Obyektif terhadap single parent

Sering orang bilang bahwa indikator keberhasilan seorang pemimpin itu adalah beranjak dari keluarganya. Jika ia sukses memimpin keluarganya maka ia bisa dipastikan juga akan sukses memimpin bidang lainnya. Sekilas, kalimat ini masuk akal dan mungkin tidaklah salah untuk kita amini. Tapi jika kita menelisik lebih jauh kepada sumber-sumber keagamaan, niscaya insyaAllah kita akan paham bahwa hal tersebut benar namun bukan menjadi satu-satunya indikator keberhasilan seseorang dalam memimpin.

Fakta anak-anak Adam, Qabil membunuh saudara kandungnya sendiri Habil. Apakah ada yang berani menyebut Adam telah gagal dalam menjadi pemimpin atas keluarganya dan oleh sebab itu Adampun dapat disebut pemimpin yang tak becus sehingga tak layak memimpin umat?

Fakta bila anak dari Nabi Nuh justru tidak patuh pada ayahnya sendiri sehingga harus berpisah dengan cara tewas tenggelam saat banjir besar. Apakah ada yang berani menyebut Nabi Nuh adalah seorang pemimpin yang gagal?

Fakta bila istri Nabi Luth juga durhaka pada suaminya, mengingkari kebenaran yang dibawa oleh Luth sehingga harus berpisah dan termasuk salah satu korban yang dihancurkan Allah dalam peristiwa yang dikenal sebagai soddom dan gomorah. Apakah ada yang berani menyebut Nabi Luth seorang pemimpin keluarga yang telah gagal dan tidak layak memimpin umat?

Fakta bila ayah Nabi Ibrahim ingkar atas wahyu yang dibawa olehnya bahkan Ibrahim sempat dihukum bakar karena tindakannya yang menghancurkan berhala kaum bapaknya. Apakah ada yang berani menyebut Nabi Ibrahim seorang yang telah gagal dalam keluarga dan tidak layak memimpin umat?

Fakta bila ‘Utbah dan saudaranya ‘Utaibah bin Abu Lahab bin ‘Abdul Muththalib, dua menantu Nabi Muhammad SAW, suami dari kedua anaknya yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum radhiallahu ‘anhuma juga ingkar terhadap beliau dan menjadi musuhnya sehingga harus terjadi perceraian diantara mereka. Fakta juga bila Rasul pun gagal mengislamkan Abu Thalib, pamannya. Apakah lalu ada yang berani menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin keluarga yang telah gagal dan olehnya tidak pula layak memimpin umat dalam skala besar?

Tidak sahabatku…. telah nyata disebut dalam al-Qur’an:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. (Surah at-Taghabun ayat 14)

Oleh sebab itu, keberhasilan seseorang dalam memimpin keluarganya kejalan Tuhan bukanlah semata-mata indikator bila seseorang itu telah pasti dapat berhasil memimpin umat dalam skala luas. Begitupun sebaliknya, seseorang yang terlihat seperti gagal membawa semua keluarganya dalam satu kesatuan relasi juga tidak dapat divonis sebagai pemimpin yang tak becus serta mencelanya sebagai orang yang tak akan mungkin pula dapat memimpin umat dalam skala besar.

Kita manusia dan orang yang kita pimpin juga adalah manusia. Kita semua sama punya hati, sama punya akal, sama punya nafsu, sama punya keinginan, sama punya ego, sama punya kehendak dan semua kesamaan itu belum tentu membuat kita jadi satu kata. Mungkin hati kita punya kecondongan yang berbeda dengan keluarga kita, mungkin nafsu kita berbeda dengan nafsu keluarga kita, mungkin keinginan kita berbeda dengan keinginan keluarga kita dan mungkin juga ego kita berbeda dengan ego keluarga kita. Ketidaksamaan masing-masing ini jika dipaksa untuk bertemu pasti akan bentrok.

Melompat jauh kecerita Mahabharat yang entah apakah itu fiksi atau kejadian nyata dimasa lalu, persaudaraan darah antara Pandawa dan Kurawa berakhir dengan perang besar yang membuat mereka saling bunuh satu sama lain. Tapi lihat tokoh Khrisna yang disana ditampilkan selaku manusia shaleh, ia tak menyalahkan peperangan tersebut, sebaliknya ikut mendukung dan memihak dibarisan Pandawa. Kegagalan dalam membina keluarga bukan indikasi bahwa seseorang mutlak gagal dalam memimpin dan membina umat atau masyarakat.

Memang jika ingin ideal dimata kita, seseorang itu harus dapat memimpin keduanya secara harmonis. Sayangnya keidealan tersebut *tidaklah selalu* berbanding lurus dengan kenyataan dan ketetapan Tuhan. Olehnya sebelum kita banyak bicara ini dan itu, sebaiknya kita mengkaji dulu nash-nash agama kita dan melihat dari perspektif yang benar sesuai kacamata Allah, bukan benar menurut kacamata kita semata. Sebab salah kita bicara dan membuat suatu status hukum atau judgment tertentu akan membuat kita terjebak pada dosa.

Adam, Nuh, Luth, Ibrahim dan Muhammad terbukti adalah pemimpin umat yang sukses dan diabadikan dalam sejarah meskipun ada sepenggalan kisah keluarga mereka yang tak dapat diarahkan sesuai petunjuk Allah. Itu bukan aib, sebab hidayah Allah pada setiap orang itu berbeda-beda. Nama mereka semua tercatat di al-Qur’an serta kita ulang-ulangi pujian pada mereka dengan menyebut ‘alayhissalam serta shalallahu ‘alayhi wassalam.

Lâ nufarriqu baina ahadim mir rusulih.

Palembang, 12 Jun 2014

Armansyah
https://www.facebook.com/armansyah/posts/10152428435378444

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: