Antara Imamah Syi’ah dan Khilafah Sunni

Konsep imamah dalam tradisi Syiah sebenarnya bagus, hal yang sama juga dengan ide khilafah terpusat yang menyebar dalam komunitas Sunni. Tetapi konsep kemaksuman yang kemudian dilekatkan pada sang imam, ini kemudian menjadi masalah yang harus diluruskan. Sebab tak ada manusia maksum kecuali para Nabi. Itupun mereka dalam posisi mereka selaku insan biasa, merekapun tak luput dari salah cuma mereka mendapat “pengawalan” khusus dari ilahi untuk menjaga kehormatan mereka sebagai Rasul Allah.

Olehnya seperti sabda Nabi SAW, setiap orang di-ikuti oleh qarinnya sendiri dan qarin yang mengikuti beliau telah ditundukkan sehingga tak akan bisa mengganggu proses dakwahnya selaku Rasul. Tapi manusia diluarnya? Tak ada jaminan untuk itu, selama mereka hidup, selalu ada unsur fujur dan taqwa. Jadi, jangan berlebihan memandang makhluk. Menghormati oke tapi tidak bersikap taklid dan jumud yang kemudian bisa mengarah pada pembenaran dan pengkultusan.

Status FB saya, 17 Des 2013

One Response

  1. KHALIFAH ATAU PENGUASA: PEWARIS UTAMA DARI MISI KENABIAN MUHAMMAD SAW

    Pengertian khalifah (1): Manusia pertama dan kepala keluarga

    Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang KHALIFAH di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orangyang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. 2:30)

    Kemudian Adam menerima beberapa kalimat (ajaran) dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (QS. 2:37).

    Maka kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka (QS. 20:117).

    Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut (cerita) yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain. Ia (yang kurban tidak diterima) berkata: “Aku pasti membunuhmu!” Berkata (yang kurbannya diterima): “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa” (QS. 5:27).

    Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani (keturunan) Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu” (QS. 36:60).

    Kesimpulan: Pengertian dari ayat-ayat di atas dapat disimpulkan bahwa Adam As dianugerah sebagai khaliaf dalam arti sebagai manusia pertama dan kepala keluarga dan tidak ada dinyatakan sebagai nabi dan apalagi sebagai rasul karena memang misi beliau murni buat keluarga kandung dan anak cucunya dan keturunan-keturunan atau Bani Adam berikutnya setelah kelak berkembang biak.

    Pengertian khalifah (2): Penguasa Pertama dan Nabi juga Rasul

    Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu (sebaga) KHALIFAH (penguasa pertama) di muka bumi, maka berilah keputusan (atas perkara) di antara manusia (rakyatmu) dengan ADIL dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan (QS. 38:26).

    Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu (dan keahlian atau teknokrat) kepada Daud dan Sulaiman; dan (lalu) keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman” (QS. 27:15).

    Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu (QS. 21:78)

    maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan (memahami) hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih (berpartisipasi) bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya (QS. 21:79).

    Ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut karena kedatangan) mereka. Mereka berkata: “Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus (QS. 38:22)

    Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu (melawan tentara Jalut); Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah) (QS. 21:80).

    Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) DAUD membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam (QS. 2:251).

    Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami anugerahkan (kitab) ZABUR (kepada) Daud (QS. 17:55).

    Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan (melalui) lisan (titah penguasa) Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas (QS. 5:78).

    Kesimpulan: Karena umat manusia semakin banyak sehingga tingkat peradabannya pun semakin maju dan tinggi sehingga manusia harus mempunyai sistem untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera serta adanya sistem demokrasi, politik dan kekuasaan. Allah Ta’ala menuntun Rasul dan Nabi-Nya Daud As sebagai tokoh pertama yang dianugerahi sebagai kepala negara dan pemerintahan memberikan contoh menerapkan ekonomi, hukum, menjaga kelestarian lingkungan, keamanan dan mempunyai tentara yang kuat dsb. disamping beliau sebagai tugas utamanya dibidang kenabian dan kerasulannya.

    Wajar sekali jika Nabi Daud As dianugerahi ilmu, keahlian, hikmat dan kitab suci pertama Zabur. Prinsip-prinsip utama dalam menerapkan sistem demokrasi, politik dan kekuasaan a.l. tertuang dalam QS. 38:17-29 selain ayat-ayat di atas. Kewenangan sebagai khalifah ini diteruskan pada anaknya Nabi dan Rasul Sulaiman As. selain mengemban tugas utamanya sebagai rasul dan nabi. Misi in terus berlanjut sampai kepada era Nabi Isa As sebagai pewaris terakhir tahta dari Bani Israilnya walaupun tidak kuasa sampai memagang tampuk kekuasaan dibidang demokrasi, politik dan kekuasaannya.

    Pada akhirnya wujud konkrit dari sistem yang telah dicontohkan oleh Nabi Daud As dan Nabi Sulaiman As maupun nabi-nabi lainnya adalah pada misi Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul Allah dan penutup para nabi (QS. 33:40) sekaligus sebagai khalifah yang dianugerahi tuntunan kitab suci terakhir, Al Quran.

    Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. 33:40).

    Al Quran yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW merupakan tuntunan wahyu yang paling sempurna dibandingkan dengan kitab suci terdahulu karena memang merupakan kompilasi dari kitab suci Zabur, Taurat dan Injil. Kalau pada kitab-kitab suci terdahulu belumlah memuat identitas atau nama agama-Nya maka dalam Al Quran termuat deklarasi langsung oleh Tuhan, Allah Ta’ala tentang nama dan identitas suatu ad din, millah atau agama yakni AL ISLAM.

    “….. Pada hari ini orang-orang KAFIR telah putus asa (mencoba) untuk (merusak dan mengalahkan) AGAMAmu (Hai Muhammad), sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai ISLAM itu jadi agama (satu-satunya) bagimu. …” (QS. 5:3).

    Pengertian khalifah (3): Manusia biasa sebagai khalifah dan pembawa misi kenabian

    Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) ? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur (QS. 3:144).

    Dan Dia lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah (penguasa-penguasa, ada yang jadi raja, sultan, presiden, gubernur dll.) di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. 6:165).

    Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah (penguasa, ada yang jadi raja, sultan, presiden, gubernur dll.) di muka bumi. Barang- siapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka. (QS. 35:39).

    Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS. 4:59).

    Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir” (QS. 3:32).

    Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan (QS. 4:14)

    Ayat-ayat di atas di dukung dengan Hadits Nabi Muhammad SAW sbb.:

    42. 118/3196. Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Basysyar telah bercerita kepada kami Muhammad bin Ja’far telah bercerita kepada kami Syu’bah dari Furat Al Qazaz berkata, aku mendengar Abu Hazim berkata; Aku hidup mendampingi Abu Hurairah radliallahu ‘anhu selama lima tahun dan aku mendengar dia bercerita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang besabda: Bani Isra’il, kehidupan mereka selalu didampingi oleh para Nabi, bila satu Nabi meninggal dunia, akan dibangkitkan Nabi setelahnya. Dan sungguh tidak ada Nabi sepeninggal aku. Yang ada adalah para khalifah (ya bisa raja, sultan, presiden, kanselir, gubernur, bupati atau walikota) yang banyak jumlahnya. Para shahabat bertanya; Apa yang baginda perintahkan kepada kami?. Beliau menjawab: Penuihilah bai’at kepada khalifah yang pertama (lebih dahulu diangkat), berikanlah hak mereka karena Allah akan bertanya kepada mereka tentang pemerintahan mereka.

    Dan katakanlah (Hai Muhammad): “Bekerjalah (sesuai dengan tanggungjawab) kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan (QS. 9:105).

    Yang penting bahwa peran para khalifah yang berasal dari kalangan manusia biasa yang bukan sebagai nabi dan rasul diharapkan oelah Allah dan Muhammad SAW jangan sampai seperti yang disampaikan Nabi kehadirat Tuhan, Allah sbb.: Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan” (QS. 9:30)

    Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan (atau menyampaikan) kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa (patuh dan taat pada tuntunan) dan mengadakan perbaikan (atas kesalahannya), tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS. 7:35)

    Hakikat pengertian Khalifah

    Siapa saja yang ‘ngaku’ MUSLIM lalu dianugerahi dianya sebagai ‘ORANG NOMOR SATU’ atau penguasa maka dia adalah ‘sang’ KHALIFAH bahkan sesuai dengan hadits di atas beliau juga pembawa misi kenabian disamping peran ulama. Orang nomor satu atau penguasa atau khalifah itu, apakah ‘dia’nya berlebelkan sebagai presiden, raja atau kanselir dll. dan apakah dia berkuasa di negara bernama Islam atau tidak atau negerinya itu bermerek khilafah atau tidak. Tetapi yang mutlak sang tokoh orang nomor satu tetap harus mengacu pada Al Quran dan As Sunnah.

    Selanjutnya soal si tokoh ini mau atau tidak mau menerapkan syariat Islam ataukah mampu atau tidak mampu menerapkan syariat Islam ya itu mutlak adalah tanggungjawabnya sendiri karena dia sendirilah yang berkeinginan untuk menjadi orang tokoh nomor satu disuatu atau didalam wilayah kekuasaannya. Dalam menyelenggarakan tugas-tugas negara dan pemerintahan adalah wajib baginya untuk merujuk pada prinsip-prinsip Al Quran a.l. seperti QS. 38:26 dan 35:39 di atas seperti peran Nabi Daud As atau nabi dan rasul lainnya terutama di era kini ialah hadits Nabi Muhammad SAW.

    Wallahu a’lam

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: