Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah

Saya pernah cerita di status terdahulu bahwa sejak awal prosesi pernikahan, juga kehamilan ke-3 ananda kami, tak banyak ritual adat yang kami lakukan. Siram-siraman, mandi kembang, selamatan nujuh bulan dan sebagainya. Termasuk hal-hal klenik seperti bawa gunting, bawa jarum, bawa bawang and so on ketika sedang hamil. Begitupula ketika ketiga ananda lahir, juga tak ada prosesi marhaban, pake gelang hitam dan sejenisnya. Cukup melakukan akikah saja sesuai syariat. Sisanya, loe-gue end…. ngapain ngabisin energi dan biaya cuma buat melakukan hal-hal yang sifatnya mubadzir dan diantaranya bahkan ada yang bid’ah serta menjurus pada kemusryikan. Like what I always said: Beragamalah dengan akal sehat (cek disini: http://armansyah.net/2013/12/agama-untuk-orang-yang-berakal/).

Ada pepatah minang yang saya suka : Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Artinya, setiap aktivitas hidup kita harus berdasarkan atas tuntunan dan syariat agama kita. Jadi jika ada aktivitas termasuk adat istiadat yang bertentangan dengan kitabullah, maka wajib untuk ditolak, baik itu yang sifatnya mubadzir apalagi bid’ah dan menjurus pada perbuatan syirik.

Tidak semua adat bisa digunakan dan tidak semua adat pula harus ditinggalkan. Standar parameternya jelas yaitu al-Qur’an.

Bagaimana dengan anda?

Status FB saya, 15 Des 2013

Advertisements
%d bloggers like this: