqyah lain asalkan tidak bertentangan dengan syari’at Islam yang dibawa oleh Rasul.

Mari kita baca hadis-hadis berikut ini:

Shahih Muslim 4079: Telah menceritakan kepadaku Abu Ath Thahir; Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb; Telah mengabarkan kepadaku Mu’awiyah bin Shalih dari ‘Abdur Rahman bin Jubair dari Bapaknya dari ‘Auf bin Malik Al Asyja’i dia berkata; “Kami biasa melakukan mantera pada masa jahiliyah. Lalu kami bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; ‘Ya Rasulullah! bagaimana pendapat Anda tentang mantera? ‘ Jawab beliau: ‘Peragakanlah manteramu itu di hadapanku. Mantera itu tidak ada salahnya selama tidak mengandung syirik.’

Musnad Ahmad 13863: Telah bercerita kepada kami Abu Mu’awiyah telah bercerita kepada kami Al ‘A’masy -lewat jalur periwayatan lain-Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dari Abu Sufyan dari Jabir berkata Rasulullah melarang ruqa (perlindungan orang sakit dengan membaca dzikir yang disyariatkan). Ibnu Numair berkata dalam haditsnya, lalu pamanku mendatangi (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) dan dia sedang melakukan ruqyah dari sengatan kalajengking. (Jabir bin Abdullah Radliyallahu’anhuma) berkata; lalu datanglah keluarga ‘Amr bin Hazm kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka berkata; Wahai Rasulullah, kami memiliki cara ruqo (bentuk jamak, plural dari ruqyah) untuk melindungi dari sengatan kalajengking, sedangkan anda melarang cara ruqo (bentuk jamak, plural dari ruqyah). (Jabir bin Abdullah Radliyallahu’anhuma) berkata; lalu mereka mempraktekkannya di hadapan (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), lalu beliau bersabda: “Saya kira tidak mengapa. Barangsiapa yang bisa bermanfaat bagi saudaranya maka lakukanlah!”

Sunan Abu Daud 3388: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Mu’awiyah dari Abdurrahman bin Jubair dari Ayahnya dari ‘Auf bin Malik ia berkata, “Pada masa jahiliyah aku pernah melakukan penjampian, lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda mengenai hal tersebut?” Beliau menjawab: “Perlihatkan jampi kalian kepadaku! Tidak mengapa dengan jampi selama bukan perbuatan syirik.”

Sunan Ibnu Majah 3506: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abu Al Khashib telah menceritakan kepada kami Yahya bin Isa dari Al A’masy dari Abu Sufyan dari Jabir dia berkata, “Kaum Anshar ada satu keluarga yang dipanggil dengan keluarga ‘Amru bin Hazm, mereka sering meruqyah (jampi-jampi) dari penyakit humah (racun yang di akibatkan oleh sengatan kalajengking), padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang jampi-jampi, maka mereka mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya anda telah melarang untuk meruqyah, dan kami sering melakukan ruqyah dari penyakit humah.” Maka beliau bersabda: “Tunjukkanlah (ruqyahmu) kepadaku.” Mereka pun membacakannya kepada beliau, dan beliau bersabda: “Tidak apa dengan ini, karena bacaan ini termasuk dari sesuatu yang dapat menguatkan.”

Sekarang ini sering kita temukan dilapangan bahwa orang-orang tertentu sering berkata bahwa rukyah itu harus dengan metode tertentu saja, tidak sah bila tidak dengan cara tersebut, tidak syar’i. Padahal cara ruqo itu sudah mendapatkan legitimasi dari Rasulullah SAW sendiri selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Tauhid. Misalnya disini kita sampaikan adalah dengan penggunaan tenaga dalam, dimana sang penyembuh akan menyalurkan tenaga murninya ke tubuh pasien yang kerasukan Jin untuk menekannya keluar dari dalam tubuh.

Celakanya banyak ustadz-ustadz kita berpandangan picik terhadap ruqo ini dan cenderung menganggap tenaga dalam adalah juga terkait Jin. Yah kita berpandangan positip saja bahwa sang ustadz terlalu dangkal ilmu dan wawasan berpikirnya sehingga segala sesuatu itu mesti saklek dan sesuai keinginan atau kepercayaan yang dia yakini saja. Segala hal yang berbeda dengan keyakinan sang ustadz akan dianggap salah, batil dan sesat. 

Nantilah kita akan bahas perihal tenaga dalam murni itu yang sesungguhnya seperti apa dalam topik dan posting terpisah dari ini agar tidak saling tumpang tindih bahasannya. InsyaAllah. Intinya jika kita bicara tentang rukyah syar’i adalah rukyah yang tidak bertentangan terhadap akidah Tauhid, terlepas apa bacaannya atau bagaimana tekniknya.

Jika kita ingin membahas tentang rukyah sunnah maka lain lagi, artinya rukyah yang sesuai dengan contoh diperbuat oleh Rasulullah SAW. Sekarang mari kita lihat seperti apa Rasul merukyah orang ….

Muwatha’ Malik 1479: Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Yazid bin Khushaifah bahwa ‘Amru bin Abdullah bin Ka’b Al Aslami mengabarkan kepadanya, bahwa Nafi’ bin Jubair mengabarkan kepadanya, dari Utsman bin Abu Al ‘Ash bahwasanya ia pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Utsman berkata, “Saat itu aku sedang sakit yang hampir-hampir membuatku meninggal.” Utsman bin Abu Al ‘Ash kembali bercerita, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: ‘Usaplah ia dengan tangan kananmu tujuh kali, dan bacalah; A’UUDZU BI IZZATILLAHI WA QUDRATIHI MIN SYARRI MA AJIDU (Aku berlindung dengan kemuliaan Allah dan kekuatannya dari kejelekan yang aku dapatkan) ‘.” Utsman berkata, “Lalu hal itu aku baca, hingga Allah pun menghilangkan sakitku. Setelah itu, aku selalu menyarankan kepada keluargaku dan selainnya untuk selalu membacanya.”

Sunan Abu Daud 3392: Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Abdul Warits dari Abdul Aziz bin Shuhaib ia berkata, ” Anas berkata kepada Tsabit, “Maukah aku jampi engkau dengan jampi yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Tsabit menjawab, “Ya.” Anas lalu mengucapkan, “ALLAAHUMMA RABBAN NAASI, MUDZHIBIL BA`SI ISYFI ANTA ASY SYAAFII LAA SYAAFIYA ILLAA ANTA ISYFIHI SYIFAA AN LAA YUGHAADIRU SAQAMAN (Ya Allah, Tuhan manusia, Penghilang penyakit, sembuhkanlah. Engkau adalah Pemberi kesembuhan, tidak ada yang dapat menyembuhkan kecuali Engkau. Sembuhkanlah dia dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan efek sakit) ‘.”

Sunan Abu Daud 3390: Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Ziyad telah menceritakan kepada kami Utsman bin Hakim telah menceritakan kepadaku Nenekku ia berkata; Aku pernah mendengar Sahl bin Hunaif berkata, “Kami pernah melewati sebuah air yang mengalir (banjir), kemudian aku mencebur dan mandi di dalamnya, setelah itu aku keluar dan dalam keadaan terserang demam. Hal itu lalu sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga beliau pun bersabda: “Perintahkan Abu Tsabit agar membaca ta’awwudz!” Nenekku berkata, “Lalu aku katakan, “Wahai tuanku, apakah jampi diperbolehkan?” Beliau bersabda: “Tidak ada jampi kecuali karena pengaruh perbuatan dengki, atau racun, atau sengatan hewan.” Abu Daud berkata, “(Yaitu) racun ular dan apa yang menyengat.”

Sunan Abu Daud 3395: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Hammad dari Muhammad bin Ishaq dari ‘Amru bin Syu’aib dari Ayahnya dari Kakeknya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengajari mereka beberapa kalimat karena adanya rasa takut, yaitu: A’UUDZU BIKALIMAATILLAAHIT TAAMMATI MIN GHADLABIHI WA SYARRI ‘IBAADIHI WA MIN HAMAZAATISY SYAYAATHIINI WA AN YAHDLURUUNA (Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kemurkaan-Nya serta kejahatan para hamba-Nya, dan dari bisikan setan serta kedatangan mereka kepadaku) ‘. Abdullah bin Umar mengajarkan kalimat-kalimat tersebut kepada orang yang telah berakal di antara anak-anaknya serta orang yang belum berakal. Ia menulisnya dan menggantungkannya kepadanya.”

Shahih Bukhari 5307: Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah Al Uwaisi telah menceritakan kepada kami Sulaiman dari Yunus dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah bin Az Zubair dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha dia berkata; “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak tidur, maka beliau akan meniupkan ke telapak tangannya sambil membaca QUL HUWALLAHU AHAD (QS Al Ikhlas 1-4) dan Mu’awidzatain (An Nas dan Al Falaq), kemudian beliau mengusapkan ke wajahnya dan seluruh tubuhnya. Aisyah berkata; Ketika beliau sakit, beliau menyuruhku melakukan hal itu.” Yunus berkata; aku melihat Ibnu Syihab apabila hendak tidur, ia melakukan hal itu juga.”

Sunan Ibnu Majah 3509: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Bahram telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah Al Asyaja’i dari Sufyan dari Suhail bin Abu Shalih dari Ayahnya dari Abu Hurairah dia berkata, “Seorang laki-laki di sengat kalajengking hingga ia tidak dapat tidur pada malam harinya, lantas dikatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Fulan telah di sengat kalajengking hingga ia tidak dapat tidur di mala harinya! ” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sekiranya menjelang sore harinya ia mengucapkan: ‘A’UUDZU BIKA BIKALIMAATILAHITTAAMMTI MIN SYARRI MAA KHALAQA (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya) ‘, niscaya sengatan kalajengking tersebut tidak akan membahayakannya sampai pagi.” 

Shahih Muslim 4055: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu ‘Umar Al Makki; Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz Ad Darawardi dari Yazid yaitu Ibnu ‘Abdillah bin Usamah bin Al Hadi dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman dari ‘Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dia berkata; “Bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sakit, Jibril datang meruqyahnya. Jibril mengucapkan; ‘Bismillaahi yubriika, wa min kulli daa-in yusyfika, wa min syarri hasidin idza hasad, wa syarri kulli dzi ‘ainin.’ (Dengan nama Allah yang menciptakanmu. Dia-lah Allah yang menyembuhkanmu dari segala macam penyakit dan dari kejahatan pendengki ketika ia mendengki serta segala macam kejahatan sorotan mata jahat semua makhluk yang memandang dengan kedengkian).

Sunan Tirmidzi 3512: Telah menceritakan kepada kami Abdul Warits bin Abdusshamad telah menceritakan kepadaku ayahku telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salim telah menceritakan kepada kami Tsabit Al Bunani dia berkata kepadaku; “Wahai Muhammad! Bila kamu merasakan sakit, maka letakkanlah tanganmu di (anggota badan) yang kamu rasakan sakitnya dan ucapkanlah; “BISMILLAHI A’UUDZU BI ‘IZZATILLAHI WA QUDRATIHI MIN SYARRI MAA AJIDU MIN WAJ’II (Dengan nama Allah, aku berlindung dengan kemuliaan Allah dan kekuasaan-Nya dari sakit yang aku derita ini).” Kemudian angkat tanganmu lalu ulangilah hal itu secara witir (ganjil). Karena Anas bin Malik pernah bercerita kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan hal itu kepadanya.” Abu Isa berkata; “Hadits ini derajatnya hasan gharib.”

Sunan Darimi 3249: Telah mengabarkan kepada kami Amr bin ‘Ashim telah menceritakan kepada kami Hammad dari ‘Ashim dari Asy Sya’bi dari Ibnu Mas’ud ia berkata; Barangsiapa yang membaca empat ayat dari awal surat Al Baqarah, ayat kursi, dua ayat setelahnya dan tiga ayat terakhir dari surat al Baqarah, maka tidak ada satu setan pun yang mendekati dirinya dan keluarganya pada hari itu, serta tidak ada pula sesuatu pun yang ia benci (mendatangkan madharat baginya). Tidaklah dibacakan ayat-ayat tersebut kepada orang gila, kecuali ia pasti sadar.

Sunan Abu Daud 3394: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Khalid bin Mauhib Ar Ramli telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Ziyadah bin Muhammad dari Muhammad bin Ka’b Al Qurazhi dari Fadlalah bin ‘Ubaid dari Abu Darda ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa di antara kalian mengeluhkan sesuatu atau saudaranya mengeluhkannya, maka hendaknya ia mengucapkan: RABBANALLAAHULLADZII FIS SAMAA`I TAQADDASA ISMUKA AMRUKA FIS SAMAA`I WAL ARDLI KAMAA RAHMATUKA FIS SAMAA`I, FAJ’AL RAHMATAKA FIL ARDLI, IGHFIR LANAA HUUBANAA WA KHATHAAYAANAA, ANTA RABBUTH THAYYIBIINA, ANZIL RAHMATAN MIN RAHMATIKA WA SYIFAA`AN MIN SYIFAA`IKA ‘ALAA HAADZAL WAJA’I (Tuhanku adalah Allah yang berada di langit, Maha Suci nama-Mu, urusan-Mu berada di langit dan bumi. Sebagaimana rahmat-Mu berada di langit, maka jadikanlah rahmat-Mu berada di bumi! Ampunilah dosa dan kesalahan kami! Engkau Tuhan orang-orang yang baik, turunkan rahmat di antara rahmat-Mu, serta kesembuhan di antara kesembuhan-Mu kepada penyakit ini) ‘ maka ia akan sembuh.”

Begitulah ajaran Rasulullah terkait rukyah. Jadi bila memang ingin merukyah secara sunnah harusnya metode dan bacaannya harus seperti yang telah kita lihat dari hadis-hadis diatas. Tidak dengan jalan lain atau bacaan lainnya. Jika kemudian kita melihat adanya bacaan dari ayat lain dan surah lain maka perlu dipertanyakan jika sang penyembuh itu menisbatkan rukyahnya sebagai rukyah sunnah maka mana dalil dari perbuatannya itu?

Lagipula, semenjak surah al-Falaq dan an-Naas turun, Rasulullah mencukupkan rukyahnya dengan kedua ayat yang disebutnya sebagai Mu’awidzatain.

Sunan Ibnu Majah 3502: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Sulaiman dari ‘Abbad dari Al Jurairi dari Abu Nadlrah dari Abu Sa’id dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung dari mata Jin dan manusia, tatkala turun surat Mu’awidzatain, beliau mengambilnya dan meninggalkan yang lainnya.” 

Sunan Tirmidzi 1984: Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Yunus Al Kufi, telah menceritakan kepada kami Al Qasim bin Malik Al Mazani dari Al Jariri dari Abu Nadlrah dari Abu Sa’id ia berkata; Dahulu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam sering berlindung dari kejahatan jin dan ‘Ain manusia hingga turun Al Mu’awwidzatain, maka setelah keduanya turun beliau membacanya dan meninggalkan selainnya. Berkata Abu Isa; Hadits semakna juga diriwayatkan dari Anas dan ini merupakan hadits hasan gharib.

Saya belum menemukan sunnah Rasul dalam merukyah menggunakan media air putih yang jamak dilakukan oleh para perukyah sekarang ini. Tapi bila menggunakan air ludah ataupun media tanah, memang ada nashnya, mari kita baca sebagai berikut:

Shahih Bukhari 5304: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan dia berkata; telah menceritakan kepadaku Abdurrabbihi bin Sa’id dari ‘Amrah dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendo’akan orang sakit, beliau membaca: “BISMILLAHI TURBATU ARDLINA BI RIIQATI BA’DLINA YUSYFAA SAQIIMUNA BI IDZNI RABBINA (“Dengan nama Allah, Debu tanah kami dengan ludah sebagian kami semoga sembuh orang yang sakit dari kami dengan izin Rabb kami.”

Sunan Abu Daud 3387: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih dan Ibnu As Sarh Ahmad berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb dan Ibnu As Sarh berkata; telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah menceritakan kepada kami Daud bin Abdurrahman dari ‘Amru bin Yahya dari Yusuf bin Muhammad -Ibnu Shalih Muhammad bin Yusuf bin Tsabit bin Qais bin Syammas berkata- dari Ayahnya dari Kakeknya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau pernah menemui Tsabit bin Qais -Ahmad berkata; saat ia sedang sakit-, lalu beliau mengucapkan: ‘IKSYIFIL BA`SA RABBAN NAASI (Hilangkan penyakit wahai Tuhan manusia!) ‘. Dari Tsabit bin Qais bin Syammas, “Kemudian beliau mengambil tanah dari Bathhan dan memasukkannya ke dalam sebuah gelas, beliau kemudian menyemburkan air ke dalamnya, lalu menuangkannya kepadanya.” Abu Daud berkata; Ibnu As As Sarh berkata, “Yang benar adalah Yusuf bin Muhammad.”

Sunan Abu Daud 3396: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abu Suraih Ar Razi telah mengabarkan kepada kami Makki bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Yazid bin ‘Ubaid ia berkata, “Aku melihat pengaruh pukulan pada betis Salamah, lalu aku katakan, ‘Apakah ini? ‘ Ia menjawab, ‘Aku mendapatkan luka ini saat perang Khaibar. ‘ Kemudian orang-orang berkata, ‘Salamah telah terkena musibah’. Kemudian aku dibawa ke hadapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu beliau meludah padaku sebanyak tiga kali, kemudian aku tidak mengeluhkannya hingga saat ini.”

Lalu apakah menggunakan metode air putih dan menambahkan ayat-ayat lain sebagai bagian dari rukyah tidaklah benar? Jawabnya sederhana saja, selama tidak ada prosesi kemusryikan didalamnya maka ia dibenarkan. Tapi tidaklah dapat disebut sebagai rukyah sunnah namun ia rukyah syar’iyyah saja sama halnya dengan menggunakan riqo atau cara-cara rukyah lainnya yang diterima oleh Rasul.

Demikian tulisan kali ini, semoga bermanfaat dalam rangka meluaskan khasanah kita semua terkait rukyah.

Palembang Darussalam, 04 Desember 2014

Armansyah.

Sebagai penutup, berikut saya berikan juga tayangan salah satu cara rukyah diri sendiri secara syar’i (bukan secara sunnah)

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: