Niat (jahar atau sirr)

Telah maklum semua bila segala sesuatu itu dilakukan harus dengan niat. Beranjak dari niat inilah suatu pekerjaan akan dinilai oleh Allah ta’ala.

Shahih Bukhari 52:

Dari Alqamah bin Waqash dari Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan.”.

Hanya saja disini umat Islam timbul perbedaan mengenai pelaksanaan dan cara niat itu sendiri. Apakah niat harus dilafaskan dalam bentuk ucapan tertentu atau tidak.

Sebagian pengikut dari Imam Abu Hanifah, imam Syafi’i dan imam Ahmad mensunnahkan melafazhkan niat tersebut secara lisan untuk memperkuat hati dalam pelaksanaan sholat.

Misalnya contoh niat yang dilafaskan itu adalah:

Usholli fardhol zuhri arba’a roka’atin ada ‘an lillahi ta’ala
Usholli fardhol maghribi salasa roka’atin ada’an lillahi ta’ala
dan sejenisnya.

Sebagian dari pengikut Imam Malik dan Imam Ahmad termasuk selain dari keduanya, tidak mengamalkan niat dalam bentuk lafadzh karena hal itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, ahli bait dan juga para sahabat beliau. Dan Nabi pun tidak pernah memerintahkan seorangpun dari umatnya (sahabatnya) untuk melafalkan niat tersebut.

Saya pribadi dalam hal ini lebih condong pada sikap yang terakhir. Dengan kata lain, saya tidak pernah mengamalkan niat dalam bentuk lafadzh saat akan mengerjakan sholat apapun. Sebab selain tidak ada contoh maupun ajarannya dari Rasulullah, niat itu sendiri dalam pemahaman saya adalah lintasan hati saat kita hendak memulai melakukan sesuatu.

Shahih Muslim 184:

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Allah berfirman: ‘Apabila hamba-Ku berkeinginan untuk kebaikan namun belum melakukannya maka Aku menulisnya sebagai satu kebaikan, maka jika dia melakukannya maka Aku menuliskannya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat. Dan apabila dia berkeinginan untuk kejelekan dan dia melakukannya maka Aku tidak mencatatnya sebagai dosa, namun jika dia mengamalkannya maka Aku menuliskannya sebagai satu kejelekan’.”

https://www.facebook.com/armansyah/posts/10152393142613444

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: