Pengalaman mistis tidak menjadi argumen kebenaran

السَّلَامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى
Salamun ‘ala manittaba al Huda.,
Keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.,

Berikut ini adalah jawaban saya untuk Sdr. Rizal Lingga dengan alamat email nyomet123@yahoo.com pada milis_iqra@googlegroups.com tertanggal 01 April 2010.

Email tersebut awalnya adalah tanggapan atas posting dari Sdr. Arianda Priyatna pada tanggal 17 Maret 2010 dengan subyek : Mohon Tanggapan

Berikut asli posting dar Sdr. Arianda Priyatna tersebut :

Assalaamu’alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Saudara2 sekalian,
Tanpa berniat provokatif, saya menemukan website berikut dari advertisement-nya Facebook.
Mohon tanggapannya.

http://dreamsaboutjesus.com/

Wassalaam

Tanggapan akhir dari Rizal Lingga adalah ini :

From: rizal lingga <nyomet123@yahoo.com>
Date: 2010/4/1
Subject: Re: [Milis_Iqra] Mohon Tanggapan
To: milis_iqra@googlegroups.com

Apakah orang-orang tertentu diupah atau tidak, harusnya anda selidiki sendiri. Atau takutkah anda akan menemui kebenaran dari pengalaman2 nyata para Muslim yang sudah bertemu Jesus dan hidupnya diubahkan itu? Sehingga cukup memberikan pendapat dari jauh tanpa membaca sendiri faktanya bagaimana? Takutkah anda berjumpa dengan fakta dan kebenaran

Inilah tanggapan saya (Armansyah) :

From: Armansyah <armansyah.skom@gmail.com>
Date: 2010/4/5
Subject: Re: [Milis_Iqra] Mohon Tanggapan
To: milis_iqra@googlegroups.com

Rizal, maaf menelisik sebentar dari tanggapan anda seputar pengakuan atas kesaksian orang-orang tertentu terhadap jesus yang mereka nyatakan sebagai perjumpaan dengan Tuhan …. Pertama, saya tidak ambil pusing dengan berbagai situs dan pernyataan sejumlah pihak yang diributkan dibayar ataupun suka rela dalam menulis pernyataan mereka … itu bukan urusan saya, kembali pada kejujuran masing-masing sajalah.

Kedua, Saya pribadi orang yang terlalu rasionalis dan realistis untuk bisa percaya terhadap hal-hal yang selalu dinisbatkan pada keajaiban atau hal-hal berbau supranatural lainnya. Dalam pandangan saya, Tuhan tidak sedang bermain sulap atau bersihir didepan manusia. Tuhanpun tidak sedang mempertontonkan kemahakuasaan-Nya secara sia-sia dan secara serba spektakuler tanpa batas yang tidak akan mendatangkan pembelajaran pada diri manusia. Itulah secara sederhana gambaran Islam dan konsepsi Tuhan yang saya imani.

Adanya pembelajaran dari semua cara kerja Tuhan merupakan tempat bagi akal untuk memahaminya dan mendatangkan konsepsi ketauhidan serta kesalehan pada diri-Nya. Saya tahu sikap saya ini mungkin bertentangan dengan banyak pihak didalam Islam sendiri yang terlalu ketakutan dogma imannya diutak-atik secara akal dengan berlabelkan sesat, bid’ah, khurafat, tidak nyunnah atau lain sebagainya. Tapi sekali lagi, ini cara saya dan saya tidak ambil pusing dengan bagaimana orang memandang saya.

Kalau anda memang ingin berbagi cerita mistis anda didalam Kristen, silahkan saja seperti pengalaman anda berjumpa dengan yesus-maria atau siapapunlah itu adanya, mungkin bisa kita kaji bersama. Toh dimilis ini bukan hanya ada saya seorang dan saya tidak ingin keberadaan saya menjadi sentralisasi bagi banyak hal. Milis ini dibentuk untuk pembelajaran bersama oleh siapapun, bukan untuk dan dari Arman seorang. Tetapi yang jelas, pengalaman mistis semacam itu tidak bisa diuji secara obyektif kebenarannya.

Semua pengalaman non empiris semacam itu adalah bersifat subyektif. Akhirnya kembali pada permainan ego-perasaan-sentimentil-sensitivitas dan semacamnya sebagai bentuk apresiasi dari otak kanan masing-masing orang. Saya lebih suka bermain dilapangan ilmiah yang bisa diukur dan dibuktikan secara empiris dengan melibatkan apresiasi otak kiri, lalu menyeimbangkan keduanya guna memperoleh data yang mendekati kebenaran sejati.

Buat saya, jangan terlalu mudah menyatakan diri telah terselamatkan sebelum hal itu bisa dibuktikan secara benar, sebab dunia ini penuh hal yang nisbi dan menipu, kita perlu parameter yang jelas untuk bisa dijadikan ukuran dalam hal validitas segala sesuatunya.

1 Telasonika 5:21  : “Hendaklah segala perkara kamu uji dan yang baik kamu pegang.”

Masing-masing orang berhak memilih tujuan hidupnya sendiri, entah itu untuk bahagia, susah dan lain sebagainya. Termasuk dalam urusan beragama. Saya selalu percaya bila Tuhan tidak ingin manusia ini menjalani kehidupan secara satu warna dan Dia memberikan banyak pilihan bagi manusia untuk menjalaninya. Pilihan itulah yang pada saatnya nanti akan dipertanyakan dan menuntut tanggung jawab dari kita.

Apakah seseorang lebih memilih untuk hijrah kepada Islam atau sebaliknya malah menjadi murtad, ini sebuah adalah pilihan.

Saya bukan tipe orang yang mudah kagum pada ketokohan atau juga doktrin-doktrin yang sifatnya terlalu menjual pembenaran diri. Bagi saya, kebenaran itu bersifat universal dan selalu selaras dengan akal pemikiran.

Anda boleh saja berkata kebenaran itu ada pada keimanan terhadap ketuhanan yesus, begitupula orang budha dengan doktrin kebudhaannya, orang hindu dengan kehinduannya atau orang Islam sendiri dengan doktrin keislamannya. Menurut saya itu hanya kulit luar.

Saya –sekali lagi– terlalu rasionalis untuk percaya pada hal-hal seperti ini.


Keimanan adalah masalah kepercayaan yang menuntut keyakinan, dan untuk bisa yakin, saya harus bisa mengerti terlebih dahulu.
Sementara untuk dapat mengerti maka saya butuh penjelasan yang bisa diterima dengan semua keterbatasan yang ada pada diri saya selaku manusia.

Agama dalam perspektif saya adalah ajaran yang manusiawi dan sangat membumi, agama tidak diturunkan untuk menjadi beban atau hanya menyibukkan diri pada doktrinal semu selaku otoritas tertinggi pemegang kebenaran.

Saat Tuhan menurunkan wahyu-Nya, maka saat itu pula kita harus memahami wahyu tersebut untuk kita dan bukan untuk Tuhan. Karena memang Tuhan tidak punya kepentingan apapun dengan agama-Nya.

Wahyu Tuhan ini turun kepada kita melalui berbagai proses dan metodenya hingga kemudian sampai kepada kita pada hari ini. Sebagai jembatan untuk memahami wahyu tersebut Tuhan telah menganugerahi akal kepada manusia. Dan akal itu adalah untuk berpikir, sehingga bisa sampai pada derajat keyakinan terhadap wahyu itu tadi.

Keyakinan disini tentu saja pada level manusia, bukan pada level Tuhan. Dengan akal dan keyakinan itulah kita paham mana yang benar dan mana yang salah, mana rasional dan mana irrasional, mana pendapat yang lemah dan mana pendapat yang kuat. Oleh karena itulah buat saya agama itu adalah akal, tidak beragama orang yang tidak berakal dan tidak mau mempergunakan akalnya.

Awal dari paham adalah mengerti, sementara awal dari mengerti adalah mau mencoba untuk mengerti, dan mau mencoba untuk mengerti itu baru ada setelah ada hal yang perlu dimengerti. Dan hal yang perlu dimengerti ini ada karena adanya kesamaan antara obyek yang memerlukan dimengerti tadi dengan kemampuan yang ada pada diri kita sebagai pihak yang akan mengartikannya.

Saya tidak mau bermain dengan perasaan atau egoisme dalam beragama, sebab hal ini lebih banyak subyektif ketimbang obyektifnya. Perasaan hanya akan menghasilkan pembenaran dan bukan kebenaran. Perasaan dapat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi tertentu yang kemudian memicu sisi adrenalinnya untuk larut kedalam pembenaran yang ada pada situasi tersebut.

Redupnya malam, khidmatnya suatu persembahan diatas altar Tuhan, bacaan sentimentil atas ayat-ayat dan cerita orang-orang shaleh yang menyentuh sisi-sisi kemanusiawian hingga tangis tertumpah, haru menyeruak merupakan contoh-contoh cara melarutkan perasaan dan egoisme kita pada pembenaran.

Siapapun orangnya, entah dia kyiai hebat dari tanah Mekkah yang fasih berbahasa Arab dan hapal seluruh ayat dan hadis, entah dia adalah seorang paus dari Vatican yang merupakan orang nomor satu didunia Katolik atau entah juga dia adalah seorang pengemis dijalanan yang kelaparan dan sibuk mencari sesuap nasi … mereka semua mampu memberikan pembenaran-pembenaran kepada kita dengan cara mereka sendiri.

Tetapi saya yakin, tidak semua dari mereka mampu memberikan kebenaran yang melintasi pembenaran pada diri mereka untuk disampaikan kepada orang lain secara universal.

Parameter atau standar tertentu memang harus ada akan tetapi saya selalu yakin bila parameter yang ditetapkanpun bukan bersifat exclusive yang berpusat pada diri satu orang tertentu yang dijadikan sumber kebenaran. Dalam hal ini misalnya harus selalu ada pada sosok sang Budha, harus ada pada sosok sang Yesus atau harus ada pada sosok seorang Muhammad.

Parameter kebenaran tertinggi harus ada dan berpusat pada Tuhan itu sendiri dan bukan pada makhluk.

Islam tidak memberhentikan klaim kebenarannya pada sosok seorang Muhammad semata, tetapi Islam mengakui kebenaran pada orang-orang sebelum beliau tanpa ada pembedaan sedikitpun, bahkan Islam juga memberi ruang pada kebenaran yang ada pada diri orang-orang sesudahnya dalam bentuk mujaddid, rabbani atau keluarga Nabinya.

Islam tidak membatasi kebenaran hanya tertumbuk pada metode jaman batu yang sudah ketinggalan akan tetapi Islam juga memberikan kebenaran terhadap semua bentuk eksploitasi kemajuan ilmu dan teknologi guna mengantarkan orang pada jalan-jalan Tuhan. Karena memang jalan untuk sampai kepada Tuhan sangatlah banyak. Kita bisa belajar tidak hanya dari kitab suci, kita bisa belajar dari semua apa yang ada dihadapan kita termasuk dari diskusi ini, dari suatu cerpen, dari suatu tayangan ditelevisi, bioskop atau bahkan dari makhluk bersel satu dan virus yang hanya bisa dilihat melalui penerawangan ilmu kedokteran.

Intinya adalah iman itu merupakan sesuatu yang ilmiah dan dapat dicerna, bukan sesuatu yang bersifat misterius apalagi membingungkan akal. Surga dan neraka adalah konsekwensi dari keberimanan kita tadi. Tuhan tidak mungkin mewahyukan sesuatu yang sifatnya memporak-porandakan kehebatan akal yang Dia jadikan jembatan dalam memahami eksistensi-Nya.

Jadi apakah seseorang memilih untuk eksodus dari agama awalnya selaku murtadin atau sebagai seorang mualaf, itu semua buat saya adalah kembali lagi pada sejauh mana akalnya mampu dikembangkan serta dioptimalkan guna memahami kebenaran.

Sehingga poin akhir dari tanggapan saya ini, tidak ada bedanya antara orang yang mengklaim bertemu dengan yesus ataupun kuntilanak, bertemu dengan khidr atau dengan maria. Semuanya abstrak dan ghaib yang tidak bisa menjadi sandaran kebenaran terhadap suatu dogma kepercayaan iman.

Maaf jika tidak berkenan.,


Salamun ‘ala manittaba al Huda

ARMANSYAH


Advertisements

One Response

  1. […] 15. Pengalaman mistis tidak menjadi argumen kebenaran atas kebenaran atas sebuah keyakinan […]

Tinggalkan komentar anda ...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: