Menggugat Hadis Shahih: Musa menonjok Malaikat Maut

Menggugat Hadis Shahih: Musa menonjok Malaikat Maut

Oleh : Armansyah

Saya percaya anda semua mengenal sosok Superman, tokoh yang memiliki segudang kemampuan anomali diatas rata-rata manusia biasa, iya khan ? Oke, biar jelas maka kita sebut bahwa Superman disana adalah sosok fiktif atau rekayasa yang sesungguhnya hanya tercipta dari alam khayali semata oleh pembuatnya. Tokoh yang juga kita kenal dengan nama Clark Kent serta Kal-El itu tidak pernah ada dialam nyata.

Semua bo-ong-bo-ongan,.

Anda tahu Muhammad Ali ? Salah satu petinju legendaris yang pernah ada didunia nyata sekitar rentang tahun 60-80an. Nama aslinya sebelum ia menjadi Muslim ditahun 1975 adalah Cassius Marcellus Clay, Jr . Muhammad Ali adalah sosok petinju dunia yang berhasil mempertahankan gelar tinju kelas beratnya sebanyak 3 kali. Bahkan seorang George Foreman yang terkenal sebagai petinju paling tangguh dijamannya tidak luput dari merasakan kerasnya pukulan Muhammad Ali sampai tumbang diatas ring tinju pada ronde ke-8.

Ya, Muhammad Ali dan Superman adalah dua sosok manusia super yang luar biasa. Tetapi bedanya, Muhammad Ali adalah tokoh yang benar-benar nyata hidup sementara Superman hanya tokoh khayalan yang cuma ada dikomik dan film-film Hollywood.

Gilanya, kedua tokoh diatas ditemukan dalam satu komik, tapi dalam posisi berhadapan : Superman vs Muhammad Ali. Yes Indeed, tokoh Muhammad Ali “dipaksa” untuk masuk dalam dunia imajinasi yang tidak pernah wujud dan bertarung diatas ring melawan Superman. Jika tidak percaya, silahkan saja anda klik link ini : http://en.wikipedia.org/wiki/Superman_vs._Muhammad_Ali

Ilustrasi Superman VS Muhammad Ali (Courtesy : http://en.wikipedia.org/wiki/Superman_vs._Muhammad_Ali)

Saya terus terang tertawa lebar melihatnya sebab bagaimana mungkin dua orang yang berbeda bak langit dan bumi itu bisa bertemu. Satu real dan lainnya fiktif. Semua itu omong kosong, nalar saya tak bisa menangkapnya meski sudah dipaksa sedemikian rupa untuk menerima (hehehe). Saya pikir anda juga sama seperti saya … hanya orang gila yang otaknya sudah miring 180 derajat yang menganggap cerita ini benar terjadi.

Okelah, sekarang mari sejenak kita tinggalkan dulu ilustrasi kegilaan pertemuan antara Superman dan Muhammad Ali diatas. Saya hanya menjadikan itu sebatas pengantar dari apa yang akan saya kemukakan selanjutnya.

Dalam sebuah hadis populer yang dinyatakan shahih oleh sejumlah ulama, ada sebuah cerita tentang penganiayaan terhadap seorang malaikat pencabut nyawa oleh seorang Nabi, yaitu Nabi Musa. Anda tidak salah membaca dan saya tidak salah menulis, malaikat maut dianiaya oleh Nabi Musa.

Biar jelas, mari saya ajak anda membaca hadis tersebut lengkap dengan rantai perawinya:

Musnad Ahmad 8262: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah telah menceritakan kepada kami Abu Yunus dari Abu Hurairah. -bapakku berkata; Abu Hurairah tidak memarfu’kannya, – Rasulullah Bersabda: “Malaikat maut datang kepada Musa seraya berkata; ‘Penuhilah panggilan Rabbmu (mati), ‘ namun Musa menampar muka malaikat maut dan mencongkel matanya, sehinggga malaikat tersebut kembali menghadap Allah ‘azza wajalla seraya berkata; ‘Sesungguhnya Engkau telah mengutusku kepada seorang hamba dari hamba-Mu yang tidak menginginkan kematian, dan dia juga telah mencongkel mataku.'” Beliau bersabda: “Lalu Allah mengembalikan matanya dan berfirman; ‘Kembalilah kepada hamba-Ku, dan katakanlah kepadanya; ‘Apakah kehidupan yang engkau inginkan? Jika itu yang kamu inginkan maka letakkanlah tanganmu ke atas bulu kulit lembu, maka dari bulu yang tertutup oleh tanganmu, setiap helai bulu akan ditambah satu tahun dari umurmu.’ Musa berkata; ‘Lalu apa setelah itu, ‘ malaikat maut menjawab; ‘Setelah itu kematian.’ Musa berkata; ‘Wahai Rabb, kalau begitu sekarang saja.'”

Sunan Nasa’i 2062: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Rafi’ dari ‘Abdurrazzaq dia berkata; telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ibnu Thawus dari bapaknya dari Abu Hurairah dia berkata; “Malaikat yang diberi tugas mengurus kematian pernah diutus untuk menemui Musa Alaihis Salam. Setelah malaikat datang menemuinya, Musa memukulnya, lalu matanya buta sebelah dan ia kembali menemui Rabbnya seraya berkata; “Engkau telah mengutusku untuk menemui seorang hamba yang tidak menginginkan kematiannya.” Maka Allah Azza wa Jalla mengembalikan matanya dan berfirman: “Kembalilah dan katakan kepadanya; “Hendaklah Musa meletakkan tangannya di atas punggung sapi jantan, maka yang ditutup oleh tangannya adalah bagian umurnya dan setiap rambut -yang ditutup oleh tangannya sama dengan masa- satu tahun.” Ia bertanya; “Wahai Rabbku, kemudian apa?” Dia berfirman: “Itulah kematiannya.” Malaikat berkata; “Sekarang akan beres”, lalu ia memohon kepada Allah Azza Wa Jalla agar didekatkan dari bumi yang disucikan sejauh lemparan batu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Andai aku berada di sana, niscaya akan aku perlihatkan kuburannya kepada kalian di samping jalan di bawah bukit merah.”

Jelas isi hadis diatas ?

Buat saya, cerita tersebut –mohon maaf saja– agak konyol. Hampir sama konyolnya dengan cerita Superman melawan Muhammad Ali dibagian atas sebelumnya. Sebuah cerita yang –menurut saya pribadi– lebih condong dari rekayasa dan dongeng pengantar tidur buat anak-anak yang menderita insomnia dan suka mendengar cerita yang aneh dan heroik dengan mengatasnamakan Rasulullah.

Ada sejumlah orang yang melakukan pembelaan atas hadis dengan diatas. Beberapa argumen pembelaan itu antara lain :

Pertama: Tidak mustahil bahwa Allah SWT telah memberikan izin kepada Musa untuk perbuatannya meninju mata malaikat itu. Jika demikian, maka perbuatannya itu merupakan ujian bagi si penderita. Sedangkan Allah SWT berhak melakukan apa saja yang dikehendaki- Nya atas makhluk-Nya. Dan ia berhak menguji mereka dengan apa saja yang diinginkan oleh-Nya!

Kedua: Riwayat ini harus dipahami secara majaz (kiasan). Yang dimaksud ialah bahwa Musa mendebat si malaikat maut dengan pelbagai argumentasi, sedemikian sehingga ia berhasil memenangkan perdebatannya itu. Dalam bahasa Arab ada idiom: “Si Fulan membutakan mata-nya” yang memberi arti seperti itu. (Tapi kayaknya gak nyambung coy : khan dicerita hadis itu disebut “Maka Allah Azza wa Jalla mengembalikan matanya”, lagipula berdasar al-Qur’an surah Huud yaitu surah ke-11 dalam ayat ke-69-70 Malaikat itu tidak bisa disentuh secara fisik)

Ketiga: Mungkin Musa pada mulanya tidak mengetahui bahwa. yang datang kepadanya itu adalah malaikat yang diutus oleh Allah. Karena itu, Musa mengiranya seorang manusia biasa yang datang untuk membunuhnya. Maka terjadilah” perkelahian antara keduanya yang mengakibatkan si malaikat menjadi buta sebelah. Dengan kata lain, Musa sama sekali tidak sengaja melakukan hal itu. (Kasihan amat nasib malaikat Maut itu ya …. hehehe)

Dalam hal ini, saya sependapat dengan salah satu ulama Timur Tengah jebolan Universitas Al-Azhar yang bernama Muhammad al-Ghazali yang menulis dalam bukunya : As-Sunnah An-Nabawiyyah Baina Ahl al-Fiqh wa Ahl al-Hadits). Menurut beliau pembelaan seperti itu diatas amat lemah.

Pembelaan itu sama sekali tidak berarti dan tidak dapat diterima. Lebih dari itu, siapa saja yang menuduh pengingkar hadis ini sebagai seorang mulhid (ateis) maka ia sesungguhnya telah berani melanggar kehormatan kaum Muslim. Yang benar ialah bahwa matan hadis ini mengandung ‘illah qadihah (cacat yang menghilangkan nilainya dan menurunkan derajatnya sehingga di bawah derajat shahih).

Berdasarkan hal tersebut, sikap menolak atau menerima hadis seperti itu, tak lebih dari suatu perbedaan pendapat yang biasa, dan sama sekali bukan merupakan perbedaan dalam hal akidah. Cacat yang terkandung dalam matan suatu hadis hanya dapat dimengerti oleh para ahli yang teliti dan kuat ilmunya. Sebaliknya, ia pasti tertutup bagi orang-orang yang berpikiran dangkal.

Saya ingatkan kembali anda pada perkataan dari Ibnu Khaldun dalam kutipan Muhammad Husain Haekal yang sangat sering saya kutip dalam berbicara soal otentisitas hadis, dimana Ibnu Khaldun mengatakan :

Kita tidak harus percaya akan kebenaran sanad sebuah hadis, juga tidak harus percaya akan kata-kata seorang sahabat terpelajar yang bertentangan dengan al-Qur’an, sekalipun ada orang-orang yang memperkuatnya.

Beberapa pembawa hadis dipercayai karena keadaan lahirnya yang dapat mengelabui, sedang batinnya tidak baik. Kalau sumber­sumber itu dikritik dari segi matn (teks), begitu juga dari segi sanadnya, tentu akan banyaklah sanad-sanad itu akan gugur oleh matn. Orang sudah mengatakan bahwa tanda hadis maudhu’ (buatan) itu, ialah yang bertentangan dengan kenyataan al-Qur’an atau dengan kaidah-kaidah yang sudah ditentukan oleh hukum agama (syariat) atau dibuktikan oleh akal atau pancaindra dan ketentuan-ketentuan axioma lainnya. (Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Penerbit Litera AntarNusa, Cetakan ke-22, Juni 1998, hal. Xcvii)

Husain Haekal juga berkata kalau orang mau berlaku jujur terhadap sejarah, tentu mereka menyesuaikan hadis itu dengan sejarah, baik dalam garis besar, maupun dalam perinciannya, tanpa mengecualikan sumber lain yang tidak cocok dengan yang ada dalam al-Qur’an. Yang tidak sejalan dengan hukum alam itu diteliti dulu dengan saksama, sesudah itu baru diperkuat dengan yang ada pada mereka, disertai pembuktian yang positif, dan mana-mana yang tak dapat dibuktikan seharusnya ditinggalkan. (Lihat : Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Penerbit Litera AntarNusa, Cetakan ke-22, Juni 1998, hal. Xcix)

Silahkan baca kembali juga tulisan saya : Bagaimana menyikapi perbedaan Hadis dilink https://arsiparmansyah.wordpress.com/2007/08/28/bagaimana-menyikapi-perbedaan-hadist/

Disini saya akan mengutip hadis shahih lain lengkap dengan rantai sanadnya yang berbicara tentang kematian, bahwa Nabi saw. telah bersabda:

Shahih Bukhari 6026: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas dari Ubadah bin Shamit dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Barangsiapa Mencintai perjumpaan dengan Allah, Allah juga mencintai perjumpaan dengannya, sebaliknya barangsiapa membenci perjumpaan dengan Allah, Allah juga membenci perjumpaan dengannya.” Kontan ‘Aisyah atau sebagian isteri beliau berkomentar ‘kami juga cemas terhadap kematian! ‘Nabi lantas bersabda: “Bukan begitu maksudnya, namun maksud yang benar, seorang mukmin jika kematian menjemputnya, ia diberi kabar gembira dengan keridhaan Allah dan karamah-Nya, sehingga tak ada sesuatu apapun yang lebih ia cintai daripada apa yang dihadapannya, sehingga ia mencintai berjumpa Allah, dan Allah pun mencintai berjumpa kepadanya. Sebaliknya orang kafir jika kematian menjemputnya, ia diberi kabar buruk dengan siksa Allah dan hukuman-Nya, sehingga tidak ada yang lebih ia cemaskan daripada apa yang di hadapannya, ia membenci berjumpa Allah, sehingga Allah pun membenci berjumpa dengannya.” Abu Daud dan Amru meringkasnya dari Syu’bah dan Said mengatakan dari Qatadah dari Zurarah dari Sa’d dari ‘Aisyah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Shahih Bukhari 6027: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al ‘Ala’ telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid dari Abu Burdah dari Abu Musa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “barangsiapa yang mencintai berjumpa Allah, Allah mencintai berjumpa kepadanya, sebaliknya siapa yang membenci berjumpa dengan Allah, Allah pun membenci berjumpa dengannya.

Musnad Ahmad 24647: Telah menceritakan kepada kami Ismail dari Yunus dari Alhasan dari Aisyah berkata; Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang senang terhadap perjumpaan dengan Allah maka Allah akan senang untuk bertemu dengannya. Dan, barang siapa yang tidak suka terhadap perjumpaan dengan Allah maka Allah tidak akan suka bertemu dengannya.” Aisyah berkata; “Wahai Rasulullah! Apakah yang dimaksud dengan benci terhadap perjumpaan dengan Allah karena ia membenci kematian? Demi Allah, kami membencinya.” Beliau bersabda: “Tidak, bukan itu yang dimaksud. Akan tetapi, seorang mukmin yang akan Allah cabut nyawanya, Ia akan memperlihatkan kepadanya pahala dari Allah Azzawajalla. dan kemuliaan dirinya di depan-Nya. Sehingga, ia meninggal dalam keadaan senang terhadap perjumpaan dengan Allah Azzawajalla dan Allah pun mencintai perjumpaan dengannya. Adapun orang kafir dan munafik, apabila Allah ingin mencabut nyawanya, Dia akan memperlihatkan kepadanya siksa Allah Azzawajalla. dan kehinaan dirinya di depan-Nya. Sehingga, ketika ia meninggal, ia tidak suka terhadap perjumpaan dengan Allah dan Allah tidak akan suka bertemu dengannya.”

Hadis di atas, yang dirawikan oleh Imam Bukhari dan Ahmad, melampaui semua keadaan tersebut dan semata-mata hendak menggambarkan detik-detik terakhir dalam usia seseorang yang berada di ambang kematiannya, atau ketika berada di depan pintu-pintu akhirat, saat malaikat al-maut mulai mencabut ruhnya untuk dibawa kembali kehadapan Sang Pencipta.

Pada saat-saat yang amat gawat inilah, akan datang kepadanya sipembawa berita gembira yang akan membawa seorang mukmin terbang dalam kebahagiaan, atau — sebaliknya — akan datang si pembawa ancaman, yang akan membuat si kafir sesak nafasnya karena kesedihan dan ketakutan.

Nah, dengan pengertian seperti inilah, hendaknya kita memahami hadis yang menyebutkan tentang Musa yang menonjok mata malaikat al-maut. Malaikat itu telah berkata kepada Musa:

“Penuhilah panggilan Tuhanmu!” Yakni, usiamu telah habis. Bersiapsiaplah untuk menyerahkan ruh-mu dan kembali pulang kepada Tuhanmu.

Adakah hal seperti ini akan menggelisahkan seorang Nabi seperti Musa?

Orang-orang yang mempertahankan hadis ini berkata: “Seperti manusia-manusia lainnya, Musa juga membenci kematian.”

Memang, perasaan tidak menyukai mati adalah sesuatu yang dapat dimengerti, dalam keadaan-keadaan biasa dan bagi orang-orang biasa. Tetapi, apa artinya perasaan seperti itu setelah habisnya usia (ajal) seseorang dan setelah kedatangan malaikat untuk mengambil kembali apa yang dititipkan padanya.

Apa kiranya yang dibenci oleh Nabi Musa dalam perjumpaan yang sudah pasti itu? Apalagi kebenciannya itu telah berubah menjadi kemarahan yang memuncak, sedemikian sehingga mendorongnya menonjok mata malaikat sehingga membutakannya, seperti yang dikatakan oleh sebagian orang!

Sebagian orang yang membela hadis ini berkata, bahwa yang ditonjok oleh Musa ialah “rupa” yang digunakan oleh malaikat ketika menampakkan dirinya. Sebab ia datang dalam rupa manusia.

Alasan seperti ini tertolak oleh keterangan dalam hadis tersebut bahwa Allah telah mengembalikan mata malaikat itu. Apakah ia tidak mampu memperbaiki sendiri kebutaannya dalam bentuk yang telah dipilihnya?

Musa juga telah memohon agar dikubur di suatu tempat “sejauh lemparan batu dari perbatasan Palestina”, negeri yang kaum Musa tidak berani memasukinya.

Ada juga yang mengatakan bahwa hadis tersebut termasuk ujian keimanan kepada hal-hal yang bersifat gaib. Memang benar, keimanan kepada yang gaib adalah haq, dengan syarat bahwa sumbernya diyakini kebenarannya. Adapun yang sumber-nya samar-samar dan susunan kata-katanya membingungkan, maka yang demikian itu seharusnya menjadi bahan penelitian bagi para fuqaha’ untuk menyingkap kebenarannya. Apalagi ia termasuk khabar ahad yang harus diselidiki dengan saksama, sanadnya maupun matannya. Sehubungan dengan ini, para imam telah menolak beberapa hadis yang walaupun sanadnya sahih namun matannya mengandung ‘illah (cacat). Dengan adanya cacat tersebut, tidak terpenuhilah persyaratan kesahihannya.

Misal lainnya adalah hadis-hadis tentang Israk dan Mikraj atau juga tentang ummul mukminin yang mencontohkan cara mandi junub secara visual didepan penanyanya (silahkan buka link ini untuk membacanya Kritik Hadis Shahih : tentang ‘Aisyah dan Salim :   https://arsiparmansyah.wordpress.com/2011/12/29/kritik-hadis-shahih-tentang-aisyah-dan-salim/)

Yang terakhir, hadis ini dan yang serupa dengannya, tidak berkaitan dengan akidah ataupun perilaku. Selama ini hadis tersebut seakan mantap duduk tetap di tempatnya, terlampaui oleh mata yang sibuk memandang ke arah ajaran-ajaran Islam yang bersifat praktis dan yang kedudukannya lebih penting. Seperti Sholat, Puasa, berhaji, memendekkan celana sebetis, memanjangkan jenggot, mengkafirkan syiah dan lain sebagainya.

Gilanya lagi selalu ada orang yang menuduh siapa saja yang meragukan hadis tersebut diatas sebagai seorang mulhid (ateis)!

Gaya khas permainan orang-orang tua dimasa lalu yang kehabisan kata untuk beradu argumen lalu mulai cari gampang dengan mengkafirkan orang lain yang tidak sejalan dengan mereka. Sebuah cara konvensional yang hanya mengundang tawa renyah saya kepada mereka.

Tuhan secara filsafat adalah tuhan dalam bentuk yang terlalu bervariasi sebagaimana bisa dibaca melalui pendapat para filosof yang ada (sebut saja nama socrates, plato, aristoteles, descartes atau juga kant dan bandingkan semua konsepsi filsafat mereka tentang tuhan).

Saya lebih memilih ranah akal atau rasio untuk memahami Tuhan dan menemukan eksistensi kebenaran Dia dan ajaran yang disampaikan melalui Rasul-Nya. Ini juga yang pernah ditempuh oleh ilmuwan besar dunia Isaac Newton (1642-1727) yang juga terkenal dengan karyanya yang mengkritik ajaran Trinitas dengan judul “An Historical Account of Two Notable Corruption of Scripture” artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Sebuah catatan sejarah tentang dua penyelewengan pokok terhadap kitab suci”. Newton pernah berkata :

Let them make good sense of it who are able: for my part I can make none.  If it be said that we are not to determin what’s scripture & what not by our private judgments, I confesse it in places not controverted: but in disputable places I love to take up with what I can best understand.  Tis the temper of the hot & superstitious part of mankind in matters of religion ever to be fond of mysteries, & for that reason to like best what they understand least. 

Bagi mereka yang mampu, biarlah mereka mengambil kebaikan dari kontroversi tersebut. Untuk saya sendiri, saya tidak bisa mengambil apa-apa darinya. Jika dikatakan bahwa kita tidak boleh menentukan maksud dari kitab suci dan apa yang tidak bisa ditentukan oleh penilaian-penilaian kita, maka saya mengatakan bahwa bukanlah tempatnya dipertentangkan. Tetapi pada bidang-bidang yang dipertentangkan, saya menyukai untuk mengambil apa yang paling saya mengerti. Adalah sikap keras dan sisi takhayul dari manusia dalam masalah-masalah agama menjadi bukti misteri-misteri tersebut.

(sumber : http://www.cyberistan.org/islamic/newton1.html dan http://www.newtonproject.sussex.ac.uk/view/texts/normalized/THEM00261)

Kitab Perjanjian Baru : 2Ti 3:16  menyatakan :

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

1 Telasonika 5:21 : Hendaklah segala perkara kamu uji dan yang baik kamu pegang.

Al-Qur’an surah An-Nisaa [4]:174. Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an).

Salam senyum untuk semua,

Palembang, Januari 2012

Armansyah

Advertisements

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: