Nash agama, Ratu Adil, Messianisme, Khilafah dan Rasa Frustasi

Sejak jaman dulu, nash-nash al-Qur’an dan Hadist khususnya yang berkaitan tentang ‘Ashobiyyah kelompok, messianisme hingga kerasulan sudah berulang kali disalah gunakan dengan penafsiran yang ditujukan sebagai pembenaran dari suatu pernyataan ataupun klaim tertentu dari seseorang maupun sejumlah firqoh.

Sepanjang jaman kita telah menyaksikan catatan sejarah tentang orang-orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi dan Rasul dengan mengklaim dirinya mendapat wahyu baru dari ilahi. Diantara mereka juga ada yang menisbatkan diri sebagai sang messias dalam wujud al-Mahdi maupun al-Masih yang ditunggu-tunggu. Ada pula yang kemudian mengklaim diri sebagai khalifah, pemimpin tampuk tertinggi dari umat. Ada pula yang gemar mengkafirkan kelompok lain yang berseberangan dengan dirinya karena hanya menganggap kelompoknya sajalah pemilik kebenaran tunggal diatas dunia ini.

Continue reading

Advertisements

Dunia ibarat Istana Pasir

Kehormatan dunia berupa nama baik, status sosial, kedudukan, banyaknya harta adalah ibarat istana pasir. Dibangun dengan susah payah dipinggir pantai, saat ombak datang menyapunya, istana pasir itupun hancur terurai. Tak perduli seberapa gigih kita mendirikannya, merapikannya atau berapa biaya yang telah kita habiskan demi sampai kepantai itu untuk membangunnya.

Armansyah, 05 Agustus 2014
Palembang Darussalam.

Timeline Facebook

Kritik untuk Film Uje: “Hijrah Cinta”

Sebuah kritik untuk film “Hijrah Cinta”

Oleh : Armansyah

Sampai hari ini, saya memang belum mendapat kesempatan untuk menyaksikan film biografi alm. Uje. Tapi dari trailer yang sempat saya lihat di Youtube, ada kritik kecil dan mungkin juga itu malah menjadi kritik besar jika dikaitkan dengan syari’at khususnya bagi pihak-pihak yang terkait langsung dalam proses pembuatan dan penayangan film tersebut.

hijrahcinta-ins

Kritik tersebut adalah sekaitan dengan diperlihatkannya sejumlah adegan yang –boleh jadi memang dulu sewaktu almarhum masih belum insyaf– cukup saru, seperti peluk-pelukan antara laki-laki dan perempuan sampai eksploitasi aurat, dimana untuk sebuah film biografi seorang ustadz seharusnya tidak perlu ditayangkan sedemikian vulgar. Saya percaya almarhum sendiri bila masih hidup, tentu tidak mau adegan itu ada serta ditonton jutaan pasang mata.

Ingat, kita tetap punya batasan dalam seni. Ada hal yang tak perlu ditampilkan dan cukup dimaklumi saja maksudnya karena bila itu di visualisasikan justru akan melanggar norma maupun kesucian akidah itu sendiri.

Continue reading

%d bloggers like this: