Apakah kita memelihara kemunafikan?

Ada fenomena menarik bila anda bekerja disuatu instansi atau perusahaan. Coba perhatikan orang-orang disekeliling anda. Diantara mereka, mungkin banyak yang tidak puas dengan sebuah kebijakan tertentu yang menjadi keputusan atasannya. Tapi sayangnya, mereka cuma berani “ngedumel” dalam hati saja. Ketika jauh dari sang atasan dan sedang berkumpul bersama para koleganya, mereka akan mulai saling bicara. Semua mengutarakan unek-uneknya. Semua seakan berubah menjadi orang yang paling berani mengutarakan pendapatnya dan kekesalannya. Tapi lihat mereka jika sudah dihadapan sang atasan. Mereka diam seribu bahasa, mulut terkunci, mata menunduk dan kepala mengangguk-angguk terhadap apapun yang disampaikan oleh atasannya. Tak lupa mulutnya biasanya mengucap: “Baik. Ok. Siap…… BOS”. 

boss-scolding-employee-on-floor

Kelakuan-kelakuan semacam ini meskipun biasa kita temui, namun bukanlah kelakuan yang dapat kita benarkan. Coba sekarang lihat diri kita masing-masing deh, apakah kita juga termasuk orang yang demikian? atau justru termasuk orang yang berani mengemukakan pendapat, berani berdebat, berani untuk menyatakan ketidaksetujuan maupun protes terhadap suatu kebijakan dari atasan? Hitunglah orang-orang yang biasanya disebut provokator ini disekitar kita. Berapa perbandingan jumlahnya antara mereka ini dengan mereka yang hidupnya bagaikan robot seperti contoh saya yang pertama?

Cari aman…. ya, itulah umumnya pula kita dengar. Padahal cari aman pada manusia itu saudara akrabnya cari muka. Mereka lebih takut pada manusia ketimbang takut pada Allah. Kok bisa? Loh-iya bisa. Coba deh lagi, sikap seperti itu dalam kaidah agama disebut dengan istilah apa? Lain dimuka lain dibelakang? apa pula menurut kaidah agama untuk mereka yang suka menggunjingkan orang?

Itulah fakta apa adanya kondisi kita dan masyarakat disekitar kita hari ini. Jadi, kebobrokan, pendustaan, pengkhianatan, pengolok-olokan, kepengecutan serta penjilatan pada makhluk yang semuanya ini pasti kita benci, justru kita sendiri yang memeliharanya dalam diri kita, dalam diri masyarakat kita.

Astaghfirullah. Tampak kecil namun berat timbangannya

Armansyah Azmatkhan.,

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: