Mengenal nash agama tentang kemunafikan

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (Al-Qur’an surah al-Anfaal [8] ayat 27)

Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa (Al-Qur’an surah Al-Jatsiyah [45] ayat 7)

Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta (Al-Qur’an surah Adz-Zariyah [51] ayat 10)

Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (Al-Qur’an surah An-Nahl [16] ayat 91)

Shahih Muslim 89: Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: apabila dia berbicara niscaya dia berbohong, apabila dia berjanji niscaya mengingkari, dan apabila dia dipercaya niscaya dia berkhianat.”

Itu munafik biasa…. ada lagi munafik tulen alias buapak moyangnya munafik. Baca ini :

Shahih Bukhari 2942: Dari ‘Abdullah bin ‘Amru radliallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Empat hal bila ada pada seseorang maka dia adalah seorang munafiq tulen yaitu orang yang jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari, jika diberi amanat dia khiyanat dan jika berseteru dia curang dan barangsiapa yang ada padanya salah satu sifat itu, dia punya sifat nifaq hingga dia meninggalkannya.”

Sunan Abu Daud 4068: Dari Abdullah bin Amru ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang pada dirinya ada empat hal, maka ia adalah seorang munafik tulen, namun jika hanya ada sebagian, maka pada dirinya ada sebagian sifat munafik hingga ia meninggalkannya; jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari, jika diberi amanah khianat dan jika berselisih berlaku curang.”

Sunan Nasa’i 4951: Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Permisalan orang munafik adalah seperti kambing yang bingung di antara dua kambing, terkadang dia pergi kepada kambing yang ini dan terkadang pergi kepada kambing yang ini, dia tidak tahu manakah yang akan dia ikuti.”

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. (Al-Qur’an surah An-Nisaa’ [4] ayat 138-139)

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu). (Al-Qur’an surah Ali Imron [3] ayat 28)

Musnad Ahmad 16049: Yahya bin Husain bin ‘Urwah berkata; telah menceritakan kepadaku nenekku berkata; saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Jika ada yang diangkat menjadi pimpinan pada kalian seorang budak, yang memimpin dengan kitab Allah Azza wa jalla maka dengarkanlah dan taatilah.”

Sunan Ibnu Majah 214: Nafi’ bin Abdul Harits bertemu dengan Umar bin Khatthab di daerah Usfan. Dan umar mengangkatnya sebagai gubernur Makkah. Umar berkata; “Siapa yang kamu angkat untuk memimpin penduduk yang ada di pinggiran?” Nafi’ menjawab; “Aku telah mengangkat Ibnu Abza untuk mereka”. Umar bertanya; “Siapakah Ibnu Abza itu?” Nafi’ menjawab; “Dia seorang dari bekas budak budak kita.” Umar berkata; “Kamu mengangkat seorang budak untuk mereka?” Nafi’ menjawab; “Dia seorang yang hafal kitab Allah, paham ilmu fara’id dan seorang qadli.” Umar berkata; “Sesungguhnya Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Sungguh, dengan kitab ini Allah akan mengangkat suatu kaum dan merendahkan kaum yang lain.”

Shahih Muslim 3428: Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Seorang imam itu ibarat perisai, seseorang berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya. Jika seorang imam (pemimpin) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ‘azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (imam) akan mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia (imam) memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.”

Sunan Abu Daud 2171: Dari Makhul dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berjihad adalah wajib atas kalian bersama seluruh pemimpin yang baik maupun jahat. Shalat adalah wajib atas kalian di belakang setiap muslim, yang baik maupun yang jahat dan walaupun ia telah melakukan dosa-dosa besar. Dan shalat adalah wajib atas setiap muslim yang baik maupun yang jahat, walaupun ia telah melakukan dosa-dosa besar.”

 

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: