Menapak jejak menembus waktu

Sumpah, ini bukan judul film layar lebar atau juga sinetron murahan yang sering berseliweran ditelevisi anda. Iya anda, jika anda gila nonton sinetron yang tidak jauh dari acara pamer aurat, harta dan perzinahan massal dengan kedok cinta kasih yang berurai air mata atau bahkan bertema religi.

Ini seperti juga tulisan-tulisan lainnya yang memiliki judul, maka iya ini hanya judul dari tulisan yang akan anda baca. Sudahlah, cukup basa-basinya, nanti anda malah tertidur bacanya. Emang saya tukang dongeng …. hehehe

Hidup memang aneh, lebih dari 12 tahun lalu sejak terakhir saya mengakhiri rutinitas melewati jembatan Ampera yang membelah sungai Musi dan membagi dua kota kelahiranku, Palembang, menjadi sisi ulu dan sisi ilirnya. Lebih dari 12 tahun silam, selama kurun waktu beberapa tahun aku hampir setiap harinya mondar-mandir melintasi jembatan ini dengan sepeda motor tua Yamaha Alpha menamatkan perkuliahan disalah satu sekolah tinggi komputer (saat ini sudah menjadi universitas besar) yang terletak diseberang ulu.

Tetapi sebenarnya pengalaman lebih dari 12 tahun lalu itupun bukan yang pertama kalinya, sebab sejak tahun 1988 sampai 1990, melewati jembatan yang menjadi maskot kota Palembang ini sudah menjadi rutinitas sehari-hariku. Itu karena pada 3 tahun itu, saya bersekolah disalah satu SMP didaerah seberang ulu.

Hanya saja, waktu itu, semua masih sangat sederhana. Masih banyak rumah penduduk yang dibangun dengan kayu dan hmm, aroma air sungai Musi apalagi dikala air hujan baru saja membasahi bumi, benar-benar menghasilkan aroma yang menyegarkan.

Seberang ulu ketika saya masih SMP, adalah wilayah yang masih sangat tertinggal pembangunannya. Seolah anak tiri yang ditelantarkan oleh pemerintah daerah maupun kota. Bahkan Rumah Sakit Muhammadiyah yang saat ini termasuk salah satu rumah sakit besar di Palembang, waktu itu belum ada sama sekali. Lokasinya yang sekarang ini, masih menjadi tanah merah tempat anak-anak main layangan dan juga berkelahi.

Jakabaring ? Itu lebih jauh lagi. Belum ada cerita tentang Jakabaring. Daerah itu masih hutan belukar yang tidak terjamah, tempat sarangnya para penyamun dan Jin buang anak.

Waktu itu, nyaris setiap pulang sekolah disore hari, saya berjalan kaki dari daerah Gotong Royong (depan Universitas Muhammadiyah sekarang) sampai kejembatan Ampera dan terus menuju kesimpang IP (Internasional Plaza). Biasanya saya berdua dengan sahabat karib yang bernama Lisa Jidin yang tinggal diderah Fakih Usman. (Entah dimana dia saat ini berada).

Berdua kami melintasi lorong-lorong sempit dan pasar serta gang yang becek, penuh preman serta anak-anak kecilnya yang bermain berseliweran kesana kemari sampai datang waktu maghrib. Tahun-tahun itu adalah tahun-tahun pertama munculnya Bis Kota di Palembang. Saya ingat ongkos masih Rp. 100,- (seratus rupiah) untuk sekali perjalanan.

Biasanya kalau dari rumah, saya naik oplet KM.5 berwarna merah sampai didaerah bernama Lorong Basah (dikawasan pasar 16 ilir) lalu jalan kebawah Ampera dan lanjut naik mobil oplet merah lagi tapi jurusan Plaju. Jadi jika pulang pergi dari rumah kesekolah dan dari sekolah kembali kerumah setiap harinya, saya hanya butuh uang Rp. 400,- (empat ratus rupiah).

Palembang pada masa-masa itu masih bak perkampungan kecil jika dibanding dengan Jakarta, Surabaya, Bandung atau Medan. Momok bahwa Palembang sebagai kota mengerikan tidaklah berlebihan. Kita bisa melihat hampir setiap “wong Plembang” kalau jalan kemana-mana selalu membawa pisau dipinggangnya. Kisah keributan yang berakhir dengan “basah” istilah untuk orang yang kena tujah atau dibacok, adalah menu sehari-hari. Bukan menjadi hal yang aneh, bahkan menjadi anekdot jika ada keributan tanpa jatuh korban.

Masih ditahun-tahun 1988-1990, ongkos bis kota terbilang mahal. Tapi memang bisnya semua baru. Saya ingat sekali nama bis kota waktu itu adalah Jaya Bersama. Belum ada perbedaan warna bis, semua jurusan entah yang ke Plaju, ke Kertapati, ke KM 12 atau Pusri, semua masih berwarna sama. Ongkosnya sekali jalan untuk jarak dekat (yaitu sampai dibatas Ampera-IP, baik dari seberang ilir maupun seberang ulu) adalah Rp. 150,- (seratus lima puluh rupiah) sementara untuk jarak jauh (misal dari KM. 5 sampai ke Plaju, dimana biasanya rute perjalanan saya waktu itu) harus membayar ongkos Rp. 300,- (tiga ratus rupiah).

Jadi pulang dan pergi bila naik bis kota membutuhkan ongkos Rp. 600,- (enam ratus rupiah), selisih Rp. 200,- (dua ratus rupiah) bila saya menempuhnya dengan naik oplet biasa. Itu sebabnya saya justru lebih sering naik oplet daripada naik bis kota, bahkan jika memang waktu itu saya jajannya kebanyakan, saya harus rela jalan kaki dari sekolahan saya sampai kepangkal jembatan Ampera seberang ilir lalu naik oplet kerumah.

Sekali lagi, Palembang, adalah kota yang jauh dari kemajuan masa itu. Kadang saya sangat iri dengan kota-kota lain di Indonesia. Apalagi jika saya membaca majalah Bobo, koran Pos Kota, Kompas. Duh, terasa sekali sakitnya hati ketika tidak melihat nama Palembang dalam list kota-kota yang sering muncul disana. Palembang seakan ada dan tidak adanya sama sekali tidak berpengaruh. Padahal, Palembang pernah menjadi pusat kerajaan Budha terbesar di Asia Tenggara (Sriwijaya) dan setelah itu disusul pula dengan kesultanan besar Palembang Darussalam.

Tapi sekarang, setelah lebih dari 21 tahun berlalu. Palembang kembali eksis dipecaturan dunia. Pembangunan secara jor-joran telah dilakukan. Kawasan seberang ulu yang dulu, masih teramat kumuh dan tidak terurus, sekarang sudah megah dan menjadi salah satu kawasan perkantoran (hanya saja yang sampai saat ini masih belum ada dikawasan ini : Supermarket besar atau Swalayan ! Tanya kenapa? ).

Diseberang ulu sekarang sudah ada Universitas Muhammadiyah, STKIP PGRI, Universitas Bina Darma, AMIK Bina Sriwijaya, SMAN Sumatera Selatan (Sampoerna Academy) -sebuah sekolah negeri internasional, Rumah Sakit Muhammadiyah, Rumah Sakit BARI, Masjid Cheng Ho, Gelora Sriwijaya dan lain sebagainya.

Tata kotanya jauh lebih baik dari jaman dulu saya masih SMP, kesan kumuh, tertinggal malah hampir terlupakan. Sebaliknya daerah seberang ulu lebih akrab sebagai tempat pendidikan seperti perkuliahan dan sekolah bahkan sejak kota ini memiliki klub sepak bola yang punya nama besar “Sriwijaya FC”, telah menjadi salah satu titik pusat tempat pelatihan olah raga.

Jika dulu satu-satunya tempat hiburan di Palembang adalah Taman Ria Sriwijaya yang terletak bersebelahan dengan Gedung Budaya, dimana disitu ada komedi putar dan berbagai aksi sirkus, sekarang tempat itu malah berganti dengan bangunan mewah Hotel Aryaduta serta Palembang Square tempat dimana pertokoan dan perkantoran termasuk swalayan Carrefour berada. Masyarakat sudah punya tempat hiburan alternatif, seperti Fantasy Island didaerah Indralaya, danau OPI di Jakabaring, Punti Kayu didaerah KM. 7 dekat tempat tinggal saya dan beberapa lagi lainnya.

Tahun 2004, Palembang bahkan berani memajukan diri sebagai tuan rumah PON ke XVI. Sekarang, tahun 2011, Palembang bahkan maju sebagai tuan rumah perhelatan akbar internasional Sea Games ke XXVI. Subhanallah, luar biasa. Sekarang, ketika orang menyebut nama-nama kota besar di Indonesia, Palembang pasti selalu ada dan menempati urutan atas setelah Jakarta. Bahkan pelaksanaan pembangunan kota ini setelah 21 tahun berlalu, bisa mengungguli Medan, Surabaya dan kota-kota lainnya di Indonesia.

Nama-nama artis dan politikus yang berasal dari kota Palembang berseliweran di Ibu kota, seperti Tantowi Yahya, Helmi Yahya, Taufik Kiemas, Marzuki Alie dan lain sebagainya. Bahkan mereka yang pernah bertugas di Palembang, pernah sukses pula menjadi tokoh-tokoh utama negeri ini seperti Try Sutrisno dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Jika dulu untuk menyaksikan film Pendekar Rajawali di Indosiar harus melalui antena Parabola, sekarang masyarakat yang tak punya parabola, sudah tinggal klik-klik channel saja ditelevisinya untuk berpindah dari Indosiar ke MetroTV, ke TVOne, GlobalTV, MNCTV dan seterusnya. Bahkan fenomena TV kabel juga sudah bukan barang langka disini, banyak perumahan sudah memiliki wajan bertuliskan YesTV, Indovision dan sejenisnya.

Soal Internet, apalagi, metode Dial Up ala Telkomnet Instan mungkin cuma sejenak menghampiri Palembang ditahun-tahun 1995-1996 untuk kemudian berganti dengan Modem Wireless ala SmartFrend atau Telkomsel Flash.

Tahun 2000, pemandangan orang yang membawa handphone di Palembang sangat langka. Jadi seperti saya yang pada tahun itu masih menjinjing Siemen C-25, serasa gagah dan bedanya bukan main🙂 Eh saat ini, masyarakat Palembang bahkan didalam becakpun sudah ber-sms ria. Subhanallah.

Belum lagi bila kita bicara soal traffic jalan raya, doeloe, jalan raya di Palembang sepi. Boro-boro taksi sedan, orang oplet saja masih bisa dihitung sama jari kok. Makanya saya bisa kenal dengan oplet dan sopir yang selalu saya naiki untuk kesekolah atau sekedar kursus MIPA.

Sekarang … jalanan Palembang menyemut oleh pengendara motor dan mobil. Berada dijalan raya apalagi dijalan protokol dijam-jam sibuk, bisa buat stress.

Itulah cerita saya kali ini … sebuah tulisan yang mencoba menapaki ulang jejak-jejak perjalanan kota Palembang seiring dengan waktu proses pertumbuhan saya sejak SMP hingga sekarang.

Setelah 12 tahun berlalu sejak saya wisuda kuliah, di tahun 2011 ini, saya kembali menjejakkan kaki ditanah seberang ulu, mengulangi lagi rutinitas melintasi jembatan Ampera setiap hari dari rumah menuju kekantor tempat dimana saya menjadi seorang guru dari salah satu sekolah Internasional disini.

Hidup memang misteri … terkadang laksana roda yang berputar. Kita tidak tahu perjalanan waktu yang membawa kita. Tetapi, semua punya ceritanya.

Palembang,

03 Nopember 2011

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: