Khotibun naas bi lughoti qaumihim

Menjadi makmum disalah satu masjid di Palembang, ketika mulai masuk khotbah ke-2 sampai baca doa usai sholatnya, semua menggunakan bahasa Arab. Saya serasa sedang berada di timur tengah. Padahal, jemaah yang menjadi makmum terdiri dari berbagai profesi dan latar belakang pendidikan. Belum tentu semua mengerti apa yang disampaikan dan apa yang dibaca. Padahal sudah jelas kaidahnya: Khotibun naas bi lughoti qaumihim, berbicaralah kepada manusia dengan bahasa kaumnya. Tujuannya agar orang yang diajak bicara itu paham dan mengertos, bukan sekedar mengangguk-angguk seperti orang sedang mabuk atau mengucap amin tapi tak tahu apa yang ia amini.

Saya jadi ingat ketika dulu masih sering bolak-balik Palembang-Yogya, beberapa kali ikut jemaahan subuh dan jum’at disana, khotib dan ustadznya total menggunakan bahasa Jawa. Lah, saya yang sama sekali ora ngertos boso jowo ya bingung, nih khotib sedang ngomong apaan ya? Akhirnya biar saya gak terlalu kelihatan “bodohnya” sama makmum disebelah, saya cuma goyang tubuh kanan-kiri, dalam hati dzikir sendiri, lah iya wong saya tak ngerti apapun yang dibicarain, masak saya harus manggut-manggut geleng-geleng sambil sesekali senyum? Yah, ini sekedar cerita saja dari masa lalu.

Wama Arsalna min Rosulin illa bilisani qowmihi, liyubayyina lahum | Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (Surah Ibrahim ayat 4)

Status FB, Jum’at 28/02/2014

%d bloggers like this: