Selamat natal bukan sebatas ucapan seremonial!

Dear sahabat Muslim.

Memberi ucapan selamat Natal itu, bukan sekedar kalimat klise yang hanya selesai saat untaian kata demi kata itu tuntas meluncur dari mulut kita sebagai Muslim. Setiap apa yang kita perbuat, termasuk apa yang kita ucapkan, pada waktunya nanti di Yaumil Mahsyar akan mendapat pertanyaan dari Allah, kenapa kita melakukannya?

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al-Qur’an Surah al-Israa ayat 36)

Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (Al-Qur’an Surah an-Nuur ayat 24)


Bagi anda yang belum tahu apa hukumnya seorang Muslim mengucapkan selamat Natal pada umat Kristiani, maka secara singkat saya katakan bahwa hukumnya haram. Untuk lebih detilnya alasan pengharaman ini, silahkan baca argumentasinya pada tulisan saya di link berikut ini: 

https://arsiparmansyah.wordpress.com/2007/12/27/hukum-ucapan-selamat-natal/

Sementara untuk anda yang kebetulan mempunyai masalah dan kegalauan hati karena dipaksa oleh pihak kantornya untuk ikut merayakan natal dengan cara menggunakan atribut natal tertentu seperti topi dan pakaian Santa Klaus, maka silahkan baca tulisan saya juga yang ini :

https://arsiparmansyah.wordpress.com/2013/12/09/hukum-atribut-natal-untuk-pekerja-muslim-2/

Nah kembali lagi, tulisan kali ini hanya bersifat melengkapi saja dari dua tulisan terdahulu seperti yang ada pada link tersebut diatas. Mengucapkan “Selamat Natal” tidak ubahnya dengan mengakui kelahiran Tuhan dalam bentuk daging, dalam wujud fisik jasmani dengan mengambil rupa manusia yang bernama Yesus (didalam Islam, Yesus disebut sebagai Nabi Isa al-Masih).

Jelas, ini pastinya menodai konsep Tauhid kita yang telah bersyahadat Asyhadu alla ilaha ilallah (Tidak ada Tuhan Selain Allah) dan berkeyakinan bahwa Lam Yalid Wa Lam Yuulad (Tuhan Tidak beranak dan tidak diperanakkan) serta Wa lam yakun Lahu Kufuan Ahad (Tidak ada seorangpun yang sama seperti Allah).

Disini dalam kasus natal, Kita melihatnya dari sudut kacamata dan pemahaman orang Kristiani sendiri, jangan dilihat dari kacamata Muslim. Sebab hari raya natal itu milik mereka, bukan milik umat Muslim. Tentu arti natalpun haruslah disesuaikan dan dilihat dari cara pandang orang-orang itu.

Agar lebih obyektif, mari kita lihat apa defenisi natal menurut umat kristiani itu. Berikut saya ketengahkan kutipan dari situs kristiani “Tanya Alkitab” dengan alamat : http://www.tanyaalkitab.com/2012/12/arti-natal-yang-sesungguhnya.html

Dalam kita merayakan suatu peristiwa yang mulia, yaitu kelahiran Yesus, di mana Allah telah menjadi manusia….. Umat Kristen kemudian menerangkan bahwa Yesus adalah Terang Dunia yang sejati sehingga dijelaskan bahwa kelahiran Yesus membawa terang Allah ke dalam dunia yang gelap. Maka, tanggal itu dikristenkan seperti hal-hal yang di atas. (Ditulis oleh DR. Jeff Hammond, Penatua Jemaat Abbalove Ministries)

Ada juga lainnya saya sadur dari situs GBI House of Grace dengan judul tulisan: MAKNA NATAL BAGI IMAN KRISTEN di alamat http://gbihog.org/index.php?option=com_content&view=article&id=291:makna-natal-bagi-iman-kristen&catid=3:renungan&Itemid=7 :

Natal akan sangat berdampak bagi iman kita apabila seseorang telah mengerti apa sebenarnya makna Natal yang sesungguhnya. Sebagai orang-orang Kristen yang sejati kita mengetahui bahwa perayaan Natal adalah sebagai tanda hari kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus yang datang ke dalam dunia untuk membawa Keselamatan dan hidup yang sejati. Orang yang percaya kepada Kristus adalah orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus. Oleh sebab itu, maka kelahiran Kristus ke dunia ini juga harus kita maknai dengan penuh iman kepada-Nya (Matius 1:21). Ada beberapa alasan yang mengapa perayaan Natal harus menjadi iman bagi orang percaya, sehingga peristiwa kelahiran Kristus yang kita rayakan sebagai perayaan Natal menjadi sebuah peristiwa penting dalam iman kita kepada Yesus Kristus.

Nah, setelah jelas bagi kita dari sumber-sumber umat kristen sendiri tentang natal, maka sekarang coba ajaklah mereka mengucap “Asyhadu alla ilaha ilallah wa ash hadu anna Muhammadar Rasulullah”, tentulah merekapun tidak mau.

Kenapa tidak mau? jawabnya karena ucapan itu bertentangan dengan keyakinan mereka. Mana mau mereka mengakui defenisi Allah versi kita yang jelas Maha Esa itu sebab dalam akidah mereka Tuhan itu terdiri dari 3 oknum: Bapa, Anak dan Roh Kudus. Begitupula dengan syahadat Rasuli, mana mau juga mereka mengakui dan mengucapkan kesaksian bila Muhammad adalah Rasul Allah. Sebab jika mereka mengakui Muhammad adalah Nabi dan Rasul dari Tuhan, itu sama artinya mereka Islam, tidak lagi mengakui Isa atau Yesus sebagai anak Tuhan (karena didalam Islam, Isa memang bukan Tuhan, beliau hanya Rasul untuk Bani Israel).

Oleh karena itu, ucapan “Selamat Natal” bukan sekedar kata-kata, sama halnya dengan mengucap “Syahadat”.

Semoga semakin banyak umat Islam yang paham.

O.iya. Tulisan ini tidak berarti memaksudkannya sebagai bentuk permusuhan antara agama Islam dan kristen. Kita hanya bicara soal akidah yang mestinya bisa sama-sama saling menghormati tanpa mencampur adukkan satu sama lain.

Jangan pula terlalu mendramatisir masalah ucapan selamat natal sehingga berkesan seolah-olah menjadi hal yang memutuskan silaturahim kita dengan kawan-kawan dari Kristen. Ini sekali lagi sudah soal akidah, dan mereka harusnya mau menghargai pemahaman kita tersebut.

Ukuran persahabatan tidak harus diukur dengan ikut tidaknya kita pada ibadah agama lain, ini pun sekali lagi namanya pencampur adukan akidah. Minyak dan air tak mungkin bisa menyatu. Jadi nafsi-nafsi saja. 

Laa a’buduma ta’ buduun
Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

Wa laa antum ‘abidunamaa a’bud
Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.

Walaa ana abidumma abadtum
Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,

Walaa antum abidunama a’bud
Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.

Lakum diinukum waliyadiin
Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.
(Sumber: Al-Qur’an surah al-Kafirun ayat 2 s/d 6)

Kita tidak mengucapkan selamat natal dan tidak ikut dalam pesta natal mereka bukan berarti kita memusuhi mereka. Itu adalah haknya mereka, keyakinannya mereka dan harus kita hargai. Selama mereka tidak mengobarkan permusuhan dengan umat Islam, kita wajib untuk menyambut persahabatan mereka. Bahkan bila ada diantara orang tua kandung kita sendiri kafir, tidak beriman pada Allah, kita tetap wajib berbuat bakti terhadap mereka namun tidak untuk masalah ke-Tuhanan.

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zhalim. (Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 193)

Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).  Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. (Al-Qur’an surah an-Nisaa ayat 86)

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al-Qur’an surah al-An’am ayat 82)

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Al-Qur’an surah al-Ankabut ayat 8)

Inilah ajaran al-Qur’an sebagaimana teraplikasi pada piagam Madinah pada contoh berikut:

٢٥. وان يهود بني عوف امة مع المؤمنين لليهود دينهم وللمسلمين دينهم مواليهم وانفسهم الا من ظلم واثم فانه لا يـوتخ الا نفسه واهل بيته.

Pasal 25
Kaum Yahudi dari Bani ‘Awf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang zalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarga.

Lihat detilnya disini: https://arsiparmansyah.wordpress.com/2012/10/14/isi-piagam-madinah/

Cukup kita ikut memelihara kekondusifan mereka dalam beribadah dengan pengertian tidak mengganggunya dan menghargai keyakinan mereka itu meskipun mungkin bagi akidah kita apa yang mereka lakukan adalah perbuatan yang sesat. But, keep it in our heart and mind. Hormati mereka sebagai manusia dan anak bangsa.

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (Al-Qur’an surah al-An’aam ayat 108)

Dulu juga sewaktu saya masih bekerja disalah satu perusahaan percetakan Kelompok Kompas Gramedia, salah satu pimpinan saya dikantor adalah orang katolik. Saya juga tidak pernah ikut mengucap selamat natal pada beliau, namun saya berusaha menjaga hubungan baik dengannya tanpa harus mengorbankan akidah saya. Hasilnya, semua berjalan baik tanpa ada masalah selama 8 tahun saya disana sampai saya mengundurkan diri dari perusahaan tersebut salah satunya karena mencalonkan diri sebagai anggota legislatif tahun 2009 dari PKS.

So kesimpulannya, berteman oke tapi ngucap selamat natal “no”. Gak masalah khan?

“Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (Al-Qur’an surah Yusuf ayat 108)

O.iya. Bicara soal ucapan selamat natal. Didalam ajaran Kristiani sendiri ada larangan untuk mengucapkan selamat atau salam pada orang yang tidak seiman dengan mereka.

If any one cometh unto you, and bringeth not this teaching, receive him not into your house, and give him no greeting.

Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya

(Sumber: Bible, 2 Yoh 10. American Standard Version dan Indonesian Terjemahan Baru ; http://www.e-sword.net/ ).

Jadi sebenarnya, ajaran Bible pun menyerukan hal yang sama dengan Islam dalam hal toleransi. Lakum Dinukum Waliyadin. Untukmu agamamu dan untukku agamaku. Bila sesuatu itu sudah masuk dalam ranah akidah, tak perlu kita memberi ucapan salam/selamat pada mereka yang berbeda akidah dengan kita. Bukan berarti pula kita memusuhi mereka, kita menghormati tanpa harus mengikuti.

Jadi, bila ada muslim yang tak mengucap selamat natal bagi kawan-kawan kristiani yang merayakannya, harusnya juga bisa dilihat pada konteks ini. Selamat natal bukanlah ucapan basa-basi tetapi mengucapkan selamat natal sama artinya dengan mengakui tuhan telah beranak dan mengambil rupa dalam diri Nabi Isa! Na’udzubillahi Mindzalik.

Salamun ‘Ala Manittaba Al-Huda.,

Palembang Darussalam, 10 Desember 2013 (Update, 21 Des 2014)

 

Armansyah

Advertisements

2 Responses

  1. Assalamu’alaikum Pak Ustadz.
    Ayat ke 4 dari surat Al Kafirun diatas salah ketik, seharusnya “Walaa ana abiduna abadtum”

    Salam
    Erwin Asmar.

    • Wa’alaykumsalam Wr. Wb.,

      Alhamdulillah, terimakasih atas koreksinya. Sudah saya perbaiki.
      Semoga Allah memberikan kebaikan yang banyak pada antum atas koreksi tersebut.

      Jazakallahu khoir.

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: