Awas messias gadungan!

Tahun 2014 merupakan tahun politik, banyak yang akan bermimpi tentang ratu adil, messias, al-Mahdi dan sebagainya sebagai bentuk ketidak puasan mereka terhadap rezim yang berkuasa. Sejumlah orang-orang ini kemudian akan bernubuat tentang wahyu-wahyu baru pada dirinya. Tidak jarang nabi-nabi dan rasul-rasul gadungan kembali bermunculan dengan mengatasnamakan Islam. Semoga umat ini banyak belajar dari kasus-kasus yang pernah terjadi. Sefasih-fasihnya seseorang dalam berdalil dan berbahasa Arab, seilmiah mungkinnya dia menjabarkan ilmu dan teknologi dengan berlandas pada kitabullah dan sunnah Rasul-Nya tetapi bila ia sudah mendakwah dirinya mendapat wahyu dan ditunjuk sebagai Nabi dan Rasul baru maka hukumnya adalah WAJIB UNTUK TIDAK PERCAYA.

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki manapun di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. (surah al-Ahzab ayat 40)

Musnad Ahmad 13322: Telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya risalah dan kenabian telah terhenti, tidak ada Rasul dan tidak ada nabi setelahku”. (Anas bin Malik Radliyallahu’anhu) berkata; hal itu menjadikan para shabat merasa keberatan. (Anas bin Malik Radliyallahu’anhu) berkata; (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas bersabda: “Tetapi akan ada Al mubasyirat”. Mereka berkata; Wahai Rasulullah apakah Al mubasyirat itu. (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda: “Mimpi seorang muslim yang saleh, dan itu termasuk satu bagian dari bagian-bagian kenabian”.

Akhir-akhir ini saya melihat sudah mulai bermunculan klaim dan pernyataan-pernyataan yang menyimpang dari syari’at. Harap terus perkuat akidah dan ukhuwah. Apa yang pernah terjadi pada kasus Ahmadiyah Qadiyan, Rashad Khalifa, Lia Aminuddin, al-Qiyadah al-Islamiyahnya Ahmad Musaddiq dan sebagainya mungkin bisa dijadikan pelajaran. Diantara mereka mendakwa bahwa sang messias akan muncul dari benih ketura (salah satu istri Nabi Ibrahim menurut Perjanjian Lama).

Ketahuilah bahwa penamaan Ketura tidak pernah dikenal dalam khasanah Islam yang shahih, baik dari sudut al-Qur’an maupun as-Sunnah. Ada 3 riwayat memang menyebut istilah Bani Qanthura didalam musnad Imam Ahmad dengan 3 narasi hadist berbeda tanpa menyebutkan siapa itu Bani Qanthura. Namun meski demikian, semuanya menyifatkan Bani Qanthura itu adalah sebagai musuh umat Islam. 

Diantara daftar perawi hadis-hadis inipun disifatkan matruk atau perawi yang dituduh berdusta, atau perawi yang banyak melakukan kekeliruan, sehingga periwayatanya bertentangan dengan periwayatan perawi yang tsiqah. Atau perawi yang sering meriwayatkan hadits-hadits yang tidak dikenal (gharib) dari perawi yang terkenal tsiqah. Dalam kasus ini, perawi dimaksud ada pada sosok Nufai’ bin al-Harits bin Kildah atau yang dikenal dengan nama kunyah Abi Bakrah. Semua hadis tentang Bani Qanthura yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bermuara pada diri Nufai’ ini.
Sunan Abu Daud 3752: Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Jumhan berkata, telah menceritakan kepada kami Muslim bin Abu Bakrah ia berkata; Aku mendengar Bapakku menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Beberapa orang dari umatku singgah di suatu tempat yang luas, mereka menamakannya Bashrah. Yakni di sisi sungai yang bernama Dijlah, sungai itu mempunyai jembatan. Tempat itu penduduknya sangat banyak, dan mayoritas berasal dari orang-orang yang hijrah. Ibnu Ishaq berkata, “Abu Ma’mar menyebutkan, ‘Penduduk tempat itu berasal dari penjuru kaum muslimin’. Di akhir zaman nanti akan datang suatu kaum yang bernama Qanthura, wajah mereka lebar dan matanya sipit, hingga kaum itu sampai ke daerah tepian sungai lalu para penduduknya pecah menjadi tiga kelompok; satu kelompok pergi mengikuti ekor sapi dan binatang ternak (pergi ke tempat yang jauh dengan membawa binatang ternak mereka untuk bercocok tanam) hingga mereka hancur. Satu kelompok mengambil untuk keamanan mereka (mengajukan atau menerima jaminan keamanan dari bani Qanthura) hingga akhirnya menjadi kafir. Dan satu kelompok melindungi anak dan istri mereka dan berperang melawan musuh (yaitu Bani Qanthura) hingga mereka mati sebagai syuhada.”
Musnad Ahmad 19518 :Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Jumhan dari Ibnu Abu Bakrah dari Ayahnya, dia berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyebut suatu daerah yang disebut dengan Al Bashrah, di sampingnya, terdapat sungai yang dinamakan Dijlah, dan memiliki banyak pohon kurma. Bani Qanthura` menempatinya lalu terpecahlah orang-orang itu menjadi tiga golongan. Satu kelompok mengikuti asal mereka hingga mereka binasa, satu kelompok lagi mengikuti hawa nafsu mereka hingga mereka menjadi kafir, dan kelompok lainnya meninggalkan keluarga mereka lalu mereka berperang. Orang-orang yang meninggal di antara mereka adalah para syuhada. Allah Tabaraka wa Ta’ala memenangkan dari mereka yang masih tersisa. -sesekali Yazid ragu dalam hal ini, ia berkata; “Al Bushairah atau Al Bashrah.” Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yazid telah mengabarkan kepada kami Al ‘Awwam bin Hausyab dari Sa’id bin Jumhan, dari Ibnu Abu Bakrah dari Ayahnya, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, kalian akan tiba di suatu daerah yang disebut Al Bashrah atau Al Bushairah, di samping Sungai Dijlah.” Ia lalu menyebutkan makna serupa. Al ‘Awwam berkata; “Bani Qanthura’ adalah orang-orang Turki.”
Musnad Ahmad 19553: Telah menceritakan kepadaku Sa’id bin Jumhan, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Abu Bakrah, telah menceritakan kepadaku Ayahku di masjid ini yaitu masjid Bashrah, ia berkata; Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sungguh dari sekelompok umatku akan menempati di suatu tempat yang di sebut sebagai daerah ‘Bashra’, tempat tersebut penduduknya sangat banyak, pohon kurmanya juga sangat banyak, setelah itu datanglah sekelompok dari Bani Qanthura yang berwajah kecil dan bermata sipit hingga mereka datang dan menuruni jembatan mereka yang disebut Dijlah, sementara kaum muslimin terpecah menjadi tiga bagian. Satu kelompok lari tunggang langgang bersama unta-untanya hingga sampai di perkampungan-perkampungan hingga mereka binasa, satu kelompok lagi mengikuti nafsunya hingga menjadi kafir, kelompok ini dan yang tadi (pertama) sama saja, sedang kelompok yang ketiga adalah kelompok yang menjadikan keluarganya di belakang mereka (kokoh pendiriannya), mereka berperang hingga sebagian mereka yang meninggal menjadi syahid dan Allah membukakan kemenangan atas sebagian mereka yang masih hidup.” 
Tahun 2008, saya pernah menulis sebuah buku berjudul: Jejak Nabi Palsu : Dari Mirza Ghulam Ahmad, Lia Aminudin hingga Ahmad Musaddiq. Buku ini diberi syarah oleh Bapak Abu Deedat Syihab MH, Ketua Umum Forum Anti Gerakan Pemurtadan (FAKTA), dan juga Endorsmen oleh M. Nidzhom Hidayatullah (Sekretaris MUI Malang). Banyak fakta dan argumen yang saya tulis untuk membantah semua klaim kenabian dan kerasulan serta messianisme gadungan yang selalu diatasnamakan pada Allah dan Rasul-Nya.
JNP

 — with Mizanmedia Utama.

Palembang, 06 Januari 2014

Armansyah

Tulisan ini saya shared juga di FB (tapi tidak dilengkapi dengan isi dari ke-3 hadist dimaksud) melalui link:

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10152080720093444&set=a.407879698443.185889.727558443&type=1

Advertisements

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: