Mut’ah, pendapat ulama dan akal sehat!

Pernah saya ditanya tentang hukum nikah Mut’ah, jawab saya: awalnya halal kemudian haram. Lalu bagaimana dengan maraknya wisatawan Arab yang berlibur kepuncak, bogor dan cianjur seraya melakukan kawin kontrak? Bagaimana mungkin antum mengharamkan yang para ulama sendiri sepakat memperbolehkannya?

Saya tanya ulama manakah itu? Syiahkah? Dia jawab, bukan cuma Syi’ah. Lalu disebutnya juga dari mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi’iyah bahkan katanya Ibnu Taimiyah seraya merujuk tulisan Ust. Ahmad Sarwat di Rumah Fiqih.

Ya sudah, saya bilang begini: antum punya akal untuk berpikir khan? Menurut antum sendiri hakikat pernikahan itu seperti apa? terus, katakanlah jika benar ada ulama yang membenarkan nikah mut’ah dijaman sekarang, kira-kira, yang jadi rujukan antum, ulama atau Nabi? Kalau Nabi yang jadi rujukan, maka bila ada ulama menyelisihinya, dan menurut anggapan antum sesuai dengan akal yang ada pada diri antum ulama itu tidak benar, maka kembalikanlah pada hukum asalnya: Athi’-ullahu wa-ati’urrasul. Taatlah pada Allah dan taatlah pada Rasul.

Dia jawab lagi, tapi khan ulama merupakan pewaris para Nabi? saya jawab: apa semua pendapat dan pemahaman ulama pasti benar? apa ulama itu maksum seperti para Nabi? terus sudah baca belum lebih jauh, kira-kira apa argumentasi para ulama itu memperbolehkannya? apa memang boleh tanpa syarat atau catatan tertentu? Yuuk tabayyunnya dikedepankan. Kemudian, akal sehat digunakan. InsyaAllah beriman secara aman.

Rujukan yang dimaksudnya adalah : http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=268435455&title=wisatawan-arab-ke-puncak-buat-kawin-sesaat–zinakah.htm

Diangkat dari status FB saya, 18 Des 2013

Advertisements

Saya paham susahnya cari uang receh

Tadi dijalan saya melihat ada truk yang sedang menurunkan koral dari dalam baknya disalah satu tempat usaha. Saya jadi ingat masa kecil saya yang dilewati dengan pelajaran berharga. Dulu, selepas pensiun dari militernya (almarhum orang tua saya juga adalah veteran perang), ayah membuka usaha toko penjualan minyak dalam jumlah besar, kemudian toko ini berubah menjadi toko yang menjual bahan bangunan seperti pasir, koral, loster, semen, batu bata, besi, paku, gorong-gorong dan lain sebagainya. Salah satu toko bahan bangunan yang bisa dibilang cukup besar dan terkenal waktu itu dikisaran Jalan Jendral Sudirman, orang sering menyebutnya dengan istilah “toko pak Haji Umar” walaupun nama asli toko tersebut adalah “Purba Jaya”. Ini era 80-an. Meski demikian, kami cuma punya 2 karyawan. 1 diantaranya merangkap sebagai sopir untuk mengangkut bahan bangunan di mobil L300 kami. Inipun bila ia sakit atau tidak masuk kerja, almarhum ayah saya sendiri yang menjalankan mobil tersebut.

Almarhum ayah sering mengajak saya ikut menemaninya berjualan. Bukan hanya duduk manis saja menjaga toko, tapi saya sering dilibatkan dalam proses melayani pembeli. Almarhum sendiri juga terjun langsung kelapangan, ikut mengangkat semen, menyekop pasir, koral dan sebagainya.

Begitulah, tangan saya sering kotor karena menimbang paku, menimbang semen kiloan. Badanpun sering terasa seperti remuk redam saat ikut membantu mengangkat sak semen, menyekopi pasir, koral dan mengangkat batu bata. Sebagai remaja, saya akui saya juga dulu sering mengeluh. Saat disuruh menyapu pekarangan toko kami, saya sering malu karena dilihat oleh orang-orang yang lalu lalang. Saya ingat persis kata-kata almarhum sewaktu menegur saya: Kita ini jualan yang halal agar bisa tetap hidup, bisa bayar sekolah, bisa makan. Kenapa harus malu? (ah, saya sendiri bergetar saat menulis kalimat ini seraya mengenang mimik muka dan suara almarhum ketika itu).

Yah, lepas dari ini semua, saya sadar bahwa apa yang diajarkan oleh almarhum ayah saya pada dasarnya juga untuk kebaikan saya sendiri dimasa depannya. Setidaknya saya sangat tahu susahnya mendapatkan uang Rp. 100,-. Harus bersimbah keringat dan kadang tanganpun mesti terluka terkena paku saat menimbang atau terjepit batu bata saat mengangkatnya kegerobak atau mobil. Saya tahu rasanya jadi orang yang berjibaku untuk mendapat uang.

Ini sedikit cerita dari saya, siapa tahu ada hikmahnya juga untuk para sahabat maya saya dalam memaknai hidup ini secara lebih berarti, sekaligus mengurai kembali masa lalu saya untuk proses pelembutan hati secara pribadi. Maaf, bila tidak berkenan dengan cerita ini.

Status FB, 18 Des 2013

Hidup adalah proses pembelajaran

Hidup adalah proses pembelajaran, belajar bersyukur meski belum cukup, belajar ikhlas meski belum rela, belajar taat meski berat.

Status FB, 17 Des 2013

Suap!

Beberapa hari yang lalu ada yang datang pada saya dan bertanya tentang suap. Saya jawab, hukumnya haram dan pelakunya diancam keneraka. Ceritanya ada keluarganya yang diterima sebagai abdi negara dan sekarang sedang dalam proses penempatan. Mereka sepakat agar keluarga ini bisa ditempatkan di Palembang. Tapi agar bisa untuk penempatan ke Palembang maka konon orang disana meminta sejumlah uang tertentu untuk proses administrasinya. Katakanlah begitu. Saya katakan sebaiknya tidak usah dan batalkan saja. Sebab dosanya seumur-umur. Sejak awal khan sudah sadar bila bekerja sebagai abdi negara, maka bersiap untuk ditugaskan kemana saja.

Status FB saya, 17 Des 2013

Antara Imamah Syi’ah dan Khilafah Sunni

Konsep imamah dalam tradisi Syiah sebenarnya bagus, hal yang sama juga dengan ide khilafah terpusat yang menyebar dalam komunitas Sunni. Tetapi konsep kemaksuman yang kemudian dilekatkan pada sang imam, ini kemudian menjadi masalah yang harus diluruskan. Sebab tak ada manusia maksum kecuali para Nabi. Itupun mereka dalam posisi mereka selaku insan biasa, merekapun tak luput dari salah cuma mereka mendapat “pengawalan” khusus dari ilahi untuk menjaga kehormatan mereka sebagai Rasul Allah.

Olehnya seperti sabda Nabi SAW, setiap orang di-ikuti oleh qarinnya sendiri dan qarin yang mengikuti beliau telah ditundukkan sehingga tak akan bisa mengganggu proses dakwahnya selaku Rasul. Tapi manusia diluarnya? Tak ada jaminan untuk itu, selama mereka hidup, selalu ada unsur fujur dan taqwa. Jadi, jangan berlebihan memandang makhluk. Menghormati oke tapi tidak bersikap taklid dan jumud yang kemudian bisa mengarah pada pembenaran dan pengkultusan.

Status FB saya, 17 Des 2013

Saya pendukung “Swoon Hypothesis” Nabi Isa di kayu salib

Dalam menyikapi kisah penyaliban Nabi Isa, saya termasuk kalangan yang mendukung “teori pingsan” atau “Swoon Hypothesis” yang menyebutkan bila Nabi Isa dalam kejadian itu hanya disamarkan saja proses terjadinya kematian beliau padahal saat itu beliau sedang dipingsankan Allah.

Beberapa pendukung teori ini dari kalangan sarjana Biblika (non-Muslim) adalah Michael Baigent, Richard Leigh, Henry Lincoln, Barbara Thiering, Hugh J. Schonfield, Robert Graves, Ernest Brougham Docker, Donovan Joyce, J.D.M. Derret, Holger Kersten dan seterusnya, sementara dari pihak Muslim sendiri muncul nama-nama seperti Hasbullah Bakry, Ahmad Deedat, Irena Handono, Sanihu Munir, Dr. Zakir Naik dan lain sebagainya.

Saya menolak paham Nabi Isa naik kelangit dan akan kembali turun kebumi menjelang hari kiamat.

Status FB saya, 16 Des 2013

Catatan tambahan:

Silahkan baca tulisan lepas saya berkenaan:

  1. http://armansyah.net/2011/12/apakah-nabi-isa-disamarkan-wajahnya/
  2. http://armansyah.net/2008/06/misteri-penyaliban-nabi-isa/
  3. http://armansyah.net/2012/01/menggugat-kenaikan-isa-dalam-perspektif-islam/
  4. http://armansyah.net/2012/01/dajjal-makhluk-apa-itu/
%d bloggers like this: