Jangan menulis nama suami dibelakang nama istri

Status ini pengulangan dari status saya beberapa bulan lalu, dimana seorang perempuan muslimah jika ia bersuami maka sebaiknya dan sebenarnya, tidak menempelkan nama suaminya dibelakang namanya. Pakailah nama ayahanda kalian masing-masing, itulah nasab kalian, root kalian, identitas kalian, bukan suami kalian. Tidak pernah ada ditulis nama ‘Aisyah Muhammad, Fatimah Ali dan semacamnya. Jadi, jangan ditulis Mita Arman, Ida Burlian, Dewi Angga dan seterusnya, kecuali ID Arman, Burlian dan Angga itu adalah nama ayah. Inilah kaidah yang benar menurut kitabullah, al-Qur’an. 


Kita di negeri ini sering rancu, memanggil perempuan dengan sebutan “Ibu” tapi memakai nama suaminya. Misalnya, “Ibu Arman”, “Ibu Budi” dan seterusnya. Apakah nama sang ibu adalah Arman dan Budi? atau orang tersebut adalah ibunya si Arman dan ibunya si Budi? Silahkan pikir saja sendiri kerancuannya. Juga istilah “Nyonya”… inipun seakan membuat jarak antara majikan dan sahaya.  

Panggillah mereka dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Qur’an surah al-Ahzab [33] ayat 5)

Status FB saya, 30 Oktober 2013

Advertisements

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: