Menggugat istilah Minal ‘Aidin wal Faidzin

mina_aidin

Pada waktu kita “salam-salaman” dan saling menyapa jelang ‘Iedul Fitri atau ‘Iedul Adha…. biasanya kita berkata: Minal Aidin ya… atau juga menulis Minal Aidin wal Faidzin.  Pertanyaan saya…. kalimat itu artinya apa ya?

Kalimat Minal ‘aidin wal faizin diatas terdiri dari sejumlah huruf Hijaiyah : Mim-nun-alif-lam-‘ain-alif-hamyah-dal-ya-nun-wawu-aliflam-fa-alif-hamzah-ya-za-ya-nun.  Dan jika kemudian kita terjemahkan kedalam Bahasa Indonesia maka kalimat tersebut artinya akan menjadi:

1. Min, Yang memiliki arti “termasuk”.
2. Al-aidin, Artinya”orang-orang yang kembali”
3. Wal, Artinya “dan”
4. Al-faizin, Artinya “ menang”.

Dari terjemahan kata perkatanya ini maka secara harfiah istilah Minal ‘Aidinwal Fa’izin dalam bahasa indonesia, adalah :“Termasuk dari orang-orang yang kembalisebagai orang yang menang”.

Siapa orang yang kembali dan siapa orang yang menang? Kembali dari mana dan menang melawan siapa?

Kita di Indonesia juga sering menggandengkan istilah Minal ‘Aidin wal Fa’idzin ini dengan kata-kata “Mohon Maaf lahir dan batin”, sehingga seolah-olah arti dari Minal ‘Aidin wal Fa’idzin adalah demikian itu. Padahal jelas-jelas artinya bukanlah itu. Bahkan banyak pula yang kadang menggantikan istilah maaf lahir batin dengan ucapan pendek seperti “Minal ‘Aidin ya”.

Ini salah kaprah!

Continue reading

Advertisements

Uje, Hidayah dan Kita

tket_uje

Alhamdulillah, akhirnya tadi malam kesampaian juga berdua sama istri menonton film “Hijrah Cintanya” sang ustadz gaul, Jefrie al Bukhori. Dari tayangan tersebut, ada hal penting yang ingin saya bagi pada sahabat maya sekalian terkait pembelajaran positip yang bisa saya dapatkan dari film tersebut.

Hidayah itu bagaikan sinar mentari yang pancarannya senantiasa menembus permukaan alam. Semakin kita membuka diri akan datangnya cahaya kebenaran, maka semakin kuat pancaran sinar tersebut menerangi permukaan jiwa. Memeluk hangat memberi harapan baru dalam pengap serta kotornya batin yang digelimangi dosa. Ia laksana cahaya surya yang menelisik masuk keruang gelap melalui kaca jendela. Semakin banyak tirai tertutup yang kita singkapkan, maka akan semakin luas intensitas ruang bermandikan sang sinar. Jika kita tak pernah membuka tirai penutup ruangan batin itu, lalu bagaimana bisa sang sinar menyapa optimal memberi keselamatan?

ilustrasi

Sesungguhnya hidayah itu selalu ada pada kita, meski kita saat itu boleh jadi sedang merasa sang hidayah justru sedang berada sangat jauh dan mengambil jaraknya terhadap diri kita. Ingatlah sahabat, bahwa sinar mentari itu tetap mampu menjangkau luas sampai kekedalaman laut yang gelap, ia tetap bersinar walau disebagian belahan bumi sedang ditudungi oleh gelapnya malam. Bahkan melalui rembulan, sang mentari menitipkan cahayanya diwaktu malam agar semesta raya tetap mendapat penerangannya.

  Continue reading

%d bloggers like this: