Syaikh Abdul Qodir Jailani dan hadiah bacaan al-Qur’an

Kemarin saya mendapat pertanyaan tentang hukum membaca sholawat ataupun menghadiahkan al-fatihah pada syaikh Abdul Qadir Jailani. | Sebenarnya pertanyaan ini klasik dan jawabannya rada rawan memicu perdebatan nih. Tapi karena saya anggap berguna, saya shared secara publik saja. Adanya pihak yang pro maupun kontra, saya anggap hal yang wajar-wajar sajalah dalam hidup. Kalo semua harus pro dengan pendapat saya, nanti hidup tak lagi hidup. 

Jawaban saya adalah saya pribadi tidak pernah mengamalkan sholawat atau juga menghadiahkan bacaan al-fatihah saya pada Syaikh Abdul Qodir Jailani atau juga pada siapapun diluarnya. Sholawat yang saya baca adalah bacaan yang saya temukan dalam nash-nash hadist yang bersumberkan para Rasulullah berdasarkan pada riwayat-riwayat para imam hadist yang sudah dikenal.

Saya juga sampai hari ini belum pernah bertemu riwayat shahih yang menyebutkan sunnah tentang membaca al-fatihah maupun ayat lain dari al-Qur’an dan pahalanya dihadiahkan pada sifulan atau fulanah. 

Demikian.

Sapa Andrie Aan Agustian selaku penanya.

Palembang, 22 Peb 2014

Status FB saya, 22/02/2014

Sekedar catatan tambahan :

A. Hassan dalam buku Soal Jawab Masalah Agama 3-4 (terbitan : Penerbit Persatuan Bangil) pada halaman 1152 mengatakan : Menurut pertimbangan akal, maka ganjaran ibadat itu tidak bisa sampai kepada orang lain lantaran Tuhan perintah beribadah itu agar kita terpelihara dari kejahatan dan agar kita menjadi orang yang berbakti, agar kita menjadi orang yang takut pada Allah.

Jika seandainya ibadat kita bisa dikerjakan oleh orang lain, tentu kita tidak bisa jadi orang yang dimaksudkan dalam Qur’an itu. Ibadah artinya memperhambakan diri, karenanya tidak bisa ada kalau tidak dikerjakan oleh masing-masing orang. Jika ibadat seseorang boleh dikerjakan oleh orang lain maka orang yang kaya bisa membayar manusia sekampung, bisa membayar kyai terkenal untuk mengerjakan amal ibadahnya.

  Continue reading

Klarifikasi: Undang saya tak ada tarif!

Subhanallah, untuk kesekiannya saya ditanya tentang tarif jika diundang untuk mengisi acara tertentu.

Waduh ibu, mohon maafnya saya tidak jual ilmu agama. Saya hanya berbagi pengetahuan saja. Saya bukan ustadz besar yang sering muncul ditelevisi dan bertablig didepan ribuan jemaah. Saya hanya seorang guru biasa yang “kebetulan” saja dititipkan setetes buih dari besarnya jumlah air laut pengetahuan agama yang maha luas ini. Tak ada tarif-tarifanlah, bisa membuat orang lain tercerahkan saja saya sudah senang, biarlah jadi investasi akhirat.

Tapi tadz, ini bukan di Palembang loh… ya jika demikian, mohon bantuannya saja untuk transportasi dan akomodasi seperlunya. Kalau memang ingin memberi hadiah, ya dikirim saja tolong mobil mercynya ya ….hahaha, haduh. Macam-macam saja.

Sumber: FB, 21 Feb 2014

Hukum Gambar dan Lukisan

Ada sebuah pertanyaan yang masuk di Timeline facebook saya berkaitan dengan hukum gambar dan lukisan. Pertanyaan tersebut juga melampirkan sebuah gambar hasil screenshot dari salah satu tweet di internet sebagai berikut:

tweet-gambar

Pertanyaannya adalah : 

Assalaamualaikum wr.wb.

Maaf pak Arman, mohon konfirmasi n penjelasan tentang hadits yg ada di foto ini.

Terima kasih sblmnya

Jawaban saya:

Hadist tersebut lengkapnya adalah sebagai berikut:

Shahih Muslim 3945: Berkata Muslim; Aku membaca Hadits Nashr bin ‘Ali Al Jahdhami dari ‘Abdul A’la bin ‘Abdul A’la; Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Ishaq dari Sa’id bin Abu Al Hasan ia berkata; Ada seseorang yang datang kepada Ibnu Abbas dan berkata; ‘Hai Abdullah, saya ini adalah orang yang suka menggambar semua gambar ini. Oleh karena itu, berilah fatwa kepada saya mengenai gambar-gambar tersebut!” Ibnu Abbas berkata kepadanya; ‘Mendekatlah kepadaku! ‘ Orang itu pun lalu mendekat. Tetapi Ibnu Abbas tetap berkata; ‘Mendekatlah lagi! ‘ Lalu orang itu mendekat lagi hingga Ibnu Abbas dapat meletakkan tangannya di atas kepala orang tersebut. Setelah itu, Ibnu Abbas berkata; ‘Aku akan menceritakan kepadamu apa yang pernah aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau telah bersabda: ‘Setiap orang yang suka menggambar itu akan masuk neraka. Allah akan menjadikan baginya, dengan setiap gambar yang dibuat, sosok yang akan menyiksanya di neraka Jahanam kelak.’ Ibnu Abbas berkata; ‘Jika kamu memang harus tetap melakukannya juga, maka buatlah gambar pepohonan atau benda lain yang tak bernyawa.’ Kemudian Nasr bin Ali menetapkannya.

Hadist-hadist berkaitan gambar diluar ini ada banyak sekali seperti yang jamak kita tahu (searching saja di google untuk lebih jelasnya). 

Dalam hal ini, sejumlah ulama dahulu serta sekarang mengharamkan secara keras menggambar makhluk hidup, termasuk ketiga madzhab (yaitu mazhab Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Al-Syafie dan Al-Imam Ahmad ibnu Hanbal). Berbeda dari ketiganya, madzhab Maliki hanya menghukuminya makruh namun tidak berdosa bila di kerjakan selama tidak dimaksudkan untuk dijadikan sesembahan. Imam al-Ghazali juga dalam kitab Ihya Ulumiddinnya seperti halnya dengan musik, juga menghukuminya sebagai sesuatu yang tidak diharamkan.

Saya pribadi –tanpa mengurangi hormat pada mereka yang mengharamkannya– maka dalam urusan ini lebih condong pada Malikiyyah, Imam al-Ghazali dan cenderung juga sepakat dengan fatwa dari Syaikh al-Qardhawi. Harus dilihat dulu tujuan pembuatan gambar itu untuk apa? Dimana dia diletakkan? Bagaimana dia dibuat? Dan apa tujuan pelukisnya?

Sunan Abu Daud 3625: Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Ash Shabbah bahwa Isma’il bin Abdul Karim menceritakan kepada mereka, ia berkata; telah menceritakan kepadaku Ibrahim -maksudnya Ibrahim bin Aqil- dari bapaknya dari Wahb bin Munabbih dari Jabir bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan Umar Ibnul Khaththab radliallahu ‘anhu -pada waktu pembukaan (penaklukan) kota Makkah, dan ia berada di daerah Bathha- agar datang ke Ka’bah untuk menghapus semua gambar yang ada di dalamnya. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan masuk ke dalam Ka’bah hingga semua gambar yang ada di dalamnya telah dihapus.”

Wallahua’lam.,

Sumber: 
Timeline FB saya, 21 Februari 2014

Sebagai tambahan: Jika memang gambar makhluk bernyawa dihukum sebagai haram secara mutlak, maka kira-kira analogi konkret didalam kehidupan, kita sebaiknya tidak usah datang belajar ke sekolah formal maupun toko buku dan apalagi sampai buka-buka buku pelajaran. Hampir seluruh buku-buku yang ada pada hari ini ditoko buku maupun disekolah-sekolah, memuat gambar-gambar makhluk hidup bernyawa. Entah apakah itu manusia ataupun binatang.

Jadi ketika ada anak atau murid kita misalnya nanti bertanya : Papa, bagaimana sih rupa burung pinguin yang katanya di kutub selatan itu ? Atau wajah orang Aborigin yang item kriting itu macam apa sih ? Anda cukup menjawabnya dengan kata : Papa belum bertemu sama mereka nak, jangan buka buku atau cari di google, haram.

gbrhalalorharam

Pertanyaannya untuk jadi renungan sendiri masing-masing orang adalah …. apakah benar Islam sedemikian sempit dalam menyikapi sesuatu?

Qila wa Qola… mungkin banyak yang tidak tahu juga bila Rasulullah SAW sendiri justru pernah mengenakan pakaian dengan motif makhluk hidup. Hal ini menjadi jawaban untuk orang-orang yang berpaham ekstrim dan berlebihan terhadap hukum gambar.

Shahih Muslim 3881: Dan telah menceritakan kepadaku Suraij bin Yunus; Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Zakaria bin Abu Zaidah dari Bapaknya; Demikian juga telah diriwayatkan dari jalur yang lain; Dan telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Musa; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Zaidah; Demikian juga telah diriwayatkan dari jalur yang lain; Dan telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal; Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Zakaria; Telah mengabarkan kepadaku Bapakku dari Mush’ab bin Syaibah dari Shafiyah binti Syaibah dari ‘Aisyah ia berkata; Pada suatu pagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumah dengan mengenakan pakaian dari woll yang bermotifkan gambar kafilah unta dari bulu-bulu hitam.

Sholat sunnah rawatib

Ada pertanyaan yang masuk di Timeline Facebook saya berkaitan dengan Sholat Sunnah Rawatib. Pertanyaannya adalah:

Pak saya mau bertanya dong mengenai solat sunah rawatib..
Diwaktu sebelum solat dzuhur itu 2 rakaat sebelum dan sesudah (jadi 4 rakaat)
atau hanya sebelum atau sesudah saja ataukah sebelum dzuhur 4 rakaat ( 2rakaat salam ).

Mohon infonya..terimakasih

wassalamualaikum.

Jawab saya:

Wa’alaykumsalam Wr. Wb.,

Sholat Sunnah Rawatib adalah sholat sunnah yang mengiringi sholat fardhu, diantaranya mengiringi Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya.

Dasar :

Shahih Muslim 1199: Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Nu’man bin Salim dari ‘Amru bin Aus dari Anbasah bin Abu Sufyan dari Ummu Habibah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, katanya; “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim mendirikan shalat sunnah ikhlas karena Allah sebanyak dua belas rakaat selain shalat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.” 

Adapun untuk jawaban pertanyaannya :

Shahih Muslim 1200: Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb dan ‘Ubaidullah bin Said keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya yaitu Ibnu Said dari ‘Ubaidullah, katanya; telah mengabarkan kepadaku Nafi’ dari Ibnu Umar, (dan diriwayatkan dari jalur lain) telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Usamah telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar katanya; “Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dua raka’at sebelum Zhuhur dan dua raka’at setelahnya, dan dua raka’at setelah maghrib dan dua raka’at setelah isya`, dan dua raka’at setelah jumat, adapun (sunnah) maghrib dan isya` dan jumat, aku shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di rumahnya.”

Sumber: Timeline FB saya, 20 Feb 2014

%d bloggers like this: