Carilah ridho Allah, bukan kemuliaan disisi manusia (belajar dari ayahanda)

Carilah ridho Allah, bukan kemuliaan disisi manusia (belajar dari ayahanda)

Oleh : Armansyah

Dulu, almarhum buya saya adalah orang yang keras dan tegas dalam berdakwah. Sampai-sampai beliau banyak dimusuhi bahkan dijauhi oleh orang-orang yang tidak menyukai isi dari dakwahnya tersebut. Tidak hanya dari kalangan jauh, termasuk dari masyarakat kampung kami sendiri banyak yang memilih menjaga jarak dari beliau. Isi dari dakwah-dakwah beliau sebenarnya lebih kepada mengkritik tradisi yang sudah mendarah daging namun bertentangan dengan syariat agama atau sekurang-kurangnya terlalu mengada-ada dengan mengatasnamakannya sebagai perintah agama.

Bukan sekali dua kali saya melihat langsung beliau diperlakukan dengan tidak baik oleh orang-orang. Pernah disatu undangan, kala sedang bersalaman, uluran tangan beliau “dilompati” oleh tangan “musuhnya” seraya memandang sebelah mata dan langsung menyalami orang lain disebelahnya. Padahal, beliau selain orang paling lama yang pernah tinggal disana, beliau juga –maaf– salah satu prakarsa dalam pendirian masjid didaerah tersebut.

Beliau tidak pernah goyah dalam berdakwah meski cercaan bahkan pengucilan masyarakat terhadapnya diberlakukan. Diluar kampung, sebaliknya beliau sangat dihormati dan sering diundang mengisi tabligh kesana kemari. Bahkan, sering saya melihat, orang-orang datang kerumah untuk belajar maupun sekedar berdiskusi tukar pandangan terhadap beliau.

Pernah saya disatu waktu bertanya, “Apa tidak risih diasingkan dan dipandang sebelah mata oleh masyarakat kampung karena dakwah yang sering menyinggung itu?” Beliau jawab : “Katakanlah yang benar meski pahit. Jangan mencari mulia disisi manusia tapi carilah ridho disisi Allah.”

Subhanallah, ini cerita nyata yang pernah terjadi dan berlaku pada almarhum orang tua saya sendiri belasan tahun yang lampau. Jujur saya banyak belajar dari beliau. Sikap dan keteladanan ini banyak menguatkan jiwa saya saat kejadian hampir serupa terjadi juga pada saya. Seperti kata orang bijak, hidup adalah pengulangan kejadian. 

Jadi sekali lagi untuk para ikhwan wa akhwat fillah, konsistensi, keteguhan hati dan semangat untuk menyampaikan kebenaran, jangan mudah patah ditengah jalan hanya karena adanya segelintir orang yang memusuhi kita. Selama tujuan kita adalah Allah, maka tetapkan langkah mengayun dalam jalan-Nya. 

Semoga cerita singkat ini bisa memberi manfaat.

Status FB saya, 19 Oktober 2013

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: