Tauhid membebaskan dari penghambaan makhluk

Islam mengajarkan arti keberserahan diri secara total pada Allah. Kalimat Laa ilaaha illallah adalah penafian bentuk ilahisme, meninggalkan sesuatu yang bisa digambarkan oleh pikiran atau sesuatu yang bisa dijangkau oleh indrawi insaniah. Hal-hal yang bisa memperhambakan makhluk terhadap makhluk lain dibuang karena makhluk hanya boleh menghamba pada al-Kholiq. Oleh sebab itu, melalui kalimah suci laailaha illallah juga tidak ada obyek yang boleh disifatkan, ditamsilkan dan diserupakan pada Allah. DIA lam yalid wa-lam yuulad, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Walam yakun-lahu kufuwan Ahad, tidak ada yang setara dengan-Nya. 

Sholatnya santri dan kyai sama, sholatnya petani dan raja sama, sholatnya orang kaya dengan orang miskin ya sama. Sholatnya orang Batak dan orang Jawa juga sama. Tidak ada beda masjid atau beda bacaan hingga beda gerakan. Kita tidak membayangkan wajah siapapun dalam ibadah kita, tidak wajah guru, wajah kyai, wajah murobbi atau berhala lain berupa patung dan gambar tertentu. Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fathorossamawati wal ardh.

Tauhid memerdekakan makhluk dari perantara untuk sampai kepada Allah. Tauhid menafikan mediator birokrasi yang menjembatani komunikasi seorang hamba dan Tuhannya. Derajat taqwa mutlak urusan Allah, semua insan sama. Inilah inti Laailaha illallah. 

#tauhid

Status FB, 23 Peb 2014

Advertisements

Pisau untuk diriku!

Aku menulis status di media sosial, menulis di blog atau juga menerbitkan buku yang isinya seakan aku menasehati kalian, seakan aku sedang menggurui kalian dan boleh jadi berkesan aku menghakimi kalian. Padahal sebenarnya aku justru sedang menasehati diriku sendiri, sedang mengajari diriku sendiri dan sedang menghakimi diriku sendiri. Aku sedang mempersiapkan tamparan untuk mukaku melalui tulisanku jika aku suatu hari bersikap tak konsisten dengan ilmu dan imanku.

Palembang, Minggu 23 Pebruari 2014

Mgs Armansyah Sutan Sampono Azmatkhan

Di posting juga di TL FB pada tanggal yang sama (klik saja disini)

Mengapa saya bertalfiq

Oleh : Armansyah

Istilah talfiq (التَّلْفِيقُ) dalam bahasa Arab berasal dari kata (لَفَّقَ – يُلَفِّقُ – تَلْفِيقاً) yang berarti menggabungkan sesuatu dengan yang lain. Dalam kaitannya bermadzhab maka talfiq madzhab atau at-talfiq baina al-mazahib bisa diartikan mengambil (menggabungkan) dua pendapat atau lebih dalam satu masalah yang pernah di kemukakan oleh para imam Madzhab fiqh, yang memiliki rukun-rukun dan cabang-cabang, sehingga memunculkan suatu perkara gabungan (rakitan).

Konsep talfiq merupakan lawan dari konsep taqlid. Dimana istilah yang terakhir ini yatu taqlid (ﺗﻗﻟﻴﺪ ) berasal dari fi’il madhi (kata dasar) ﺗﻗﻟﺪ  dan ﻗﻟﺪ   yang secara lughawi berarti “mengalungkan” atau “menjadikan kalung”. Kata taqlid mempunyai hubungan rapat dengan kata qaladah ( ﻗﻼﺪﺓ  ), sedangkan qaladah itu sendiri berarti kalung. Ringkasnya bertaqlid adalah orang yang seolah-olah menggantungkan hukum yang diikutinya dari seorang mujtahid (dalam hal ini boleh jadi mujtahid itu seorang imam madzhab tertentu, boleh jadi seorang guru atau ulama dan lain sebagainya).

Orang yang mengambil jalan taqlid artinya ia mengikut tanpa alasan, meniru dan menurut orang yang ia ikuti meskipun tanpa dalil sedikitpun yang ia pahami. Ia disini maksudnya si muqallid alias pengikut, bukan si mujtahid.

Sejumlah ulama menentang keras sikap talfiq karena ia dianggap “tatabu’ ar-rukhash” atau mencari keringanan bentuk hukum berdasarkan nafsunya. Seseorang itu masih dalam pandangan sebagian ulama, harusnya bersikap konsisten dalam madzhab. Ia harus taqlid pada satu madzhab tertentu dan tidak boleh mencampur adukkan madzhab A dengan madzhab B dengan madzhab C dan seterusnya.

Pada  hakikatnya  orang yang melakukan  talfiq  adalah  ia pun sedang melakukan taqlid.  Namun  bedanya kalau  biasanya  seseorang  bertaqlid  kepada satu mazhab saja, dalam hal ini orang yang melakukan talfiq sesungguhnya ia sedang bertaqlid kepada dua atau lebih dari mazhab fiqih. Talfiq  itu boleh dikatakan suatu perbuatan mencampur,  mengaduk  dan  mengoplos beberapa  pendapat  fiqih  dari  beberapa  mazhab guna mencari keringanan dalam suatu pelaksanaan hukum agama.

Mereka yang tidak setuju dengan talfiq boleh jadi menyebut sikap ini sebagai perbuatan yang tidak konsisten dan terkesan munafik. Padahal saya justru memandang kaidah talfiq justru suatu cara untuk bersikap konsisten terhadap kebenaran agama itu sendiri. Memang kita tidak konsisten pada madzhab tertentu namun kita konsisten untuk berpegang pada kaidah kebenaran agama.

Talfiq mengajarkan kita untuk bersikap lebih arif terhadap perbedaan, menuntut pelakunya berwawasan lebih luas dan terbuka serta jujur dalam berilmu yang membawa pelakunya pada sikap jiwa besar.

Orang yang bertaqlid pada suatu paham atau bahkan golongan tertentu akan cenderung menutup diri dari kebenaran yang datang dari luar golongannya itu. Apapun yang berbeda dengan pemahamannya pasti akan dianggap sebagai sesuatu yang batil dan berseberangan sehingga harus ditolak bahkan jika perlu dimusuhi.

Padahal tidak semua hal yang berseberangan dengan paham serta pikiran kita adalah pasti salah, pasti batil dan pasti sesat. Siapa tahu justru untuk beberapa hal tertentu, kitalah yang salah, kitalah yang batil dan kitalah yang sesat. Kita hanya pandai menunjuk kesalahan orang dibanding menyadari kesalahan pada diri kita sendiri.

Kita selalu menganggap diri kitalah yang paling benar, hal ini tidak aneh, sebab nafsu kita selalu membisikkan untuk selalu mencari pembenaran diri dan kita boleh jadi pula sering terdoktrin dan terparadigmakan untuk selalu membela diri saat ada orang lain yang tak sejalan.

Dulu, saat saya baru belajar Islam. Ketika menjumpai beberapa permasalahan yang berkaitan dengan doktrin tertentu dan saya secara akal tak dapat menerima doktrin tersebut sementara saya tidak punya pilihan lain kecuali mengikutinya karena khasanah ilmu dan literatur yang masih terbatas. Jika saya menolak doktrin itu, saya akan mendapatkan hujatan dan ancaman penyesatan bahkan pengkafiran. Ya Allah ya Robbi.

Konsekwensinya, akhirnya saya merasa seakan sedang dalam paksaan dan tekanan. Padahal akal sehat saya sebagai manusia mengatakan bila agama yang benar tentunya ia tidak akan menyelisihi fitrah manusia. Agama yang benar tidak akan membebani akal manusia dengan doktrin-doktrin dan syariat yang manusia tak mungkin kuasa memikirkan dan mengamalkannya. 

Setelah kemudian seiring dengan berjalannya waktu, saya banyak belajar dan membaca serta berdiskusi dengan orang-orang yang memang memiliki pemahaman berbeda dengan saya. Awalnya saya sendiri bersikap bertahan, ego saya keluar dan menganggap orang-orang ini batil. Saya berkeras bahwa sayaselalu  ada pada sisi yang benar. Saya nafikan semua argumen yang disodorkan pada saya.

Lama kelamaan, akhirnya dengan memohon perlindungan Allah, sayapun mencoba membuka diri dan mulai melihat out of the box. Menyelami argumen dan logika berpikir orang-orang yang berbeda dengan saya.  The more I learn, the more I realize, the less I know. Itulah kira-kira selanjutnya tahap perkembangan kedewasaan iman dan ilmu saya.

Ternyata dunia tidak sempit. Ternyata bersikap kontra terhadap pandangan seorang ulama, seorang syaikh, seorang guru besar bukanlah sesuatu yang negatif dan bernilai dosa. Bahkan sikap dan keputusan seorang Rasul seperti Nabi Muhammad sendiri boleh disanggah dan didebat, sebagaimana ini sering dilakukan oleh sahabat beliau yang bernama Umar ibn Khattab. Dan Nabi tidak pernah mengkafirkan Umar karena hal tersebut. Nabi juga tidak pernah mengucilkan apalagi sampai memutuskan silaturahimnya pada ayah dari Abdullah tersebut. Bahkan Nabi pernah membatalkan keputusan beliau setelah adanya kontra argumen dari salah satu sahabatnya yang bernama Salman al-Farisi dalam strategi perang Khandaq.

Continue reading

Jalan Dakwah

Dijalan dakwah ini, harta, tenaga, waktu, harga diri dan bahkan juga jiwa menjadi taruhan. Dijalan ini dulu Nuh pernah dicaci maki, dijalan ini pula Musa harus berhadapan dengan gerombolan tukang sihir, dijalan ini Isa difitnah dan dipaksa mengembara kesana kemari, dijalan inipun Yunus pernah mengalami frustasi hingga muncul kembali ketaqwaan diri, dijalan ini Yusuf harus mendekam dibalik jeruji,dijalan ini Yahya dan sejumlah Nabi lainnya mengalami syahid. Puncaknya dijalan dakwah ini pula seorang Muhammad harus terhina, terusir, tersakiti hingga terkhianati. 

Jalan dakwah tak pernah mulus, tapi inilah jalannya para syuhada, jalan para siddiqin, jalan para khulafaur rasyidin. Inilah jalan menuju jannatun na’im. 

Setiap muslim adalah da’i, setiap muslim adalah muballigh karena menurut Nabi setiap muslim adalah imam, sekalipun bagi dirinya sendiri. Semestinya, tidak ada istilah muslim awam atau semacamnya, karena sekali menjadi muslim, setiap insannya harus melakukan Iqro…. yah, Iqro’ Bismirobbikalladzi kholaq.

Palembang, 23 Peb 2014
Mgs. Armansyah Sutan Sampono Azmatkhan.
http://armansyah.net/

Diposting di TL FB, 23/02/2014

Perempuan di Monas, Ratu Kidul dan Kecerdasan Syahadat

Beberapa hari ini, sejumlah media memunculkan kehebohan baru terkait terindikasinya keberadaan patung perempuan bermahkota yang sedang duduk diantara kobaran api monas. Bermacam spekulasi lalu ditebarkan mulai dari praduga sederhana hingga dikaitkan dengan hal-hal mistik seperti perwujudan sosok ratu kidul yang dianggap berdiam di pantai selatan Jawa.

Saya jadi ingat tulisan pertama saya di media internet pada tahun 1995 lalu melalui jaringan Islamic Network justru berkaitan dengan eksistensi Jin perempuan satu ini dan sikap pemberhalaan masyarakat selama ini terhadapnya. Sayangnya saya tak sempat mengarsipkan tulisan hasil pemikiran perdana saya tersebut ditahun itu.

Tahun 1994, 1996, 1997 dan 1999 saya membuktikan sendiri dengan melanggar berbagai pantangan berkaitan dengannya, termasuk juga “kemistikan budaya” di makam imogiri. Alhamdulillah, sejauh ini saya masih dalam perlindungan Allah. Pengalaman ini pernah saya tulis dalam buku ke-4 saya: Misteri Kecerdasan Syahadat yang terbit tahun 2009. 

Misteri Kecerdasan Syahadat

Semoga menginspirasi dalam memperkuat tauhid setiap diri. 

Armansyah Azmatkhan.

Timeline Facebook, 23 Peb 2014

Rahasia Dzikir

Dzikir bukan hanya mengucap lafadz-lafadz Asmaul husnah saja namun menghadirkan Allah dalam hati dan mencintai Allah lebih dari yang lain serta menafikan kekuatan atau keberadaan ilah-ilah lain selain Allah. Dzikir merupakan aktivitas aktif yang melahirkan pikir dan kecerdasan jiwa secara luas tiada batas. Itulah makna Dzikir bisa sambil berdiri, duduk, tiduran bagi orang berakal. (Lihat Ali Imron 190-191)

TL FB, 23/02/2014

Gafatar adalah baju barunya al-Qiyadahnya Musaddiq?

Astaghfirullah, saya baru “ngeh” setelah sempat baca salah satu posting sahabat di media sosial bahwa Gafatar itu adalah jubah baru dari gerakan al-Qiyadah al-Islamiyahnya si rasul sesat Ahmad Musaddiq serta Millata Abraham. Jika benar adanya begitu, maka jelas harus disikapi tegas karena mereka jelas melakukan penodaan terhadap Islam. MUI dan ormas Islam lainnya harus bergerak kembali. Sasaran penyesatan mereka adalah generasi muda Islam yang terdiri dari para pelajar yang sedang semangat mengenal agamanya melalui Rohis dan Mahasiswa dalam senatnya.
Saya masih dapat memahami perbedaan cara pandang dan penafsiran keagamaan yang ada pada madzhab Syi’ah walaupun tidak berarti saya mengamini keseluruhan paham mereka, namun untuk al-Qiyadah… ini bagi saya setali tiga uang dengan Jemaah Salamullahnya Lia Eden masa lalu. Sekali lagi jika berita mengenai Gafatar ini benar adanya, maka pesan saya untuk para siswa dan mahasiswa serta umat Islam seluruhnya, waspada dan hati-hati dalam menerima setiap ajaran atau ilmu agama yang disampaikan oleh siapapun. Apalagi jika itu sudah berkaitan dengan tafsir al-Qur’an dan isu messianisme seperti kemunculan ratu adil, imam Mahdi, turunnya Isa al-Masih hinngga Bani Ketura.

Saya pernah menulis bantahan sekaligus bermubahalah dengan pengikut ajaran al-Qiyadah al-Islamiyah sekitar tahun 2007 lalu. Buku saya itu diterbitkan oleh Mizan dengan judul: Jejak Nabi Palsu: Dari Mirza Ghulam Ahmad, Lia Aminuddin hingga Ahmad Musaddiq.

JNPhttp://www.nahimunkar.com/surat-pembaca-millah-abraham-berubah-nama-menjadi-gafatar/

http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2012/04/13/18653/ustadz-abu-deedat-waspada-sekte-sesat-gafatar-dompleng-kegiatan-pmi/;#sthash.Wu6egFh9.dpbs

http://alghuraba-online.blogspot.com/2012/07/gafatar-aliran-sesat-merambah-sma.html

 — with Mizanmedia Utama.

TL FB saya, 22 Peb 2014

%d bloggers like this: