Antara Saya, Yusril dan Amien Rais

Berbicara tentang konstelasi politik tahun 99 pasca reformasi, saya ingat sekali bahwa parpol pertama tempat berlabuhnya aspirasi politik saya adalah Bulan Bintang. Argumentasi saya logis, pertama partai ini merupakan partai Islam, punya kaitan dengan tokoh Masyumi lama, dipimpin oleh anak muda yang cerdas dan pakar dibidang tata negara dan alasan lainnya, saya kecewa sama Amien Rais. 

Amien dulu setelah reformasi terwujud, pernah berjanji untuk memimpin partai berbasis Islam (dalam hal ini adalah Bulan Bintang), tapi kemudian janjinya ini dikhianatinya sendiri dengan keputusan tiba-tiba bahwa dia mendirikan PAN. Sikap Amien tersebut tidak cuma mengecewakan saya, tapi juga sejumlah umat Islam lain yang sudah berharap banyak kiprah tokoh satu ini usai tumbangnya rezim Soeharto.


Posisi saya di Bulan Bintang ketika itu ikut bergerak dalam Brigade Hizbullah. Sayang konflik internal di Palembang pecah, saya berada disisi caretaker berhadapan dengan oposisi yang pro status quo yang celakanya justru dipihaki oleh Ka’ban. Saya ikut ke Jakarta berjumpa dengan Yusril di DPP, kami rapat malam itu dan hasilnya, Yusril memutuskan caretaker tidak sah. Saya serta tim lainnya langsung mundur teratur dan saya mengalihkan dukungan ke PKS. Sampai ditahun 2009 lalu, saya ikut mencalonkan diri di legislatif kota namun Allah berkehendak lain.

Itulah sekelumit singkat kisah kiprah saya di politik praktis. Sejenak bernostagia setelah membaca link ini :

http://www.tribunnews.com/nasional/2013/11/24/impian-yusril-jadi-presiden-kandas-di-tangan-amien-rais

Status FB saya, 24 November 2013

Advertisements
%d bloggers like this: