Pengalaman Spiritual bukan standar kebenaran

Oleh : Armansyah

Tahun 2007 lalu, pada salah satu perdiskusian lintas iman dengan salah satu sahabat dari Kristiani yang saya inisialkan saja RL, ia mengatakan bahwa ada sejumlah kasus dimana seseorang telah ditemui oleh Yesus dan melakukan pertobatan. Bagi saya pribadi, itu bukanlah standar dari benar atau tidaknya sebuah pemahaman keagamaan seseorang. Adalah hak siapapun untuk mengatakan ini dan itu tentang pengalaman spiritualnya. Saya tidak akan terpengaruh jika memang semua kesaksian ini benar mereka alami ataupun juga bila hal itu diada-adakan alias pemalsuan.

Sebagai seorang muslim yang rasional, saya sama sekali tidak pernah merasa terganggu dengan pengalaman spiritual seseorang yang tidak empiris tersebut. Sama halnya dengan orang yang menceritakan mimpi-mimpi dalam tidurnya.

  1. Apa yang mau didebatkan dari ilusi, mimpi atau hal-hal mistis orang-orang semacam ini?
  2. Standarisasi benar-salahnya apa ?

Siapapun bisa bermimpi, siapapun bisa ber-ilusi, siapapun bisa memiliki pengalaman mistisnya masing-masing yang sangat pasti berbeda setiap orang.

Pengikut budha ya kemungkinan punya pengalaman mistis bersama sosok Budhanya, Hindhu ya mungkin bersama kehindhuannya, pengamal tareqat ya mungkin bersama syaikhnya, mursydnya dan lain sebagainya. Ada yang mengatakan dia di jumpai oleh Khidr, oleh Musa bahkan oleh Nabi Muhammad. Wallahua’lam bisshowab.

Itu masuk dalam bahasan metafisika yang mungkin bisa kita telisik dari sudut kajinya tersendiri untuk membuktikan apa, siapa dan bagaimana sebenarnya pengalaman spiritual mereka itu.

Saya lebih memilih ranah akal atau rasio untuk memahami Tuhan dan menemukan eksistensi kebenaran Dia dan juga ajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya. Ini juga yang pernah ditempuh oleh ilmuwan besar dunia Isaac Newton (1642-1727) dalam tulisannya “An Historical Account of Two Notable Corruption of Scripture” :

Bagi mereka yang mampu, biarlah mereka mengambil kebaikan dari kontroversi tersebut. Untuk saya sendiri, saya tidak bisa mengambil apa-apa darinya. Jika dikatakan bahwa kita tidak boleh menentukan maksud dari kitab suci dan apa yang tidak bisa ditentukan oleh penilaian-penilaian kita, maka saya mengatakan bahwa bukanlah tempatnya dipertentangkan. Tetapi pada bidang-bidang yang dipertentangkan, saya menyukai untuk mengambil apa yang paling saya mengerti. Adalah sikap keras dan sisi takhayul dari manusia dalam masalah-masalah agama menjadi bukti misteri-misteri tersebut.

#sebuahcatatanpribadi

Status FB saya, tanggal 22 September 2013

Advertisements

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: