Menolak mengkafirkan malah dikafirkan! Sebuah catatan untuk grup Muhammadiyah

By Armansyah

Menolak mengkafirkan malah dikafirkan !
Sebuah catatan untuk grup Muhammadiyah

Judul ini mungkin dirasa provokatif oleh anda, tetapi itulah faktanya. Ketika kita menolak mengikuti pemahaman segelintir orang untuk mengkafirkan dan menyesatkan sekelompok orang, sekte atau madzhab tertentu didalam Islam maka kita dianggap bagian dari kelompok dan sekte orang tersebut. 

Hal ini saya alami dalam salah satu grup diskusi milik ormas Muhammadiyah di facebook dengan alamat http://www.facebook.com/groups/warga.muhammadiyah/. Diskusi itu sendiri berkaitan dengan perbedaan pandangan antara sesama member disana berkaitan status para sahabat Rasul yang dianggap semuanya bersifat adil yang kemudian setelah saya intervensi dengan pandangan saya berkaitan itu (silahkan cek disini untuk detilnya : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2007/08/28/sahabat-nabi-tidak-selamanya-benar/ ) kemudian saya dihujat dan dituduh sebagai penganut Syiah.

Tuduhan itu di-iringi pula dengan dikeluarkannya saya secara paksa dari grup tersebut sebelum saya sempat memberikan klarifikasi terhadap tuduhan tersebut. Singkat cerita saya lalu di invite ulang oleh salah satu member yang merasa jengah dengan ketidak adilan tersebut dan membiarkan saya mengklarifikasi status saya secara terbuka. Setelah klarifikasi saya berikan, ternyata mereka menolak  mempercayainya dan tetap menganggap saya melakukan taqiyyah atau berdusta atas klarifikasi yang saya berikan.

Akhirnya saya mengajukan ajakan mubahalah pada mereka untuk menepis keraguan tersebut, sayangnya ajakan mubahalah saya ini (2 kali saya posting secara terbuka) tidak mendapat respon atau tanggapan dari mereka. Padahal jika mereka merasa yakin bila saya sedang berdusta dan menganggap tuduhan mereka itu benar adanya, mestinya ajakan mubahalah ini menjadi ajang yang baik sebagai mediator yang menjembatani keraguan yang ada.

Saya tidak ingin mengikuti kemauan sebagian besar dari mereka yang berusaha menggiring saya pada konsep pengkafiran atau penyesatan pada kelompok Syiah tanpa pandang bulu. Artinya, saya tidak ingin menggeneralisir seluruh orang dan sekte syiah itu sesat dan kafir. Boleh jadi beberapa diantara mereka memang menyimpang dari ajaran Tauhid yang benar dan jatuh pada kekafiran maupun kesesatan. Namun menjadi tidak adil bila kita menyamaratakan seluruh syiah itu pasti demikian adanya. Sebenci-bencinya kita pada sesuatu mestinya harus bisa obyektif dalam memberikan penilaian dan penghakiman. Bukankah ini merupakan ajaran dari kitab suci al-Qur’an sendiri yang mestinya menjadi pedoman?

5:8. Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Meskipun matahari dan bulan diletakkan dikedua tangan saya agar saya mengikuti keinginan mereka yang menggeneralisir kekafiran pada kelompok Islam Syiah, itu tidak akan pernah saya lakukan sampai kapanpun. Al-Qur’an lebih wajib saya ikuti ketimbang orang yang mengikuti hawa nafsunya dalam memaksakan kehendaknya.

5:48. Putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. 

Mereka terus berargumen bahwa semua orang syiah itu sesat karena telah mengkafirkan sahabat Nabi termasuk istri beliau ‘Aisyah dan juga mengubah-ubah al-Qur’an sehingga kitab suci orang syiah dengan kitab suci umat Islam berbeda. Tentu saja kita harus obyektif melihat ini secara ilmu. Sekali lagi, mungkin saja hal itu benar untuk beberapa sekte mereka, tetapi apakah lantas kita bisa mengatakan semua orang syiah dari berbagai madzhabnya juga seperti itu adanya ?

Saya sempat ditanya syiah yang mana yang tidak sesat itu. 

Jawab saya :

Saya pernah membaca klarifikasi langsung dari ulama Syiah yang berasal dari Iran sendiri bahwa hal ini tidak dibenarkan malah diharamkan untuk dilakukan. Berikut saya tampilkan sumber dan screenshotnya :

Mereka juga mengecam dan mengutuk orang-orang yang melakukan pelecehan atas istri Nabi, Ummul Mu’minin, ‘Aisyah ra:

Tapi atas sikap saya yang berkesan membela kelompok syiah ini, saya terus mendapatkan kecaman kembali dengan menyindir saya sebagai orang yang juga telah kafir sebab membela kelompok yang mereka kafirkan atau sekurang-kurangnya bodoh. Berikut screenshotnya :

Saya telah mengajukan keberatan atas penyebutan ini dengan mengambil contoh pada sikap Ketua Umum PP Muhammadiyah sendiri yaitu Prof. DR. Sirajuddin Syamsuddin M.A atau yang lebih dikenal dengan nama Din Syamsuddin yang melakukan pembelaan ataupun menganggap Syiah juga merupakan bagian dari umat Islam. 

Sebaliknya dengan berani ada yang menyebut bahwa ketum pp Muhammadiyah tersebut justru telah bodoh karena melakukannya. 

Saya sukar membayangkan ada orang yang berani menyebut seorang ketua umum PP Muhammadiyah yang harusnya dihormati, sebagai orang yang bodoh, diforum Muhammadiyah sendiri, tetapi inilah faktanya. Bahkan ketika saya juga mengajukan fakta lain bila Majelis Ulama Indonesia atau MUI pun tidak menyatakan syiah kafir dalam fatwanya tetapi cuma sekedar mengatakan mereka berbeda dengan kelompok Ahli Sunnah Waljama’ah yang mayoritas di Indonesia, ikut disebut sebagai orang yang bodoh.

Sangat disesalkan sebenarnya opini seperti ini keluar hanya karena berbeda pandangan. Prof. Din Syamsuddin dan para ulama yang duduk dimajelis fatwa MUI dikatakan bodoh atau dibodohi karena sudah menganggap Syiah bagian dari umat Islam. Mestinya menurut mereka seluruh syiah itu kafir alias bukan bagian dari umat Islam. Dengan melakukan pembelaan terhadap syiah maka pelakunya dianggap sebagai orang yang bodoh, jahil dan na’udzubillah juga kafir sebab dikategorikan sebagai bagian dari kelompok syiah yang menurut mereka kafir itu.

Saya juga mengajukan data bila Almarhum Buya Hamka atau nama aslinya Haji Abdul Malik Karim Abdullah, salah seorang ulama terbesar dan terbaik yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia pun dalam menulis bukunya yang berjudul asli “Sedjarah Ummat Islam” khususnya jilid 2 (terbitan Tokobuku Islamyah Medan 1952) justru banyak bercorakkan pemikiran syiah ketika membahas perihal kejadian-kejadian pasca wafatnya Rasulullah SAW sampai masa-masa pembantaian Husain cucu Nabi dipadang Karbala.

Sebelunya, salah seorang sahabat lain digrup tersebut dengan ID Kanzun Qalam juga menyebutkan bahwa Buya Hamka dalam tafsir Al-Azharnya juga ada merujuk pada literatur Syiah seperti berikut ini :

Terlepas dari semua diskusi dengan orang-orang yang saya anggap cukup ekstrim dalam memandang perbedaan madzhab antara umat Islam Syiah dan sunni, saya cukup lega karena ternyata tidak semua orang-orang didalam grup Muhammadiyah tersebut seperti mereka. Diantara mereka ada orang-orang yang tsiqah dan arif dalam memandang persoalan ini. Pandangan mereka terhadap kafirnya syiah tidak menggeneralisir. Hal yang juga saya amini dan sesuai dengan pandangan Ketum PP Muhammadiyah, FPI serta MUI sendiri. Salah satu dari mereka adalah Da’i Muhammadiyah sendiri yang sekaligus juga menjabat selaku Admin didalam grup tersebut, Bapak Dadang Syaripuddin.

Berikut tanggapan beliau :

Akhirnya, kita sebagai umat Islam, memang masih harus banyak belajar tentang segala hal yang berkaitan dengan ke-Islaman itu sendiri agar tidak mudah terjebak dalam fanatik buta tanpa disertai kearifan dan keilmuan. Kita tidak harus terjebak dalam  situasi emosional demi mendukung hujjah yang kita miliki dengan menggeneralisir setiap permasalahan menjadi satu kesatuan. Hal ini tidak adil bagi mereka yang menjadi korban generalisasi semacam itu. Terlebih hal-hal demikian dilarang oleh Allah dalam kitab-Nya.

Memang tidak bisa dipungkiri bila ada diantara orang-orang penganut madzhab syiah itu yang melakukan penyimpangan hingga membuat mereka jatuh pada kesesatan dan kekafiran, misalnya dengan mempertuhankan Ali, mengkultus individukan para Imam mereka atau hal-hal lain yang membuatnya jatuh pada hukum-hukum tersebut.

Begitu pula dengan orang-orang yang mengklaim diri selaku penganut madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah, tidak semuanya benar. Banyak juga yang menyimpang dan terjebak dalam kemusryikan (baca: kekafiran). Seperti misalnya dengan melakukan pelarungan kepala kerbau kelaut untuk mengharap keselamatan dari Jin penguasa lautan, memberikan sesajen ini dan itu pada pohon besar, menghormati keris dan kerbau layaknya sesuatu yang keramat dan suci, menggunakan jimat dalam bentuk sabuk, gelang, cincin atau pengasihan. Dan seterusnya.

Namun mari sekali lagi saya mengajak agar tidak menggeneralisir. Bahkan raja Arab Saudi, Abdullah, memperkenankan Prediden Iran Mahmoud Ahmadinejad yang bermadzhab Syiah untuk menunaikan ibadah hajinya ketanah suci Mekkah dan Madinah.

Bahkan raja Abdullah juga mengundang beliau (Ahmadinejad) untuk menghadiri KTT darurat Islam di Mekkah pada tanggal 14-15 Agustus 2012 yang salah satu agendanya adalah memperkuat persatuan Islam itu sendiri.

Apakah sekiranya, raja Abdullah selaku Khadamul Haramain tidak mengetahui bila syiah itu sesat dan keluar dari Islam sebagaimana klaim orang-orang yang menganggap syiah itu adalah kafir? Fakta bila raja Abdullah sendiri masih menganggap Syiah bagian dari madzhab didalam Islam yang perlu dirangkul untuk memperkuat barisan Islam.

Islam adalah agama ilmu, artinya orang yang beriman itu harus dengan ilmu bukan iman yang membabi buta. Berhenti menjadi provokator dalam sebuah diskusi dengan selalu berpraduga buruk pada orang lain. Diri kita sendiri bukan insan yang sempurna. Sebagaimana nasehat saya pada salah seorang member grup Muhammadiyah dengan ID Dara Lana Tan yang selalu berkesan memprovokatori setiap diskusi tentang syiah-sunni digrup tersebut, bahkan yang bersangkutan bersama member lainnya yang ber ID Tatang Sumarna melakukan dialog dalam bahasa daerah yang tidak semua orang mengerti, selain ini dilakukan digrup yang umum dan terbuka, kesan yang timbul malah seakan sedang membicarakan orang lain.

Nasehat saya pada Dara Lana Tan :

Wallahua’lam, setiap diri akan bertanggung jawab pada Allah atas apa yang dilakukannya. Jika ayat-ayat al-Qur’an telah begitu terang dan jelas dipaparkan bagaimana kita mesti berprasangka baik pada muslim lainnya, tidak asal menuduh, tidak mencela atau mengejeknya, tidak berghibah, mau berlaku adil even pada orang atau kelompok yang kita benci sekalipun, tapi pada akhirnya masih dilanggar juga maka status hidayah pada orang-orang semacam ini mungkin perlu dipertanyakan. Bukan menuduhnya menjadi kafir, tetapi orang Islam yang mendapat hidayah itu mestinya mendengarkan nasehat yang disampaikan secara baik dan apalagi berasal dari al-Qur’an dan sunnah Nabinya.

39:18. yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.

49:11. Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.

Saya bukan orang syiah, bukan pula orang yang suka menyekat diri dalam kelompok pemahaman ini dan itu. Keluarga besar saya, terutama dari sebelah istri saya semuanya adalah keluarga besar Muhammadiyah. Kakek dari istri saya bernama Bustari Djalil, adalah salah satu penggerak dan pendiri perguruan Muhammadiyah di Palembang. Ibu mertua saya, Masrida Bustari, adalah seorang ustadzah yang juga aktif memberikan pengajian di ‘Aisyiah.

Saya sangat menghormati ormas Islam Muhammadiyah, baik secara organisasinya, peran dan kiprahnya dalam pembangunan umat selama ini, kepeduliannya, juga terhadap para tokoh-tokohnya. Sangat disesalkan sekali bila kemudian grup perdiskusian yang ada dibawah pengawasan Muhammadiyah sendiri justru berisi oknum-oknum yang malah membuat nama besar dan nama baik Muhammadiyah menjadi cacat. Mungkin sudah waktunya para ketua atau pimpinan disana untuk mengevaluasi grup tersebut agar menjadi lebih kondusif dan mencerdaskan.

Berita ini saya publish karena grup Muhammadiyah sendiri adalah grup terbuka yang bisa diakses oleh siapa saja. Membernya pun beragam. Semoga menjadi dasar perbaikan kedepannya, demi tujuan dan cita-cita Muhammadiyah itu sendiri. Jangan sampai nanti, para pemimpin Muhammadiyah menyatakan keluar bahwa tidak semua syiah itu sesat dan keluar dari Islam, tetapi dalam grupnya sendiri justru banyak fatwa-fatwa sesatnya semua kelompok syiah bertebaran. Sepertinya ini juga menjadi PR bagi Pak Din Syamsuddin maupun pihak terkait lainnya di Muhammadiyah agar tidak nantinya malah Muhammadiyah dituding sebagai salah satu pihak yang bertaqiyyah dan memprovokasi. Na’udzubillah.

Sebagai penutup, izinkan saya memperlihatkan salah satu posting keluhan dari seorang member lain disana :

Tambahan :

Untuk perbandingan antara pendapat Din Syamsuddin dari Muhammadiyah dengan Hasyim Muzadi dari NU tentang Syiah:

 

 

 

 

5 Responses

  1. aje gile om, ane pikir cm di forum bebas kyk kaskus doang pentakfiran merajalela….hehehe ane jg pernah ngalamin om, cm mo jd penengah n mengingatkan utk tdk saling menghakimi dan menyesatkan, malah lgsg dicap syiah……Rasulullah SAW aja gak pernah ngehakimin orang laen, nah orang2 itu udh lbih hebat dr Rasul kli ya….
    and sejauh pengalaman ane om, dr kecil dibesarkan di lingkungan sunni ga pernah tuh om ulama/guru2 ane ngecap syiah kafir…. baru2 ini aja coz amirk ma israhell makin sirik ma kemajuan iran, belakangan baru baca om ternyata memang programnya fbi (amirk) utk mengadu domba islam dengan menkampanyekan kekafiran syiah coz antek mereka gagal mengambil alih kendali pemerintahan iran seperti jamannya shah reza pahlevi….tujuannya nyerang iran, tapi dengan mengkafirkan syiah mereka dpt dua keuntungan: iran dimusuhi (coz mayoritas syiah) and perpecahan islam!
    Waspadalah!…..Waspadalah!……

  2. Sebagai catatan tambahan :

    Pemerintah Iran Larang Kaum Sunni di Iran Shalat Jumat?
    Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/dunia/pemerintah-iran-larang-kelompok-sunni-di-iran-shalat-jumat.htm

    Sumber kelompok Sunni Iran menyatakan bahwa pemerintah Iran secara mendadak memutuskan untuk melarang Muslim Sunni di ibukota Teheran dan kota-kota lain, di universitas negeri serta kamp-kamp militer untuk melaksanakan shalat Jumat, di bawah tekanan selama puluhan tahun yang dialami kaum Sunni Iran.

    Sumber Sunni di ibukota Iran Teheran yang menolak untuk menyebutkan nama mereka, menyatakan bahwa pemerintah Iran telah melarang umat Islam Sunni untuk melaksanakan shalat Jumat di beberapa kota besar seperti Isfahan, Shiraz, Kerman dan Yazd.

    Syaikh Abdul Hamid Alzhi, pimpinan otoritas tertinggi untuk Muslim Sunni di Iran, yang juga imam dan khatib shalat Jumat di masjid terbesar Sunni di kota Zahedan Iran; menyatakan kekecewaannya atas pelarangan shalat Jumat tersebut.

    “Kami sangat menyesalkan pelaksanaan dari elemen tertentu yang datang baru-baru ini untuk mencegah kaum Sunni untuk melaksanakan shalat Jumat yang diselenggarakan di rumah mereka,” katanya.

    Syaikh Alzhi mengkritik tindakan ini, meskipun Konstitusi Iran sebenarnya tidak menghalangi siapa pun dari melaksanakan kepercayaannya dalam menjalankan kegiatan keagamaan, baik muslim maupun non-Muslim.

    Dia menunjukkan bahwa memaksa individu untuk shalat di belakang orang yang berbeda secara doktrin keagamaanya adalah sebuah kebodohan yang menyeluruh.

    “Kami tidak merasa ada masalah dalam hal konstitusi Iran, tetapi ada sesuatu yang menyimpang pada prakteknya di beberapa wilayah minoritas Sunni,” tambahnya.

    “Kami telah dilarang melaksanakan shalat Jumat oleh perwakilan Wali al-Faqih di satu kota, dimana kaum Sunni di kota itu merupakan kelompok minoritas, namun mereka memaksa agar kami shalat Jumat di belakang mereka. Perwakilan Wali Al-Faqih mengatakan kepada kami agar kami mengikuti contoh mereka dalam shalat-shalat mereka.”

    Tindakan pelarangan shalat Jumat ini, besar kemungkinan sebagai reaksi dari sikap yang dilakukan oleh pemerintah Saudi yang melarang kaum Syiah melakukan ibadah ritual di rumah-rumah mereka yang ada di wilayah Saudi.(fq/imo)

    ————————————

    Apa hukumnya sholat dibelakang seorang Imam Syiah dan bagaimana hukumnya sholat Jumat dirumah ?
    Berikut sebuah tanya jawab, masih dari eramuslim, silahkan meneruskan bacaan …

    ————————————–

    Bermakmum dengan Imam Shalat Syiah
    Sumber : http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/shalat-jum-at-di-iran.htm

    Assalammu’alaikum Wr. Wb.

    Saya Liberto, saat ini saya sedang berada di negara Iran, seperti yang kita sudah ketahui, kaum Iran mayoritas beragama Islam Syi’ah, yang mana tata cara adzan, wudhu, shalat dll berbeda dengan kita umumnya. Begitu pula dengan perihal shalat jum’at, memang mereka shalat jum’at terdiri dari dua khutbah dan shalatnya dua rakaat, namun tata cara shalat itu sendiri berbeda dengan kita, dimana mereka tidak bersedekap diwaktu berdiri, mereka melakukan doa qunut di setiap rakaat, mereka tidak menunjukkan jari telunjuk sewaktu duduk tasyahud, mereka tidak menoleh ke kanan / kekiri pada saat mengucapkan salam dll sebagainya.

    Pertanyaannya, pada hari jum’at, bolehkah saya mengikuti jamaah untuk melakukan shalat jum’at bersama-sama mereka? Hanya saja saya melakukannya dengan cara moslem umumnya dan saya tidak mengikuti tata cara mereka, dimana saya akan bersedekap sendirian disana, dll.

    Kami disini tepatnya di kota Esfahan, Iran ada total sejumlah 4 orang pria dan 2 orang wanita moslem dari Indonesia serta dari India. Bolehkah kami melakukan shalat jum’at berjamaah terpisah? yang mana kami akan melakukannya di dalam rumah dengan 1 orang imam/khotib dan 5 orang makmum? normal dengan 2 khutbah dan 2 rakaat. Apakah ada hadits yang menyatakan bahwa shalat jum’at setidaknya harus dihadiri oleh 40 orang makmum?

    Mohon petunjuk pak udstadz, bagaimana kami seharusnya? Terima kasih sebelumnya.

    Wassalam, Liberto

    Liberto

    Jawaban

    Waalaikumussalam Wr Wb

    Hukum Bermakmum dengan Imam Syi’ah dalam Sholat

    Saudara Liberto yang dimuliakan Allah swt.

    Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa sholat dibelakang seorang pelaku bid’ah masih menjadi masalah yang diperselisihkan dan perlu perincian. Apabila anda tidak mendapatkan seorang imam pun selainnya seperti pada sholat jum’at yang tidak bisa dilaksanakan kecuali di satu tempat atau seperti sholat di kedua hari raya.. hal itu bisa dilakukan dibelakang imam yang berprilaku baik dan buruk sebagaimana kesepakatan para ulama Ahluss Sunnah Wal Jama’ah.

    Sholat-sholat tersebut tidak boleh dilakukan dibelakang ahli bid’ah seperti Rafidhah dan yang lainnya dari golongan orang-orang yang tidak melihat adanya sholat jum’at dan jama’ah apabila tidak ada di kampung itu kecuali satu masjid. Sholatnya dibelakang imam yang buruk lebih baik daripada sholat di rumahnya sendirian karena hal ini akan menjadikannya meninggalkan berjama’ah secara mutlak.

    Adapun apabila memungkinkan baginya untuk sholat dibelakang imam yang bukan pelaku bid’ah maka hal itu lebih baik dan lebih utama tanpa suatu keraguan, akan tetapi jika dia sholat dibelakangnya maka terdapat perselisihan terhadap sholat yang dilakukannya. Madzhab Syafi’i dan Abu Hanifah mengatakan sah sholatnya. Adapun Malik dan Ahmad didalam madzhab mereka berdua terdapat perselisihan.

    Dan hukum ini adalah pada bid’ah menyalahi Al Qura’an dan Sunnah seperti bid’ah Rafidhah, Jahmiyah dan yang lainnya. (Majmu’ Fatawa juz XXIII hal 355)

    DR. Wahbah mengatakan bahwa seorang pelaku bid’ah adalah orang yang meyakini sesuatu yang bertentangan dengan hal-hal yang ma’ruf dari Rasulullah saw dan mendurhakainya akan tetapi semacam syubhat seperti basuhan seorang syi’ah terhadap kedua kakinya (saat berwudhu) dan pengingkaran mereka terhadap pengusapan terompah dan lain-lain.

    Yang perlu diperhatikan bahwa setiap yang termasuk dalam ahli kiblat kita (kiblatnya sama dengan kiblat kita) maka tidaklah dikafirkan hanya karena perbuatan bid’ah yang jelas-jelas syubhatnya bahkan terhadap kaum khawarij yang menghalalkan darah dan harta kita serta mencerca Rasulullah saw, mengingkari sifat Allah swt dan membolehkan melihat-Nya dikarenakan ta’wil dan syubhatnya. Dalilnya adalah diterimanya kesaksian mereka.

    Namun apabila seorang pembuat bid’ah mengingkari bagian-bagian agama yang prinsip (aksioma) maka ia telah kufur, seperti orang yang mengatakan bahwa Allah memiliki tubuh seperti halnya tubuh-tubuh yang lain, mengingkari sahabat Rasulullah saw yang di dalamnya terdapat kebohongan terhadap firman Allah swt

    إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ

    Artinya : “Dia (Rasulullah saw) berkata kepada temannya (sahabat).” (QS. At Taubah : 40) maka tidak sah sholat dibelakangnya. (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz II hal 1206)

    Apabila seorang sunni meyakini bahwa sifat sholat imam syi’ah tidaklah berbeda dengan sifat sholatnya baik zhuhur, ashar, maghrib maupun yang lainnya, mengerjakan sholatnya dalam keadaan suci serta tidak ada kemaksiatan didalamnya maka boleh baginya bermakmum dengannya karena mereka adalah bagian dari kaum muslimin.

    Sebaliknya dengan yang anda dapati saat sholat jumat berjama’ah dengan mereka, yaitu terdapat beberapa perbedaan didalam berwudhu untuk sholatnya maupun didalam sholatnya sendiri meskipun sebagian yang anda sebutkan tidaklah masuk dalam perkara yang diwajibkan oleh para ulama sunni, seperti bersedekap ataupun menengok ke kanan maupun kekiri saat salam.

    Namun ada baiknya, selain perbedaan diatas anda juga mencoba untuk mengetahui tentang keyakinan mereka terhadap prinsip-prinsip islam, seperti keyakinannya terhadap sahabat Ali bin Abi Thalib, para sahabat Rasul saw maupun prinsip-prinsip lainnya.

    Apabila ternyata anda mendapati adanya penyimpangan dalam diri imam tersebut maka anda tidak boleh sholat di belakangnya, termasuk sholat jum’at. Untuk selanjutnya anda berusaha mencari masjid lain menyelenggarakan sholat jum’at bagi orang-orang sunni atau yang sholatnya tidak berbeda dengan sholat orang-orang sunni.

    Namun apabila masjid yang demikian juga tidak didapat, terlalu jauh jaraknya dari tempat tinggal anda atau sulit dijangkau maka dibolehkan bagi anda untuk melakukan sholat jum’at di rumah walaupun hanya dengan 5 orang, sebagaimana pendapat Abu Hanifah dan Muhammad bahwa sholat jum’at bisa dilakukan minimal oleh tiga orang selain imam, walaupun mereka orang yang musafir atau orang sakit.
    

    فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ

    Artinya : “Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah.” (QS. Al Jumu’ah : 9)

    Akan tetapi jika anda meyakini bahwa tidak ada penyimpangan keyakinan didalam diri imam tersebut terhadap prinsip-prinsip islam atau anda tidak mengetahuinya dan anda juga melihat bahwa hal-hal yang tidak dilakukan oleh imam itu didalam sholatnya adalah bukan termasuk didalam rukun-rukun sholat maka anda dibolehkan bermakmum dengannya didalam setiap sholat termasuk sholat jum’at karena pada asalnya ia tetap termasuk dalam kelompok umat islam.

    Kemudian gerakan-gerakan sholat anda tetaplah seperti yang anda yakini dalam sunnah-sunnah sholat meskipun ada beberapa hal yang berbeda dengan yang dilakukan imam tersebut.

    ———————
    Pernyataan Resmi Rektor Al-Azhar tentang Syiah dan Pengkafiran atasnya.
    Sumber : http://www.abna.ir/data.asp?lang=12&id=209277

    Menurut Kantor Berita ABNA, Dr. Ahmad al Tayyib, rektor Universitas Al-Azhar Mesir menegaskan penolakannya terhadap beberapa stasiun televisi yang mengkafirkan Syiah. “Di dalam Al-Qur’an tidak ada hujjah yang dapat digunakan untuk mengkafirkan Syiah.” Tegasnya.

    Al-Tayyib berkata, “Saya terkadang shalat di belakang ulama Syiah dan tidak ada al-Quran lain di sisi Syiah, itu hanya kabar angin yang sengaja dihembuskan untuk memecah belah sunni-syiah”.

    Tegas beliau lagi, “Tidak seorang pun ahli Tafsir Ahlusunnah yang berkata bahwa Syiah mempunyai al-Quran yang lain”.

    Syaikh al-Azhar turut menyampaikan keinginan beliau untuk menziarahi Najaf jika berkesempatan melakukan lawatan ke Irak, selama pemerintah Irak dapat kembali memulihkan kondisi politik dan keamanan di negeri seribu satu malam tersebut.

    ————————

    Kesimpulan dari saya : Pada dasarnya pelarangan shalat Jumat oleh “oknum” (katakanlah begitu agar kita tidak menjudge pemerintahnya secara general sebab konstitusi Iran memang sama sekali tidak melarangnya) dari syiah kepada komunitas sunni di Iran adalah disebabkan mereka (kaum sunni) memaksa untuk shalat jumat dirumah mereka sendiri sementara disisi lain “oknum” syiah menginginkan mereka untuk melakukan shalat jumat berjemaah dimasjid.

    Jadi intinya, mereka memaksa untuk shalat jemaah dimasjid dan bukan dirumah.
    Lalu bagaimana dengan status hukum shalat dibelakang kaum syiah ? ternyata dari hasil tanya jawab dari eramuslim sendiri yang sering dijadikan rujukan oleh Mbak Wn, secara jelas menyatakan boleh-boleh saja. Diperkuat lagi oleh pernyataan resmi rektor Al-Azhar dalam hal yang sama.

    Dari sudut ahlussunnah sendiri bila kita merujuk pada dalil-dalil shalat berjemaah dimasjid maka hukumnya adalah sunnah muakkad yang mendekati wajib.

    Dalam shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

    “Saya sangat ingin agar ada yang memimpin pelaksanaan shalat, kemudian saya pergi bersama beberapa orang sambil membawa kayu bakar mendatangi rumah-rumah orang yang tidak mengikuti shalat berjama’ah, kemudian kubakar rumah mereka.”

    Dalam shahih Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kami (para sahabat) berpendapat bahwa tidak ada orang yang meninggalkan shalat berjama’ah kecuali dia adalah seorang munafik atau orang sakit. Dan pada masa itu orang sakit dipapah untuk bisa sampai kemasjid melaksanakan shalat.”

    Ibnu Mas’ud berkata lagi: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamm telah mengajarkan kami Sunnah-Sunnah yang berisi hidayah, dan diantara Sunnah-Sunnah itu: Shalat di masjid yang disitu dilakukan adzan.”

    Dalam shahih Muslim dari Ibnu Mas’ud juga, ia berkata: “Siapa yang ingin bertemu dengan Allah esok hari dalam keadaan sebagai seorang muslim, maka hendaklah dia menjaga shalat-shalat ini ketika diserukan adzan baginya. Karena Allah telah mensyari’atkan Sunnah-Sunnah yang berisi petunjuh bagi Nabi kalian, dan shala-shalat pada saat ada adzan baginya termasuk Sunnah-Sunnah yang berisi petunjuk itu. Kalau kalian shalat di rumah-rumah kalian , sebagaimana orang-orang yang tidak turut berjama’ah shalat di rumahnya, niscaya kalian akan meninggalkan Sunnah Nabi kalian. Dan bila kalian meninggalkan Sunnah Nabi kalian, pasti kalian akan sesat. Bila seseorang bersuci kemudian dia melakukannya dengan baik, kemudian menuju salah satu mesjid, maka Allah akan mencatatkan untuknya satu pahala bagi satu langkahnya. Dan mengangkatnya karena satu langkah itu satu derajat. Dan menghilangkan baginya karena langkah itu satu dosa. Kami (para sahabat) berpendapat bahwa tidak ada seseorang yang tidak ikut berjama’ah, kecuali doa seorang munafik yang tidak diragukan kemunafikannya. Dan dimasa itu seseorang ada yang mendatangi masjid untuk shalat berjama’ah dalam keadaan dipapah dua orang sampai masuk kedalam shaf.”

    Dalam shahih Muslim juga dari Abu Hurairah, radliyallahu ‘anhu, ia berkata: “Ada seorang buta berkata: Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki penunjuk jalan yang tetap ke mesjid. Maka apakah saya memiliki keringanan untuk boleh shalat di rumahku? Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: Apakah engkau mendengar suara adzan memanggil untuk shalat? Kata orang itu: Ya. Kata Nabi: Maka penuhilah.”

    Hadits-hadits tadi menunjukkan wajibnya shalat berjama’ah dan wajibnya menegakkannya di rumah-rumah Allah yang Allah mengizinkan kita untuk meninggikan dan menyebut-nyebut Nama-Nya didalamnya, banyak sekali. Maka wajib bagi setiap muslim untuk memperhatikan hal ini. Dan bersegera kepadanya serta saling berwasiat dengannya bersama anak-anaknya, keluarganya, tetangganya dan seluruh saudaranya kaum muslimin. Itu sebagai sikap melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya.

    Karena meninggalkannya dalam penunaian dengan berjama’ah adalah sebab terbesar untuk meningalkannya secara menyeluruh. Dan kita sudah tahu bahwa meninggalkan shalat adalah kufur, sesat dan keluar dari Islam. Ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    “Antara seseorang dan antara kekufuran dan syirik adalah meninggalkan shalat.”(HR Muslim dalam shahihnya dari Jabir radliyallahu ‘anhu)

    Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat. Maka siapa yang meninggalkannya, dia telah kafir.”

    Ayat-ayat dan hadits-hadits yang menerangkan tentang pengagungan kepada masalah shalat, wajib menjaganya dan menegakkannya sebagaimana yang disyri’atkan Allah serta peringatan kepada orang yang meninggalkannya, banyak sekali.

    Maka wajib atas setiap muslim untuk mejaganya pada waktunya dan menegakkannya seperti yang disyari’atkan Allah. Dan agar menunaikannya bersama saudara-saudaranya dengan berjama’ah di rumah-rumah Allah.

    Wallahu A’lam

  3. Ini ada bantahan juga tentang “isyu” adanya tarif nikah mut’ah di Iran. Silahkan dikroscek saja semuanya ….

    http://www.abna.ir/data.asp?lang=12&Id=291315

    > Menurut Kantor Berita ABNA, Voa-Islam masih saja menurunkan berita-berita fitnah mengenai Iran dan umat Syiah. Setelah sebelumnya menyebarkan kabar bohong di Teheran Iran tidak ada masjid Sunni dan pelarangan shalat Idul Fitri bagi umat Sunni oleh pemerintah Iran dan fitnah tersebut telah berhasil dibantah oleh media ini dengan menunjukkan nama-nama masjid yang dikelola umat Sunni di Teheran beserta alamatnya, kali ini Voa-Islam kembali menghembuskan kedustaan baru.
    Menukil dari http://www.aansar.com, redaksi Voa-Islam menulis berita dengan judul yang bombastis, ” Gila! Nikah Kontrak Syi’ah Dibandrol 300 Dolar, Mut’ah Perawan Bonus 150 Dolar?”. Diberitakan Astan Quds Al-Ridhawy mengumumkan permintaan untuk mendatangkan para gadis yang umurnya berkisar antara 12 hingga 35 tahun untuk melakoni profesi Mut’ah. Astan Quds Al-Ridhawy adalah yayasan di Iran yang mengurus wakaf dan urusan agama serta beberapa perusahaan bisnis besar di dalam dan di luar kawasan Khurasan. Disebutkan pengumuman tersebut dirilis seiring meningkatnya jumlah permintaan terhadap servis Mut’ah dari para turis yang datang ke Kota Masyhad.

    Keganjilan pertama, disebutkan Astan Quds Al-Ridhawy adalah yayasan di Iran yang mengurus wakaf dan urusan agama serta beberapa perusahaan bisnis besar di dalam dan di luar kawasan Khurasan. Ini sama sekali tidak benar, sebab yayasan tersebut hanyalah mengurusi Haram Imam Ridha as di pusat kota Masyhad, memberikan pelayanan kepada para peziarah, mengatur dan mengumumkan agenda-agenda perhelatan Islam yang berlangsung di kompleks Haram Imam Ridha as dan sama sekali tidak mengurusi bisnis apapun apalagi sampai skala besar menjangkau kawasan luar Khurasan. Keganjilan kedua dari pengumuman tersebut, mata uang Iran adalah Real bukan Tuman. Memang masyarakat Iran masih menggunakan penyebutan Tuman dalam transaksi jual beli namun dalam penyampaian promosi harga ataupun pengumuman resmi mengenai besarnya nominal harga menggunakan mata uang Real. Ketiga, meskipun pengumuman tersebut juga ditujukan buat warga pendatang (turis) namun bukan kebiasaan masyarakat Iran menyampaikan harga dengan menyebutkan besar nominalnya dalam Dollar. Keganjilan yang keempat dan yang terpenting sebab menjadi bukti kedustaan pengumuman tersebut, adalah http://www.aansar.com sama sekali tidak menukilkan sumber pengumuman tersebut. Mengapa? Sebab sebenarnya pengumuman tersebut sama sekali fiktif dan tidak jelas keberadaannya. Situs tersebut juga sama sekali tidak menyebutkan link situs yayasan Iran yang dimaksud. Kalau memang pengumuman itu benar adanya, tentu saja yayasan yang bersangkutan akan merilis di situs resminya.

  4. […] Menolak mengkafirkan malah dikafirkan! Sebuah catatan untuk grup Muhammadiyah […]

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: