Kita dan anak jalanan

Kadang menyebalkan melihat anak-anak pengamen dan jual koran di pinggiran lampu merah. Menyebalkannya karena mereka tidak jarang memaksa agar kita membeli korannya atau mendengar nyanyian paraunya yang terbata-bata dan mungkin menyakitkan telinga kita. | Tapi, sering saya berpikir dan merenung bahwa jika ada pilihan lain yang lebih baik, tentu mereka juga tidak ingin seperti itu kawan. Mereka dan kita, mereka dan anak-anak kita….pasti punya keinginan, punya mimpi, punya khayalan yang sama.

Ya, kita semua pasti inginnya dapat duduk didalam mobil yang empuk, ber-ac dingin seraya dengerin musik, ngobrol dan ketawa bareng keluarga….kita semua ingin punya rumah kediaman yang layak, ingin punya baju yang bagus, ingin punya pekerjaan yang terhormat….

Saya percaya, tidak ada dari anda yang membaca status ini….punya mimpi untuk seperti mereka. Jual koran dari pagi hingga petang di pinggiran lampu merah, mengamen keluar masuk mobil bus kota atau juga mengais-ngais dengan bulu ayam membersihkan kap mobil orang dijalanan.

Sama….jika kita tidak mau bekerja dan bernasib seperti itu, ya merekapun juga tidak mau. Tapi keadaan kadang memaksa mereka.

Bayangkanlah jika anak-anak kecil yang mengais rezekinya di lampu merah itu adalah anak-anak anda atau adik anda…. kesana kemari berusaha mencari uang seribu, dua ribu…itupun Alhamdulillah jika ada yang memberinya, namun fakta lebih banyak orang mencuekinnya bahkan ada pula yang mengusirnya dengan kasar.

Ya…mungkin satu diantara orang-orang ini juga adalah saya. Kita kadang berpikir mereka sebagai sampah masyarakat, berpikir mereka itu adalah bagian dari suatu kejahatan sosial yang dibekingi oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan pribadinya sendiri.

Sahabatku…apapunlah itu, mendidik atau tidak mendidik dalam istilah intelektual kita, tapi again, jika ada pilihan….anak-anak kecil itu pasti ingin memilih kehidupan yang lebih baik. Banyak dari mereka yang sebaya dengan usia anak-anak kita dirumah, seusia dengan adik-adik kita disekolah.

Jangan membentak mereka jika memang tidak ingin memberinya, atau jika memang dikantong celana anda tersisip uang kecil seribu dan dua ribu rupiah, belilah koran mereka, dengarkan sejenak suara mereka. Pandangilah wajah-wajah kumuh itu dengan seksama.

Saya tidak bicara tentang pengemis yang menadahkan tangannya tanpa usaha……saya bicara tentang anak-anak kecil tukang jual koran dipinggir lampu merah, saya bicara tentang anak-anak kecil yang mengamen.

Tapi …. tapi…. tapi…. sudahlah terlalu banyak tapi-tapiannya. Uang seribu atau dua ribu disaku anda mungkin tidak terlalu berarti, tapi siapa tahu buat mereka sangat berarti. Siapa tahu….Wallahua’lam. Jikapun mereka menipu kita…. ya sudahlah, putihkan saja niat dihati. Setidaknya kita telah mendapat pahala dengan bersedekah dan bermuka manis pada mereka. Apalagi jika memang mereka ternyata benar-benar membutuhkannya….ketimbang kita bermasam muka, menghardik dan mengusirnya.

Negeri ini telah 69 tahun merdeka, tapi apa negeri ini telah betul-betul merdeka dalam artian sesungguhnya? Wallahua’lam.

Sama seperti kita…sejak perbudakan secara sistem telah dihapuskan dan sejak Islam membatilkan konsep kastaisme yang menyekat harkat dan martabat setiap manusia….. apakah kita sebagai pribadi juga telah bebas dari perbudakan nafsu, dari sekatan kasta ego diri? Wallahua’lam.

Cuma sekedar catatan kecil di Timeline Facebook yang tidak untuk diperdebatkan…..

Armansyah, 13 Agustus 2014
Palembang Darussalam.

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: