Haramkah menggunakan kalendar Masehi ?

Haramkah hukumnya menggunakan Kalendar Masehi ?

Oleh : Armansyah

Ilustrasi

Dalam salah satu fatwanya, Lajnah Daimah di Arab Saudi atau jika di Indonesia sama seperti MUI pernah mengeluarkan fatwa haram penggunaan kalender masehi karena itu merupakan bentuk tasyabbuh kepada kaum nasrani, hal inipun diamini oleh al-Ustadz Abu Bakar Ba’asyir seperti yang dimuat oleh situs berita Voice of Islam berikut :

Cuplikan situs VOA-Islam tentang fatwa haramnya menggunakan kalender Masehi | link : http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/11/26/16823/ustadz-baasyir-umat-islam-haram-gunakan-kalender-masehi/

Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada beliau dan Al-Lajnah Ad-Dâ`imah Lil Buhûtsil ‘Ilmiyah Wal Iftâ`Arab Saudi, Saya tidak sepakat dengan hal ini. Adapun ketidak sekapatan saya disini, tidak lain karena memang penggunaan kalendar bersistem matahari atau yang sekarang lazim kita kenal dengan istilah kalender masehi justru dibenarkan oleh kitab suci al-Qur’an.

Sebelum kita membahas lebih jauh, mari kita bahas dulu seperti apa kalendar masehi itu adanya.

Dibarat orang menyebutnya dengan nama Anno Dominii (biasa disingkat juga AD –terkadang juga disebut Common Era dengan singkatan CE). Pengertian dari  Anno Dominii adalah “Tahun Tuhan kita”, merujuk pada konsepsi kaum Kristiani terhadap sosok Nabi Isa Al-Masih yang dalam kepercayaan mereka tidak lain sebagai kelahiran Tuhan dalam bentuk daging. Istilah yang digunakan untuk menyebut tahun-tahun sebelum kelahiran Nabi Isa adalah tahun Sebelum Masehi (SM) atau Before Christ (disingkat BC –terkadang disebut BCE alias Before Common Era).

Kalender Masehi  telah digunakan semenjak zaman kerajaan Romawi. Akan tetapi waktu itu jumlah bulan dalam satu tahun tidak terdiri dari duabelas bulan seperti sekarang melainkan terdiri dari sepuluh bulan. Masing-masing adalah Martius, Aprilis, Maius, Junius, Quintilis, Sextilis, September, Oktober, Nopember dan Desember. Adapun jumlah hari sepanjang tahun adalah 304 hari. Awal tahun dalam kalender Romawi masa itu dihitung sejak pendirian kota Roma pertama kalinya yang selalu dirayakan setiap tanggal 1 Maret, bukan 1 Januari seperti penanggalan kita sekarang. Dipercaya bila penduduk Mesir adalah yang bangsa yang pertama kali menjadikan pergantian musim untuk penanggalan sesuai dengan jadwal pertanian waktu itu, ditandai dengan bintang Sirius bersamaan dengan terbitnya matahari diufuk timur.

Sewaktu Julius Caesar berada di Mesir, beliau dapat mempelajari penanggalan musim, dan dengan pertolongan seorang Astronom Yunani dari Alexandria bernama Sosigenes, ia lalu merubah tradisi bangsa Roma yang ketika itu memakai penanggalan berdasar peredaran bulan dengan penanggalan musim atau peredaran matahari. Nama bulan ke-7 yang oleh Mesir disebut Quintilis ditukar dengan nama July untuk menghormati Julius Caesar (penanggalan itu sendiri kemudian dikenal sebagai Kalendar Julian).

Julius Caesar

Julius Caesar dilahirkan pada tahun 116 sebelum Masehi dan wafat pada 44 sebelum Masehi, sedangkan penanggalan musim itu mulai disahkan pemakaiannya pada tahun 45 sebelum Masehi, yaitu 1 tahun sebelum kematiannya. Akibat perhitungan yang memang belum sempurna, efek kumulatif kesalahan perhitungan menyebabkan sampai sekitar tahun 1500-an, kalender telah mengalami pergeseran sampai 11 hari.

Penanggalan musim yang disahkan Julius Caesar itu tidak tepat lagi sebagai tahun musim, karena memang lenggang Bumi ke utara dan ke selatan telah semakin berkurang sesuai dengan berkurangnya gerak pendulum bebas. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pada tanggal 24 Februari 1582 Masehi, atas usul Aloysius Lilius, dari Napoli-Italia maka Paus Gregorius XIII memperpendek penanggalan tersebut dan menetapkan tanggal 4 Oktober 1582 jadi tanggal 15 Oktober, yaitu memperpendek sebelas hari serta melengkapi perhitungan dengan menyatakan adanya sistem kabisat, untuk tahun kelipatan empat.

Sebagai akibat dari kalender Gregorian ini (begitu selanjutnya ia dikenal untuk menghormati Paus Gregorius), maka Inggris dan daerah koloninya di Amerika merubah tanggal 03 September 1752 menjadi tanggal 14 September, hingga hari kelahiran George Washington yang mulanya dicatat tanggal 11 Pebruari 1731 harus dirubah menjadi tanggal 22 Pebruari 1731 begitupula tahun 1990 haruslah ditulis menjadi tahun 1994.

Setelah Kalender Gregorian dipopulerkan, tidak semua negara mau memakainya. Memang negara-negara dengan mayoritas umat Katholik dengan segera mengubah penanggalannya ke sistem penanggalan yang telah direformasi Paus Gregorius, tetapi tidak demikian pada negara-negara dengan mayoritas umat Kristen Protestan dan lainnya.

Umat Kristen Protestan tercatat baru memakai penanggalan tersebut pada permulaan abad 18 Masehi, Prancis pada tahun 1793, Jepang tahun 1873, China tahun 1912, Yunani tahun 1924, Turki tahun 1927 dan Rusia pada tahun 1918 sehingga Revolusi Komunis Rusia yang sekarang diperingati setiap tanggal 7 November, disebut juga sebagai Revolusi Oktober. Kalender Gregorian ini sendiri secara resmi baru dipakai diseluruh Indonesia mulai tahun 1910 dengan berlakunya Wet op het Nederlandsch Onderdaanschap, hukum yang menyeragamkan seluruh rakyat Hindia Belanda (termasuk dalam tanah jajahannya).

Penanggalan Masehi dihisab atau dihitung berdasarkan peredaran Bumi mengelilingi Matahari, sehingga ketika matahari berada dari ufuk terbitnya sampai terbenamnya disebut sebagai satu siang hari, dan sebaliknya dari terbenam sampai terbitnya lagi dipagi hari disebut sebagai satu malam hari. Dengan demikian maka yang disebut satu hari satu malam adalah satu siang dan satu malam (Waktu 24 jam dihitung mulai dari pukul 00:00:00 atau 24:00:00) dan jumlah hari pada penanggalan matahari adalah 365,2422 hari.

Ilustrasi peredaran matahari-bumi dan bulan

Didalam al-Qur’an sendiri, kita dibenarkan menggunakan perjalanan bulan dan matahari sebagai dasar perhitungan waktu bagi manusia. Hal ini logis dengan menyesuaikan tingkat peradaban pada jaman masing-masing sekaligus kepentingan masyarakatnya berkaitan dengan musim-musim tertentu.

Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, serta matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui. (QS. Al-An’aam [6] :96)

Dialah yang menjadikan matahari bercahaya dan bulan bersinar serta menentukan orbitnya agar kamu tahu bilangan tahun dan perhitungannya. Allah tidak menciptakannya kecuali dengan logis, Dia menjelaskan ayat-ayat pada kaum yang berilmu (QS Yuunus  [10] :5)

Oleh sebab itulah kenapa saya tidak sepakat dengan pernyataan bahwa penggunaan kalendar berbasis matahari diharamkan, apalagi dikaitkan dengan dogma keagamaan didalam Islam.

Memang tingkat akurasi sistem kalender berbasis matahari atau solar year, berada jauh dibawah akurasi kalendar berbasis lunar atau bulan sebagaimana digunakan oleh masyarakat China dan Muslim. Dalam tradisi Islam, kita mengenal kalender Hijriyah atau biasa juga disingkat sebagai A.H. Dimana kata ini berasal dari bahasa latin yaitu Anno Hegirae (Anno atau annus berarti “tahun”, sementara Hegirae berarti hijrah).

Bila pada sistem Kalender Masehi yang menganut Solar Year (penanggalan berbasis matahari) sebuah hari dan tanggal baru dimulai pada pukul 00.00 waktu setempat, namun pada sistem Kalender Hijriyah yang menganut Lunar Year (penanggalan berbasis bulan) sebuah hari dan tanggal umumnya dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut (kurang lebih sekitar pukul 18:00). Pada saat terjadinya ijtimak, bulan tidak dapat terlihat dari bumi, karena permukaan bulan yang nampak dari bumi tidak mendapatkan sinar matahari. Dengan terbenamnya bulan sesaat sesudah terbenamnya matahari dalam penglihatan dibumi dikenallah istilah Bulan Baru. Sebagai konsekwensi maka keesokan harinya sudah harus dinyatakan sebagai awal tanggal pertama bulan Hijriyah berikutnya.

Pada sistem penanggalan bulan pada tahun Hijriyah, dari bulan Muharram sampai bulan Dzulhijjah, setiap bulan diakhiri pada perhitungan 29 sampai 30 hari  sehingga jumlah hari dalam satu tahunnya adalah 354 hari (angka tepatnya 354,3672 hari).

Sebelum ditetapkannya kalendar hijriah oleh Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 638 M, masyarakat Arab sudah mengenal sistem penanggalan berbasis campuran antara Bulan dan Matahari (Lunasolar Calendar). Peredaran bulan yang digunakan pada masa itu adalah untuk mensinkronisasikan dengan musim yang berlaku dan dilakukan penambahan jumlah hari (interkalasi).

Beberapa bangsa Arab sebelum pemberlakuan itu ditetapkan ada juga yang menggunakan sistem kalendar bangsa Persia, kalendar kaum Yahudi dan beberapa yang lain menggunakan sistem penanggalan bangsa Romawi. Kaum Nabatean biasa menentukan bulan-bulan berdasarkan zodiak dan oleh karena itu beberapa bangsa Arab menggunakan sistem kalendar berdasarkan bintang.

Bila kita mencoba melakukan korelasi antara penetapan Umar bin Khattab dengan era kenabian Muhammad dan keberadaan wahyu-wahyu Allah seputar penggunaan siklus sinodik bulan sebagai acuan kalendar maka akan kita peroleh sebuah benang merah sejarah yang saling berkaitan. Pada waktu itu, kendati masyarakat Arab terbiasa menggunakan sistem kalendar yang bervariasi, tetapi memang mereka belum mengenal penomoran tahun.

Sebuah tahun dikenal dengan nama peristiwa yang cukup penting di tahun tersebut. Misalnya, tahun dimana Nabi Muhammad lahir dikenal dengan sebutan “Tahun Gajah”, karena pada waktu itu, terjadi penyerbuan Ka’bah di Mekkah oleh pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Yaman (salah satu propinsi Kerajaan Aksum, kini termasuk wilayah Ethiopia). Contoh lainnya adalah ketika Muhammad Saw diangkat menjadi Rasul, masyarakat menyebut tahun itu dengan tahun Kenabian, begitu pula ketika terjadi perang Khaibar, mereka menyebutnya dengan istilah tahun Khaibar.

Ada dua buah riwayat yang akan kita ketengahkan juga disini. Pertama riwayat dari Abu Nuaim Al-Asbahani menyebutkan bila telah sampai kehadapan Khalifah Umar bin Khattab dikota Madinah sebuah dokumen pajak bertuliskan bulan Sya`ban. Lalu timbul pertanyaan dalam diri Umar, ”Sya’ban yang manakah ini maksudnya ? Sya’ban yang sekarang atau yang akan datang ?”. 

Riwayat kedua tentang bersuratnya Gubernur Kufah yang bernama Abu Musa al-Asy’ari pada tahun 638 Masehi kepada Khalifah Umar bin Khattab di Madinah mengenai surat-surat yang hanya memiliki tanggal dan bulan tetapi tidak berangka tahun. Khalifah Umar bin Khattab menyetujui usul gubernur Kufah tersebut.

Dibentuklah kepanitiaan yang diketuai langsung oleh Khalifah Umar sendiri dengan anggota enam sahabat senior dari Nabi Muhammad, yaitu Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Talhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam.

Mereka bermusyawarah untuk menentukan tahun pertama dari penanggalan yang selama ini mereka gunakan tanpa angka tahun. Ada yang mengusulkan perhitungan dari tahun kelahiran Nabi (571 M), dan ada pula yang mengusulkan tahun wahyu pertama turun di Gua Hira (610 M). Setelah melalui musyawarah yang alot maka diputuskanlah untuk menerima usulan dari Ali bin Abi Thalib yaitu perhitungan tahun dalam penanggalan yang baru dimulai dari sejak hijrahnya kaum Muslimin dari kota Mekkah kekota Madinah (622 M).

Imam Asy-Sya’bi berkata : “Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallaahu ‘Anhu menulis kepada Umar Radhiyallaahu ‘Anhu yang isinya : Telah datang kepada kami surat-surat dari Amirul Mukminin yang tidak bertanggal. Maka Umar Radhiyallaahu ‘Anhu mengumpulkan orang-orang untuk bermusyawarah. Maka sebagian berkata, “Berilah tanggal berdasarkan kenabian Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam”. Yang lain berkata, “Kita beri tanggal dari hijrahnya Nabi”, Maka Umar Radhiyallaahu ‘Anhu berkata, “Benar kita beri tanggal berdasarkan hijrahnya Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam ke Madinah karena hijrahnya Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam ke Madinah adalah garis pemisah antara yang hak dan yang batil.

Adapun menyangkut penamaan serta susunan bulan dari sistem penahunan yang baru tidak berubah tetap seperti apa yang sudah ada sebelumnya pada masa sebelum dan juga sesudah kenabian Muhammad Saw. Dengan kata lain, Khalifah Umar bin Khattab Radiyallahu ‘Anhu hanya menetapkan sistem perhitungan tahun saja. Penetapan awal perhitungan tahun yang baru dengan mengambil peristiwa hijrahnya Rasulullah tidak dengan serta merta ikut mengadopsi bulan yang sama dengan peristiwa itu untuk menyusun ulang nama-nama bulan pada penanggalannya yang baru.

Saya pernah membahas panjang lebar tentang pentingnya penggunaan kalender berbasis hisab atas peredaran bulan pada artikel : Hisab sebuah kemutlakan dalam penentuan Ramadhan dan aplikasi kalendarisasi lainnya silahkan klik link berikut ini untuk membacanya : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2010/07/28/1196/ dan juga “Kapan Lebaran ?” di Link ini : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2009/08/30/kapan-lebaran/

Palembang, 6 Desember 2011

Armansyah

One Response

  1. di dunia hanya penanggalan China & Yahudi yg menggunakan sistem bulan & matahari
    dalam penanggalan China & Yahudi selalu menambahkan satu bulan pada beberapa tahun sehingga Imlek maupun Paskah selalu jatuh pada masa kurun waktu yg sama di musim yg sama

    GBU

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: