SBY-Jokowi: Antara cinta dan benci

Jika benci, bencilah karena Allah. Jika cinta, maka cintailah juga karena Allah. Jangan berlebihan menyanjung SBY dan jangan pula kelewatan menghujat Jokowi. Setiap orang selalu punya sisi baik dan sisi buruknya masing-masing. Bencilah bila jokowi melanggar syari’at Allah tapi jangan apatis bila ia berbuat hal yang benar. Dulu, SBY juga pernah dihujat karena alasan ini dan alasan itu yang sifatnya keduniawian. Sekarang ketika SBY bersama dalam satu gerbong dengan koalisi merah putih dan menolak permintaan jokowi untuk menaikkan harga BBM, SBY dipuja.

Sikap politik saya tidak berubah. Disini saya hanya mengingatkan kawan-kawan agar tidak terjebak pada perilaku yang berlebihan. Ujung-ujungnya malah ikut berdosa. Lakukan semua semata-mata karena Allah dan atas pertimbangan syari’at. Bukan sekedar like or dislike pribadi. Bagaimanapun, seperti yang dulu pernah saya sampaikan bahwa oposisi itu hanya dibenarkan oleh syari’at jika itu berhadapan dengan kebatilan. Tapi bila sebuah perbuatan maupun kebijakan itu benar dan bermanfaat untuk umat, maka oposisi tidak dapat diterima. Sebaliknya, wajib untuk mendukungnya. Ya, mendukung tanpa harus menanggalkan idealisme yang kita anut.

Olehnya, maka tidak ada koalisi yang permanen dan tidak ada pula oposisi yang abadi. Bersikaplah yang wajar dan sesuai anjuran agama. InsyaAllah kita akan tetap mulia.

Armansyah Azmatkhan, bumi Palembang Darussalam.
03 September 2014.

Advertisements
%d bloggers like this: