Qunut

Ada sahabat yang tidak pernah melihat Rasul dan Khulafaur Rasyidin melakukan qunut sehingga menyebutnya perbuatan bid’ah

Sunan Nasa’i 1070:

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dari Khalaf bin Khalifah dari Abu Malik Al Asyja’i dari bapaknya dia berkata; “Aku pernah shalat di belakang Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, dan beliau tidak qunut. Aku juga pernah shalat di belakang Abu Bakar, dan ia tidak qunut. Aku pernah shalat di belakang Umar, dan beliau tidak qunut. Aku pernah shalat di belakang Utsman, dan beliau tidak qunut. Aku juga pernah shalat di belakang Ali, dan beliau juga tidak qunut. Kemudian ia berkata, ‘Wahai anakku, itu adalah bid’ah.”

Tapi pada hakekatnya :

Sunan Tirmidzi 367:

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah dan Muhammad bin Al Mutsanna keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ghundar Muhammad bin Ja’far dari Syu’bah dari ‘Amru bin Murrah dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Al Bara` bin ‘Azib berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan qunut pada shalat subuh dan maghrib.” Ia berkata; “Dalam bab ini juga ada riwayat dari Ali, Anas, Abu Hurairah, Ibnu Abbas dan Khaffaf bin Aima` bin Rahdlah Al Ghifari.” Abu Isa berkata; “Hadits Al Bara` derajatnya hasan shahih. Para ahli ilmu berselisih tentang qunut pada shalat subuh, sebagian ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan selainnya membolehkan qunut pada shalat subuh. Pendapat ini diambil oleh Imam Malik dan Syafi’i. Sedangkan Imam Ahmad dan Ishaq berkata; “Tidak boleh melakukan qunut pada shalat subuh kecuali ketika terdapat bahaya yang menimpa kaum muslimin. Jika terjadi musibah yang menimpa kaum muslimin maka imam harus mendo`akan tentara kaum muslimin.”

Dasar qunut yang dilakukan oleh Nabi:

Shahih Bukhari 948:

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus berkata, telah menceritakan kepada kami Za’idah dari At Taimi dari Abu Mijlaz dari Anas bin Malik ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melaksanakan qunut selama satu bulan untuk mendo’akan (kebinasaan) atas suku Ri’la dan Dzakwan.”

Shahih Muslim 1083:

Continue reading

Advertisements

Tata Cara /Teknis gerakan sholat

Saya nukilkan dari kitab sunan Abu Daud, sebuah hadist yang cukup panjang bernomor 730:

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, bertakbirlah, kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu, lalu ruku’lah hingga kamu benar-benar (tenang) dalam posisi ruku’, setelah itu bangkitlah sampai berdiri lurus kembali, kemudian sujudlah hingga benar-benar dalam posisi sujud, lalu duduklah hingga benar-benar dalam posisi duduk, lalu sujud kembali hingga benar-benar sujud, kemudian lakukanlah hal itu di setiap shalatmu.” Al Qa’nabi mengatakan; dari Sa’id bin Abu Sa’id Al Maqburi dari Abu Hurairah …’ di akhir haditsnya ia mengatakan; “Jika kamu melakukan seperti ini, maka shalatmu menjadi sempurna, dan apabila kamu mengurangi dari cara ini, berarti kesempurnaan shalatmu juga akan terkurangi.” Dalam hadits ini juga di sebutkan; “Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudlu’mu.” Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Hammad dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah dari Ali bin Yahya bin Khallad dari pamannya bahwa seorang laki-laki masuk masjid…” selanjutnya dia melanjutkan seperti hadits di atas, lalu dia berkata; “Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya tidak sempurna shalat seseorang sehingga dia berwudlu’ yaitu membasuh anggota wudlu’nya (dengan sempurna) kemudian bertakbir, memuji Allah Jalla wa ‘Azza, menyanjung-Nya dan membaca AL Qur’an yang mudah baginya.

Setelah itu mengucapkan Allahu Akbar, kemudian ruku’ sampai tenang semua persendiannya, lalu mengucapkan “Sami’allahu liman hamidah” sampai berdiri lurus, kemudian mengucapkan Allahu Akbar, lalu sujud sehingga semua persendiannya tenang. Setelah itu mengangkat kepalanya sambil bertakbir. Apabila dia telah mengerjakan seperti demikian, maka shalatnya menjadi sempurna.”

Continue reading

Waktu-waktu sholat wajib

Firman Allah : Dirikanlah sholat, sungguh ini merupakan kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman (Sumber: al-Qur’an surah An-Nisaa’ ayat 103- 104)

Secara ringkas saya nukilkan satu hadist yang bersumber dari kitab sunan Nasa’i dengan nomor 521:

Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Sulaiman dia berkata; telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al Hubab dia berkata; telah menceritakan kepada kami Kharijah bin Abdullah bin Sulaiman bin Zaid bin Tsabit dia berkata; telah menceritakan kepadaku Al Husain bin Basyir bin Salam dari bapaknya, dia berkata; “Aku dan Muhammad bin Ali masuk ke rumah Jabir bin Abdullah Al Anshari lalu kami berkata kepadanya, ‘kabarkanlah kepada kami tentang shalat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Ia menjawab,

‘Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pernah keluar lalu shalat Zhuhur ketika matahari telah tergelincir dan bayangannya saat itu seukuran tali sandal. Kemudian beliau shalat Ashar ketika bayangan telah menjadi seukuran tali sandal dan bayangan orang. Kemudian beliau shalat Maghrib ketika matahari telah terbenam, lalu beliau shalat Isya ketika mega merah telah lenyap. Selanjutnya beliau Shalat Subuh ketika terbit fajar. Kemudian besoknya beliau shalat Zhuhur ketika bayangan setinggi orang, kemudian shalat Ashar ketika bayangan seseorang menjadi dua kali lipatnya, seukuran perjalanan pengendara yang berlalu dengan cepat ke Dzul Hulaifah. Kemudian shalat Maghrib ketika matahari terbenam dan shalat Isya sampai sepertiga malam atau pertengahan malam. Lalu shalat subuh ketika sudah kelihatan agak menguning’.

Masih ada sejumlah hadis lainnya sejenis sebagai dalil-dalil terkait sholat 5 waktu. Tapi dengan pertimbangan waktu dan tempat yang terbatas, saya cukupkan satu hadis diatas mewakilinya.

Dalil dari al-Qur’an:

Dan dirikanlah shalat itu pada dua bagian siang (dzuhur dan ashar) dan disebagian dari malam (isya). (Sumber: al-Qur’an surah Huud ayat 114)

Ayat ini menunjukkan adanya dua waktu sholat pada dua bagian bagian siang, kita semua tahu yang disebut siang itu adalah saat matahari masih bersinar dan melampaui titik zenithnya. Kedua waktu ini bersesuaian dengan hadis mengenai adanya sholat dzuhur dan ashar. Selanjutnya diujung ayat disebut satu lagi waktu sholat yaitu pada sebagian malam, dan ini bisa merujuk pada sholat isya, sehingga dari ayat ini saja bisa diperoleh tiga waktu sholat, yaitu dzhuhur, ashar dan isya.

Hendaklah engkau mendirikan sholat diwaktu tergelincirnya matahari (maghrib) sampai kelam malam (isya) dan dirikanlah sholat subuh. (Sumber: al-Qur’an surah al-Israa ayat 78)

Saat matahari tergelincir yaitu saat yang disebut dengan syafaq atau senja, ayat ini merujuk akan adanya kewajiban mendirikan sholat maghrib pada waktu tersebut. Sedangkan kelam malam adalah waktu dimana matahari sudah tenggelam dan kegelapan pekat menyelimuti bumi dimana waktu-waktu ini sangat baik untuk melaksanakan sholat (lihat pula surah al-Muzammil 73 ayat 2 s/d 4) dan sholat yang demikian bisa juga kita pahami sebagai sholat isya. Sedangkan akhir ayat secara jelas merujuk pada sholat fajar atau sholat subuh, sehingga tidak perlu kita bahas lebih jauh.

Kedua ayat ini adalah dalil-dalil tentang 5 waktu wajib untuk melakukan sholat, sama seperti yang bisa ditemui dalam hadis-hadis Nabi serta yang menjadi tradisi kaum muslim dari jaman kejamannya. Yaitu sholat Subuh, Maghrib dan Isya tercantum dalam surah al-Israa’ 17 ayat 78 dan sholat Dzuhur dan Ashar tercantum pada surah Huud 11 ayat 114.

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10152400343003444&set=a.407879698443.185889.727558443&type=1

Adzan

Adzan adalah tanda telah masuknya waktu sholat fardhu, sekaligus berfungsi sebagai pemanggil kaum beriman untuk melaksanakan sholat itu sendiri.

Sejarah Adzan secara singkat saya nukilkan dari hadist berikut:

Shahih Bukhari 571:

Dari Abu Qilabah dari Anas bin Malik berkata, “Ketika manusia sudah banyak (yang masuk Islam), ada yang mengusulkan cara memberitahu masuknya waktu shalat dengan sesuatu yang mereka bisa pahami. Maka ada yang mengusulkan dengan menyalakan api dan ada juga yang mengusulkan dengan memukul lonceng. Lalu diperintahlah Bilal untuk mengumandangkan kalimat adzan dengan genap (dua kali dua kali) dan mengganjilkan iqamat.”

Adapun kalimah-kalimah yang diucapkan dalam adzan adalah :

Sunan Ibnu Majah 701:

Dari Abu Mahdzurah menceritakan kepadanya, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajariku adzan dengan sembilan belas kalimat, dan iqamah dengan tujuh belas kalimat. Kalimat adzan itu adalah; ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR, ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH, ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH, ASYHADU ANNA MUHAMMADAN RASULULLAH, ASYHADU ANNA MUHAMMADAN RASULULLAH, ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH, ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH, ASYHADU ANNA MUHAMMADAN RASULULLAH, ASYHADU ANNA MUHAMMADAN RASULULLAH, HAYYA ‘ALASH SHALAH, HAYYA ‘ALASH SHALAH, HAYYA ‘ALAL FALAH, HAYYA ‘ALAL FALAH, ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR, LAA ILAAHA ILLALLAH.

(Allah Maha Besar. Allah Maha Besar. Allah Maha Besar. Allah Maha Besar-Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah-Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah-Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah- Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah-Mari menuju shalat. Mari menuju shalat-Mari menuju kemenangan. Mari menuju kemenangan-Allah Maha Besar. Allah Maha Besar-Tidak ada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah).

Sedangkan kalimat iqamah adalah tujuh belas kalimat; ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR, ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH, ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH, ASYHADU ANNA MUHAMMADAN RASULULLAH, ASYHADU ANNA MUHAMMADAN RASULULLAH, HAYYA ‘ALASH SHALAH, HAYYA ‘ALASH SHALAH, HAYYA ‘ALAL FALAH, HAYYA ‘ALAL FALAH, QAD QAAMATISH SHALAH, QAD QAAMATISH SHALAH, ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR, LAA ILAAHA ILLALLAH.

(Allah Maha Besar. Allah Maha Besar. Allah Maha Besar. Allah Maha Besar-Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah-Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah-Shalat telah ditegakkan. Shalat telah ditegakkan-Mari menuju shalat. Mari menuju shalat-Mari menuju kemenangan. Mari menuju kemenangan-Allah Maha Besar. Allah Maha Besar-Tidak ada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah).”

Apakah adzan itu hanya dikumandangkan di masjid, surau atau musholla saja?

Continue reading

Niat (jahar atau sirr)

Telah maklum semua bila segala sesuatu itu dilakukan harus dengan niat. Beranjak dari niat inilah suatu pekerjaan akan dinilai oleh Allah ta’ala.

Shahih Bukhari 52:

Dari Alqamah bin Waqash dari Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan.”.

Hanya saja disini umat Islam timbul perbedaan mengenai pelaksanaan dan cara niat itu sendiri. Apakah niat harus dilafaskan dalam bentuk ucapan tertentu atau tidak.

Sebagian pengikut dari Imam Abu Hanifah, imam Syafi’i dan imam Ahmad mensunnahkan melafazhkan niat tersebut secara lisan untuk memperkuat hati dalam pelaksanaan sholat.

Misalnya contoh niat yang dilafaskan itu adalah:

Usholli fardhol zuhri arba’a roka’atin ada ‘an lillahi ta’ala
Usholli fardhol maghribi salasa roka’atin ada’an lillahi ta’ala
dan sejenisnya.

Sebagian dari pengikut Imam Malik dan Imam Ahmad termasuk selain dari keduanya, tidak mengamalkan niat dalam bentuk lafadzh karena hal itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, ahli bait dan juga para sahabat beliau. Dan Nabi pun tidak pernah memerintahkan seorangpun dari umatnya (sahabatnya) untuk melafalkan niat tersebut.

Saya pribadi dalam hal ini lebih condong pada sikap yang terakhir. Dengan kata lain, saya tidak pernah mengamalkan niat dalam bentuk lafadzh saat akan mengerjakan sholat apapun. Sebab selain tidak ada contoh maupun ajarannya dari Rasulullah, niat itu sendiri dalam pemahaman saya adalah lintasan hati saat kita hendak memulai melakukan sesuatu.

Shahih Muslim 184:

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Allah berfirman: ‘Apabila hamba-Ku berkeinginan untuk kebaikan namun belum melakukannya maka Aku menulisnya sebagai satu kebaikan, maka jika dia melakukannya maka Aku menuliskannya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat. Dan apabila dia berkeinginan untuk kejelekan dan dia melakukannya maka Aku tidak mencatatnya sebagai dosa, namun jika dia mengamalkannya maka Aku menuliskannya sebagai satu kejelekan’.”

https://www.facebook.com/armansyah/posts/10152393142613444

Tayamum

Jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. (al-Qur’an surah Al-Maaidah ayat 6)

Shahih Bukhari 326:

Telah menceritakan kepada kami Adam ia berkata; telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata, telah menceritakan kepada kami Al Hakam dari Dzar dari Sa’id bin ‘Abdurrahman bin Abza dari Bapaknya berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Umar Ibnul Khaththab dan berkata, “Aku mengalami junub tapi tidak mendapatkan air?” Maka berkata lah ‘Ammar bin Yasir kepada ‘Umar bin Al Khaththab, “Tidak ingatkah ketika kita dalam suatu perjalanan? Saat itu engkau tidak mengerjakan shalat sedangkan aku bergulingan di atas tanah lalu shalat? Kemudian hal itu aku sampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebenarnya cukup kamu melakukan begini.” Beliau lalu memukulkan telapak tangannya ke tanah dan meniupnya, lalu mengusapkannya ke muka dan kedua telapak tangannya.”

Shahih Bukhari 327:

Telah menceritakan kepada kami Hajjaj dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Syu’bah telah mengabarkan kepada kami Al Hakam dari Dzarri dari Sa’id bin ‘Abdurrahman bin Abza dari bapaknya, telah berkata, pula ‘Ammar tentang maslah ini; Maka Syu’bah memukulkan telapak tangannya ke tanah lalu mendekatkannya kepada mulutnya kemudian mengusapkannya ke mukanya dan kedua telapak tangannya.

https://www.facebook.com/armansyah/posts/10152390981943444

Thaharah (bersuci)

Thaharoh menurut bahasa berarti bersih. Dalam kaidah fiqh dipahami juga sebagai pembersihan diri dari hadas atau menghilangkan najis, seperti darah, air kencing, tinja, sperma, kentut dan sebagainya.

Shahih Bukhari 159:

Dari Humran mantan budak ‘Utsman bin ‘Affan, bahwa ia melihat ‘Utsman bin ‘Affan minta untuk diambilkan air wudlu. Ia lalu menuang bejana itu pada kedua tangannya, lalu ia basuh kedua tangannya tersebut hingga tiga kali. Kemudian ia memasukkan tangan kanannya ke dalam air wudlunya, kemudian berkumur, memasukkan air ke dalam hidung dan mengeluarkannya. Kemudian membasuh mukanya tiga kali, membasuh kedua lengannya hingga siku tiga kali, mengusap kepalanya lalu membasuh setiap kakinya tiga kali. Setelah itu ia berkata, “Aku telah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berwudlu seperti wudluku ini”

Shahih Bukhari 137:

Dari Zaid bin Aslam dari ‘Atha’ bin Yasar dari Ibnu ‘Abbas, bahwa dia berwudlu’, ia mencuci wajahnya, lalu mengambil air satu cidukan tangan dan menggunakannya untuk berkumur dan istintsaq, lalu ia kembali mengambil satu cidukan tangannya dan menjadikannya begini -menuangkan pada tangannya yang lain, lalu dengan kedua tangannya ia membasuh wajahnya, lalu mengambil air satu cidukan dan membasuh tangan kanannya, lalu kembali mengambil air satu cidukan dan membasuh tangannya yang sebelah kiri. Kemudian mengusap kepala, lalu mengambil air satu cidukan dan menyela-nyela kaki kanannya hingga membasuhnya, lalu mengambil air satu cidukan lagi dan membasuh kaki kirinya. Setelah itu ia berkata, “Seperti inilah aku lihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudlu.”

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. (al-Qur’an surah Al-Maaidah ayat 6)

https://www.facebook.com/armansyah/posts/10152390938778444

%d bloggers like this: