Muhammadiyah itu NU!

Oleh : Armansyah

Saat mengunjungi salah satu toko buku di Palembang bersama istri tercinta pada hari Minggu Sore 30 Maret 2014, saya menemukan buku yang menarik perhatian dengan judul “Muhammadiyah itu NU”, ditulis oleh Mochammad Ali Shodiqin. Diterbitkan oleh Noura Books.

Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan judulnya yang tidak eye-catching ini, namun sinopsis berikut endorsmen yang ada di bagian belakang buku ini akhirnya membuat saya memutuskan untuk membelinya dan membacanya sampai habis.

muhammadiyahitunu

Isi buku ini memuat tentang fiqh yang pernah di anut oleh organisasi Muhammadiyah yang di dirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tahun 1924 yang konon kabarnya memiliki kesamaan dengan fiqh yang sejak dulu dan hingga kini dianut oleh ormas Nahdlatul Ulama atau biasa disingkat dengan nama “NU”. Sengaja saya menulis kata konon ini karena saya tidak punya literatur pembanding untuk memeriksa keabsahan apa yang dinukil oleh penulis buku ini.

Secara umum buku ini saya katakan bagus dan penuh nilai historis. Kita jadi lebih tahu latar belakang ormas Muhammadiyah dan pendirinya yang jarang diangkat ke publik. Betapa menurut nukilan-nukilan Ali Shodiqin sang penulis buku ini, fiqh Muhammadiyah pada 1924 dulu sama persis dengan fiqhnya NU sekarang ini. Mulai dari tata cara ibadah formal seperti bacaan sholat, niat, syarat sah sholat, ibadah sholat Jum’at, sholat tasbih, jumlah adzan sholat Jum’at, Aurat, Bacaan Ta’awudz dan Basmalah secara Sirr dan Jahr dan seterusnya sampai kepada pembakaran wangi-wangian pada rumah kematian semua disebutkannya serupa persis dengan orang-orang NU.

Wallahua’lam, saya tidak tahu pastinya kecuali dari apa yang disebutkan dalam buku ini. Biarlah ini menjadi urusan internal orang-orang dari Muhammadiyah sendiri yang memiliki literatur tersebut untuk memberikan tanggapannya.

Hanya saja disini saya ingin sedikit memberi komentar bahwa di tilik dari sudut ke-Islaman, seandainyapun benar apa yang disebutkan oleh buku ini berkaitan dengan perubahan-perubahan (metamorfosa) fiqh dan cara beragama Muhammadiyah dari fiqh mereka di 1924, maka hal itu justru dalam pandangan saya, menjadikan ormas Muhammadiyah sebagai “ormas yang hidup” dan orang-orang yang ada didalamnya bukan orang-orang jumud ataupun orang-orang yang bertipe merugi. Disini orang yang merugi merujuk pada kaidah: “Orang yang hari ini lebih buruk atau sama seperti hari kemarin”.

Muhammadiyah, artinya di isi oleh orang-orang yang terus mengadakan perbaikan demi perbaikan dari waktu ke waktunya. Hal-hal yang sebelumnya dianggap salah dan menyelisihi kebenaran agama dimasa lalu, secara kontinyu mereka perbaiki dan mereka rubah. Inilah yang justru benar buat saya. Ormas Muhammadiyah terbukti bukan cuma sekedar ormas yang stagnan mempertahankan tradisi atau cara beragama turun menurun meskipun hal demikian menyelisihi nash agama.

Islam, terlebih khususnya al-Qur’an dalam banyak ayatnya justru sering mengecam kondisi keagamaan orang-orang yang menyandarkan pahamnya pada tradisi nenek moyang. Islam menganjurkan umatnya untuk terus berkontemplasi, terus belajar dan membuat perbaikan dijalan Allah.

Olehnya sayapun sepakat dengan salah satu endorsmen di buku ini: “Jangan sesekali memberhalakan sejarah sehingga membuat kita terpenjara masa silam.”

Saya percaya bila K.H. Ahmad Dahlan masih hidup, beliaupun tentu tidak ingin berlaku stagnan dalam berbuat kebatilan. Beliau justru bangga dan mendukung perubahan demi perubahan yang dilakukan demi mensejajarkan ormas Muhammadiyah dengan firman-firman Allah maupun hadist-hadist Rasulullah. Persis seperti yang dinyatakan oleh para imam Madzhab sendiri terhadap madzhab yang mereka dirikan.

Bagaimanapun juga, Muhammadiyah bukanlah Dahlaniyah.

Jika kita menganggap ormas Muhammadiyah sebagai miliknya K.H. Ahmad Dahlan sebagaimana seorang owner dari perusahaannya, maka jelas mengembalikan ormas ini pada khittahnya semula sesuai dengan cara-cara kuno 1924 menjadi sangat beralasan. Tapi bila ormas Muhammadiyah adalah milik umat Islam, maka tentunya kita tidak harus selamanya mengacu pada sosok seseorang secara personal, even itu seorang Ahmad Dahlan. 

Toh ilmu itu berkembang dan pengetahuan itu mengalir secara berangsur-angsur sesuai dengan perkembangan jaman itu sendiri. Boleh jadi pada waktu K.H. Ahmad Dahlan masih hidup, literatur keagamaan seperti buku-buku hadist, buku-buku Fiqh dan sejenisnya dapat dengan mudah diperoleh dan diakses seperti jaman kita hidup sekarang ini yang cuma tinggal membuka Google saja.

Ini yang harusnya kita pahami dan kita sadari.

So, saya melihat penulis buku ini justru ingin memaksakan kehendaknya mengembalikan ormas Muhammadiyah kepada masa silam sehingga mengesankan Muhammadiyah adalah Dahlaniyah. Sesuatu yang sangat tak berdasar meski diatasnamakan persatuan.

Biarlah NU dan Muhammadiyah tetap berbeda seperti hari ini. Biarlah umat menilai dan melihat sendiri dengan kacamatanya masing-masing dan akal sehatnya sendiri, sejauh mana kebenaran yang ada didalam pemahaman NU dan Muhammadiyah.

Palembang, 31 Maret 2014

Mgs. Armansyah Sutan Sampono Azmatkhan

One Response

  1. Keren Mas, kalo boleh di bagi dongs bukunya heheh sulit nyarinya nih
    heheheheh

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: