Dimana Allah ? Dilangitkah atau dibumi bersama makhluk-Nya ?

Oleh : Armansyah

Kita tahu bahwa kemanapun kita menghadap disana ada wajah Allah. Kita juga diajarkan bahwa Allah itu lebih dekat dari urat leher kita. Tapi kita juga diajarkan bahwa Allah itu bersemayam diatas ‘Arsy-Nya yang agung. Dalam salah satu hadis, juga disebutkan bahwa Allah itu ada dilangit. Lalu, dimanakah Allah sebenarnya ? Bagaimana menjelaskan konsep semua ini secara logis selain berbicara dogmatis seperti –yang penting iman– ?

Dalam bahasa sederhananya, ketika kita menggambarkan bahwa Allah ada diatas ‘Arsy, maka seperti apakah itu ? Ketika kita menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher kita, lalu seperti apa itu ? Ketika kita menyatakan bahwa kemanapun kita menghadap maka disitulah wajah Allah, lalu seperti apakah itu ? Ketika disebutkan bahwa Allah ada dilangit, lalu langit manakah itu?

Jika anda merasa materi ini akan membebani anda, maka lupakan dan jangan teruskan membacanya karena pembahasan berikutnya jika tidak hati-hati dalam memahami ayat-ayat Allah bisa jadi dapat membuat anda meragukan akidah anda terhadap Islam bahkan juga terhadap eksistensi Allah serta dapat menimbulkan fitnah anda kepada saya sebagai penulisnya.

Namun bila anda merasa sebagai seorang yang berpikiran terbuka, merasa tertantang dan siap untuk memacu adrenalin kepenasaran anda, silahkan  melanjutkan bacaan ini. Bismillah.,

Oke, jika anda sudah membaca sampai disini, maka artinya anda telah memutuskan untuk memahami agama anda lebih jauh. Selamat. Anda tidak perlu menyiapkan mantra, jimat atau apapun dalam membaca ini. Jika memang ada persiapan, ya siapkan saja sms banking anda untuk mentransfer uang anda kenomor rekening saya …. hahaha.

Sekarang, let us back to the main topic.

Mari kita bahas dulu secara perlahan dan runut … apa yang dimaksud dengan ‘Arsy Allah tersebut ?

إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy (Qs. 7 al-A’raf : 54)

Telah terjadi perbedaan pandangan antara ulama “klasik” atau ulama salaf dengan ulama-ulama kontemporer dan atau modern dalam menafsirkan istilah ‘Arsy ini. Dimana ulama klasik lebih suka memahami ‘Arsy sebagai suatu singgasana dimana dari singgasana-Nya inilah Tuhan mengendalikan kekuasaan-Nya atas makhluk-makhluk-Nya, namun ulama-ulama tersebut juga lebih suka untuk tidak melakukan pembahasan lebih jauh mengenainya dan hanya mencukupkan urusannya kepada iman dan itu menjadi rahasia ALLAH. Majhul, Ma qul, Imaan bihi wajib, wa su al anhu bid’ah (tidak diketahui maknanya, dan tidak boleh mengatakannya mustahil, percaya akannya adalah wajib, bertanya tentang ini adalah Bid ah Munkarah). Dengan bahasa gaul sederhananya kira-kira : “udah deh tong, ente gak usah capek-capek mumet mikirin ntu. Iman aje dah. Ntar gila loe,itu masih untung gila, kalo gak bener, loe bisa jadi kafir, nerake jahanem dah loe”.

Sebaliknya, sebagian ulama lain yang lebih moderat menolak penafsiran ‘Arasy seperti yang telah disebutkan tadi karena menurut mereka ALLAH tidak membutuhkan tempat, ruangan dan juga tidak terikat dengan waktu. Jika dikatakan bahwa ALLAH duduk diatas ‘Arsy maka berarti ALLAH memiliki wujud yang sama seperti makhluk-Nya yang memerlukan tempat tinggal dan tempat bernaung, padahal ALLAH Maha Suci dan Maha Mulia dari semua itu !

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ

Tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan-Nya (Qs. 112 al-Ikhlas : 4)

Dalam sifat 20 ketuhanan yang wajib di-imani oleh umat Islam salah satunya adalah :

ﻣﺨﺎﻟﻔﺘﻪ ﻟﻠﺤﻮﺍﺩﺙ (Mukhalafatuhu lilhawadith alias Tuhan itu tidak meyerupai sesuatu apapun).

Boleh-boleh saja jika ada yang lalu kemudian “cari aman” dan mengikuti pendapat atau pemahaman ulama klasik yang pertama, tetapi bagi mereka yang tidak puas dan selalu ingin mencari penjelasan logis disetiap doktrin keagamaan, maka hal itupun sangat tidak terlarang.

Bahwa untuk menjalankan ketentuan suatu agama terkadang harus dimulai dengan kata iman memang sering menjadi sesuatu hal yang tidak dapat terbantahkan. Keadaan beriman sesorang umumnya berada dalam kondisi “jadi” dari seseorang itu (sebab ini akan kembali dari lingkungan mana ia dilahirkan). Namun seiring dengan bertambah dewasanya cara kita berpikir, sangat pantas sekali apabila kita mencoba mempertanyakan sejauh mana kebenaran dari keberimanan yang kita peroleh dari kondisi ‘jadi’ tadi.

Tuhan memberikan kita akal untuk berpikir, untuk menjadi cerdas bukan untuk jadi figuran dan sekedar ikut-ikutan. Karenanya kita berdua tidak bisa mengatakan kondisi beriman tersebut ada karena lewat iman. Pernyataan ini tertolakkan dalam dunia ilmiah dan bertentangan dengan penalaran saya selaku manusia yang fitrah.

Tuhan menjadikan alam semesta ini dengan ilmu-Nya, dan Dia telah mengukur keseimbangan masing-masing komposisi ciptaan-Nya itu secara proporsional dan adil. Begitupula ketika Dia mewahyukan kalam-Nya dalam bahasa manusia, itupun memiliki tujuan agar sang manusia selaku hamba, bisa meraba, bisa mempelajari dan memikirkannya, bukan cuma untuk sebatas percaya atau habis dalam bentuk kata-kata tiada makna.

Tuhan secara filsafat adalah tuhan dalam bentuk yang terlalu bervariasi sebagaimana bisa dibaca melalui pendapat para filosof yang ada (sebut saja nama socrates, plato, aristoteles, descartes atau juga kant dan bandingkan semua konsepsi filsafat mereka tentang tuhan). Saya lebih memilih ranah akal atau rasio untuk memahami Tuhan dan menemukan eksistensi kebenaran Dia.

Kita tidak mungkin bisa membedakan mana dogma yang benar dan mana dogma yang salah dengan berdasarkan dogma juga (baca: Iman), artinya seseorang tidak bisa berdalih dibelakang kata ” iman ” untuk membenarkan dogma yang ia anut, sebab sekali lagi kata ” iman ” ini adalah bagian dari dogma yang ada, dan setiap pemeluk masing-masing agama bisa berkata yang sama, akibatnya jika dipaksakan dan dibenturkan secara emosional bisa dipastikan akan kacaulah apa yang disebut sebagai kebenaran yang sejati (toh akhirnya kebenaran menjadi sangat relatif dan subyektif padahal kebenaran itu sifatnya absolut atau pasti).Akhirnya, semua doktrin keagamaan termasuk dogma ketuhanan sekalipun tidak berarti apa-apa jika tidak bisa dicerna secara ilmu melalui akal pikiran yang ada pada manusia, dan inilah sikap rasionalitas keber-agamaan yang saya anut.

Mengikuti sesuatu yang mudah dimengerti akan jauh lebih memuaskan daripada mengikuti sesuatu yang tidak dimengerti atau tidak diketahui.

Dalam kaitannya dengan pembahasan kita kali ini, maka saya mengadakan pendekatan penafsiran istilah ‘Arsy yang disebut selaku singgasana-Nya Allah adalah sebagai tempat dimana ALLAH mempertunjukkan kekuasaan-Nya kepada semua hamba-hambaNya.

Dan itulah alam semesta yang terbentang luas dihadapan kita. Semua isi alam ini, termasuk benda-benda angkasa seperti bumi, bulan, matahari, planet-planet, komet, meteor, galaksi, manusia, malaikat, jin, hewan, tumbuhan dan apa saja yang ada diantara keduanya adalah merupakan perwujudan dari singgasana Tuhan.

وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء

Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ‘Arsy-Nya berada diatas alma’ (air)
– Qs. 11 Huud : 7

Dari ilmu pengetahuan modern kita bisa mengetahui bahwa angkasa raya tidaklah kosong hitam saja seperti yang kita lihat dimalam hari, beberapa hasil observasi sejumlah astronom telah mengemukakan kepada kita bahwa diangkasa raya sana ada begitu banyak bintang gemintang, planet-planet, satelit dan bahkan galaksi sebagaimana galaksi yang kita diami ini (bima sakti/milky way). Belum lagi dengan beragamnya makhluk hidup yang ada diluar planet bumi kita ini yang biasa kita sebut sebagai Alien.

Gambar galaksi

Ruang adalah kekosongan yang ada diantara benda.
Saat sesuatu itu memiliki sekat, pembatas atau juga atap maka dia bisa kita sebut sebagai ruang.
Tanpa keberadaan benda apapun maka dia tidak bisa disebut sebagai ruang.
Hal ini bisa kita paralelkan dengan pendapat Paul Dirac yang menyatakan bahwa yang disebut sebagai ruang kosong sesungguhnya merupakan lautan elektrin dalam keadaan negatip tanpa batas.
 
Sementara kita tahu bahwa keberadaan dari elektron itu sendiri menjadikannya sebagai keberadaan benda sehingga terbentuklah yang disebut sebagai ruang.
 
Pada tingkat selanjutnya, benda yang senantiasa berputar akan menimbulkan waktu, dan tanpa adanya putaran benda, maka otomatis akan tiada juga waktu.; Misal, dengan berotasi terhadap matahari sebesar 66,5 derajat dalam orbitnya dengan tingkat kecepatan konstan 29,79 km/detik seraya berputar pada porosmya dengan kecepatan 11,18 km/detik maka timbullah yang disebut dengan istilah hari, jam, menit, detik …. atau dalam bahasa sederhananya : rotasi planet atau pusingan sebuah benda akan menimbulkan adanya istilah waktu.
 
Dalam Fisika Nuklir, elektron mengalami pusingan atau putaran yang disebut dengan istilah isospin, dimana elektron sebagai atom yang bermuatan listrik negatip berputar mengelilingi inti atom yang bermuatan positip.
 
Dengan demikian, maka keberadaan elektron didalam ruang kosong sebagaimana teori dari Paul Dirac sebelumnya telah menimbulkan apa yang kita sebut sebagai rotasi dan waktu.

Seperti yang pernah saya bahas dalam artikel :  https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/03/06/antara-superman-aliens-dan-al-quran/   bahwa berkesan terlalu naif dan bodoh rasanya jika kita berpikiran cuma kita dan bumi kita ini tempat makhluk hidup bisa tinggal serta bernaung.

Dan diantara ayat-ayat-Nya adalah menciptakan langit dan bumi ; dan Dabbah yang Dia sebarkan pada keduanya. dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya.  Qs. 42 Asy-Syura :29

Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah /hukum-hukum/ Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.  (QS. 65:12)

Ini juga mungkin alasannya kenapa Tuhan begitu gigih memerintahkan kepada manusia untuk mempelajari ilmu tentang alam semesta sembari tidak melupakan tasbih kepada-Nya, baik tasbih dalam arti berdzikir lisan mengucap puja dan puji seperti para Malaikat ataupun bertasbih dalam pengertian sikap tunduk dan patuh serta sadar akan kekecilan diri dihadapan Yang Kuasa sebagaimana tunduknya alam semesta dan seperti tunduknya burung-burung dan gunung.

Para Malaikat yang di sisi-Nya, mereka tidak punya rasa angkuh untuk mengabdi kepada-Nya dan tidak merasa letih, mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. – Qs. 21 al-anbiyaa : 19 – 20

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya – Qs. 17 al-israa : 44

Gunung-gunung dan burung-burung yang bertasbih – Qs. 21 al-anbiyaa : 79

Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat seperti kamu – Qs. 6 al-an’aam : 38

Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi – Qs. 3 ali Imron : 191

Jadi maksudnya jika ‘Arsy Allah itu adalah alam semesta ini, maka dimanakah Allah itu sebenarnya ? Apakah benar bahwa Allah itu berada dimana-mana ? banyak dong pak Allah kalau begitu. Tapi pak, bukankah seperti diawal tadi anda ada bilang bahwa kemanapun kita menghadap disanalah wajahnya Allah ? tapi dilain ayat al-Qur’an juga dibilang bahwa Dia justru lebih dekat dari urat leher kita. Duh, tambah puyeng nih. Kok jadi berkesan mumet begini ya pak …. kalo begitu pahamnya Wahdatul Wujud seperti yang didengungkan oleh al-Hallaj atau Syaikh Siti Jenar benar donk ?

Oke, mari kita buat analogi-analogi dulu. Tetapi maaf, anda perlu kembali berhati-hati dengan analogi yang saya buat agar tidak terjebak dengan pemahaman yang keliru. Ini sudah melintasi materi tasawuf yang paling pelik sekalipun. Saya akan menggunakan penjelasan rasional yang logis dan dapat dipahami secara sederhana dengan akal sehat.

Anda pernah minum secangkir es teh ? apalagi disiang hari yang panas terik dan bulan Ramadhan lagi. Wah, pasti segerrrr rasanya. hehehe

Baik, ini analogi saya … perhatikan gambar dibawah ini :

Pada gambar diatas, terdapat sebuah gelas besar berisikan air, es, teh dan gula. Itulah ibarat isi dari alam semesta ini, ada berbagai macam bentuk dan wujud serta sifat benda-benda didalamnya (seperti yang sudah sempat kita singgung bahwa alam semesta ini ada galaksi, planet, meteor, komet, asteroid, satelit, matahari, manusia, jin, binatang, tumbuhan dan seterusnya sebagainya).

Air, tempat dimana semua itu berada dan larut menjadi satu sistem yang sempurna, … itulah wadah atau tatakan atau singgasana ataupun ‘Arsynya Tuhan dalam hal ini ! Didalam alam nyata, air tersebut tidak lain adalah alam semesta yang menaungi segala benda-benda yang berserak didalam angkasa kita, mulai dari yang terdekat dan terlihat sampai pada yang paling jauuuuhhh dan tak mungkin terlihat oleh kita.

Gelas tempat dimana semua itu bernaung, itulah Tuhannya dalam hal ini, yang tentu saja berada menaungi air selaku wadah pelarut dan secara otomatis menaungi juga semua benda-benda lain yang larut dan ada didalam air itu sendiri.

Itulah kenapa, didalam sejumlah ayat al-Qur’an ada disinggung istilah Wajah ALLAH, Tangan-Nya, Kursi-Nya ataupun Betis sebagaimana terdapat dalam ayat-ayat berikut :

Dan adalah kepunyaan Allah Timur dan Barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah Wajah Allah – Qs. 2 al-Baqarah : 115

Maka Maha Suci Dia yang ditangan-Nya kekuasaan atas semuanya – Qs. 36 Yaasin : 83

Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan – Qs. 55 ar-Rahman : 27

Kursi Allah meliputi langit dan bumi. – Qs. 2 al-Baqarah: 255

Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud QS. 68 al-Qalam : 42

Apakah ini berarti kita bisa melihat Tuhan, pak Arman ? khan analoginya seperti contoh segelas air es manis. Hm, jelas tidak mungkin kita melihat Tuhan meskipun kita tetap menggunakan analogi diatas. Sebab larutan yang menaungi semua benda atau elemen tadi begitu pekatnya terlihat dari dalam sehingga menutupi eksisten wujud asli dari sang gelas. Begitupula halnya dengan kita, tidaklah mungkin melihat wujud asli dari Allah itu sendiri sebab alam semesta ini, angkasa raya kita ini begitu pekat dengan selimut hitamnya, begitu penuh dengan lapisan-lapisan atau tingkat kekelamannya, begitu jauh dan luasnya sehingga tak mungkin terukur secara panjang, lebar dan luas jarak dari satu titik ketitik yang lain. Bahkan menentukan titik-titik semesta raya inipun kita tidak akan pernah mampu. Dimana awalnya dan dimana juga ujung semestanya, semua terlalu pekat untuk bisa ditembus. Tetapi satu hal, Allah pastinya ada dan menaungi semua ini.

Pada kasus Nabi Musa, Allah menyingkapkan sedikit cahaya-Nya menguak kegelapan semesta yang melingkupi-Nya sehingga  akibatnya, pingsanlah Musa dan gunungpun hancur karena tak kuatnya.

7:143. Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”.

Nah, sekarang anda tidak bingung lagi khan ? Sebentar dulu pak Arman, lalu berarti Allah menyatu dengan hamba-Nya ? iyalah dengan makna seperti analogi diatas. Wah, pak, anda terlalu berani mengambil perumpamaan ini, khan Allah itu maha ghaib pak.

Loh, bener bahwa Allah itu maha ghaib, tapi jangan lupa bahwa Allah itu juga maha nyata loh. Coba buka al-Qur’an anda dan buktikan sendiri, ada tidak ayat berikut ini ?

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

huwa al-awwalu waal-aakhiru waalzhzhaahiru waalbaathinu wahuwa bikulli syay-in ‘aliimun

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Taken from al-Qur’an surah al-Haadid [57] ayat 3)

Jadi, Allah itu juga bersifat lahir, nyata, zhahir, mampu dipandang dan dipahami. Tidak njelimet seperti doktrin ketuhanan lain yang berputar-putar dengan semua filsafat ke-esaan sehingga kemudian muncul tuhan turunan bak rumus-rumus matematika saja sampai ada tuhan anak, tuhan bapa dan sebagainya. Tiga tapi satu, satu tapi tiga. Konsep Tuhan didalam Islam itu gak bikin stress otak deh. [Silahkan baca artikel saya : Bertuhan tanpa bingung dialamat : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2011/10/23/bertuhan-tanpa-bingung/]

Salam hangat untuk anda semua,

Armansyah
Palembang, 31 Oktober 2011

 

Advertisements

13 Responses

  1. Bagini, jika kekasih mengatakan, aku akan selalu dihatimu, coba cari dihati kekasihnya adakah orang itu,

  2. “Tempat” itu adalah kesadaran, “Jarak” itu adalah kesadaran, ”
    wallahu a’lam bish showaab

  3. pak Arman;

    kalo boleh sedikit berkomentar,
    sebenarnya yang tertulis di dalam ayat Alquran ttg keberadaan Allah itu demikian sebagaimana yg tersebut di ayat itu, misalkan: AKU lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (Qaaf:16);…memang disitulah Allah berada.
    hanya saja beda dimensi.beda channel/ saluran/ frequensi/gelombang.

    kalo pak Arman menganalogikan dengan secangkit es teh, saya menganalogikan nya dengan channel.
    channel yg dimaksud adalah sama dengan channel televisi atau radio.
    misalkan:
    jika ingin menonton acara RCTI, maka kita nyalakan tv dan pindah channel ke RCTI. tersambunglah tv kita dengan gelombang yg dipancarkan stasiun RCTI.

    biarpun kita berada di tempat yg jauh sekalipun, selama gelombang itu bisa ditangkap oleh antena tv, kita bisa menyaksikan siaran RCTI.
    semua tv yg gelombang nya selaras tentu bisa menampilkan siaran tsb. jadi RCTI ada dimana-mana…

    tapi sebaliknya, jika tv tidak kita stel ke channel RCTI, meskipun tv kita dekat dengan menara broadcast RCTI…tentulah tidak tampil.

    begitu lah Allah berada. sekalipun lebih dekat dari urat leher kita, tapi jika gelombang atau channel kita tidak terhubung dengan gelombang Robbani itu… kita tidak akan pernah mendapat siaran Tuhan.

    jadi carilah gelombang yang tepat itu…

Comments are closed.

%d bloggers like this: