Boleh Mengkritik sahabat tetapi jangan menghina mereka!

Boleh Mengkritik sahabat Nabi tapi jangan menghina mereka!
Sebuah kritik pada sebagian pemikiran orang syiah.

Oleh : Armansyah

Perseteruan antar sahabat dimasa lalu, pada hakekatnya telah menjadi fakta sejarah yang tidak mungkin dihindarkan atau ditutup-tutupi. Melakukan kajian dan kritik terhadap mereka dari sisi ilmiah sama sekali bukan hal yang terlarang apalagi berdosa, terutama jika kita memang ingin obyektif dan mencari kebenaran sesungguhnya.

Kita tidak perlu berlebihan dalam menyikapi semua kritik dan kajian pada generasi pertama tersebut seolah mereka adalah kaum untouchable persons. Mereka juga adalah manusia biasa, sama seperti kita dan orang lain diluarnya. Kedekatan mereka pada Rasulullah, kesatu jamanan mereka dengan Rasul tidak harus lalu ditaklidkan dengan sifat pembenaran diri pada mereka dalam segala sesuatunya. Hal yang saya percaya, mereka sendiri tidak menyukainya.

Maksud saya dengan sahabat disini tentunya adalah orang-orang yang dianggap sebagai sahabatnya Nabi Muhammad SAW. Siapapun itu adanya. Entah mereka itu 4 khalifah pertama (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali) maupun individu lain diluar mereka.

Para Nabi saja diceritakan secara jelas didalam al-Qur’an, kerap berbuat hal-hal yang bersifat khilaf dalam kapasitasnya sebagai manusia biasa yang normal. –dalam artian, kesalahan ini tidak ada kaitannya dengan posisi mereka sebagai Rasul atau duta Allah pada manusia untuk menyampaikan wahyu.

Lihatlah bagaimana Yunus akhirnya harus dihukum Allah dengan tinggal didalam perut ikan karena lari dari misi dakwahnya akibat kekesalan hati beliau dalam menghadapi umatnya yang membangkang, lihat pula bagaimana seorang Muhammad, sang Khatamannabiyyin, harus ditegur oleh Allah sebab sempat mengharamkan madu yang sudah jelas halal hanya karena beliau ingin mencari kesenangan hati para istrinya. Atau dilain waktu, Rasulullah pun kena tegur Allah karena beliau mengabaikan bahkan bermuka masam orang buta yang ingin mendapat pelajaran dari beliau.

Ada sebuah nash dari Rasulullah sebagai berikut:

Shahih Bukhari 6648: Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman Telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri telah mengabarkan kepadaku Urwah bin Zubair bahwasanya Zainab binti Abu Salamah mengabarkannya dari ibunya, Ummu Salamah mengatakan; Pernah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar gaduh percekcokan di pintunya, lantas beliau menemui mereka dengan mengatakan; “Saya hanyalah manusia biasa seperti kalian, dan sengketa diadukan kepadaku, dan bisa jadi diantara kalian ada yang lebih pandai bersilat lidah daripada yang lain sehingga aku memenangkannya dan aku mengira dirinya yang benar, maka siapa yang kumenangkan dengan melanggar hak muslim lainnya, itu adalah sundutan api, silahkan ia mengambil atau tinggalkan!”

Jika orang-orang shaleh sekelas kekasih Tuhan saja bisa berbuat khilaf, bisa berbuat salah maka bagaimana juga kita bisa beranggapan sebaliknya bagi orang-orang lain diluarnya?

Inilah suatu sunnatullah, fitrah dan juga kenormalan hidup. Ketika kita menganggap seorang manusia tidak mungkin berbuat salah, seorang manusia tidak mungkin berbuat khilaf maka saat itu kita sudah menaikkan derajat dan posisi mereka pada derajat diluar manusia, kita menempatkan mereka pada sifat-sifat kemalaikatan, malah bisa jadi mencapai tingkat ketuhanan. Na’udzubillahimindzalik.

Tetapi, kita juga tidak boleh kebablasan dalam mengkritik dan mengkaji sejarahnya. Kebablasan disini dalam artian bahwa kita jatuh pada pencaci makian bahkan penghinaan terhadap para sahabat Rasul tersebut. Apa yang sudah terjadi, adalah pembelajaran untuk kita dimasa sekarang dan generasi berikutnya dimasa depan.

Kafir atau tidaknya, masuk neraka atau masuk syurganya seseorang itu bukan hak kita untuk memvonisnya. Kita bukan Tuhan yang lalu bisa memutuskan si A dan si B keneraka karena kafir atau si C dan si D masuk neraka karena beriman. Jadi biarlah itu urusannya Allah pada akhirnya nanti.

Tindakan kritis kita pada para sahabat Nabi tidak serta merta harus menghilangkan rasa hormat kita pada mereka, siapapun diantara mereka adanya.

Jika ada yang beranggapan bahwa hak Imamah Ali ibn Abi Thalib telah dirampas oleh ke-3 khalifah sebelum beliau, (seperti pemahaman yang ada pada kelompok Islam syiah), maka fakta sejarah mencatatkan pada kita secara jujur bila pada masanya, Ali ibn Abi Thalib sendiri membaiat mereka dan mengakuinya sebagai Khalifah umat Islam yang sah. Ali tidak memerangi Abu Bakar, Umar ibn Khattab ataupun Usman ibn Affan sepanjang hidupnya.

Sebaliknya, sesuai fakta sejarah, beliau ikut berpartisipasi dalam membangun kebesaran Islam ini bersama ke-3 tokoh yang sering dianggap sebagai musuhnya para Ahli Bait Nabi tersebut. Terlepas dari semua unsur-unsur yang melatar belakanginya menurut pendapat masing-masing pihak yang bertikai (maksudnya orang-orang yang mengklaim sebagai pengikut setiap golongan ini, dalam hal ini Sunni dan Syiah).

Rasanya sosok Ali ibn Abi Thalib terlalu agung untuk dijustifikasi sebagai orang yang tamak terhadap kedudukan kekhalifahan, apalagi bila selanjutnya membenarkan perilaku caci maki dan penghinaan kepada orang-orang yang beliau dukung serta beliau jadikan imam pada masa hidupnya.

Kitab Nahjul Balaghah mencatatkan untuk kita pada khutbah Ali yang ke-91 ketika orang-orang memutuskan untuk membaiat beliau setelah pembunuhan Usman ibn Affan., beliau berkata:

Tinggalkanlah saya dan carilah orang lain. Kita sedang menghadapi suatu hal yang mempunyai beberapa wajah dan warna yang tidak dapat ditahan hati dan tidak dapat diterima akal. Awan sedang menggelantung dilangit, dan wajah-wajah tak dapat dibedakan. Anda seharusnya tahu bahwa apabila saya menyambut anda, saya akan memimpin anda sebagaimana yang saya ketahui dan tidak akan memusingkan apapun yang mungkin dicercakan orang.

Apabila anda meninggalkan saya, maka saya sama dengan anda. Mungkin saya akan mendengarkan dan menaati siapapun yang anda jadikan pengurus urusan anda. Saya lebih baik bagi anda sebagai penasehat ketimbang sebagai seorang pemimpin.

Bila memang kursi khilafah itu adalah haqnya beliau yang wajib untuk diambil, maka saya percaya tidak akan Imam Ali mengatakan hal tersebut diatas. Wajib dalam artian mutlaq bahwa melanggarnya merupakan suatu dosa besar. Bila Ali berkata seperti dalam Nahjul Balaghah diatas, artinya hal imamah maupun wilayah Ahli Bait Rasul bukan sesuatu yang urgentisitasnya tinggi apalagi sampai menjadi fondasi utama keberimanan.  

Saya melihatnya juga dari kacamata ayat al-Qur’an berikut :

33:6. Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).

Disana disebutkan jika memang secara fitrahnya, orang yang saling berkerabat dalam hal darah lebih cocok dan tepat secara kaidah untuk saling mewarisi. Baik dalam hal harta atau lainnya.

Silahkan lihat kembali konteks ayat diatas menyebutkan soal warisan yang berkaitan pula dengan orang-orang muhajirin, yaitu para sahabat Nabi yang mengikuti beliau hijrah dari Mekkah menuju Madinah. Jadi, jika kita bicara teks ayat secara apa adanya tanpa ada pretensi campur tangan tafsir si A atau si B, harus diakui dengan jujur bila kita masukkan dalam konteks khilafah, maka berdasar ayat itu Ahli Bait Nabi jauh lebih punya haq ketimbang siapapun dari umat Islam dimasa itu, baik mereka yang berasal dari kelompok Muhajirin ataupun Anshor.

Tapi kemudian tolong pula jangan lantas menutup mata pada akhir ayat ini, …kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu.

Nah, jadi apa yang diperbuat oleh Imam Ali sebenarnya bisa dipahami secara cerdas sebagai implementasi dari kitabullah. Beliau bukan orang yang serakah dalam hal duniawi. Hak Imamah yang mestinya beliau pangku secara syariat, bukan harga mati yang dengan mengambil hak itu dari beliau maka urusan menjadi rusak.

Semua sudah menjadi kehendak Allah bahwa pasca wafatnya Rasul, bukan Ali yang menjadi khalifah pertama Islam tetapi Abu Bakar. Kitapun tidak bisa sinis melihat keterpilihan Abu Bakar disini, sebab semuanya bisa kita lihat pada kronologi awal Abu Bakar sampai terpilih yang diawali oleh keributan di Bani Saqifah antar para sahabat berkaitan suksesi. 

Ya, para sahabat Nabi kisruh dan jika tidak ditengahi oleh Umar bersama Abu Bakar, bisa jadi justru merembet pada pertumpahan darah diantara mereka dihari Nabi SAW wafat. Jelas menjadi suatu tamparan keras bagi sahabat-sahabat senior yang telah lebih dulu berjuang bersama Rasulullah dalam menegakkan Islam ini jika sampai melihat umat terpecah belah dan saling bunuh tepat disaat jasad Nabi masih hangat dan belum lagi dikuburkan.

Olehnya maka, tidak bijak mencela apalagi sampai menghina Abu Bakar hanya karena imamah ada ditangan beliau dan bukan ditangan Ali. Jangan pula dipungkiri kenyataan sejarah, bahwa Ali ibn Abi Thalib telah menikahi Asma binti Umais bin Maadd bin Tamin al Khatsamiyyah, istri khalifah Abu Bakar setelah kematiannya.

Dari kitab Nahjul Balaghah juga kita bisa mendapati keterangan langsung dar Ali ibn Abi thalib berkaitan dengan sikap beliau terhadap Abu Bakar, yaitu pada syarah khotbah no 67 ketika Ali menunjuk Muhammad ibn Abu Bakar menjadi gubernur Mesir serta keterbunuhan beliau. Disana disebutkan bila Amirul Mukminin sangat mencintai Muhammad ibn Abu Bakar sehingga diriwayatkan bile beliau sering mengatakan bila Muhammad adalah putra saya dari Abu Bakar.

Bila didalam hati Ali ibn Abi Thalib berisikan dendam atau tidak ridho dengan Abu Bakar, niscaya mustahil rasanya beliau berucap seperti itu. Apalagi sampai menikahi janda dari Abu Bakar ash-Siddiq pasca wafatnya beliau.

Ketika Khalifah Umar ibn Khattab meminta pendapatnya tentang rencana beliau ikut memimpin perang ke wilayah Romawi (kekaisaran Byzantium), Ali justru mencegah niat Umar tersebut dan menyarankan agar beliau mengutus orang lain:

Allah telah menetapkan bagi para pengikut agamanya untuk memperkuat perbatasan dan menyembunyikan tempat-tempat rahasia. Allah menolong mereka ketika mereka sedikit dan tak dapat melindungi diri mereka sendiri. Dia hidup dan tak akan mati.

Apabila Anda sendiri mau maju menghadapi musuh dan bertempur dengan mereka lalu tertimpa suatu kesulitan, tak akan ada tempat perlindungan bagi kaum Muslim selain kota-kota mereka yang jauh, tak ada pula tempat ke mana mereka akam kembali.

Oleh karena itu Anda harus mengutus ke sana seseorang yang berpengalaman dan mengirimkan bersamanya orang berperilaku baik yang berniat baik. Apabila Allah menganugerahkan kemenangan, maka inilah yang Anda kehendaki. Apabila sebaliknya, Anda akan merupakan dukungan bagi rakyat dan tempat kembali bagi kaum Muslim. (Nahjul Balaghah Khutbah : 133)

Jika memang imamahnya benar-benar wajib, mutlak dan harus berada ditangan Ahli Bait sehingga mengingkarinya sekali lagi didakwahkan telah berdosa besar maka tentu Ali akan membiarkan Umar pergi bersama pasukannya yang boleh jadi dalam pertempuran itu sang Khalifah terbunuh dan ini memudahkan jalan Ali untuk menjadi the next khalifah. Tetapi sebaliknya, Ali justru berkata bila Umar adalah tempat kembali bagi kaum muslim.

Hal yang samapun disarankan oleh Imam Ali pada Khalifah Umar ketika beliau meminta sarannya untuk memimpin pasukan perang ke Persia. Saat beberapa orang menasihati Khalifah Umar untuk menyertai pertempuran Qadisiyyah atau Nahawand, Ali justru menasihatinya untuk tinggal dipusat pemerintahan dan tidak ikut bertempur dimedan perang. Kehadiran Umar  menurut pertimbangan Ali dalam pertempuran itu tak akan bermanfaat bagi Islam, malah tinggalnya beliau dikota Madinah akan menyelamatkan kaum Muslim dari perpecahan. 

Kedudukan kepala pemerintahan adalah sepertij kedudukan benang bagi manik-manik, karena ia menghubungkan dan mengumpulkan mereka. Apabila benang putus, mereka akan terserak dan hilang dan tak akan berkumpul lagi. Orang Arab sekarang, sekalipun kecil dalam jumlahnya, adalah besar karena Islam, dan kuat karena persatuan.

Anda harus tetap sebagai poros bagi mereka, dan memutar gilingan (pemerintahan) dengan (pertolongan) orang Arab, dan menjadi akar mereka. Menjauhlah (Anda) dari pertempuran, karena apabila Anda meninggalkan tempat ini maka orang Arab akan menyerang Anda dari semua sisi dan arah hingga tempat-tempat yang tak terkawal yang Anda tinggalkan akan menjadi lebih penting daripada yang ada di hadapan Anda.

Apabila orang Persia melihat Anda besok, mereka akan mengatakan, “la adalah akar (pemimpin) Arab. Apabila kita membunuh dia maka kita akan aman.” Maka hal ini akan meninggikan gairah mereka menentang Anda, dan kemauan mereka akan tertuju kepada Anda. Anda katakan bahwa mereka telah berangkat untuk bertempur melawan kaum Muslim. Nah, Allah membenci keberangkatan mereka lebih dari Anda, dan Dia lebih mampu mencegah apa yang Dia benci. Mengenai gagasan Anda tentang jumlah (besar) mereka, di waktu lalu kita tidak berperang atas kekuatan jumlah yang besar, tetapi kita berperang atas dasar dukungan dan bantuan Allah. (Nahjul Balaghah, khutbah ke-145)

Dalam khutbah ke-226, salah satu khutbah yang dikalangan umat Islam madzhab syiah masih berselisihan, disebutkan bila Ali ibn Abi Thalib berkata :

Semoga Allah memberi ganjaran kepada si Anu[*] yang meluruskan yang bengkok, mengobati yang sakit, meninggalkan bencana dan menegakkan sunah. la pergi (dari dunia ini) dengan busana yang tak bernoda dan sedikit kekurangan. la mencapai kebaikan (dunia ini) dan tetap aman dari keburukannya. la memberikan ketaatan kepada Allah dan takwa kepada-Nya sebagaimana hak-Nya. la pergi dan meninggalkan manusia di jalan-jalan berpecah di mana yang tersesat tak dapat beroleh petunjuk dan yang tertuntun tak dapat beroleh kepastian.

lbn Abil Hadid menulis dalam Syarh Nahjul Balâghah, XIV, h. 3-4 bahwa rujukan dari “si Anu” di sini adalah pada Khalifah ‘Umar disaat wafatnya beliau, dan bahwa kalimat-kalimat ini diucapkan dalam pujiannya sebagai ditunjukkan oleh kata “‘Umar” yang ditulis di bawah kata “si Anu” dalam tulisan tangan Sayid Radhî sendiri dalam manuskrip Nahjul Balâghah yang ditulisnya. 

Ibn Abil Hadid mengutip pernyataan Thabarî untuk membuktikan hipotesanya, sebagai berikut:

“Diriwayatkan dari al-Mughirah ibn Syu’bah bahwa ketika Khalifah ‘Umar meninggal, Ibnah Abi Hatsmah berkata sambil menangis, ‘Wahai ‘Umar, Anda adalah orang yang meluruskan yang bengkok, menyingkirkan keburukan, menghancurkan kejahatan, menghidupkan sunah, tetap suci, dan berpisah tanpa keterlibatan dalam kemungkaran.’ (Menurut Thabari, al-Mughirah meriwayatkan bahwa ‘Ketika ‘Umar dikuburkan, saya datang kepada ‘Ali dan mendengar sesuatu dari dia tentang ‘Umar. Maka, ketika saya tiba, Amirul Mukminin keluar dalam keadaan berselubung kain setelah mandi dan menyentak-nyentakkan rambut di kepala dan janggutnya, dan ia tak ragu bahwa jabatan khalifah itu akan datang kepadanya. Pada kesempataan itu ia berkata, ‘Semoga Allah menaruh rahmat atas ‘Umar.’ (ath-Thabari, I, h. 2763; Ibn Abil Hadid, XII, h. 5; Ibn Katsir, VII, h. 140)

Orang-orang syiah memang sebagian besar menolak khutbah ini ditujukan pada diri Umar ibn Khattab. Bagi mereka, sekalipun pandangan Ibn Abil Hadid diterima, hal itu akan dianggap mewakili pandangan pribadi Sayid Radhî yang dapat menjadi argumen tambahan untuk mendukung argumen dasar, tetapi pandangan pribadi ini tak dapat dipandang sebagai hal penting.

‘Allamah al-Hajj al-Mirzâ Habibullih al-Khû’î berpendapat bahwa orang yang disebut “si-anu itu” ialah Malik ibn Harits al-Asytar, atas dasar bahwa setelah terbunuhnya Malik situasi kaum Muslim demikian rupa. Adapula diantara mereka beranggapan bahwa orang ini adalah Salman al-Farisi.

Tetapi jika saya melihat dan merunut dari apa yang sudah ada, termasuk fakta sejarah dan juga nasehat-nasehat dari Ali sendiri pada Khalifah Umar ketika masih hidup dan hendak turut serta berperang bersama pasukannya, maka besar kemungkinan khutbah ke-226 diatas memang ditujukan pada Umar ibn Khattab, sebagaimana pernyataan Ibn Abil Hadid.

Bagaimanapun, hanya orang dengan kedudukan tinggi ditengah umat sajalah yang disebutkan telah meninggalkan manusia dalam keadaan terpecah, dimana disini bila kita melihat fakta pula dijaman Umar, keadaan umat Islam telah menyebar luas keberbagai wilayah dunia. Lihat kembali pentingnya sosok Umar ditengah umat dalam pidato atau saran-saran Ali pada Umar dibagian sebelumnya.

Adalah tidak jujur jika pendapat Ibn Abil Hadid dalam syarhnya atas khutbah ke-226 diatas ditolak dengan mencari pembenaran disana-sini hanya karena Ibn Abil Hadid menyebutkan bila orang yang dimaksud oleh Imam Ali tersebut adalah Khalifah Umar. Sementara pada sisi lain dari Nahjul Balaghah, justru pendapat Ibn Abil Hadid pada sosok yang juga tidak jelas namanya malah diterima, seperti contoh bisa dilihat pada syarh Ibn Abil Hadid dikhutbah ke-10 yang menyebutkan istilah “setan” pada pidato Ali merujuk pada Muawiyah.

Berbicara tentang Muawiyah, pada suratnya yang ke-58 yang ditujukan pada seluruh masyarakat Islam diberbagai daerah berkaitan dengan konflik awal antara Ali ibn Abi Thalib terhadap Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, Imam Ali berkata: bahwa antara dia dan musuhnya itu pada hakekatnya sama-sama muslim, bertuhankan yang sama, bernabikan yang sama dan beragama juga yang sama.

Tidak ada perkara lain yang menyebabkan mereka bertempur kecuali tuntutan Muawiyah kepada Ali sekaitan dengan darah Usman ibn Affan. Hal ini artinya, Ali sendiri sebagai seorang khalifah umat yang sah, tetap mengakui hak-hak keagamaan dari Muawiyyah sebagai seorang muslim. Tidak ada pelecehan ataupun ucapan dari bibir beliau ini kebencian maupun penghinaan apalagi pengkafiran terhadap Muawiyah.

Bukti :

Semuanya mulai sedemikian rupa hingga kami dan orang Suriah bertemu dalam suatu pertarungan, walaupun kita percaya kepada Allah yang satu dan sama dan Nabi yang satu dan sama, dan risalah kita dalam Islam adalah satu dan sama. Kita tidak menghendaki mereka untuk menambahkan barang sesuatu dalam keimanan kepada Allah atau dalam mengakui Nabi-Nya (saw), dan tidak pula mereka menghendaki kita untuk menambahkan barang sesuatu seperti itu.

Sebenarnya, ada suatu kesatuan yang lengkap, kecuali bahwa kita berbeda tentang masalah darah ‘Utsman sementara kita tidak terlibat di dalamnya. Kami sarankan kepada mereka untuk meredakan situasi dengan menenangkan kekacauan sementra itu, dan menenangkan rakyat sampai urusan mengendap dan menjadi stabil ketika kita akan mendapatkan kekuatan untuk membetulkan urusan.

Tetapi, mereka mengatakan bahwa mereka akan meneyelesaikan dengan peperangan. Maka, mereka menolak perintah kami dan sebagai akibatnya peperangan merentangkan sayap-sayapnya dan datang untuk tinggal. Nyalanya bangkit dan menjadi kuat. Ketika perang telah menggigit kita maupun mereka dan menusukkan kukunya kepada kita maupun mereka, mereka menerima apa yang telah kita sarankan kepada mereka.

Maka kita menyetujui apa yang mereka sarankan dan bergegas memenuhi permohonan mereka. Dengan cara ini hujah menjadi jelas kepada mereka dan tiada dalih yang tertinggal pada mereka. Sekarang, barangsiapa di antara mereka berpegang pada (janji) ini akan diselamatkan Allah dari keruntuhan, dan barangsiapa menunjukkan (sikap) kepala batu dan bersikeras (pada kesalahan) adalah pemutar balik yang hatinya telah dibutakan Allah, dan kemungkaran akan mengelilingi kepalanya. •

Akan halnya Zubair, salah satu sahabat Nabi lain yang berseberangan dengan Imam Ali pada kasus perang Jamal, di Nahjul Balaghah dituliskan secara jelas bila Zubair pada akhirnya menyadari kekeliruannya yang telah berani memusuhi Ali ibn Abi Thalib.

Ali datang kepada musuh tanpa senjata dan tanpa baju perangnya, seraya berseru, “Di mana Zubair?” Mula-mula Zubair ragu untuk maju, tetapi ketika melihat Amirul Mukminin tidak bersejata, ia keluar. Amirul Mukminin berkata kepadanya. “Wahai, Zubair, tentu Anda ingat bahwa pada suatu hari Nabi mengatakan kepada Anda bahwa Anda akan berperang dengan saya, dan kesalahan dan pelanggaran batas ada di pihak Anda.”

Zubair menjawab bahwa memang beliau telah berkata demikian. Kemudian Amirul Mukminin menanyakan, “Maka, mengapa Anda datang?” la mengatakan bahwa ia telah melupakannya dan apabila ia mengingatnya lebih dini ia tidak akan datang seperti itu.

Amirul Mukminin Ali berkata, “Nah, sekarang Anda telah mengingatnya.” Lalu ia menjawab, “Ya.” Setelah mengatakan ini Zubair langsung pergi kepada ‘A’isyah seraya mengatakan kepadanya bahwa ia akan pulang. ‘A’isyah menanyakan sebabnya dan ia mengatakan, “Ali telah mengingatkan kepada saya suatu hal yang terlupakan. Saya tersesat, tetapi sekarang saya telah datang kepada jalan yang benar, dan bagaimanapun saya tidak akan berperang melawan ‘Ali ibn Abi Thalib.” (Lihat syarh Nahjul Balaghah khutbah ke-13)

Akhirnya, mari kita kembali pada titik-titik kejujuran al-Qur’an bahwa sebenci-bencinya kita pada suatu kaum, hendaklah kita tetap bersikap obyektif, adil. Apa yang baik dari orang tersebut, apa yang benar dari orang tersebut, meskipun kita tidak suka, meskipun kita membenci orangnya, mari tetap kita sebut kebaikan dan kebenarannya. Ini lebih adil disisi Allah.

5:8. Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Saya bukan orang Islam dengan madzhab syiah, meskipun saya mungkin termasuk orang yang cukup gigih membela penzaliman syiah sendiri dari kelompok lainnya yang menggeneralisir secara sepihak bahwa semua orang syiah sebagai kelompok yang sesat.

Tapi saya juga bukan orang sunni yang lantas harus membela kelompok Islam bermadzhab Ahlussunnah wal jama’ah dengan mencari pembenaran disana-sininya dari argumentasi orang-orang Syiah. Silahkan lihat kembali identitas saya disini: Apakah saya seorang Syiah?

Bagaimanapun, saya berpendapat bahwa selalu ada nilai kebenaran dan kebaikan pada diri setiap orang disetiap kelompok. Disamping, pasti ada pula nilai kebatilan maupun penyimpangan dari masing-masing kelompok dan orang itu sendiri. Saya tidak punya keuntungan secara materi ketika membenarkan atau menolak suatu pemahaman didalam kelompok-kelompok ini. 

Saya hanya seorang muslim non-sekterian yang mencoba melihat segala sesuatunya secara berimbang dan proporsional, adil dan obyektif. Saya disini juga mengingatkan pada mereka yang bermadzhab Ja’fari atau syiah pada fatwa dari Ayatullah Khamenei selaku imam yang dihormati dikalangan anda bahwa beliau pernah menyerukan agar menghormati semua simbol-simbol dan keyakinan dari saudara mereka yang Ahlussunnah. Malah, diharamkan menghinanya.

 

Dalam pandangan saya, para sahabat Nabi memang tidak luput dari salah. Mereka bukan orang yang maksum, wajar saja bila mereka berbuat salah dan khilaf. Apa yang salah, mari kita lihat itu sebagai sebuah kesalahan murni dari sisi insaniahnya. Tidak perlu membuat pembelaan ini dan itu. Silahkan saja melakukan study dan kritik tetapi jangan pula kita menghina atau melecehkannya apalagi sampai mengkafirkannya tanpa ada bukti kuat yang jelas.

Ingat, iman seseorang itu ada dihatinya. Kadang tampilan luar bisa menipu. Seseorang memang bisa saja bertaqiyyah, diluar seolah orang yang beriman tetapi didalam hatinya ternyata dia musang berbulu domba, typikal munafik. Tetapi kita sebagai seorang muslim, tidak diperintahkan untuk membelah dada manusia untuk melihat kebenaran isi hatinya. Kita cuma menilai dari sisi luar saja. Urusan taqiyyah, urusan berdustanya hati mereka, biarlah menjadi urusan dia dengan Allah.

Ada sebuah cerita dijaman Rasulullah SAW yang memberikan banyak pembelajaran bagi kita semua, umat Islam, tentang hakekat dan arti dari keagungan kalimah Tauhid (Laa ilaaha illallah) yang menjadi dasar dan inti sari pesan-pesan dakwah al-Qur’an. Yuuk kita baca sama-sama cerita tersebut :

Sumber cerita adalah kitab Sunan Ibnu Majah bernomor 3920:

Telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir dari ‘Ashim dari As Sumaith bin As Samir dari ‘Imran bin Al Hushin dia berkata, “Nafi’ bin Al Azraq bersama para sahabatnya, mereka berkata, “Celaka kamu wahai ‘Imran! ” Imran pun bertanya, “Aku celaka! ” mereka menjawab, “Ya.” Imran bertanya lagi, “Apa yang mencelakakanku?” mereka menjawab, “Allah telah berfirman ‘(dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah dan yang ada hanya agama milik Allah saja) ‘ (Qs. Al Anfal: 39). Imran berkata, “Kami telah memerangi mereka dan memberangusnya, sehingga din ini hanya milik Allah saja. Kalau kalian kehendaki, aku akan ceritakan kepada kalian suatu hadits yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Mereka berkata, “Dan kamu (benar-benar) mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?.” Imran menjawab, “Ya. Aku menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus pasukan kaum muslimin untuk menyerang kaum musyrikin, tatkala mereka bertemu musuh, mereka pun memeranginya dengan pertempuran sengit hingga berhasil mengalahkan musuh. 

Lalu salah seorang dari familiku dapat menodong seorang dari kaum musyrikin dengan tombak, ketika saudaraku mendatanginya ia berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, aku adalah seorang muslim.” Tetapi familiku itu tetap menikamnya sehingga ia mati. Kemudian saudaraku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Celaka aku wahai Rasulullah! ” Beliau bertanya sekali atau dua kali: “Apa yang telah kamu lakukan?” Dia memberitahukan kepada beliau apa yang dia perbuat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda kepadanya: “Apakah kamu harus membelah perutnya sehingga kamu dapat mengetahui apa yang ada di dalam hatinya?” 

Dia menjawab, “Ya Rasulullah, kalau seandainya aku (memang harus) membelah perutnya niscaya aku mengetahui apa yang ada di dalam hatinya.” Beliau bertanya: “Lalu kenapa kamu tidak terima apa yang dia ucapkan sedang kamu tidak mengetahui apa yang ada dalam hatinya?” ‘Imran berkata, “Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendiamkannya. Dan tidak lama kemudian, orang itu pun meninggal dunia. Maka kami menguburkannya.

Di pagi harinya (jenazahnya) telah berada di atas permukaan tanah. Mereka berkata, “Jangan-jangan ada musuh yang sengaja mengeluarkannya.” Maka kami menguburnya kemudian memerintahkan kepada budak-budak kami untuk menjaganya, tetapi (jenazahnya) kembali berada di atas permukaan tanah. Maka kami berkata, “Jangan-jangan budak-budak itu telah ngantuk.”

Kemudian kami menjaganya sendiri tetapi (jenazahnya) tetap berada di atas permukaan tanah sehingga kami melemparkannya di celah yang terletak di antara dua bukit.” Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Hafsh Al Aili telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Ghiyats dari ‘Ashim dari As Sumaith dari ‘Imran bin AL Hushain dia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus kami di suatu ekspedisi. 

Kemudian ada seorang dari kaum muslimin menyerang seseorang dari kaum musyrikin…. Kemudian perawi menyebutkan hadits seperti yang di atas, dan dia menambahkan di dalam haditsnya, “Tetapi bumi membuangnya (mengeluarkannya), kemudian kejadian itu diberitahukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau pun bersabda: “Sesungguhnya bumi menerima orang yang lebih buruk dari dia, tetapi Allah ingin memperlihatkan kepada kalian pengagungan terhadap kehormatan kalimat Laa Ilaaha Illallah.”

Sebagai penambah pelengkap:
Musnad Ahmad 20493: Telah menceritakan kepada kami Abdushamad telah menceritakan kepadaku Ayahku telah menceritakan kepada kami Husain dari Abu Buraidah bahwa Yahya bin Ya’mar menceritakan padanya bahwa Abul Aswad Ad Dili menceritakan bahwa Abu Dzar berkata, “Aku mendatangi Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam yang sedang tidur dengan mengenakan baju berwarna putih, saat aku datang kembali beliau telah terbangun hingga aku pun duduk disisinya. Beliau bersabda: “Tiada seorang hamba yang mengucap kalimat ‘Laa Ilaaha Illallah’ lalu ia meninggal dalam keadaan seperti itu kecuali ia akan masuk surga.” Aku bertanya, “Walaupun ia berzina dan mencuri?” Beliau menjawab: “Walaupun ia berzina dan mencuri.” Aku bertanya lagi, “Walaupun ia berzina dan mencuri?” beliau menjawab: “Meskipun ia berzina dan mencuri.”
 

Shahih Muslim 137: Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar, Ibnu al-Mutsanna berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Washil al-Ahdab dari al-Ma’rur bin Suwaid dia berkata, “Saya mendengar Abu Dzar menceritakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Jibril Alaihissalam mendatangiku lalu memberikan kabar gembira kepadaku, bahwa orang yang meninggal dari umatmu dalam keadaan tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu apa pun niscaya masuk surga.” Maka aku bertanya: “Meskipun dia berzina dan mencuri?” Beliau menjawab, “Walaupun dia berzina dan mencuri.”

Tulisan saya lainnya yang mungkin bisa dibaca sekaitan dengan topik ini agar anda bisa melihat betapa berimbangnya cara saya berpikir insyaAllah :

https://arsiparmansyah.wordpress.com/2012/08/16/menolak-mengkafirkan-malah-dikafirkan-sebuah-catatan-untuk-grup-muhammadiyah/

https://arsiparmansyah.wordpress.com/2007/08/28/sahabat-nabi-tidak-selamanya-benar/

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: