Berguru pada Allah dan melepas taklid pada manusia

Oleh : Armansyah

Para guru, murabbi, syekh, alim, pakar atau apapunlah istilah kita menyebut mereka, adalah orang-orang yang mendapatkan ilmu dari membaca buku yang tersusun dari huruf-huruf maupun membaca dari setiap kejadian-kejadian unik dari fenomena alam semesta ini.

 Manusia diberi roh oleh Allah, diberi kesadaran serta kemampuan abstraksi dan berkomunikasi secara lisan maupun simbolik, kemampuan analisis dan sintesis, berakal dan berpikiran. Kesemuanya itu merupakan intrumen yang disediakan dalam rangka untuk menjalankan tugas kekhalifahan. Dia yang mengajarkan jiwa manusia melalui kalam, baik tentang jalan kebajikan maupun jalan kejahatan. Berguru pada manusia itu penting, tapi lebih penting lagi adalah berguru pada Allah. Membiarkan hidayah-Nya, ilmu-Nya membimbing dan menuntun setiap perbuatan kita. Kemampuan dan ilmu setiap guru itu berbeda, tergantung dari keluasan wawasan, bacaan maupun pengalaman hidupnya. Tapi kemampuan Allah melebihi semua makhluk-Nya. Jangan bertaklid pada guru manusia tetapi bertaklidlah pada Allah, sebab Dia adalah Tuhan kita.

“dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidak mengetahui apa-apa, kemudian Allah memberi kepada kamu pendengaran dan penglihatan serta pikiran, supaya kamu bersyukur” (QS 16:78)

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah , Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS 96:1-5)

Kita boleh menimba ilmu dari mana saja sumbernya, kita menghargai dan menghormati para guru kita. Tapi tetap dalam satu wilayah, tidak untuk dikultuskan. Kita tidak boleh berlaku jumud dan taklid terhadap mereka, sebab merekapun adalah makhluk seperti hamba-hamba Allah lainnya. Jangan terlalu menjerumuskan diri sendiri pada pemberhalaan makhluk yang dibungkus kehormatan. Toh setiap orang punya kemampuan berpikir dan berilmu terbatas, tergantung pada khasanah, wawasan, jumlah bacaan maupun pengalamannya berinteraksi selama hidup. Ditambah, jaman dan permasalahan yang ia hadapi pada masanya.

Penyandaran berlebihan pada diri seseorang yang dijadikan pusat sumber belajar merupakan pelemahan ra’yu yang justru sangat ditentang oleh al-Qur’an sebagai sumber dari semua sumber pusat belajar. Merdekakan diri dari belenggu kejumudan insaniah dan kembalilah pada al-Qur’an. Biarkan Allah menuntun sesuai firman-Nya. Cukup jadikan pusat sumber belajar lain diluar-Nya dan diluar Rasul-Nya sebagai rujukan tetapi tidak sepenuhnya menjadi ikutan. Berikan penghormatan sesuai dengan batas kemanusiaan mereka saja, bersikaplah yang wajar. InsyaAllah, hal ini lebih benar disisi Allah.

Itulah kenapa saya pribadi melepaskan diri dari semua sekat kemadzhaban dan kembali pada kerangka awal Islam itu berdiri, yaitu Islam tanpa madzhab. Saya tidak melihat manfaat yang besar dengan hanya cenderung pada satu pola pikir saja dalam keagamaan, terlebih dijaman sekarang. Sejak awal madzhab terbentuk, umat telah terkotakkan dan bahkan saling bermusuhan hanya karena beda sudut pandang. Sebelum membantah tulisan saya ini, silahkan buka-buka dulu kitab-kitab tarikh agar tidak nantinya termalukan ketika saya jabarkan fakta sejarahnya. Intinya, madzhab adalah suatu keniscayaan dalam beragama. Tapi terbelenggu pada satu madzhab tertentu saja dengan menafikan kebenaran yang terkandung pada madzhab lain diluarnya adalah suatu pengingkaran pada keluasan ilmu Allah dan hidayah-Nya.

Disini mungkin beda saya dan anda, saya menolak mempersempit pola pikir kedalam sekterianisme yang lebih sering membawa permusuhan ketimbang kearifan pada tataran akar rumput. Jika dengan pola ini saya disebut liberal, ya, itu sepenuhnya urusan andalah. Not a big deal buat saya. Bagaimanapun toh didalam Islam tidak berlaku konsep sentralisasi kepausan dengan jabatan hirarkinya seperti dalam Katolik. Every muslim is free to think of his religious as long as based on kitabullah. So, bagi mereka yang suka bermadzhab, whatever the madzhab that you believe in, status saya ini bukan negasi untuk anda, anggap saja sebuah pernyataan yang tidak membutuhkan tanggapan maupun komentar.

Boleh dong sesekali saya menulis tentang cara pandang saya didalam beragama.

Sejak saya memulai debut menulis dan berdakwah ditahun 1996, termasuk opini keagamaan di surat kabar, selalu saya sampaikan bahwa:

Kebanyakan dari kita sering bertindak terlalu apatis terhadap kebenaran yang diungkapkan oleh orang lain, terlebih jika orang tersebut memiliki cara pandang yang berseberangan dengan apa yang kita yakini kebenarannya.

Padahal belum tentu semua yang ada dalam pemikiran orang tersebut salah dan sebaliknya belum tentu juga setiap pikir dan tindakan kita bernilai benar; bisa saja kita bersikap konsisten terhadap nilai-nilai yang kita anut sehingga kita menyebutnya sebagai sebuah kebenaran namun bukan tidak mungkin konsistensi kita tadi hanya ilusi dimana pikiran kita sesungguhnya berjalan sesuai pola logika yang bisa bergeser dan menyimpang.

Pikiran kita memang tidak menyimpang kalau kita bandingkan dengan standar kita sendiri. Padahal standar kita dibentuk oleh pikiran kita. Jadi, pikiran kita ternyata hanya tidak menyimpang dari pikiran kita sendiri.

Lalu apa sebenarnya poin tulisan saya kali ini?

Kembalilah pada fitrah insaniah setiap diri. Berhenti memberhalakan manusia lain dalam bentuk apapun. Siapapun mereka adanya. Belajarlah dari cara Rasulullah mengajari para sahabatnya yang ingin terlalu menghormati beliau. Mulai dari mengadakan gelar ini dan itu sampai-sampai berdiri saat beliau hadir ditengah jemaah. Apa Rasulullah menyukainya? jawabnya tidak. Beliau guru dari semua guru. Mari kita berkiblat pada pola pengajarannya yang bersahaja. Kita yang gila hormat, padahal syariatnya justru tidak mewajibkannya secara berlebihan.

Selanjutnya, jangan mudah terjebak pada satu kebenaran madzhab tertentu saja dalam berpandangan. Tengoklah juga, carilah tahu seperti apa pandangan madzhab para imam lain diluar yang kita percayai. Siapa tahu, mereka lebih benar dari pandangan madzhab kita.

Terakhir, mari dahulukan akhlak diatas fiqh sehingga timbul kearifan pada setiap diri.

Itulah poinnya.

Wassalam.

ARMANSYAH

Advertisements

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: