Uje, Hidayah dan Kita

tket_uje

Alhamdulillah, akhirnya tadi malam kesampaian juga berdua sama istri menonton film “Hijrah Cintanya” sang ustadz gaul, Jefrie al Bukhori. Dari tayangan tersebut, ada hal penting yang ingin saya bagi pada sahabat maya sekalian terkait pembelajaran positip yang bisa saya dapatkan dari film tersebut.

Hidayah itu bagaikan sinar mentari yang pancarannya senantiasa menembus permukaan alam. Semakin kita membuka diri akan datangnya cahaya kebenaran, maka semakin kuat pancaran sinar tersebut menerangi permukaan jiwa. Memeluk hangat memberi harapan baru dalam pengap serta kotornya batin yang digelimangi dosa. Ia laksana cahaya surya yang menelisik masuk keruang gelap melalui kaca jendela. Semakin banyak tirai tertutup yang kita singkapkan, maka akan semakin luas intensitas ruang bermandikan sang sinar. Jika kita tak pernah membuka tirai penutup ruangan batin itu, lalu bagaimana bisa sang sinar menyapa optimal memberi keselamatan?

ilustrasi

Sesungguhnya hidayah itu selalu ada pada kita, meski kita saat itu boleh jadi sedang merasa sang hidayah justru sedang berada sangat jauh dan mengambil jaraknya terhadap diri kita. Ingatlah sahabat, bahwa sinar mentari itu tetap mampu menjangkau luas sampai kekedalaman laut yang gelap, ia tetap bersinar walau disebagian belahan bumi sedang ditudungi oleh gelapnya malam. Bahkan melalui rembulan, sang mentari menitipkan cahayanya diwaktu malam agar semesta raya tetap mendapat penerangannya.

 

 

uje

Masalahnya tinggal kembali pada kita, apakah kita mau mengambil usaha untuk menerima sinar hidayah itu, bangkit dari semua salah dan dosa masa lalu, memperbaiki diri dan terus belajar menjadi semakin baik dimasa kini dan masa depan… atau memilih tetap berselimutkan gelap dan pengapnya jiwa dari Al Mu`iid, Al Waajid, An Nuur dan keseluruhan asma-asma agung-Nya Allah.

Sungguh Allah telah berfirman:

Innallaha la yughoyyiru ma-biqowmin hatta yughoyyiruu ma bianfusihim. | Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga kaum itu sendiri merubah keadaan yang ada pada diri mereka. (al-Qur’an surah ar-Ra’d ayat 11)

Semoga kita termasuk kedalam golongan hamba-hambaNya yang ketika kematian menjemput, Allah menyapa kita dengan sapaan mesra-Nya: Yaa ayyuhan nafsul muthmainnah, irji’i ila robbiki roodhiatam mardhiah, Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati puas lagi diridhai-Nya. (al-Qur’an surah Al-Fajr ayat 27-28)

Palembang Darussalam.,
07 Agustus 2014

Mgs. Armansyah Sutan Sampono Azmatkhan.
Timeline Facebook,

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: