Ayah menjadi guru, sahabat dan orang tua (pengalaman pribadi)

Para orang tua, yuk kita sama biasakan berkomunikasi dengan para ananda kita dalam hal agama disela waktu kebersamaan kita dengan mereka. Ada proses pembelajarannya. Dahulu, metode inilah yang paling sering dipakai oleh almarhum orang tua saya. Saat makan siang dan makam malam bersama, beliau selalu menggunakan kesempatan tersebut untuk bertukar pikiran, bertanya jawab dan memberikan pelajaran pada saya tentang kehidupan, mantiq, agama dan kadang juga bahasa Arab. Waktu dimeja makan menjadi sangat berarti buat kami, sampai, pernah kami duduk disana sampai 2 jam, padahal nasipun sudah lama habis. Tidak jarang kami berdebat tentang suatu topik yang kami berbeda pandangan. It was nature, beliau orang yang sangat terbuka dan bijak. Selama cara-caranya santun, maka diskusi dan perdebatanpun biasa bagi kami. Hal ini dimulai sejak saya masih SMP sekitar akhir 80-an. 

Intinya, yuk sekali lagi, kita sama belajar untuk dekat pada anak-anak kita. Jalin keakraban dengan mereka, sehingga merekapun mau terbuka atas semua persoalan yang boleh jadi mereka hadapi. Mari kita bersama merubah paradigma lama bahwa orang tua harus selalu ditakuti oleh anak-anaknya. Orang tua bisa berperan juga sebagai sahabat dan guru.

Status FB saya, 09 November 2013

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: