Saya tidak berpindah manhaj

ilustrasi_pindah
Sumber gambar: Google

 

Gara-gara celana non isbal dan berjenggot saya pernah ditanya apakah saya telah berubah manhaj. Dari seorang yang kritis dalam beragama menjadi salaf atau mungkin juga wahabi. | Saya jawab saja bahwa insyaAllah sikap keagamaan saya tidak berubah. Saya tidak condong pada pemahaman kelompok manapun dalam beragama termasuk untuk urusan fiqhnya. Saya menganut konsep talfiq.

Pemahaman saya tentang Nabi Isa berketurunan dan wafat secara normal dibumi, beliau tidak naik kelangit tetaplah sama seperti pemahaman saya terdahulu. Begitupula pandangan saya tentang penentuan awal bulan yang menggunakan hisab diatas rukyatul hilal juga tetap sama, pun terhadap redaksi atau matn sejumlah hadist yang saya kritisi tidak pula berubah. Kritik-kritik saya pada sejumlah pandangan dari Ahmadiyyah, Syiah, Sunni, Salafi, Muktazilah, NU, Muhammadiyah, JIL tidak mengalami revisi. Anda masih bisa membaca tulisan-tulisan saya yang mewakili pendapat dan pemahaman keagamaan saya tersebut melalui buku-buku saya yang terbit dipasaran hingga tulisan lepas saya di blog arsiparmansyah.wordpress.com

Saya tidak anti celana non isbal, berjenggot hingga jilbab besar bahkan sampai cadar sekalipun, tapi saya juga tidak anti seratus persen pada celana isbal. Kadangkala saya bercelana non isbal tapi kadang sayapun masih menggunakan celana jeans atau celana dasar yang isbal untuk bepergian dan beraktivitas. Mungkin satu-satunya sikap saya yang paling ekstrim dalam hal agama hanya masalah Tauhid, Kenabian serta kalamullah, tidak ada negoisasi untuk perkara ini. Bahwa Allah itu Maha Esa dan tidak beranak serta diperanakkan dalam bentuk dan penyifatan apapun juga, kemudian Muhammad adalah Rasul Allah, pelanjut generasi kenabian sebelumnya sekaligus berfungsi sebagai Khotamannabiyyin alias Nabi akhir jaman. Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang terjaga keasliannya dan tidak pernah berubah maupun ada kesalahan didalamnya.

Saya menggunakan hadist-hadist dari riwayat kutubut tis’ah dalam urusan fiqh, urusan muamalah hingga syari’at. Saya juga menjadikan pendapat para imam madzhab baik dari ahlussunnah hingga diluarnya yang referensinya ada pada saya sebagai acuan pijakan saya beramaliah dengan terlebih dahulu mempelajari dan menyesuaikannya dengan kitabullah dan sunnah-sunnah yang rojih dan shohih secara sanadnya.

Adapun untuk urusan khilafah, intinya saya mendukung penuh semua upaya penegakan syari’at Islam diatas dunia ini, baik dalam skala lokal maupun internasional. Saya tidak mengamalkan tahlilan, yasinan, kirim hadiah al-fatihah atau baca lafadz niat saat hendak sholat hingga berpuasa, saya juga tidak menggunakan lafadz sayyidina untuk menyebut nama Nabi Muhammad SAW didalam sholawat saya khususnya pada waktu sholat namun saya tetap menghormati saudara muslim saya lain yang melakukannya.

Dalam hal politik, saya mungkin masih condong pada partai Islam PKS walaupun saya tidak ada hubungan struktural disana dan cukup menjadi simpatisan saja. Meski begitu saya tetap menghormati kawan-kawan muslim lain yang berada di “parpol Islam” diluarnya. No hurt feeling sama sekali.

Sikap saya hari ini adalah sebagai pelajaran pendewasaan bagi semua pihak tentang cara menghormati perbedaan dan mengedepankan kemaslahatan umat yang lebih besar lebih dari pandangan kita secara pribadi. Kita tidak harus saling bermusuhan karena fiqh kita berbeda, kita tidak harus saling bunuh-bunuhan hanya karena anda tahlilan dan saya tidak tahlilan misalnya.

Setiap orang tentu akan berpendapat bila pemahamannya sendirilah yang paling benar dari orang lain….ini sangat wajar dan setiap kita mesti begitu. Tapi bukankah setiap perbedaan tidak harus selalu berakhir dengan perselisihan? bukankah Islam melalui ucapan salam maupun bacaan tahiyat awal dan akhir didalam sholat sudah mengajarkan cara yang ahsan pada kita?

Apa itu… do’akan mereka agar mendapat keberkahan Allah, do’akan mereka menjadi sholeh. Assalamu’alaina wa’ala ibadillahis sholihin.

Kita sebenarnya juga wallahua’lam, apakah betul sholeh dimata Allah yang sesungguhnya? Kita hanya berupaya memaksimalkan tingkat kesholehan kita saja, karena kadar taqwa setiap orang hakekatnya cuma Allah yang mengetahuinya. Untuk itu sama-sama buka hati dan mau saling belajar, saling menasehati…. Tawa saubil haq watawa saubil sobr

Berbeda pandangan, berbeda fiqh…. itu suatu keniscayaan tapi bila hari ini, kita punya musuh yang sama yang harus kita lawan, mari kedepankan ukhuwwah kita, amalkan apa yang kita yakini dan biarkan saudara muslim kita lainnya mengamalkan apa yang mereka yakini amaliahnya tanpa diganggu sementara bersama-sama kita berkumpul dan menyatukan kekuatan persaudaraan Islamiyah kita untuk menghadapi musuh-musuh Islam. Bahu membahu dalam kebenaran dan bahu membahu dalam menetapi kesabaran.

Salamun’ala manittaba al-Huda.
Palembang Darussalam, 12 Agustus 2014

Armansyah Azmatkhan.
**Status FB

Advertisements

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: