Talfiq: saya bukan penganut salafi, syiah atau lainnya

Jika saya memilih untuk condong menggunakan metode hisab wujudul hilal itu bukan berarti saya orang dari ormas Muhammadiyah, jika saya terkadang terlihat menggunakan celana cingkrang itu bukan pula berarti saya condong pada kaum salafi, jika saya mendahulukan kecintaan pada ahli bait Rasul dari sahabat lainnya itupun bukan artinya saya penganut syi’ah. Jika saya menolak bertawassul dengan media apapun itu juga bukan berarti saya adalah wahabi. Jika saya lebih terlihat bersikap rasional ketimbang doktrinal bukan pula artinya saya dari golongan Muktazilahnya Washil bin Atho. Jika saya memiliki anjing dirumah tidak harus pula saya dinisbatkan pengikut dari madzhab Maliki. Saya ya hanya Muslim tanpa kecenderungan untuk bersifat sekterianisme ataupun bergolong-golongan.

Kalaupun ada pemahaman yang “kebetulan” sama, itu semata-mata saya menganggapnya lebih dekat pada kebenaran kaidah agama yang saya pahami. Tapi fakta bahwa pemikiran sayapun banyak berseberangan dengan penganut salafi, Muhammadiyah, Syi’ah, Wahabi, Muktazilah, penganut dari Madzhab Maliki, Syafe’i dan sebagainya. Saya menghormati paham dan pikiran yang berbeda dengan saya, sehingga saya kadang tak begitu mempermasalahkan orang yang kerjanya dzikir berjemaah, mengadakan perayaan maulid, ulang tahun yang didalamnya ada muhasabah, Yaasinan, orang yang bertawassul dan lain sebagainya. Urusan setiap orang adalah menjadi tanggung jawabnya sendiri secara pribadi. Tapi jika saya ditanya tentang sikap saya, maka banyak hal-hal itu boleh jadi saya tolak dan tidak saya lakukan serta boleh jadi pula ada hal yang dapat saya benarkan. 

Saya adalah muslim. Islam itu rahmatan lil’aalamin, menyejukkan dan mendamaikan jiwa, memerdekakan pikiran, serta tidak menakutkan. Jika ada orang yang ngeri dan takut pada Islam, itu artinya ada yang salah pada kita selaku penganutnya sehingga mencitrakan Islam sebagai sesuatu yang buruk dan menyeramkan. Mari bermuhasabah diri sama-sama.

Status FB saya, 12 Pebruari 2014

Advertisements

Jangan mudah memberi fatwa sesat dan bid’ah pada modernitas

Dulu ledakan petir dianggap orang sebagai sebuah peristiwa sakral yang dikaitkan dengan mitos dewa-dewa. Tapi setelah Thomas Alfa Edison dapat menjelaskannya secara rasional dan diwujudkan dalam bentuk cahaya lampu yang terbuat dari bola kaca dan didalamnya terdapat serat karbon maka orang berangsur-angsur tak lagi mengaitkan petir dan hal-hal yang berhubungan dengan listrik sebagai fenomena adikodrati.

Thomas Alfa Edison tidak dianggap sebagai tukang sihir dijaman modern ini karena mampu menemukan pengetahuan tentang bola-bola kaca bersinar. Orang paham bahwa bola-bola kaca itu dihubungkan oleh kawat-kawat yang disembunyikan dan membentuk rangkaian listrik yang dihubungkan dengan satu tombol yang berfungsi sebagai media menghidupkan serta mematikannya. 

Bagaimana bila misalnya kita hidup di masa lalu dan kemudian melihat sebuah robot yang digerakkan secara elektronis melalui remote control? Boleh jadi kita langsung mengaitkannya dengan hal klenik, mistis, ada campur tangan Jin dan sebagainya. Kenapa? Karena perkembangan pemikiran dimasa itu memang baru sampai disitu. Tidak mungkin kita berpikir bahwa robot itu hanya peristiwa listrik yang dipadu dengan peristiwa mekanik, digerakkan oleh motor, ditanamkan chip dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan sebagainya dan seterusnya.

Inilah sebenarnya proses tahapan perkembangan pikiran manusia. Oleh karena itu jangan mudah memberikan fatwa sesat, bid’ah ataupun haram terhadap fenomena modern yang diperoleh dari perkembangan Science and technology yang mampu menjembatani nash agama terhadap masyarakat masa kini meskipun hal itu di jaman dulu (yaitu eranya kaum salaf) tidak pernah ada ataupun ditinggalkan. Misalnya penerapan ilmu hisab modern yang difasilitasi oleh satelit, komputer canggih serta perhitungan rumit dari algoritma yang kompleks sehingga dapat menghasilkan data siklus peredaran bulan secara “lebih pasti” dibanding hisab ala klasik yang masih bercampur mitologi dan klenik.

Status FB saya, 12 Feb 2014

Tanggapan kasus ustadz Hariri

Saya dapat sejumlah sms, inbox sampai tagged dari sejumlah sahabat mengenai adanya ustadz yang berlaku kasar menginjak kepala jemaah pada satu acara tabligh tertentu. Awalnya saya pikir itu cuma hoax untuk menjatuhkan kredibelitas para ulama saja. Tapi kemudian setelah ada seorang rekan ustadz juga menghubungi langsung via telpon membahas perkara ini, akhirnya saya coba mencari tahu kebenaran peristiwa tersebut. 

Intinya, semua orang tidak mungkin luput dari salah maupun khilaf. Apa yang dilakukan oleh ustadz Hariri dengan menyuruh jemaah tersebut mencium kaki dan kemudian menekan kepala orang tersebut dengan lututnya seraya memarahi secara emosional sedemikian rupa dihadapan banyak jemaah lain termasuk anak-anak, pada hakekatnya harus diakui sudah terlalu berlebihan dan tidak seharusnya terjadi. Apapun alasan yang melatarbelakanginya. Sebagai seorang ulama, seorang ustadz, seorang Asatidz atau publik figur lain, kita mestinya bisa menjadi uswatun hasanah dilapangan. Cerdas tidak hanya dalam hal intelektual atau spiritual saja, misalnya hapal ratusan ayat dan hadist, paham kaidah fiqh dan luas wawasan umum lain namun juga harus cerdas di bidang emosi (EQ).

Apa yang sudah terjadi ya sudahlah, tak bisa kita tarik mundur lagi juga khan. Ini menjadi pembelajaran untuk semua pihak kedepannya. Ada asap tentu ada api, ada semut boleh jadi karena ada gula. Seorang ustadz bukan seorang pribadi yang ma’sum dan tidak pula harus berlebihan memuja dan menghormatinya karena Rasul sendiri berulang kali mensejajarkan dirinya sama seperti umat beliau dengan mengatakan “Innama ana basyarun mislukum”. Akhirnya, sama-sama bermuhasabah diri saja. Kita tidak membenarkan perilaku yang salah namun juga tidak harus menghujat secara berlebihan, bagaimanapun boleh jadi saat kita emosi, tindakan kita mungkin lebih jahat dari beliau sementara kapasitas ilmu kitapun masih jauh dari beliau. Sekalipun mungkin kita merasa diri lebih baik, tetap jaga sikap dan hati, itulah guna saling menasehati.

Status FB, 13 Peb 2014

Ibadah secara terpaksa dan sukarela

Kemarin ada siswa saya yang bertanya: Pak, sesuatu yang dipaksa itu khan tidak baik pak, artinya ia tidak ikhlas melakukannya. Jadinya percuma dan sia-sia amalannya itu. Bagaimana menurut bapak jika seseorang beribadah dengan terpaksa atau dipaksa? bukankah pasti tidak diterima Allah juga amalnya itu? | Saya jawab : Melakukan suatu amalan agama secara terpaksa, adalah jauh lebih baik ketimbang tidak melakukannya sama sekali. Apakah amalan itu tidak diterima oleh Allah? Loh tahu darimana kita sesuatu amal perbuatan itu pasti diterima dan pasti ditolak oleh-Nya? Apa kita merasa lebih tahu dari Tuhan sendiri? Olehnya, just do it even itu kita melakukannya secara sukarela dengan penuh kesadaran ataupun terpaksa dan dipaksa oleh kewajiban syariat. 

Terus murid saya nanya lagi… pak, bukankah Islam itu tidak membebani umatnya? bukankah tidak ada paksaan dalam beragama? | saya jawab lagi. | Yang kamu bilang itu benar adanya, Islam tidak memaksa orang dalam beragama dan Islam tidak membebani umatnya melebihi apa yang bisa ia pikul. Tapi kamu salah pasang dalil dalam kasus ini.

Laa Iqro Ha Fiddin itu berkaitan dengan hak-hak pilihan keberagamaan manusia. Bukan menjadi dalil untuk tidak melaksanakan maupun meninggalkan sebagian atau keseluruhan dari ajaran atau syariat dari Islam bagi pemeluknya. Kita tidak memaksa orang untuk menjadi muslim atau muslimah. Hak setiap orang untuk memutuskan dengan kesadaran serta akal sehatnya sendiri tentang agama mana yang akan ia imani. Islam tidak memaksa, Islam hanya memberi pengajaran dan mengingatkan saja sesuai dengan nilai-nilai kebenaran universal yang dapat dipahami oleh manusia sesuai fitrahnya. Namun jika kita sudah Islam, sudah menjadi muslim atau muslimah maka kita mau atau tidak mau harus tunduk pada setiap aturan main yang terdapat didalam Islam itu sendiri. 

Misalnya menutup aurat… setiap muslim dan muslimah yang jelas-jelas sudah mengakui serta sudah merasa ridho terhadap Allah untuk menjadi Tuhannya serta ridho Muhammad sebagai Nabinya harusnya melaksanakan perintah ini tanpa execuse. Sebab jika tidak melakukannya maka artinya ia seorang pembangkang, bila sudah demikian, ia sesungguhnya belum ikhlas menjadi muslim atau muslimah. Ia tidak ikhlas dan sungguh-sungguh menjadikan Allah sebagai Tuhannya dan Muhammad sebagai nabinya. Too many execuses. 

Jadi pak –tanya siswa saya lagi– sekali kita Islam, maka kita harus mengikuti semua syariat Islam? | Saya jawab : Betul. Just do anything yang sudah Allah perintahkan pada kita melalui kitab-Nya. Nah nanti dalam pelaksanaannya baru disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing diri. Misalnya nih, sholat. Ya wajib sholat bagi laki-laki dan perempuan muslim. Tapi bila sakit atau lelah, boleh dilakukan secara duduk. Jika sakitnya parah, ya lakukan seraya berbaring, kalau parah sekali ya kedipan mata saja seraya membayangkan ritualnya, jika memang tak mampu ya dalam hati. Jika masih juga tak mampu ya artinya dia sudah mati dan tinggal kita sholati saja. Selesai perkara.  Khusus muslimah, jika ia sedang dapat menstruasi ya tidak wajib sholat. Ia sedang dapat cuti bulanan dari Allah, cuti itu tidak harus diganti pada hari dan bulan lainnya. Gampang khan? Disinilah letak penggunaan ayat Fattaqullaha-mas tato’tum (bertakwalah kepada Allah semampumu). 

Jadi jangan salah pasang dalil, mentang-mentang ada nash tidak ada paksaan dalam beragama lalu kita suka-suka saja mengamalkan ajaran agama. Bukan itu maksud nashnya. Kita tetap lakukan apa yang diperintahkan, namun semampu yang dapat kita usahakan pelaksanaannya.

Siswa saya manggut-manggut seraya tersenyum paham. Alhamdulillah. 

Status FB, 19 Peb 2014

PrayforAfrica: Antara Kristenisasi dan Islamisasi

Islamisasi Eropa, Amerika maupun juga Afrika pada dasarnya tidak dilakukan secara struktural dan masif sebagaimana misalnya kristenisasi. Fakta lebih banyak memberikan data pada kita bila sebagian besar mu’alaf, entah apakah dia berasal dari Kristen, Budha, Hindhu maupun keyakinan lainnya bukan karena adanya Islamisasi dalam pengertian ajakan, tawaran, penipuan dengan pemutar balikan ayat-ayat kitab suci apalagi dari paksaan. Para mu’alaf ini umumnya menjadi Islam karena kesadaran yang timbul dari dalam dirinya akibat proses berpikirnya sendiri, tentu saja hal ini tetap melibatkan hidayah Allah.

Islam tidak pernah memaksa siapapun untuk menjadi muslim atau muslimah, hak kebebasan beragama sangat dijamin didalam al-Qur’an. Tentunya meskipun kebebasan sangat dijamin oleh Islam, hal ini tetap tidak dimaksudkan untuk mempermainkan agama. Islam bahkan melarang umatnya untuk menghujat obyek yang dipertuhankan oleh orang lain dalam kepercayaannya. Tegas dan jelas ayatnya didalam al-Qur’an. Apalagi sampai melakukan pembunuhan dan menebar kebencian terhadap sesama umat manusia. Kita hidup berdampingan untuk saling menghormati akidah masing-masing. Tentu tetap pula kita tidak dapat mencampur adukkan antara Islam dan Kristen, Islam dan Hindhu serta sejenisnya. Satu kata, bahwa menghormati bukan berarti mengamini. 

Apa yang terjadi di Bosnia tahun 1995, kemudian juga disejumlah tempat lain diseluruh dunia termasuk kasus Ambon beberapa tahun lalu dan sekarang terjadi juga di Afrika Tengah dimana umat Islam mengalami pembantaian secara masif oleh orang-orang ataupun oknum yang selalu mengagungkan dogma cinta kasih, adalah fakta bahwa manusia lebih banyak beragama secara doktrinal ketimbang paham hakekat keberagamaan dalam dirinya. Tentu kita tidak akan menghakimi sosok yesusnya yang jelas berposisi sebagai Nabi dalam kepercayaan Islam dan dikenal dengan nama Isa al-Masih. Beliau a.s. tidak pernah mengajarkan kebencian dan tidak bertanggung jawab atas penyimpangan yang terjadi dikalangan umatnya sepeninggal beliau wafat. 

Semoga fokus perhatian umat Islam didunia tidak hanya terpaku pada kasus Suriah saja ataupun segala hal seputar ISIS yang sekarang seperti sedang gegap gempita dalam pemberitaan. Yes we do care, tapi mari kita juga perhatian dengan nasib saudara kita seiman yang ada di Afrika hari ini. Kondisi Afrika sekarang sudah berbeda dengan Afrika dijaman awal Islam turun, dimana Raja Najasyi penguasa kerajaan Abessinia di benua Afrika dengan tangan terbuka menerima hijrahnya Utsman bin Affan dan istrinya Ruqayah binti Rasulullah, Abdur Rahman bin Auf, Zubair bin Awwam, dan Utsman bin Maz’un serta rombongan. Afrika hari ini adalah ladang genosida bagi kaum beriman sekaligus ladang jihad bagi orang-orang dan pemerintah Islam yang memiliki kemampuan untuk melakukan pembelaan secara fisik, militer, meja perundingan hingga pikiran.

#prayforafrica

Status FB, 18 Feb 2014

Suatu hari tulisanku akan berhenti

Suatu hari akun facebook ini akan berhenti menayangkan tulisan-tulisan saya di timeline anda. Bukan karena saya bosan atau lelah, tapi saat itu mungkin karena saya sudah tak ada. Hanya berharap bahwa posting terakhir, status teman terakhir yang saya like dan saya komentari atau page terakhir yang saya sukai adalah tulisan-tulisan yang penuh hikmah dan memberi pelajaran pada jalan Allah. 

Sahabat akhwat, sudahkah anti periksa foto-foto di albummu? mungkin saja ada terlewat anti posting foto-foto yang mengumbar aurat. Sebelum ajal keburu mendekat, yuk mending di hapus sajalah. Bagaimanapun, paha dan dada yang anti umbar, suatu hari nanti di alam sana, justru menjadi hal yang akan disesali selamanya. Lagi pula sebagai perempuan, anti pasti punya harga diri dan pesona aurat yang cuma boleh di umbar dihadapan suami resmi. Yah, buat saya tak wajiblah anti pake cadar, sunnahpun tidak untuk wanita beriman, namun cukuplah berhijab dengan mengecualikan muka dan telapak tangan.

#renunganuntukdiriku

Status FB, 17/02/2014

Intansurulloha yansurkum

…Intansurulloha yansurkum, wayutsabbit aqdaamakum .. barangsiapa menolong agama Allah, maka Allah akan menolongmu, dan meneguhkan kedudukanmu. | Mari kita azamkan diri kita bahwa apapun yang kita perbuat, semua karena Allah, untuk Allah dan demi Allah. Tak ada yang lain selain Allah. | Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus.

bersama_Allah

Status FB, 16 Peb 2014.

%d bloggers like this: