Syurga bukan untuk satu golongan saja !

Syurga bukan cuma untuk 1 golongan saja!

Oleh : Armansyah

Sahabat Muslim, iman itu kadang naik dan kadang turun. Ia dipengaruhi oleh faktor eksternal maupun internal diri kita. Faktor eksternal bisa jadi oleh lingkungan kita, keluarga kita, tempat kerja kita, sekolah kita, jemaah kita, usaha kita, bacaan kita, tontonan kita dan lain sebagainya. Sementara faktor internal adalah lebih pada kecenderungan emosional kita, mood kita, ketenangan hati dan pikiran kita.

Tidak selamanya orang yang berilmu agama tinggi dan baik akan terpelihara dari perbuatan tercela, tidak sekali-kali. Sebaliknya, tidak semua orang yang berbuat jahat dan tercela bisa diartikan tidak berguna sama sekali dan hanya sebatas menjadi sampah masyarakat. Sebab setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup ini selalu memiliki hikmah atau pelajaran, entah apakah itu perbuatan baik ataupun jahat.

Minimal jika ada sebuah kejadian jelek yang terungkap dan terlihat, dia akan memberi pelajaran bagi orang lain diluar sipelakunya untuk lebih mawas diri, menjaga dirinya maupun keluarganya dari perbuatan-perbuatan semacam itu.

Kita tidak bisa berharap akan bisa sesuci malaikat meskipun telah mengikuti muhasabah ini dan itu, mengikuti training spiritual ini dan itu serta lain sebagainya. Hidup akan selalu berputar secara dinamis. Badai selalu bisa datang diwaktu-waktu yang kadang tidak kita sangka dan bahkan juga melalui orang atau peristiwa yang diluar dugaan kita. Semua ini mau atau tidak mau, diakui atau tidak, pasti akan memberi efek tersendiri bagi tingkat keimanan kita terhadap Allah. Entah itu dalam hal ibadah secara ritual seperti Sholat yang menjadi tidak tepat waktu, sholat yang tidak khusyuk, lupa berdoa ataupun menyangkut perilaku sosial kemasyarakatan kita lainnya.

Seperti yang pernah saya singgung dalam salah satu seri tulisan saya tentang ber-Islam secara Kaffah (lihat masing-masingnya di link berikut : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2007/10/17/kaffah-1/ , https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/08/19/islam-kaffah-an-unlimited-system/ dan  https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/08/21/islam-kaffah-the-soulmate/) bahwa sejak awal kelahiran kita didunia, manusia sudah dibekali dengan dua sifat dasar alamiahnya. Keduanya adalah sifat Fujuroha (negatif) dan sifat Taqwa (positip).

Sebagaimana ini telah difirmankan oleh Allah dalam al-Qur’an  surah Asy-Syams ayat 7 dan 8 :

Wa nafsin wama sawwaha, fa alhamaha fujuroha wa taqwaha
Dan Nafs serta penyempurnaannya, dilhamkan kepadanya kefasikan serta ketakwaan…

Kedua sifat inilah yang pada perjalanan hidup manusia kedepannya akan saling tarik-menarik didalam dirinya, berebut untuk menjadi unggul dan mendominasi tingkah laku sehari-hari. Kerasnya persaingan antara sifat Taqwa dan sifat Fujuroha menciptakan sebuah kondisi yang membentuk kepribadian seseorang sehingga kadang ia terlihat berubah-ubah. Tergantung dari situasi dan kondisi.

Jika diperbolehkan saya mengambil percontohan dalam konsep Yin dan Yang maka sejak awal manusia sudah diberi potensi untuk berbuat positip alias kebaikan yang bisa disimbolkan dengan warna putih, serta diberi potensi juga untuk bisa berbuat negatip alias kejahatan yang bisa kita simbolkan dengan warna hitam seperti dibawah ini :

Ilustrasi komposisi keseimbangan antara sifat baik dan jahat, sifat taqwa dan fujuroha

Sifat Taqwa menjadi unsur kekuatan internal yang dapat mengerucutkan nafsu yang dipengaruhi oleh sifat Fujuroha agar tidak melanggar batas dan menyeleweng dari kebenaran. Kita menjadi lebih terbuka, lebih arif dalam berpikir, lebih dewasa dalam bertindak, sabar, semakin tinggi tingkat taqwa kita pada Allah, semakin baik ritual ibadah kita, tawadhuk kita, semakin saleh dan banyak amal jariyah kita dan seterusnya.

Sebaliknya sifat Fujuroha apabila ia mendominasi jiwa kita maka dapat membuat kita justru menjadi lupa diri dan bertingkah seolah kita adalah Tuhan yang bisa berbuat semau-maunya, bisa bertingkah seenaknya saja dengan semua apa yang kita miliki dari kekayaan, pengaruh atau jabatan yang kita miliki. Dari sini akan menjalar sikap tamak terhadap dunia dan anti-pati terhadap kebenaran yang disampaikan oleh orang lain diluar kita.

Kita akhirnya terjebak dalam fanatisme madzhab, fanatisme kelompok, fanatisme semu yang sebenarnya hanya membuat kita bagaikan katak dalam tempurung. Kita bahkan tidak mampu melewati sekatan-sekatan sekterianisme, tidak mampu menerobos batas yang selalu menjadi penghalang kearifan dan kedewasaan berpikir. Kitalah sumber kebenaran, kitalah yang paling benar, kitalah yang harus diikuti, cara kitalah yang serba mengikut pada sunnah, kitalah kelompok yang akan masuk syurga.

Ho-ho, emang syurga barang dagangan yang bisa ente beli om ?

Dalam pergulatan madzhab misalnya, ketika si A bilang : eh si anu sesat, dia itu syiah loh … eh si anu sesat, dia itu Ahmadiyah loh … atau eh eloe jangan kawin sama orang Padang, mereka itu pelit-pelit … dan seterusnya

Nah jika persepsi bahwa syiah itu sesat, Ahmadiyah itu sesat, Kristen itu semuanya menyekutukan Allah atau orang Padang itu pelit terus menerus dibenamkan dalam pikiran kita sejak kecil hingga dewasa dan tua sementara memang tidak ada usaha dari kita untuk merubahnya, untuk mencari tahu kebenaran yang hakiki dibalik semua doktrin-doktrin itu  … maka persepsi yang negatip dari diri kita ini akan menjadi bumerang untuk kedewasaan mentalitas berpikir kita sendiri …kita telah mengotori sisi putih kita, menghilangkan secara perlahan sifat taqwa kita untuk didominasi oleh sisi gelap, sisi fujuroha dan sisi negatip seperti contoh pada ilustrasi dibawah ini :

Ilustrasi hilangnya secara perlahan keseimbangan sisi Taqwaha oleh sisi Fujuroha

Pada prakteknya kita menjual lagu obyektifitas Islam, kita menjual keadilan Islam tetapi semua obyektifitas dan keadilan Islam yang kita dengung-dengungkan tadi hanya untuk diri dan komunitas kita sendiri saja…..

Kita tidak mampu mendobrak kedalam diri kita …. kita tidak berani buat mengatakan …. bahwa tidak semua syiah itu sesat (faktanya memang syiah sendiri punya banyak madzhab dan kelompok seperti juga kelompok Sunni yang terbagi dalam madzhab-madzhabnya), terus faktanya juga tidak semua paham Ahmadiyah itu salah (faktanya memang kelompok Ahmadiyah Lahore sama sekali tidak mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi seperti kelompok Ahmadiyah Qadiyan, kelompok Ahmadiyah Lahore ini hanya menganggapnya sebatas mujaddid), fakta lainnya tidak semua Kristen menyekutukan Allah (misalnya coba anda lihat Kristen Yehovah, mereka sama sekali tidak menganggap Nabi Isa sebagai Tuhan atau anak Tuhan, bagi mereka Nabi Isa ya seorang Rasul dan Tuhan itu cuma satu, hanya saja mereka memang menolak mengakui kenabian Muhammad) atau fakta juga tidak semua orang Padang itu pelit … dan seterusnya. Semua ada sisi positipnya jika saja kita mau sedikit membuka wawasan dan tidak menutup mata hati kita dari kebenaran dan obyektifitas.

Berat memang untuk menerima fakta atau kebenaran yang berlaku dihadapan kita, apalagi jika itu berbenturan dengan apa yang selama ini kita yakini sebagai sebuah kebenaran. Kita akan cenderung melibatkan emosi ketimbang akal sehat, dan kita akan berusaha mencari pembenaran demi pembenaran hanya untuk mempertahankan apa yang selama ini kita yakini.

Kehidupan berdiri di atas satu hakikat, yaitu pertarungan yang terus-menerus di antara yang hak dengan yang batil. Seluruh peristiwa yang terjadi di dalam sejarah manusia tidak keluar dari konteks pertarungan ini. Dengan pikiran yang terbuka, wawasan yang luas serta literatur yang melimpah kita dapat menyelami sejarah dan menjadikannya hidup serta berinteraksi dengan kehidupan kita sekarang. Kita dapat menyelami lebih dalam tentang terjadinya berbagai perpecahan mazhab di dalam sejarah umat Islam atau kenapa sampai manusia ini tidak bisa pernah 100% sepakat terhadap sesuatu hal yang sama.

Untuk mengkaji ini mau tidak mau kita harus mengesampingkan berbagai emosi dan kecenderungan pribadi, dan mendasarkan diri kepada kaidah-kaidah Al-Qur’an. Sehingga kita mampu melakukan analisa yang objektif, dan mampu melihat berbagai peristiwa bukan hanya sebatas permukaannya saja melainkan sampai ke substansinya. Dengan begitu kita akan bisa sampai kepada penglihatan yang jelas dan objektif, dan bukan penglihatan yang salah dan rancu.

Tidak bosan saya mengatakan bila kebanyakan dari kita ini sering bertindak terlalu apatis terhadap kebenaran yang diungkapkan oleh orang lain, terlebih jika orang tersebut memiliki cara pandang yang berseberangan dengan apa yang kita yakini kebenarannya. Padahal belum tentu semua yang ada dalam pemikiran orang tersebut salah dan sebaliknya belum tentu juga setiap pikir dan tindakan kita bernilai benar; bisa saja kita bersikap konsisten terhadap nilai-nilai yang kita anut sehingga kita menyebutnya sebagai sebuah kebenaran namun bukan tidak mungkin konsistensi kita tadi hanya ilusi dimana pikiran kita sesungguhnya berjalan sesuai pola logika yang bisa bergeser dan menyimpang.

Pikiran kita memang tidak menyimpang kalau kita bandingkan dengan standar kita sendiri. Padahal standar kita dibentuk oleh pikiran kita yang bisa jadi pula dipengaruhi oleh orang lain. Jadi, pikiran kita ternyata hanya tidak menyimpang dari pikiran kita sendiri atau kelompok dimana kita berkomunitas.

Karena itu, sekali lagi … rubahlah stressor yang kita temui menjadi sesuatu yang positip … rubahlah paradigma berpikir kita untuk selalu berkhudznuzzon, tinggalkan su-uzzon. Jangan mudah terjebak oleh phobia sesaat, meskipun itu didengungkan oleh mereka yang dianggap ustadz, kyai, pastur atau apalah namanya. Kaji dan teruslah mengkaji, jangan stop cuma sebatas menjadi follower, menjadi tukang teriak dalam sebuah koor paduan suara. Anak muda jaman sekarang bilang, gak elit banget hidup cuma jadi bebek. Kwek-kwek-kwek.

Ilustasi orang yang suka membebek alias ikut-ikutan tanpa ilmu

Olehnya, saya mengingatkan semua pada firman Allah berikut :

Dan apabila dikatakan kepada mereka:”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”. Mereka menjawab:”(Tidak) tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk”. QS. 2 Al-Baqarah: 170

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka yang memperolok – QS. 49 Al-Hujuraat :11

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya. QS. 17 Al-Israa :36

Kita harus terus mau untuk belajar, tidak ada kata berhenti untuk belajar dan menggali ilmu. Jangan stop belajar kelautan cuma karena ada yang bilang warna air laut biru. Carilah dan buktikan dulu tanpa harus terpengaruh oleh perkataan tadi, benarkah warna air laut itu memang biru ? Kenapa air laut bisa jadi biru ? teruslah untuk berpikir kritis dan mencari tahu, tapi jangan juga sok tahu, yang terakhir ini beda dengan orang yang mau menjadi tahu, dia pura-pura serba tahu tapi sebenarnya bodohnya minta ampun, yang dia tahu ya apa yang dia dapat dari ustadz anu, syekh anu, bapak anu dan kyai anu. Akhirnya, ya serba anu deh …. bebek juga, kwek-kwek-kwek.

Mari kita lihat argumen dari orang yang berseberangan dengan kita secara obyektif, jauh dari pembenaran diri sendiri. Why We don’t try to see things as they are not we see things as we are ?

Ketika pertama al-Qur’an diturunkan, ayat pertamanya berisikan perintah untuk membaca alias perintah untuk berilmu. Dalam berhukum, jangan berhenti cuma pada hukum manusia alias hukum yang dibuat oleh manusia, jangan cuma bertaklid pada para imam madzhabnya sendiri, tetapi bukalah cakrawala berpikir anda lebih luas. Tengoklah dalam al-Qur’an, sibaklah lebih teliti, pelajari juga sunnah-sunnah Rasul yang sejalan dengan al-Qur’an, sebab tidak semua apa yang disebut sebagai sunnah apalagi hadist pasti cocok isinya dengan al-Qur’an.

Hadist-hadist itu ada yang berstatus dhaif, maudhu, shahih, mutawatir atau hasan. Bahkan tidak semua hadist yang ada dalam kitab-kitab shahih yang sampai ditangan kita sekarang ini bisa dipastikan 100% kebenarannya, dalam artian, apakah benar-benar hadis dan sunnah itu berasal dari lisan Rasul pada jaman dahulu atau ada penambahan oleh para perawi, ada salah dengar dalam proses penerusan hadist itu dan lain sebagainya.

Dalam hal ini ada sebuah riwayat dari Imam Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu :

Sesungguhnya hadis-hadis yang beredar dikalangan orang banyak, ada yang haq dan ada yang batil. Yang benar dan yang bohong. Yang nasikh dan yang mansukh, yang berlaku umum dan khusus. Yang Muhkam dan yang Mutasyabih. Adakalanya ucapan-ucapan Rasulullah SAW itu memiliki arti dua segi, yaitu ucapan yang bersifat khusus dan yang bersifat umum. Maka sebagian orang mendengarnya sedangkan ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW. Lalu sipendengar membawanya dan menyiarkannya tanpa benar-benar memahami apa artinya, apa yang dimaksud dan mengapa ia diucapkan. Dan tidak semua sahabat Rasulullah SAW mampu bertanya dan minta penjelasan dari Beliau. Sampai-sampai seringkali merasa senang bila seorang Badui atau pendatang baru bertanya kepada Beliau, karena merekapun dapat mendengar penjelasan beliau. (Sumber : Buku Mutiara Nahjul Balaghah, dengan pengantar Muhammad Abduh, Penerbit Mizan, Cetakan VII  Mei 1999, Halaman 83 )

Bagaimanapun para perawi hadist, siapapun itu, entah didalam kelompok yang menyebutnya Sunni maupun Syiah, mereka semua manusia, sebagai manusia mereka semua pasti dan pasti bisa salah, lalai maupun khilaf. Jangan jadikan mereka manusia dewa seperti cerita Brama Kumbara diera 80-an dulu, mereka juga insan-insan seperti kita. Siapapun mereka adanya, termasuk yang bernama Bukhari, Muslim, Ahmad atau juga para imam madzhab seperti Syafi’i, Hambali, Malik dan seterusnya apalagi cuma sebatas imam-imam madzhab. Berhentilah memberhalakan mereka. Berhentilah juga memuja-muja orang Arab seperti yang kerap ditemui dimasyarakat kita.

Semua yang berbau Arab dianggap Islam tulen, pakem. Mereka yang bisa dan fasih bahasa Arab mulai dicium-ciumi tangannya bak raja, diundang terus dalam acara sunatan, kawinan dan maulidan, dianggap sudah pasti huebat agamanya. Padahal, Nabi sendiri sudah menegaskan “al-nasu sawasiyatu ka asnan al-musyth” (manusia adalah setara dan rancak seperti gerigi sisir). Atau dalam salah satu hadist yang populer disebutkan sabda Rasul :

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Siapakah orang yang paling mulia?” “Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara mereka”, jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang tersebut berkata, “Bukan itu yang kami tanyakan”. “Manusia yang paling mulia adalah Yusuf, nabi Allah, anak dari Nabi Allah, anak dari nabi Allah, anak dari kekasih-Nya”, jawab beliau. Orang tersebut berkata lagi, “Bukan itu yang kami tanyakan”. “Apa dari keturunan Arab?”, tanya beliau. Mereka menjawab, “Iya betul”. Beliau bersabada, “Yang terbaik di antara kalian di masa jahiliyah adalah yang terbaik dalam Islam jika dia itu fakih (paham agama).” (HR. Bukhari no. 4689)

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564)

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Lihatlah, engkau tidaklah akan baik dari orang yang berkulit merah atau berkulit hitam sampai engkau mengungguli mereka dengan takwa.” (HR. Ahmad, 5: 158. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari sanad lain)

Ada juga ayat al-Qur’an berbicara hal yang sama :

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)

Ok, berbicara masalah taqwa, siapapun kita adanya, sangat bisa untuk dekat kepada Rasulullah melebihi para sahabat beliau yang hidup dan berada ditengah beliau Saw pada masa lalu, jangan berdalih bahwa karena kita hidup tidak sejaman dengan Nabi, jaraknya ribuan tahun lalu kita merasa bahwa cukup beragama seadanya, tidak mungkin bersaing dengan orang-orang jaman dahulu kala, tidak mampu mencapai maqamnya para thabi’in maupun thabiut thabi’in’ apalagi untuk mampu mencapai maqomnya para sahabat. Itu omongan yang salah besar bung ! Silahkan simak hadis berikut :

مسند أحمد ١٦٣٦٣: حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ قَالَ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أَسِيدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ خَالِدِ بْنِ دُرَيْكٍ عَنْ أَبِي مُحَيْرِيزٍ قَالَ
قُلْتُ لِأَبِي جُمُعَةَ رَجُلٍ مِنْ الصَّحَابَةِ حَدِّثْنَا حَدِيثًا سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ أُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا جَيِّدًا تَغَدَّيْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَنَا أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَحَدٌ خَيْرٌ مِنَّا أَسْلَمْنَا مَعَكَ وَجَاهَدْنَا مَعَكَ قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ يَكُونُونَ مِنْ بَعْدِكُمْ يُؤْمِنُونَ بِي وَلَمْ يَرَوْنِي

Musnad Ahmad 16363: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Mughirah berkata; telah menceritakan kepada kami Al Auza’i berkata; telah bercerita kepadaku Asid bin Abdurrahman dari Khalid bin Duraik dari Abu Muhairiz berkata; saya berkata; kepada Abu Jumu’ah seorang sahabat, “Ceritakan kepada kami suatu hadis, yang telah kau dengar dari Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam.” dia berkata; “Ya. saya akan menceritakan kepada kalian satu hadis yang bagus, kami keluar pada awal siang bersama Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam dan bersama kami juga Abu Ubaidah bin Al Jarrah. (Abu Jumu’ah radliyallahu’anhu) berkata; lalu (Abu Ubaidah bin Al Jarrah radliyallahu’anhu) berkata; “Wahai Rasulullah, apakah ada seseorang yang lebih baik dari kami, kami masuk Islam dan berjihad bersama anda?.” Beliau bersabda: “Ya, yaitu suatu kaum yang ada setelah kalian mereka beriman kepadaku padahal mereka belum pernah melihatku.”

سنن الدارمي ٢٦٢٦:  أَخْبَرَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ قَالَ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ حَدَّثَنَا أَسِيدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ خَالِدِ بْنِ دُرَيْكٍ عَنْ ابْنِ مُحَيْرِيزٍ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي جُمُعَةَ رَجُلٍ مِنْ الصَّحَابَةِ حَدِّثْنَا حَدِيثًا سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ أُحَدِّثُكَ حَدِيثًا جَيِّدًا تَغَدَّيْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَنَا أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَحَدٌ خَيْرٌ مِنَّا أَسْلَمْنَا وَجَاهَدْنَا مَعَكَ قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ يَكُونُونَ مِنْ بَعْدِكُمْ يُؤْمِنُونَ بِي وَلَمْ يَرَوْنِي

Sunan Darimi 2626: Telah mengabarkan kepada kami Abu Al Mughirah ia berkata; Telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah menceritakan kepada kami Asid bin Abdurrahman dari Khalid bin Duraik dari Ibnu Muhairiz ia berkata; Aku bertanya kepada Abu Jumu’ah, ia adalah seorang sahabat; Ceritakan sebuah hadits kepadaku yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia mengatakan; Baik, aku akan menceritakan kepadamu sebuah hadits yang bagus. Kami pernah makan siang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami bersama Abu Ubaidah bin Al Jarrah. Ketika itu Abu Ubaidah berkata; Wahai Rasulullah, adakah orang yang lebih baik dari kami yang telah masuk Islam dan berjihad bersama engkau? Beliau bersabda: ‘Iya, yaitu orang-orang yang hidup setelah kalian. Mereka beriman kepadaku padahal mereka tidak pernah melihatku.”

Kesimpulannya, syurga bukan cuma untuk satu golongan saja didalam Islam ini, begitupula jauh dan dekatnya jarak kelahiran atau eksistensi suatu umat terhadap Rasulullah Saw bukan menjadi sebuah problema besar. Kita semua bisa dekat dengan Rasul, bisa menjadi saudara-saudara yang dirindukan oleh Rasulullah, menjadi orang dengan maqom yang membuat Rasul menjadi kasmaran.

Benar, para sahabat itu adalah orang-orang yang sangat beruntung bisa bertatap muka dan berbincang-bincang dengan Rasulullah Saw, bahkan mereka ikut berperang bersama-sama beliau, sejumlah bagian dari mereka malah merasakan bagaimana pedih dan sakitnya disiksa oleh musuh-musuh Rasul diawal-awal Nabi berdakwah. Tetapi, itu semua wajar, itu semua konsekwensi logis dari sebuah hukum kausalita yang berlaku. Tetapi itu ternyata tidak membuat semua dari mereka terlalu istimewa dimata Allah dan Rasul-Nya.

Kitab suci Al-Qur’an menceritakan kepada kita bila diantara para sahabat Nabi, terdapat orang-orang yang ingkar dengan seruan beliau Saw dan tidak menghargai eksistensi kenabiannya ditengah mereka. Contohnya pernah pada suatu  kesempatan dimana Rasulullah sedang berkhutbah didepan para sahabatnya, ketika itu tiba-tiba serombongan kafilah yang membawa barang dagangan datang didekat mereka, lalu jama’ah serentak bubar dan mendatangi para kafilah itu untuk melihat barang dagangan apa yang dibawa, sementara mereka meninggalkan begitu saja Rasulullah Saw yang sedang berkhutbah dan memberi tausyiah pada mereka :

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu (Muhammad) yang sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah sebaik-baik Pemberi rezki. (QS Al-Jumuah [62] :11)

Ayat diatas jelas sekali kecaman dari Allah kepada para sahabat Nabi yang berani meninggalkan Rasul-Nya yang sedang berkhutbah Jum’at, demi menyambut kafilah yang membawa barang dagangan. Hal ini dinyatakan juga oleh Abu Al-`Aliyah, Al-Hasan, Zayd bin Aslam dan Qatadah sebagaimana terdapat dalam kitab tafsir Ibnu Katsir. Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadis dari Jabir bin Abdullah mengenai peristiwa ini :

“Ketika Nabi Saw sedang berkhotbah Jum’at, tiba-tiba datang kafilah dagang di Madinah, maka pergilah sahabat menyambut kafilah dagang itu, sehingga tidak ada sisa yang mendengarkan khotbah Rasulullah Saw kecuali dua belas orang saja, maka Rasul bersabda : “Demi Allah yang jiwaku ada di tangannya, andaikata kamu semua mengikuti keluar sehingga tiada seorangpun yang tertinggal, niscaya lembah ini akan mengalir api”. Dan turunlah ayat tersebut.”

Dalam kasus peperangan Uhud, sebagian besar sahabat juga justru lari meninggalkan Rasulullah Saw demi mengejar harta rampasan perang sehingga karenanya Nabi menjadi terluka dan bahkan nyaris terbunuh, ingat ini : gara-gara mereka berbuat itu, Rasulullah Saw nyaris saja terbunuh :

“(Ingatlah) ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lainnya memanggil kalian, karena itu Allah menimpakan atas kalian kesusahan di atas kesusahan. ” (QS. Ali Imran [3] : 153)

Waktu itu disisi Rasul hanya ada sejumlah kecil sahabatnya dan para Ahli Bait beliau seperti Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahrah. Sementara para sahabat diluar Ahli Bait itu adalah Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqas, Abdurrahman bin Auf, Abu Bakar dan Umar bin Khattab serta dua orang tidak dikenal berpakaian putih yang senantiasa ada disamping Rasul yang di-identifikasikan sebagai malaikat Jibril dan Mikail. (Sesuai riwayat dari Sa’id bin al-Musayyab dari Sa’ad bin Abi Waqqas)

Pada waktu yang lain, menjelang wafatnya Nabi para sahabat justru bertikai dihadapannya dan membuat beliau murka. Ibnu Abbas berkata:

“Hari Kamis, wahai hari Kamis. Waktu Rasul merintih kesakitan, beliau berkata, mari kutuliskan untuk kalian suatu pesan agar kalian kelak tidak akan tersesat. Umar berkata bahwa Nabi sudah terlalu sakit sementara al-Qur’an ada di sisi kalian. Cukuplah bagi kita Kitab Allah. Orang yang berada dalam rumah berselisih dan bertengkar. Ada yang mengatakan berikan kepada Nabi kertas agar dituliskannya suatu pesan di mana kalian tidak akan tersesat setelahnya. Ada sebagian lain berpendapat seperti pendapatnya Umar. Ketika pertengkaran di sisi Nabi semakin hangat dan riuh Rasul pun lalu berkata, “Pergilah kalian dari sisiku!”, Ibnu Abbas berkata: “Tragedi yang paling menyayat hati Nabi adalah larangan serta pertengkaran mereka di hadapan Rasul yang ingin menuliskan suatu pesan untuk mereka.” (HR. Bukhari dan Ahmad)

Secara jujur, sikap para sahabat yang bertengkar dihadapan Nabi tersebut memang bisa dianggap sebagai suatu sikap yang sangat tidak bijak dan tidak pula patut. Bukankah Allah berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dam janganlah kamu berkata padanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al-Hujuraat [49] :2)

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri” (QS. Al-Ahzab [33] :6)

Belum lagi dengan sikap para sahabat yang kemudian sepeninggal Rasulullah Saw justru ikut terlibat dalam peperangan yang memerangi para ahli bait bahkan membunuh cucu terkasih Rasulullah Saw : Imam Husain dipadang Karbala pada tanggal 10 Muharram.

Tulisan ini bukan untuk membuka aib siapapun, tidak juga untuk mencela para sahabat Rasul yang mulia. Banyak diantara mereka yang memang tulus dan luar biasa pengabdiannya terhadap Islam. Mereka mempertaruhkan jiwa dan hartanya dijalan Allah. Namun kita juga harus membuka mata bahwa diantara mereka yang baik dan patuh, ada juga sahabat-sahabat Rasul yang berlaku sebaliknya. Inilah ibarat konsep Yin dan Yang seperti kita bahas diawal, siapa yang paling mendominasi : Taqwaha atau Fujuroha ?

Semoga kita termasuk orang yang dirindu oleh Rasul, yaitu orang-orang yang derajatnya mampu melebihi para sahabat beliau dimasa lalu. Celakalah kita bila justru termasuk dalam kelompok orang yang dikeluhkan oleh Rasul, karena sikap kita yang mengacuhkan al-Qur’an sebagaimana hal ini tercatat didalam surah al-Furqon :

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan”. (QS. 25 al-Furqon :30)

Marilah sama kita berdoa :

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” | Aamin.

Palembang, 6 Desember 2011

Armansyah

One Response

  1. […] Syurga bukan untuk satu golongan saja ! […]

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: