Pengucap Laa ilaaha illallah pasti masuk syurga!

Musnad Ahmad 13419: Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Ja’far telah bercerita kepada kami Syu’bah dan Hajjaj telah bercerita kepadaku Syu’bah telah bercerita kepadaku Qatadah dari Anas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Keluarkanlah dari neraka!” Hajjaj berkata; Allah Azzawajalla berfirman, “Keluarkanlah dari neraka siapa yang berkata LAA ILAAHA ILLALLAH dan yang di hatinya terdapat kebaikan walau seberat biji sawi. Keluarkanlah dari neraka siapa yang berkata LAA ILAAHA ILLALLAH dan yang di hatinya terdapat kebaikan walau seberat biji gandum. Keluarkanlah dari neraka siapa yang berkata LAA ILAAHA ILLALLAH dan yang di hatinya terdapat kebaikan walau seberat biji gandum”. Telah bercerita kepada kami Yazid bin Harun telah menghabarkan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata; Allah Azzawajalla berfirman, “Keluarkanlah dari neraka”, lalu dia menyebutkan hadits sebagaimana hadits Ibnu Ja’far dengan tambahan di dalamnya, “Keluarkanlah dari neraka siapa yang berkata LAA ILAAHA ILLALLAH dan yang di hatinya terdapat kebaikan walau seberat biji ulat”.

Musnad Ahmad 20493: Telah menceritakan kepada kami Abdushamad telah menceritakan kepadaku Ayahku telah menceritakan kepada kami Husain dari Abu Buraidah bahwa Yahya bin Ya’mar menceritakan padanya bahwa Abul Aswad Ad Dili menceritakan bahwa Abu Dzar berkata, “Aku mendatangi Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam yang sedang tidur dengan mengenakan baju berwarna putih, saat aku datang kembali beliau telah terbangun hingga aku pun duduk disisinya. Beliau bersabda: “Tiada seorang hamba yang mengucap kalimat ‘Laa Ilaaha Illallah’ lalu ia meninggal dalam keadaan seperti itu kecuali ia akan masuk surga.” Aku bertanya, “Walaupun ia berzina dan mencuri?” Beliau menjawab: “Walaupun ia berzina dan mencuri.” Aku bertanya lagi, “Walaupun ia berzina dan mencuri?” beliau menjawab: “Meskipun ia berzina dan mencuri.”
 

Shahih Muslim 137: Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar, Ibnu al-Mutsanna berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Washil al-Ahdab dari al-Ma’rur bin Suwaid dia berkata, “Saya mendengar Abu Dzar menceritakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Jibril Alaihissalam mendatangiku lalu memberikan kabar gembira kepadaku, bahwa orang yang meninggal dari umatmu dalam keadaan tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu apa pun niscaya masuk surga.” Maka aku bertanya: “Meskipun dia berzina dan mencuri?” Beliau menjawab, “Walaupun dia berzina dan mencuri.”
 

Sunan Ibnu Majah 3920: Telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Ali bin Mushir dari ‘Ashim dari As Sumaith bin As Samir dari ‘Imran bin Al Hushin dia berkata, “Nafi’ bin Al Azraq bersama para sahabatnya, mereka berkata, “Celaka kamu wahai ‘Imran! ” Imran pun bertanya, “Aku celaka! ” mereka menjawab, “Ya.” Imran bertanya lagi, “Apa yang mencelakakanku?” mereka menjawab, “Allah telah berfirman ‘(dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah dan yang ada hanya agama milik Allah saja) ‘ (Qs. Al Anfal: 39). Imran berkata, “Kami telah memerangi mereka dan memberangusnya, sehingga din ini hanya milik Allah saja. Kalau kalian kehendaki, aku akan ceritakan kepada kalian suatu hadits yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Mereka berkata, “Dan kamu (benar-benar) mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?.” Imran menjawab, “Ya. Aku menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus pasukan kaum muslimin untuk menyerang kaum musyrikin, tatkala mereka bertemu musuh, mereka pun memeranginya dengan pertempuran sengit hingga berhasil mengalahkan musuh. 

Lalu salah seorang dari familiku dapat menodong seorang dari kaum musyrikin dengan tombak, ketika saudaraku mendatanginya ia berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, aku adalah seorang muslim.” Tetapi familiku itu tetap menikamnya sehingga ia mati. Kemudian saudaraku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Celaka aku wahai Rasulullah! ” Beliau bertanya sekali atau dua kali: “Apa yang telah kamu lakukan?” Dia memberitahukan kepada beliau apa yang dia perbuat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda kepadanya: “Apakah kamu harus membelah perutnya sehingga kamu dapat mengetahui apa yang ada di dalam hatinya?” 

Dia menjawab, “Ya Rasulullah, kalau seandainya aku (memang harus) membelah perutnya niscaya aku mengetahui apa yang ada di dalam hatinya.” Beliau bertanya: “Lalu kenapa kamu tidak terima apa yang dia ucapkan sedang kamu tidak mengetahui apa yang ada dalam hatinya?” ‘Imran berkata, “Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendiamkannya. Dan tidak lama kemudian, orang itu pun meninggal dunia. Maka kami menguburkannya. Di pagi harinya (jenazahnya) telah berada di atas permukaan tanah. Mereka berkata, “Jangan-jangan ada musuh yang sengaja mengeluarkannya.” Maka kami menguburnya kemudian memerintahkan kepada budak-budak kami untuk menjaganya, tetapi (jenazahnya) kembali berada di atas permukaan tanah. Maka kami berkata, “Jangan-jangan budak-budak itu telah ngantuk.” Kemudian kami menjaganya sendiri tetapi (jenazahnya) tetap berada di atas permukaan tanah sehingga kami melemparkannya di celah yang terletak di antara dua bukit.” Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Hafsh Al Aili telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Ghiyats dari ‘Ashim dari As Sumaith dari ‘Imran bin AL Hushain dia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus kami di suatu ekspedisi. 

Kemudian ada seorang dari kaum muslimin menyerang seseorang dari kaum musyrikin…. Kemudian perawi menyebutkan hadits seperti yang di atas, dan dia menambahkan di dalam haditsnya, “Tetapi bumi membuangnya (mengeluarkannya), kemudian kejadian itu diberitahukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau pun bersabda: “Sesungguhnya bumi menerima orang yang lebih buruk dari dia, tetapi Allah ingin memperlihatkan kepada kalian pengagungan terhadap kehormatan kalimat Laa Ilaaha Illallah.”

Jadi, mulai sekarang kiranya kita bisa lebih berbesar jiwa atas perbedaan dikalangan umat Muhammad. Fanatik boleh bahkan wajib, tetapi mari jangan fanatik buta. Mari kita sama membuka diri dan belajar.

Advertisements

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: