Khutbah Jumat 18 Nopember 2011: Salah Kaprah dalam beragama

Arsip Khutbah Jumat 18 nopember 2011
Tema : Salah Kaprah dalam beragama

Oleh : Armansyah

Jemaah Jum’at rohimakumullah.,

Pertama dan tidak henti-hentinya, khotib mengajak diri sendiri serta jemaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan taqwa kepada Allah SWT, karena Dia telah memberi kita karunia dan nikmat yang sangat besar. Karunia dan nikmat itu ialah umur yang panjang, kesehatan yang baik, dan kesempatan yang luang sehingga kita semua bisa hadir di sini untuk mendirikan shalat Jumat berjamaah. Rasa syukur yg tidak Cuma habis dimulut semata dgn sekedar mengucap hamdalah tetapi benar-benar menjadi refleksi dalam keseharian kita.

Bayangkan saja bahwa banyak saudara-saudara kita yang saat ini sedang terbaring lemah dirumah sakit dan tidak mampu melakukan kewajibannya seperti kita, atau bila kita menoleh ke Gaza dimana setiap hari roket, rudal dan pesawat tempur zionis Israel laknatullah tidak henti-hentinya mengintai keselamatan saudara-saudara kita yang ada disana sehingga kadang mereka melakukan sholat Jum’at hari ini ditengah kewaspadaan dan ketidaknyamanan. Jauh sekali dengan keadaan kita semua ditempat ini, duduk dengan tenang bahkan ada yang sudah mulai tertidur ketika khotib mulai berdiri diatas mimbarnya.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad Saw beserta para keluarganya. Keselamatan semoga juga tercurah atas para sahabat dan umat beliau dahulu, sekarang dan yang akan datang. Semoga kita menjadi salah satu dari orang-orang yang kelak mendapatkan syafaat beliau SAW.

Jemaah jumat Rahimakumullah,

Telah 16 hari kita dari 1 syawal 1432H yang jatuh pada hari selasa 30 Agustus 2011 lalu, telah berapa banyak butir dosa telah mulai kita perbuat sejak kita berbuka dari hari-hari panjang menahan semua nafsu halal kita dibulan Ramadhan. Bagi para perokok, sudah berapa batang dan hisap dikepulkan  setelah sebelumnya meracuni diri sendiri dengan semua nikotin dan puluhan racun lainnya.

Tema jum’at kita pada hari ini masih merupakan kelanjutan tema jumat kita yg lalu, yaitu berkisar pada “keberagamaan yang salah kaprah”.,

Jemaah Jum’at rohimakumullah.,

Silih bergantinya bencana yang datang pada kita sebagai negeri dengan mayoritas muslim terbesar didunia harusnya membuat kita terus berkaca dan mengevaluasi sikap kita dalam beragama secara khususnya dan sikap kita dalam kesosialan secara umumnya. Sudahkah kita menjadi rahmatan lil’alamin ataukah kita masih menjadi penebar bencana, ketakutan, malapetaka bagi orang lain disekitar kita.

Disatu sisi, terjadinya gempa bumi, gunung meletus hingga tsunami adalah benar merupakan sebuah hukum alam yang terjadi secara alamiah tetapi sebagai orang yang beriman kita juga harus sadar bahwa semua ini berkaitan dengan tingkah laku kita semua sebagai khalifah Allah yang diberi amanah untuk menjaga dan mengelola bumi ini secara lebih baik tetapi ternyata banyak berbuat kerusakan disana-sini.

Kita menebangi hutan sehingga terjadi banjir bandang, kita ubah wilayah hijau menjadi hunian yang nyaris tidak ada drainase, tidak ada pepohonan yang rindang, kita bangun instalasi nuklir untuk senjata pemusnah massal yang radio aktifnya bisa memberi efek membahayakan pada lingkungan dan sebagainya dan seterusnya.

Dalam hal cara beragama, masih banyak umat Islam yang melakukan kemusryikan terselubung kepada Allah sebagai penguasa semua mayapada, penguasa gegunungan, penguasa lelautan, penguasa planet dan bintang gemintangnya. Cara kita bersikap kepada Allah yang salah bisa berakibat tidak baik juga pada diri kita sendiri.

Bagaimana misalnya dalam kitab-kitab suci kita diserukan untuk tidak menyekutukan Dia dengan sesuatu apapun dalam berbagai bentuknya sehingga jangankan bencana alam, Allah menjamin bahwa neraka sekalipun tidak akan mengenai kita apabila memang kita berada dalam shirorol mustaqim-Nya, jalan lurus yang Dia sampaikan melalui lisan para Nabi dan Rasul yang sudah tersebar sepanjang jamannya.

Jemaah Jum’at rohimakumullah.,

Allah berfirman dalam al-Qur’an :

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan

Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Sayang, sekian banyak ayat al-Qur’an pada kenyataannya hanya habis dibaca secara lisan tanpa dicoba untuk mencari tahu arti apalagi dipahami untuk diamalkan dalam kehidupan. Berapa banyak orang yang masih percaya pada kekuatan lain yang menguasai gunung merapi selain daripada Allah, berapa banyak masih orang yang percaya bahwa dilaut selatan ada ratu kidul yang menguasai laut selatan, berapa banyak orang yang mengaitkan bencana di mentawai dengan mitos kemarahan penguasa laut disana terhadap manusia dan lain sebagainya yang sejenis.

Kita bisa melihat dilayar televisi atau malah jangan-jangan kita justru menjadi bagian dari orang-orang yang ikut memberikan sesajen, larungan atau semacamnya yang ditujukan kepada penguasa laut atau pada penguasa gunung yang sewajibnya kita ketahui bahwa hal-hal itu merupakan bentuk kemusryikan kepada Allah. Nau’dzubillah min zalik.

Jemaah Jumat rohimakumullah.,

Mari kita berhenti untuk membuat Allah semakin mengurai adzab-Nya pada kita dengan berbagai macam bentuknya. Mari kita sama bersimpuh, kembali pada jalan yang telah ditunjukkan oleh Rasul untuk beribadah secara benar, bukan mengikut tradisi, bukan mengikut pada sekelompok orang tertentu dengan menyekat pemahaman pada kelompk itu sendiri dan menutup informasi kebenaran dari pihak diluarnya.

Inna allaaha rabbii warabbukum fau’buduuhu haadzaa shiraathun mustaqiimun
Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”. (Ali Imran 51)

Didalam masyarakat, ada tradisi yang baik yang sesuai dengan ajaran Islam maka itulah yang harus kita pelihara tetapi ada pula tradisi yang buruk dan menyimpang dari ajaran Islam maka itulah yang mestinya kita buang karena penuh khurafat, takhayul dan syirik agar tidak terjadi kesalah kaprahan didalam beragama.

Kenapa kita mesti merayakan seratus hari, seribu hari dari kematian seseorang misalnya, atau kenapa kita mesti percaya pada hari baik dan bulan baik untuk melakukan sesuatu perbuatan, kenapa kita mesti percaya bahwa ada makhluk lain yang bisa mencelakakan kita bila tidak memberikan sesajen pada mereka, membuat kita kesurupan.

Ma’asyarol Jumat,

Didalam Islam, kita hanya diserukan untuk bertakziah selama 3 hari kepada keluarga yang mendapat musibah kematian bukan 7 hari atau sampai 100 harinya. Takziah itupun kita diwajibkan untuk menghibur mereka agar tetap sabar dan istiqomah menghadapi kepergian keluarga yg mereka kasihi. Kita disunnahkan untuk memberi bantuan pada mereka dengan membawa bekal ala kadarnya guna membantu perekonomian keluarga tersebut setelah habis mendapatkan ujian Allah. Tapi kenyataannya bisa kita lihat setiap ada yang mati kita justru kenduri sampai 7 hari, 100 hari, 1000 hari.

Kita justru makan-makan disana, kita baca yaasin dan duduk manis menunggu hidangan dari tuan rumah. Alangkah kurang ajarnya kita dan kurang simpatinya kita pada ajaran Allah, pada kelurga si mayit. Saat istri kita hamil 4 bulan atau 7 bulan, kita mandi kembang 7 warna dari 7 air sungai berbeda dengan harapan terhindar dari bencana ini dan itu.

Apa dasar tuntunannya ? Apakah ini yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ? apakah ini yang sudah ditradisikan oleh sang pencerah ? Saat tidur, diselipkan lagi gunting, jarum dan sejenisnya dibawah bantal agar kuntilanak tidak datang mengganggu. Na’udzubillahi mindzalik.

Penentuan hari baik dan bulan baik juga sama, merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat kita padahal ini bukan tradisi Islam yang benar dan justru menjadi salah satu hal yang dilanggar sendiri oleh Rasululullah pada masa hidupnya. Islam tidak mengenal hari baik bulan baik atau juga sebaliknya, semua bulan adalah baik dan setiap tahun juga baik. Tidak ada pengkultusan waktu-waktu tertentu bagi seseorang untuk melakukan sebuah kegiatan. Jelek tidaknya nasib manusia tidak ditentukan oleh kapan dia memulai kegiatannya, namun lebih pada tindakannya sendiri yang kurang perhitungan dan mawas diri.

Sebagai contoh, Islam tidak mengkeramatkan malam 17 Ramadhan yang dipercayai sejumlah ulama sebagai malam turunnya kitab suci al-Qur’an, Islam juga tidak mengkeramatkan hari 12 Rabiul Awal dimana Nabi Muhammad lahir dan meninggal dunia, semuanya adalah waktu yang berjalan sesuai kodratnya, sama sekali tidak ada yang perlu dihitung dan dikultuskan.

Dahulu pada zaman Jahiliyah, masyarakat Arabpun mempercayai bahwa menikah di bulan syawal atau bulan-bulan haram seperti muharram akan mendatangkan malapetaka. Tetapi Rasulullah Saw kemudian mengikis kayakinan tersebut, beliau menikahi Aisyah binti Abu Bakar justru pada bulan syawal. Beliaupun menikahkan puterinya Fatimah Az-Zahra pada bulan shafar dan sebagian riwayat mengatakan awal bulan Muharram.  Intinya jika kita memang ingin mengikuti sunnah Rasulullah, maka better do it as Rasulullah did.

laa ikraaha fiiddiini | Tidak ada paksaan didalam agama, telah jelas jalan yang benar dan jalan yang salah. Karena itu, siapa yang mengingkari kesalahan dan beriman kepada Allah, sungguh dia telah berpegang kepada tali yang sangat teguh yang tidak ada putusnya. (QS. Al-Baqarah [2] :256)

Maa ashooba mimmushiibatin fii al-ardhi walaa fii anfusikum illaa fii kitaabimming qobli an nabra-ahaa inna dzaalika ‘alaa allaahi yasiirun

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Al-Qur’an surah Al-Hadid ayat 22)

Ada banyak sekali kesalah kaprahan kita dalam beragama, mulai dari yang paling kecil hingga yang paling besar. Pada kesempatan ini, kita hanya membawakan beberapa contoh kesalahkaprahan yang ada dengan harapan dari titik ini bisa menjadi pengantar kepada kita semua untuk memperbaiki kesalah kaprahan-kesalah kaprahan lain yang ada sehingga bisa meminimalisir adzab Allah pada kita, negeri kita dan keluarga kita. InsyaAllah bila umur masih panjang, contoh-contoh lain akan kita bahas pada kesempatan Jum’at berikutnya.

Demikianlah sedikit apa yang bisa saya sampaikan pada khutbah Jumat ini. Mudah-mudahan dapat bermanfaat dan terutama bagi khatib dan juga para jamaah sekalian.

Barokallahu fil Qur’anil karim, wa nafa’nii wa iyyakum bima fiihimaa minal aayaati wa dzikril hakiim

Wattaqobbala minni wamingkum tilawatahu

Innahu huwassami’ul ‘aalim

Aquulu qowli haadzaa fa-astaghfirullaha

Innahu Huwal ghofururrohim.

— Batas Khutbah pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Marilah kita bersujud kepadanya dan berdoa, memohon kepada Allah, kita tengadahkan tangan kita bersama-sama dan diawali dengan memuji Allah dan bersholawat atas Nabi.

Ilahi, Allah yang Maha Gagah, Maha Perkasa, Maha menjaga, Maha melindungi, Maha melihat dan Maha mendengarkan setiap suara, rintihan, tangisan, bisikan hingga gelak tawa yang tersembunyi maupun yang terlihat. Sampaikan salam kami untuk Rasul-Mu, Muhammad Saw. Kami rindu untuk bertemu dengan beliau, kami rindu dengan syafaatnya.

Wahay Allah yang Pengasih, terimalah permohonan ampun kami, taubat kami atas semua bentuk khilaf dan kesalahan yang sering kali kami perbuat secara sengaja. Ya Allah, ampuni juga kesalahan dan dosa saudara-saudara kami yang mungkin belum sampai kepada mereka ajaran-Mu secara benar, maafkanlah sikap mereka yang mungkin masih membangkang meski sudah tahu arti kebenaran. Ya Allah yang Maha Gagah, ampuni umat muslim negeri ini ya Allah. Kami salah, kami lalai dan kami diliputi kehinaan karena ulah kami sendiri yang tidak pandai bersyukur pada-Mu ya Robb.

Allah Tuhan kami, redamlah kemurkaan-Mu wahai dzat yang Maha Lembut, tenangkanlah semua bencana dinegeri kami ini, angkatlah beban kami, beban saudara-saudara kami yang saat ini sedang dicekam ketakutan oleh bencana merapi, tsunami, banjir bandang, kelaparan, kehilangan, kematian dan sebagainya. Kami minta ampun ya Allah. Jangan Engkau bebankan pada kami apa yang kami tidak sanggup menanggungnya. Demi kemuliaan Engkau disemesta raya, redakan gejolak merapi ya Allah, gejolak Anak Krakatau dan gunung-gunung berapi lainnya dinegeri ini, kami juga memohon untuk meredakan gejolak pasang air laut yang mengitari negeri kami ini ya Allah. Lindungilah kami dari kematian secara su’ul khotimah, bila memang kami harus kembali pada-Mu ya Allah, wafatkanlah kami dalam keadaan beriman dan dengan kematian yang sebaik-baiknya.

Ya Allah, lenyapkanlah fitnah pada diri kami dan saudara kami, sembuhkanlah yang sakit diantara kami, menangkanlah mereka yang sedang berjuang dari kami, bebaskanlah semua bentuk kezoliman yang menerpa kami. Jangan Engkau biarkan kami menjadi permainan orang-orang kafir dan musryik. Berilah kepada kami petunjuk bahwa yang benar itu benar lalu berikan pada kami kekuatan untuk memegangnya dan mengamalkan kebenaran tersebut. Berilah petunjuk bahwa sesuatu itu salah lalu beri kami kekuatan untuk menghindarinya.


Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: