Penempatan kebanggaan yang salah

Tanggal 02 Pebruari 2014 lalu, saya sempat mengupdate timeline facebook saya terkait penyebaran sebuah baju kaos berkaligrafi Arab. Adapun kaligrafi tersebut sama sekali tidak terkait dengan ke-Islaman. Ia bukan berisikan ayat-ayat al-Qur’an, bukan hadist dan bukan pula kata-kata bijak para pujangga muslim.

Sebaliknya kaligrafi itu bertuliskan doa bapa kami atau dikenal juga dengan istilah Pater Noster milik umat Kristiani. Berikut penampakan baju tersebut.

Baju Kaligrafi Kristiani :  Pater Noster

Sumber gambar saya dapatkan dari  grup di facebook :
100% KATOLIK – 100% INDONESIA

Posting saya waktu itu di Facebook terkait dengan himbauan pada kawan-kawan muslim untuk tidak tertipu lalu membeli baju tersebut. Himbauan itu khususnya ditujukan bagi kawan-kawan muslim yang –mohon maaf– tidak bisa baca huruf Arab. Jangan sampai nanti mentang-mentang terlihat kaligrafi arab lalu baju itu dibeli dan dipakai…. dibawa kemasjid lagi. Na’udzubillahi mindzalik.

Nah dalam salah satu pengembaraan saya di dunia penuh gambar bernama Instagram, saya mendapatkan temuan serupa namun beda tema. Sama-sama baju dan berwarna hitam tapi yang ditulis disana adalah “Ummah Of Muhammad” dengan ditambahkan gambar dari stempel surat kenabian SAW yang mana hari ini gambar itu juga digunakan oleh gerakan pejuang ISIS sebagai simbol benderanya.

2014-08-28-21-45-11

Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan ya…. tapi saya menentang pembuatan baju tersebut. Saya bukan menentang kalimah-kalimah yang ada disana apalagi menolak lafash “Muhammad Rasul Allah“-nya. Tidak pula penolakan saya ini terkait dengan disematkannya gambar stempel surat kenabian Muhammad SAW itu sebagai lambang teroris oleh kaum kuffar dan munafik. Bukan sama sekali terkait hal itu.

Penggunaan salah satu simbol Islam tersebut pada baju justru dapat membuat kita selaku pemakainya menempatkan keagungan simbol itu bukan pada tempatnya. Maunya sih iya kita membela Islam, berusaha membuat perlawanan dari gerakan cuci otak musuh-musuh kita bahwa gambar stempel surat Nabi itu bukan lambang terorisme. Namun pernahkah anda terbayang memakai baju itu didalam toilet sambil buang hajat?

Masak iya sih selama pake baju itu kita tidak akan pernah kencing atau berak? –maaf ya jika bahasa saya agak sedikit kasar–

Apakah setiap kali kita pakai baju itu dan tiba-tiba datang desakan untuk buang hajat ditengah jalan, dikantor, dipasar, disekolah, dikampus, lagi ceramah, lagi rapat…. lalu kita buka baju tersebut?

Menghormati, mencintai dan mengagungkan Islam juga harus sesuai tempatnya, harus sesuai caranya, harus ada adabnya. Jangan sampai niat kita itu baik namun karena caranya salah lalu membuat keagungan dari Islam itu sendiri rusak dan cacat.

Ingat ya, saya tidak sedang bicara soal bendera….saya bicara soal penggunaan simbol itu pada baju. Mudah-mudahan tidak ada yang gagal paham.

 

Armansyah, 28 Agustus 2014
Di posting pada timeline fb pada tanggal yang sama.

 

 

 

One Response

  1. selalu ada saja dalil,yg akan mereka (yg udah kena brainwash) utarakan utk bisa tetep bangga mengenakan simbol2 is is itu,,, hufft

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: