Nabi Perempuan

Nabi Perempuan : Jawaban untuk Abd Moqsith Ghazali

Oleh : Armansyah

السَّلَامُ عَلَىٰ مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَىٰ

Artikel saya berikut ini merupakan tanggapan maupun jawaban terhadap salah satu artikel Sdr. Abd Moqsith Ghazali berjudul : “Nabi Perempuan” sebagaimana yang dimuat dalam dalam situs Jaringan Islam Liberal dengan link :
http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1154

Tampilan Situs JIL : Nabi Perempuan

Tanggapan ini aslinya dikirim tanggal 21 Nopember 2006, ditujukan pada milis diskusi MyQuran dan Eramuslim (eramuslim@yahoogroups.commyquran@googlegroups.com, myquran@yahoogroups.com) serta dengan tembusan (Carbon Copy) alamat email Saudara Ulil Abshar Abdallah (ulil99@yahoo.com) dan Redaksi Islam Liberal (redaksi@islamlib.com) serta milis_iqra@googlegroups.com.

Penanggap : Armansyah, Moderator Milis_Iqra@googlegroups.com, Praktisi IT dan Penulis Buku

Sdr. Abd Moqsith Ghazali menulis :

Nabi Perempuan
Oleh Abd Moqsith Ghazali
25/10/2006
Sumber : http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1154

Semua agama memiliki nabi atau rasul. Nabi biasanya dipandang sebagai seseorang yang ditunjuk oleh Tuhan untuk menyampaikan wahyu kepada seluruh umat manusia. Sejumlah buku menyebutkan bahwa jumlah nabi yang diutus Tuhan ke planet bumi ini tak kurang dari 124 ribu nabi. Dari ribuan nabi itu ada yang diketahui karena diceritakan melalui kitab suci, baik dalam Taurat, Zabur, Injil, maupun Alquran.

Konon, nama-nama nabi yang tercantum dalam kitab suci-kitab suci itu tak lebih dari 200-an orang. Dengan demikian, masih banyak nabi-nabi lain yang tak diketahui. Di antara mereka ada yang disebut nabi, dan mungkin sudah banyak yang menggunakan identitas dan nama lain seperti tuan, pangeran, pendeta, kiai, atau yang lainnya.

Allah berfirman dalam surat al-Nisa’ (4): 164, “Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul (nabi-nabi) yang telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tak akan Kami ceritakan tentang mereka kepadamu.”

Para nabi itu tak menumpuk di satu kawasan, melainkan tersebar di pelbagai negeri dan bangsa. Allah berfirman (al-Nahl [16]: 36), “Sungguh telah Kami utus seorang rasul bagi tiap-tiap umat..” Allah juga berfirman (al-Ra’d [13]: 7), “bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.” Dalam surat Fathir (35): 24 Allah berfirman wa in min ummatin illa khala fiha nadzir. Bahwa tak satu umat pun yang vakum dari seorang pemberi peringatan.

Al-Qurthubi dalam al-Jami’ li Ahkamil Qur`an (Jilid VII, hlm. 618) menyatakan bahwa nadzir dalam ayat itu berarti seorang nabi. Ayat ini juga, menurut Qatadah sebagaimana dikutip Thabari dalam Jami’ al-Bayan fiy Ta`wil al-Qur`an (Jilid X, hlm. 408), menunjukkan bahwa para rasul itu memang menyebar ke seluruh bangsa-bangsa. Kullu ummatin kana laha rasul (setiap umat memiliki rasul).

Dengan logika ini, kita bisa menyatakan bahwa dahulu pun mungkin saja pernah lahir seorang nabi di kepulauan Indonesia. Bahkan, bukan hanya satu. Boleh jadi telah lahir beberapa nabi dari bangsa ini. Dari Palestina—sebagaimana terekam dalam kitab suci—telah lahir sejumlah Nabi.

Akan tetapi, kebanyakan mufasir Islam bersepakat bahwa nabi itu hanya terdiri dari laki-laki. Ibnu Qasim al-Ghuzzi (w. 918), pengarang kitab Fathul Qarib, menyatakan bahwa nabi adalah seorang laki-laki yang diberi wahyu oleh Allah. Dengan pengertian ini, jelas tak ada nabi perempuan. Yang ada hanya nabi laki-laki.

Namun, setelah saya cek ke sejumlah kitab, ternyata status kenabian tak hanya dimonopoli kaum laki-laki. Ada juga nabi dari kalangan perempuan. Misalnya Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah (Juz II, hlm. 59) mengutip satu pendapat yang menyatakan bahwa tak tertutup pintu bagi hadirnya nabi perempuan. Dikemukakan bahwa Maryam atau Bunda Maria adalah salah seorang nabi. Perempuan lain yang diangkat menjadi Nabi, menurut pendapat ini, adalah Sarah (ibu Nabi Ishaq, isteri Nabi Ibrahim), dan ibu Nabi Musa.

Ulama yang berpendapat demikian misalnya bersandar pada ayat Alquran, wa awhayna ila ummi musa an ardhi’ihi fa idza khifti ‘alaihi, fa alqihi fi al-yamm (telah Kami wahyukan kepada ibu Musa; susukanlah dia, dan apabila kamu khawatir kepadanya maka lemparkanlah ia ke dalam sungai (Nil).

Bagi ulama tersebut, wahyu hanya terjadi pada diri seorang nabi. Oleh karena itu, perempuan yang mendapatkan wahyu adalah seorang Nabi. Saya menyertai ulama tersebut; bahwa wahyu bukan hanya turun kepada laki-laki, melainkan juga terhadap perempuan. Alquran telah menunjukkan bahwa Tuhan tak melakukan diskrminasi jenis kelamin dalam perkara pewahyuan sekaligus penabiaan.

Tanggapan saya :

Jelas sekali sesudah membaca secara utuh tulisan tersebut sebagaimana saya lampirkan juga dibagian bawah email ini  dan bisa diakses secara online pada http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1154 menyadarkan kepada saya bahwa yang bersangkutan, yaitu Sdr. Abd Moqsith Ghazali tidak mengerti apa perbedaan Nabi dan Rasul serta apa pula yang dimaksud dengan kata wahyu sehingga akhirnya keluarlah tulisan tersebut yang secara tekstual justru bertentangan dengan ayat-ayat dikitab suci.

Sdr. Abd Moqsith Ghazali yang saya hormati.,

Anda benar ketika mengatakan bahwa Nabi dan Rasul Allah itu ada banyak sekali, setiap jaman dan setiap daerah dimasa lalu pasti ada Nabi dan Rasul, pengutusan para Nabi dan Rasul tidak bersifat menumpuk disatu daerah, namun menyebar, seiring dengan tersebarnya komunitas manusia disetiap sudut bumi ini sebagai salah satu bukti Rahman dan Rahimnya Allah kepada umat manusia agar tidak tersesat dari jalan kebenaran dan perbudakan akal terhadap sistem berhalaisme.

Tetapi sayang, anda terjebak kedalam kekeliruan pemahaman mengenai istilah pemberian wahyu kepada diri seseorang, sehingga anda bisa berkesimpulan menyatakan tidak tertutupnya kemungkinan ada seorang Nabi perempuan.

Ilustrasi

Begini Sdr. Abd Moqsith Ghazali.

Dalam surah 20/38 yang secara jelas anda jadikan dasar argumentasi anda, ada disebutkan bahwa Allah memberi wahyu kepada ibundanya Musa as, untuk meletakkan bayinya kedalam peti dan dihanyutkan kelaut. Dalam cerita tersebut, tidak digambarkan bahwa wahyu itu turun dalam bentuk dialogis sebagaimana umumnya, tidak pula digambarkan adanya malaikat, dan tidak pula ada sebuah perintah untuk melakukan pengajaran sebuah ajaran kepada suatu komunitas sebagaimana halnya ini menjadi salah satu fungsi dari turunnya suatu wahyu kepada seseorang.

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan … (QS AN-Nisa’ (4) :165)

Maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (yang menjadi tujuan) pengutusanku kepadamu. (Qs Huud (11) : 57)

Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun …. (QS Saba (34) :34)

Sehingga dengan demikian maka secara tekstual, ibunda Nabi Musa alaihissalam tidak bisa dikatakan telah menerima wahyu dalam bentuk ajaran yang membuat beliau bisa disebut sebagai nabi, sebaliknya dari ayat-ayat yang terkait bisa kita pahami bahwa wahyu dalam konteks cerita ini adalah berupa ilham atau penggerakan suara hati kedalam diri ibunda Musa agar mau melakukan sesuatu, dalam hal ini menghanyutkan bayi Musa kelaut demi menyelamatkannya dari kekejaman Fir’aun.

Persamaan kasus ini bisa juga misalnya kita baca dalam surah 5/111 dimana Allah memberi wahyu kepada Hawariyin atau sahabat-sahabat Nabi Isa untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya melalui sebuah gerakan hati yang dilontarkan secara spontanitas sebagai bentuk kerelaan dan pembenaran mereka terhadap dakwah yang sudah disampaikan.

Ini dibuktikan dengan ayat sebelumnya, yaitu 5/110 yang menceritakan penolakan sebagian Bani Israel terhadap dakwah dan ajaran Isa al-Masih. Dalam surah 16/68, Allah diceritakan pula menyampaikan wahyu-Nya kepada lebah dalam hal pembuatan sarangnya, disini tidak bisa pula kita pahami dengan logika yang anda gunakan, dimana jadinya dengan logika tersebut maka Nabi pun bisa seekor semut.

Padahal yang dimaksud dengan ayat 16/68 ini tidak lain adalah melalui gerakan kausalitas alamiahnya berupa instink, maka lebah tunduk dan patuh pada ketetapan Allah dalam melangsungkan kehidupan yang ada (termasuk mempertahankan hidup dengan cara membuat sarang).

Dalam surah 41/12, Allah juga diceritakan telah menyampaikan wahyu-Nya kepada langit untuk urusan-urusan-Nya, hal ini bukan harus diartikan bahwa Allah pun menjadikan langit sebagai Nabi, tetapi harus dipahami bahwa Allah menjadikan dan menetapkan hukum-hukum alam pada awal penciptaan langit yang dengannya maka langit-langit itu bisa beproses secara logis dan ilmiah. Dalam surah 12/109, 16/43, 21/7 dan 10/2 secara jelas dan gamblang disebutkan bahwa setiap manusia yang diberikan wahyu dalam kaitannya sebagai Nabi yang bertugas menyebarkan ajaran wahyu itu kepada manusia adalah laki-laki.

Silahkan Sdr. Abd Moqsith Ghazali baca berulang kali ayat-ayat tersebut diatas. Sengaja saya tidak menunjukkan terjemahannya dengan maksud agar anda pro-aktif dalam hal ini. Berkaitan pula dengan surah 19/19 s/d 19/26 yang menceritakan perihal turunnya malaikat kepada Maryam ibundanya Isa al-Masih, menarik bila kita melihat tulisan Muhammad Wakid dalam bukunya “Israiliyah pada kisah Isa” terbitan Pustaka Suara Muhammadiyah cetakan pertama 1999 halaman 40 s/d halaman 49 dimana yang bersangkutan juga merujuk pada arti gerakan suara hati dengan segala dasar argumentasinya.

Dilain sesi, Muhammad Abduh, sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab dalam bukunya “Rasionalitas al-Qur’an, Studi Kritis atas Tafsir al-Manar” Terbitan Lentera Hati, Edisi Baru Cetakan pertama, April 2006 halaman 36 s/d 61 pun ada menyinggung beberapa penafsiran kata malaikat dalam beberapa ayat al-Qur’an sebagai natural power.

Meskipun saya tidak sepenuhnya menyetujui penafsiran yang diberikan oleh Abduh maupun Wakid, namun setidaknya ini memberikan gambaran bahwa mereka-mereka tidak mengartikan adanya wahyu dan kedatangan malaikat kepada beberapa wanita sebagaimana disinggung oleh al-Qur’an dalam rangka menjadikan mereka Nabi.

Menilik kepada penafsiran umum bahwa Maryam memang didatangi oleh Jibril berkenaan dengan kehamilannya dan proses kelahiran Isa al-Masih tetap saja tidak ada wahyu berupa perintah menyebarkan suatu ajaran kepada masyarakat sebagaimana lazimnya fungsi seorang Nabi. Lalu apakah ini berarti telah terjadinya diskriminasi terhadap kaum perempuan ?

Saya melihatnya tidak demikian, semua lebih ditekankan pada asas fleksibelitas atau dalam bahasa agamanya ruksah dan asas illat atau sebab dan akibat.

Tugas seorang Nabi dan Rasul sangatlah kompleks dan multifungsi, ia tidak boleh terikat dengan keadaan tertentu yang bisa mempengaruhi tugasnya ditengah umat, dan ini hanya dimungkinkan apabila ia adalah laki-laki. Seorang wanita, setiap bulannya pasti kedatangan tamu bulanannya yang membuat dia terikat dengan kondisi tersebut dan relatip lebih condong dipengaruhi oleh tingkat emosi yang labil, seorang wanita dalam banyak hal lebih mengedepankan perasaan, egoisme, dan sensitivitasnya yang tinggi sehingga sering bersikap subyektif, ada saja tingkah atau kata-kata yang menyinggung kepekaan hatinya maka mulailah mempengaruhi semua tindakan dan sikap yang ia perlihatkan.

Seorang wanita, secara fitrahnya memiliki fisik dan tenaga yang lebih lemah dibanding laki-laki yang karena keterbatasan ini maka ia lebih mudah terancam keselamatan dan kesehatannya sementara agama memerlukan seseorang yang tangguh, siap mengerjakan apapun dan kapanpun dia dibutuhkan, seorang Nabi harus siap bangkit ditengah malam dan menghabiskan malam-malam panjang untuk bermunajat, untuk melakukan perjalanan jauh dari daerah A kedaerah B, seorang Nabi harus siap ketengah lapangan berbaur dengan umatnya dalam membela kebenaran, bertempur dan berjihad diposisi terdepan.

Ilustrasi

Seorang wanita juga diciptakan dengan fitrah untuk hamil, melahirkan dan menyusui bayinya dan semua ini pun membuat dia terbatas dan terikat dengan kondisinya yang secara mental sangat berpengaruh kepada emosi dan secara phisik mempengaruhi kesehatan tubuh sehingga bisa sangat mengganggu aktivitas dan professionalitasnya ditengah masyarakat.

Sementara jika wanita yang menjadi Nabi tadi tidak menikah, tidak melahirkan, tidak menyusui atau bahkan diberi mukjizat untuk tidak haidh, maka itu sama artinya dengan menyalahi fitrah atau sunnatullah yang sudah Allah tetapkan sendiri atas diri makhluk-Nya, Allah sudah melanggar hukum-hukum kausalitas yang ada dari awal penciptaan dan ini sangat muskil bagi kita.

Karena itu, secara pribadi saya setuju dengan Choa Kok Sui, seorang ahli tenaga dalam dari Philipina yang memberikan komentarnya mengenai mukjizat dalam bukunya “Penyembuhan Dengan Tenaga Prana Tingkat Lanjut ” terbitan Elex Media Komputindo 1993 hal ix yang mengatakan : Mukjizat adalah kejadian fantastis yang mendayagunakan hukum alam tersembunyi yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang.  Dan mukjizat sama sekali tidak melanggar hukum alam, ia sesungguhnya berlandaskan hukum alam.

Jika anda menisbatkan pemahaman anda dengan merujuk pada pendapat Ibnu Katsir atau sejumlah ulama “kondang” lainnya, maka buat saya itu tetap tidak bisa dijadikan satu-satunya dasar argumentasi untuk membenarkan apa yang anda pahami. Selama hal itu baru dinyatakan oleh seorang ulama (dalam pengertian dibidang agama) akan pemahamannya terhadap nash syar’i, maka sifatnya tidak mengikat orang diluarnya untuk mengikuti apa yang dia fatwakan sekali lagi berdasarkan apa yang bisa beliau pahami terhadap nash syar’i, semua orang yang berilmu dan berakal bisa memiliki pemahaman yang berbeda satu dengan lainnya atas nash yang ada.

Dengan demikian maka, tidak semua apa yang ditulis dan dikatakan oleh ulama salaf harus di-ikuti, sebab bisa saja pemahaman dan pendapat itu keluar karena keterbatasan yang ada pada jamannya. Pemahaman seseorang terhadap nash tertentu ditentukan oleh banyak faktor, mulai dari kondisi umat yang berlaku dimasa ia hidup, sejauhmana penguasaan beliau akan ilmu-ilmu lain dan sebagainya dan seterusnya.

Islam tidak mengenal sistem kependetaan yang mana semua fatwa ulama harus dan wajib untuk di-ikuti, Islam dibangun atas fondasi wahyu yang kokoh yang harus dikaji dan dipelajari secara utuh dan cerdas hingga sampai kepada ayat-ayat Muhkamat dan Mutasyabihatnya, begitupula as-Sunnah sebagai tradisi yang diwariskan oleh Nabi SAW.

Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. (QS AL-Baqarah (2): 269)
Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (QS Yunus (10) :100)

Dari Imam Ali bin Abu Thalib karamallahu Wajhah :

Tiada kekayaan lebih utama daripada akal.
Tiada kepapaan lebih menyedihkan daripada kebodohan.
Tiada warisan lebih baik daripada pendidikan.
(Mutiara Nahjul Balaghah, Mizan 1999 hal. 124)

Kemurahan hati adalah tirai yang menutupi sedangkan akal adalah pedang yang sangat tajam. Oleh karena itu, tutupilah kekurangsempurnaan pekertimu dengan kemurahan hatimu dan perangilah hawa nafsumu dengan akalmu. (Mutiara Nahjul Balaghah, Mizan 1999 hal. 131)

 Dari al-Qur’an :

Bahwa seseorang tidak menanggung dosa orang lain, dan seseorang tidak akan mendapat ganjaran melainkan apa yang telah dia kerjakan  QS AN-Najm (53) : 39)

Baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan. Qs. AL-Baqarah (2) : 141)

Jika kamu berbuat baik, maka kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka itu juga untuk dirimu sendiri. (QS 17 AL-Israa (17) : 7)

Katakanlah: “Kamu tidak akan ditanya tentang apa yang kami perbuat dan kami tidak akan ditanya tentang apa yang kamu perbuat”. (QS. Sabaa’ (34) :25)

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarah, dan jika ada kebajikan sebesar zarah, niscaya Allah akan melipat gandakan dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (QS AN-Nisa’ (4) :40)

Tiap-tiap umat akan dipanggil untuk menerima kitabnya, dan diserukanlah : Pada hari ini kamu akan dibalas sesuai dengan apa yang kamu kerjakan (QS AL-Jaatsiah (45) : 28)

Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah”. (QS Luqman (31) : 33)

Setiap orang memiliki tanggung jawabnya masing-masing terhadap Allah, kita tidak diminta pertanggung jawaban terhadap lingkungan kita selama kita sudah berusaha untuk melakukan perbaikan ataupun menyerukan agar diterapkannya peraturan Allah didalamnya, terlepas apakah lingkungan kita itu menerima atau menolaknya. Mengikuti pemimpin yang salah dan melepaskan diri dari tanggung jawab kesalahan seraya melemparkan beban itu kepada mereka sama sekali bukan tuntunan al-Qur’an.

Disitulah letaknya setiap individu harus menggunakan akalnya dalam beragama secara khusus dan berkehidupan secara umumnya. Disitulah makanya setiap individu pun harus belajar dan terus belajar agar dia tahu benar dan salah dari apa yang dia kerjakan atau dia putuskan. Orang yang memberi petunjuk kepada kesalahan akan dihukum lebih berat tetapi ini bukan berarti yang mengikutinya tidak akan memiliki konsekwensi hukuman meskipun dalam kadar yang lebih rendah dari orang yang di-ikutinya.

Demikian sedikit yang bisa saya tanggapi dari tulisan anda.

Lebih dan kurangnya saya minta maaf, semoga tanggapan ini bisa menjembatani dialog lebih jauh antara kita dan memberikan klarifikasi atas apa yang sudah anda sebarkan dan dipercayai sebagai suatu kebenaran bagi orang lain.

Salamun ‘ala manittaba al Huda

Palembang, Desember 2011

Armansyah

Saya juga menyarankan anda membaca tulisan saya :

Bolehkah Memilih Pemimpin Wanita didalam Islam pada link :

https://arsiparmansyah.wordpress.com/2009/07/05/bolehkah-memilih-pemimpin-wanita-didalam-islam/

Advertisements

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: