Tidak pernah mengirim al-fatihah

Dalam salah satu diskusi langsung saya dengan salah satu tokoh penganut thariqah Naqsyabandi di Palembang sekitar 1,5 tahun yang lewat, salah satu topik diskusi kami mengenai konsep wasilah dan tawassul. Dia beranggapan kita boleh mencari berkah pada orang yang dianggap alim dan menjadi wali Allah. Katanya hal itu pernah dilakukan oleh Rasul dan juga sahabatnya. Waktu saya tanya, seperti apa kasus yang menurutnya itu pernah dilakukan oleh Rasul dan sahabatnya, dia jawab, mendoakan. Lah, kalau cuma minta bantuan doa, itu tidak jadi kendala. Khan topiknya mencari berkah. Melebih-lebihkan orang lain diluar maqam kemanusiaannya, seakan kita paling tahu derajat seseorang ketimbang Allah. Khan sudah jelas Islam agama Tauhid, tak ada perantara bagi kita untuk berkomunikasi dengan Allah dan meminta bantuan-Nya. Ayatnya khan sudah jelas toh?

Olehnya, saya tidak pernah mengamalkan juga “pengiriman al-fatehah”. Misalnya nih, khan jamak kita dengar pas orang doa-doa “Ila hadrotin nabiyyil mushthofa Muhammadin SAW- Al Fatihah… atau … Wa ila hadhroti sayyidina Syeikh Abdul Qodir Jailani SHoohibil Karoomah -Al Fatihah.”

Kenapa tidak pernah saya amalkan? jawabnya singkat, saya tidak pernah bertemu dalilnya. Dan saya cenderung untuk meninggalkan semua amalan dan perbuatan yang diatasnamakan Nabi tapi tidak memiliki sandaran nash.

Sumber: Status FB saya, 16 Nov 2013

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: