Apakah kita berbakti?

Sahabat, dulu waktu kita kecil, orang tua kita berpuluh bahkan mungkin sudah beratus kali memandikan jasad kita ini. Hal itu dilakukan berulang-ulang sejak kita bayi merah sampai kita mencapai akil baligh dan mampu mandi sendiri. Ingatkah anda saat-saat itu? saat dimana kita begitu gembira dimandikan oleh orang tua kita? tapi sahabat, sudahkah kita membalas hal yang sama pada orang tua kita? terutama saat mereka sakit dan tak mampu membersihkan tubuhnya dari kotoran? boleh jadi kita hanya satu kali seumur hidup ikut memandikan mereka, yaitu saat mereka terbujur kaku sebagai jenasah. Itupun, mungkin jika kita ikut memandikannya. Ya masih syukur jika bila kita yang mensholatkan mereka. Celakanya bila memandikan tidak, mensholatkanpun tidak, bahkan ikut turun kedalam kubur untuk meletakkan jasadnya ditanahpun kita tidak ikut. Semua orang lain yang melakukannya.

Alhamdulillah, saat almarhum orang tua saya wafat ditahun 2000 lalu, saya ikut memandikan beliau, menjadi imam sholat jenasahnya dan masuk keliang kubur untuk mengantarkan beliau tidur panjang didalam tanah merah yang basah. Maaf, saya ingin ini dijadikan motivasi bagi kawan-kawan lainnya, apalagi anda yang kedua orang tuanya masih hidup. Cepat atau lambat, mereka pasti akan kembali kepada Tuhan. Jika masih belum paham bagaimana cara memandikan jenasah, cara mensholatkannya dan cara menguburkannya, ayo sama-sama belajar. Setidaknya, ini satu bakti terakhir pada jasad orang tua kita. 

Ingat, jangan mengeluh. Mereka dulu memandikan kita setiap pagi dan sore tak pernah mengeluh. 

Status FB, 07 Des 2013

Okey?

Advertisements

Muktazilah: Evolusi terhadap kejumudan

Mungkin, banyak orang asing dan boleh jadi pula menyipitkan matanya saat saya menyebut istilah muktazilah. Bagi orang-orang doktrinal, konsep dan cara pandang Muktazilah dianggap sesat karena selalu bermain pada tataran akal didalam menyikapi nash-nash keagamaan maupun problem yang ada pada umat. Tapi bagi saya sendiri, apa yang dipelopori oleh kelompok Muktazilah pada masa dahulu merupakan evolusi besar ditengah kejumudan sebagian orang pada nash yang kadang mengantarkan orang beragama secara membabi buta dan taklid terhadap suatu kaidah tertentu tanpa berani membahasnya lebih jauh dan meninjau nash tersebut secara rasional.

Status FB, 07 Des 2013

Talfiq: Konsisten terhadap kebenaran

Ada yang pernah bertanya pada saya sekaitan konsep saya beragama secara talfiq yang menganggapnya sebagai bentuk ketidak konsistenan bermadzhab, apalagi sebagian ulama menurut mereka ini, tidak mendukung konsep talfiq itu sendiri. Buat saya bertalfiq justru menjadi jalan untuk berlaku konsisten terhadap kebenaran. Mungkin iya saya tidak konsisten terhadap salah satu madzhab tertentu secara khusus, tapi saya berusaha untuk konsisten pada kebenaran yang lebih condong diantara semua madzhab.

Bagaimanapun, madzhab-madzhab itu sendiri baru ada setelah Rasul wafat yang merupakan cara berpikir sejumlah ulama untuk menemukan solusi atas permasalahan yang timbul pada jamannya, baik itu menyangkut penafsiran nash agama maupun konflik yang timbul dan memerlukan ijtihad baru.

Jadi, sah saja bila kita tidak harus konsisten pada satu madzhab tertentu saja. Jika ada yang tidak suka, that is your problem, not mine.

Status FB saya, 07 Des 2013

Rasa dan Periksa

Rasa dan Periksa, ini dua hal penting yang harus selalu kita lakukan didalam hidup, tanpa terkecuali dalam beragama. Sebab rasa saja tanpa ada periksa hanya akan membuat kita beragama secara doktrinal atau beriman membabi-buta, tak jelas mana yang benar-benar al-Haq dan mana yang batil, mana yang wajib, mana yang sunnah, mana yang mubah dan sebagainya.

Status FB saya, 07 Des 2013

%d bloggers like this: