Antara ber-Islam dengan ber-Iman

Ada orang berkata: Saya sudah haji, istri saya juga seorang hajjah, anak-anak dan orang tua saya pun sudah haji. Umroh…. saya sudah berkali-kali. | Ibadah haji maupun umroh adalah ibadah yang pada dasarnya setiap orang berduit dan sehat, dapat melakukannya. Bahkan orang sakitpun masih banyak yang ngotot ikut berhaji walau di tanah suci mesti naik kursi roda. Apalagi dijaman sekarang, haji dan umroh kadang sudah dijadikan perjalanan wisata. Bahkan para artis yang suka tampil vulgar dan seronokpun ikutan latah kawin mau didepan Ka’bah.

Saya jadi ingat surah al-Hujurat ayat 14 ketika ada sekumpulan orang Arab Badui datang pada Rasul dan berkata: “Kami telah beriman”. Pernyataan mereka itu langsung dibantah Allah dengan mengatakan:

Kamu belum beriman!

Tapi katakanlah: “Kami telah ber-Islam”.

Hal itu disebabkan Iman itu belum masuk kedalam hati mereka, dalam lanjutan ayat itu Allah memberikan gambaran sesungguhnya bahwa antara Beriman dan Berislam adalah dua hal berbeda.

Iman adalah sikap taat kita pada ketentuan Allah dan Rasul. Tidak mendengking atau berlaku khianat, sami’na wala atho’na tapi Sami’na wa-Atho’na. Gelar haji tidak dapat menjadi standar keimanan seseorang, satu-satunya standar baku dalam iman itu menurut Allah adalah ketaatan pada-Nya.

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10152385828393444&set=a.10151193761353444.477100.727558443&type=1&relevant_count=1

Advertisements
%d bloggers like this: