Hisab sebuah kemutlakan dalam penentuan Ramadhan dan aplikasi kalendarisasi lainnya


Hisab sebuah kemutlakan dalam penentuan Ramadhan dan
aplikasi kalendarisasi lainnya
Oleh : Armansyah

Setiap pengambilan artikel ini, repost atau mencuplik kedalam tulisan yang akan dimuat kepada publik, baik berbentuk koran, buku, majalah, blog, facebook dan sebagainya harap mencantumkan alamat sumber blog ini.

Al-Qur’an yang mulia mempergunakan dua istilah untuk menyebut “bulan”, yaitu Qomar dan Syahr.

Dalam bahasa Inggris, Qomar sama dengan Moon (bulan secara phisik atau bulan dalam makna satelit bumi) sementara Syahr sama dengan Month (bulan dalam makna hasil perhitungan alias hisab yang identik dengan bulan kalendar).

Dalam surah al-An’am ayat 96 dan Yunus ayat 5 berikut, Allah mempergunakan istilah Qomar yang selanjutnya bisa menjadi acuan perhitungan dalam penentuan waktu alias kalendarisasi (dengan bahasa lain, Qomar ditranformasikan menjadi Syahr).

فَالِقُ الإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَناً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَاناً ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

faaliqu al-ishbaahi waja’ala allayla sakanan waalsysyamsa waalqamara husbaanan dzaalika taqdiiru al’aziizi al’aliimi

Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاء وَالْقَمَرَ نُوراً وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُواْ عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللّهُ ذَلِكَ إِلاَّ بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

huwa alladzii ja’ala alsysyamsa dhiyaa-an waalqamara nuuran waqaddarahu manaazila lita’lamuu ‘adada alssiniina waalhisaaba maa khalaqa allaahu dzaalika illaa bialhaqqi yufashshilu al-aayaati liqawmin ya’lamuuna

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

Bagi sementara orang, aplikasi hisab dianggap bertentangan dengan sunnah Rasul dan buru-buru menisbatkannya pada perbuatan bid’ah dan pelakunya merupakan orang yang sesat.

Argumentasi mereka adalah sebagai berikut :

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسِبُ ,الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا

Sesungguhnya kami adalah umat ummiyah. Kami tidak mengenal kitabah (tulis-menulis)[Maksudnya, dulu kitabah (tulis-menulis) amatlah jarang ditemukan. (Lihat Fathul Bari, 4/127)] dan tidak pula mengenal hisab[Yang dimaksud hisab di sini adalah hisab dalam ilmu nujum (perbintangan) dan ilmu tas-yir (astronomi). (Lihat Fathul Bari, 4/127)]. Bulan itu seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 29) dan seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 30).”[HR. Bukhari no. 1913 dan Muslim no. 1080, dari ‘Abdullah bin ‘Umar.]

Berpuasalah kalian karena melihatnya, berbukalah kalian karena melihatnya dan sembelihlah kurban karena melihatnya pula. Jika -hilal- itu tertutup dari pandangan kalian, sempurnakanlah menjadi tiga puluh hari, jika ada dua orang saksi, berpuasa dan berbukalah kalian.”[ HR. An Nasai no. 2116. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih] Dalam hadits ini dipersyaratkan dua orang saksi ketika melihat hilal Ramadhan dan Syawal. Namun untuk hilal Ramadhan cukup dengan satu saksi karena hadits ini dikhususkan dengan hadits Ibnu ‘Umar yang telah lewat.(Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/ 92.]

Berdasar harfiah hadis diatas maka bagi orang-orang yang jumud ini maka kalau Nabi sudah bersabda jika tertutup awan saja kita disuruh menggenapinya menjadi 30 koq, bukan dihitung,  bagi mereka buat apa ada hadits digenapin bulannya menjadi 30 kalau tidak terlihat? jika kita malah menghitungnya, och… sudah kelihatan dengan derajat sekian sekian, kapan menggenapinya menjadi 30 kalau dihitung harusnya kelihatan 🙂

Saya pribadi, Armansyah, melihat kasus ini seperti hadis tentang berimaman shalat :

Dari Abu hurairah, sesungguhnya Rasulullah Saw setelah selesai mengerjakan Sholat yang ia keraskan bacaannya, lalu bertanya : ‘Apakah tadi ada seseorang diantara kamu yang membaca bersama aku ? ‘ – maka berkatalah seseorang : ‘Betul, ya Rasulullah ! kemudian Nabi bertanya : ‘Mengapa aku dilawan dengan al-Qur’an ?’ – Riwayat Abu Daud, Nasai dan Tirmidzi

Artinya apa, kita seolah memposisikan hadis melawan al-Qur’an.
Ulama mana saja yang tsiqah pasti akan menyatakan tidak mungkin Nabi bertentangan dengan al-Qur’an, apapun adanya keputusan dan kebijakan yang beliau ambil pastinya merujuk kedalam al-Qur’an atau wahyu yang diturunkan oleh Allah. Meskipun dalam hal derajat, hadis ada dibawah al-Qur’an yang artinya mengikuti al-Qur’an adalah lebih utama dari pada mengikuti hadis, namun saya tidak akan membawa masalah ini pada kasus konfrontasi yang demikian.

Ada sebuah ucapan yang dinisbatkan pada Imam Ali bin Abu Thalib berkaitan dengan hadis-hadis yang tersebar.

Sesungguhnya hadis-hadis yang beredar dikalangan orang banyak, ada yang haq dan ada yang batil.; Yang benar dan yang bohong.; Yang nasikh dan yang mansukh, yang berlaku umum dan khusus. Yang muhkam dan yang mutasyabih. Adakalanya ucapan-ucapan Rasulullah Saw itu memiliki arti dua segi, yaitu ucapan yang bersifat khusus dan yang bersifat umum.

Maka sebagian orang mendengarnya sedangkan ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Rasulullah Saw. Lalu sipendengar membawanya dan menyiarkannya tanpa benar-benar memahami apa artinya, apa yang dimaksud dan mengapa ia diucapkan. Dan tidak semua sahabat Rasulullah Saw mampu bertanya dan minta penjelasan dari Beliau. Sampai-sampai seringkali merasa senang bila seorang Badui atau pendatang baru bertanya kepada Beliau, karena merekapun dapat mendengar penjelasan beliau. (Lihat : Mutiara Nahjul Balaghah, terjemahan Muhammad al-Baqir, Syarh oleh Muhammad Abduh, Hal 31-32, terbitan Mizan 1999)

Beranjak dari petunjuk dari Imam Ali bin Abu Thalib diatas, maka mari kita  dengan pikiran terbuka dan penuh dengan argumentasi ilmiah, mencoba menelisik lebih jauh permasalahan ini.

Ilmu perbintangan sendiri memang merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang paling banyak diselewengkan oknum-oknum tertentu untuk mencari keuntungan pribadi dengan mencampurkannya dengan hal yang klenik dan irrasional. Padahal ilmu ini adalah salah satu cabang dari ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang luar angkasa, sehingga banyak kaum agamawan justru memandangnya sebagai sesuatu yang negatip. Adanya pengetahuan manusia mengenai ilmu perbintangan tidak disangkal oleh kitab suci al-Qur’an :

Dan Dialah yang telah menjadikan bagi kamu beberapa bintang untuk menjadi pedoman didalam kegelapan didarat dan dilautan. Lalu Kami jelaskan tanda-tanda Kami bagi orang-orang yang mengetahuinya. (QS AL-An’am (6) :97)

Dan Dia jadikan tanda-tanda melalui bintang sehingga mereka mendapatkan petunjuk. (QS AN-Nahl (16):16)

Bintang secara umum adalah benda angkasa yang memancarkan cahaya kala malam tiba. Dengan mempelajari letak dan posisi bintang-bintang tersebut manusia bisa memperoleh petunjuk arah yang menyelamatkannya dari kesesatan perjalanan atau juga menerapkan penanggalan tertentu. Manakala ada sekelompok orang yang menunjuk benda-benda angkasa sebagai ramalan terhadap sebuah peristiwa atau menyangkut nasib seseorang maka akhirnya Nabi secara tegas bersabda :

Sesungguhnya manusia menganggap gerhana matahari dan gerhana bulan dan lenyapnya bintang-bintang dari kedudukannya karena matinya orang-orang besar dari penduduk bumi, sungguh mereka telah berbohong ! sebenarnya semua itu adalah ayat-ayat kekuasaan Allah, supaya para hamba-Nya bisa mengambil pelajaran dengan melihat fenomena itu dan diantara mereka ada yang melakukan instropeksi diri (pertobatan). (HR. Abu Daud)

Dan kamu jadikan rezki kamu dan syukur kamu dengan mendustakan pernyataan bahwa kita telah diberi hujan oleh kedudukan bulan ini dan bulan itu serta bintang ini dan bintang itu. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari Ali bin Abu Thalib).

Jelas bahwa ilmu perbintangan tidak boleh dijadikan ilmu meramal nasib seseorang, apalagi bila kita pelajari bagaimana sesungguhnya logo-logo zodiak seperti Scorpio, Leo, Libra, Pisces dan sebagainya itu diciptakan dengan memaksakan keterhubungan antara bintang yang satu dengan bintang lainnya melalui sebuah garis maya (garis khayalan) padahal sesungguhnya mereka sama sekali berjauhan dan tidak nampak berhubungan sebagaimana yang sering digambarkan.

Dimasa lalu, hisab bisa jadi hanya berkisar hitung-hitungan diatas kertas semata sebab memang sarana untuk menjangkau penentuan posisi bulan, matahari dan benda langit lainnya dengan tingkat ketelitian atau akurasi hasil perhitungan yang dihasilkan belum memadai. Kemajuan peradaban dimasa hidup kita sekarang seyogyanya sudah mengantarkan pada satu kaidah mutlak, dimana apa-apa yang bisa dimanfaatkan guna mencapai tujuan pewahyuan al-Qur’an ditengah masyarakat menyangkut kemaslahatan tidak dapat lagi ditolak dengan dasar argumentasi klasik bila perbuatan itu belum pernah dilakukan oleh Nabi Saw.

Proses hisab cenderung tidak akan terhalang oleh adanya perubahan cuaca yang fluktuatif yang dapat membatasi pandangan mata saat pengamatan. Fakta dilapangan menunjukkan bila metode hisab ini digunakan banyak orang dalam kegiatan sehari-harinya sehubungan penentuan waktu shalat maupun waktu sahur dan berbuka puasa.

Sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berkaitan dengan penentuan bulan baru pada masanya yang merujuk pada visualisasi secara lahiriah bila kita lihat secara jujur dan pikiran terbuka (open minded) sama sekali tidak bertentangan dengan penetapan untuk hal yang sama dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan hasil kemajuan teknologi modern.

“Sesungguhnya kami ini umat yang ummi, tidak pandai menulis dan tidak pandai menghitung perjalanan bulan, bulan itu ada yang begini, begini dan begini, dikurangi beliau dengan ibu jari pada kali yang ketiga (29) dan bulan itu ada yang begini, begini dan begini (30)”. (HR Muslim dari Ibnu Umar)

Hadis diatas bisa kita lihat sebagai sebuah pengakuan yang jujur dari pribadi Nabi Muhammad Saw mengenai status peradaban umatnya saat itu. Dimana mereka disebutkan tidak pandai dalam hal ilmu pengetahuan (termasuk baca, tulis dan menghitung). Jadi, jika ternyata umat beliau sekarang ini sudah lebih pandai dalam hal tersebut ketimbang umat dimasa lalu, maka seyogyanyalah kepandaian ini dipergunakan dalam kerangka menetapkan apa-apa yang sebelumnya sering menjadi keraguan akibat keterbatasan yang ada.

Hadis tersebut menjadi parameter lain untuk kita bila Nabi Muhammad Saw secara tidak langsung mengakui adanya metode lain diluar dari apa yang biasa beliau dan umatnya gunakan untuk penentuan bulan baru. Memang tidak menutup kemungkinan bahwa dimasa Nabi Saw hidup, ada orang-orang tertentu yang bisa melakukan proses penghitungan bulan atau merukyat bil’ilmi, akan tetapi karena cara dan bentuk kepastian dari metode ini belum bisa disebut akurat akibat keterbatasan kondisi peradaban dimasa itu maka Nabi Saw belum menggunakan metode seperti ini.

Masalah ini erat kaitannya dengan situasi dan kondisi masyarakat pada waktu itu, yakni mereka pada umumnya tidak dapat menulis dan menghitung. Ini berarti jika kondisi yang disebutkan dalam hadits tersebut tidak ditemukan lagi, maka tidak ada keharusan melakukan rukyat dan sebagai alternatifnya adalah kebolehan melakukan hisab. Jadi, ke-ummi-an umat merupakan ‘illat dari perintah ditetapkannya rukyat. Dengan demikian, yang menjadi al-ashl adalah rukyat  yang secara jelas telah ditetapkan oleh nash hadis.

Kemudian obyek yang akan ditentukan hukumnya adalah status hisab, karena penetapan hisab secara eksplisit memang tidak ditegaskan oleh nash hadis tersebut. Oleh karena itu, hisab berposisi sebagai al-far’u dalam kasus ini. Sedangkan yang menjadi hukm al-ashl adalah keharusan melakukan rukyat dalam menentukan bulan baru. Lebih jauh mungkin perlu dipertegas juga bahwa ‘illat (sebab) selalu berjalan bersama ma’lul (musabab) dalam keberadaannya maupun ketiadaannya. Hal ini berarti untuk kasus kita diatas, apabila umat Islam telah keluar dari kondisinya yang ummi dan telah mampu menulis dan berhitung, maka dangan sendirinya hisab dapat diberlakukan.

Hal ini selaras pula dengan apa yang disampaikan oleh Bapak M. Hasbi Ash Shiddieqy dalam bukunya “Pedoman Puasa”, terbitan Bulan Bintang Djakarta 1960 halaman 53 :

“Perintah berpuasa sesudah melihat bulan dengan mata kepala adalah : Lil Irsyad bukan Lil Idjab yaitu melihat bulan dengan mata kepala hanyalah salah satu jalan memulai puasa tetapi bukan satu-satunya jalan. Ini hanya jalan yang ditempuh oleh umat yang belum pandai berhisab. Karenanya sangat menggelikan hati kalau orang berpuasa yang fanatik kepada lahir perintah, terus menetapkan bahwa dialah (rukyat bil fi’li) satu-satunya jalan buat memulai puasa”.

Didalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim serta Imam Ahmad yang bersumber kepada Ibnu Umar disebutkan bila Nabi Saw bersabda, “Sebenarnya bulan itu dua puluh sembilan hari, maka janganlah kamu berpuasa sampai kamu melihat bulan dan janganlah kamu berbuka sampai kamu melihatnya. Jika mendung, “kadarkanlah” olehmu atasnya (Fa in ghumma ‘alaykum faqdurulah)”.

Imam Nawawi (1983, juz 7, hal. 190) mengatakan bila umumnya hadis-hadis tersebut diatas membagi pemahaman tentang perlunya melihat hilal (bulan sabit) bagi orang yang akan berpuasa maupun mengakhirinya (yaitu berhari raya). Adapun menyangkut bilangan bulan yang disebut didalam hadis, yakni 29 hari, ini menurutnya berlaku dalam kondisi cuaca yang baik. Sementara dalam kondisi yang tidak baik karena tidak memungkinkan melihat hilal, maka tetap saja puasanya harus disempurnakan menjadi tiga puluh hari. 

M. Hasbi Ash Shiddieqy masih dalam buku yang sama (hal. 49) menyatakan bahwa ulama berbeda pendapat dalam mengartikan perkataan faqdiru atau “perkirakanlah”. Jumhur ulama dari madzhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i berpendapat bahwa artinya sempurnakan menjadi 30 hari sebagaimana riwayat dalam hadis lain dari Muslim yang berbunyi “Faqduru lahu tsalatsina” atau “kadarkanlah untuknya 30 hari”, sementara yang lainnya berpendapat pergunakanlah hisab.

Menurut Ibn Suraij, Muthrab Ibn Abdillah, Ibnu Qutaibah dan lain-lain sebagainya, maksud dari kata tersebut adalah mereka mengukurnya dengan suatu hitungan yang berdasar manzilah-manzilah (lintasan orbitnya). Istilah faqdiru sendiri bisa diartikan sebagai ukuran sesuatu. Kata ini memiliki makna yang sama dengan kata taqdir, yang merupakan derivasi dari kata kerja qaddara yang artinya menetapkan batas atau kadar tertentu. Arti seperti ini dapat dijumpai dalam al-Qur’an surat al-Mursalat ayat 23, dalam konteks penciptaan manusia, yaitu: “Lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan”

Kesempurnaan iman dan kedalaman pengahayatan keagamaan seseorang adalah berbanding lurus dengan pemahaman rasionalnya terhadap ajaran-ajaran agama. Mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah dalam kaitannya berjalan diatas manhaj salaf as-Shalih sama sekali tidak membuat kita menolak cara-cara baru yang lebih memiliki nilai kebaikan dan kepastian ilmu untuk menyelami maksud-maksud nash keagamaan. Manusia membutuhkan rasionalisasi dalam semua aspek kehidupannya, termasuk dalam doktrin-doktrin keimanannya, karena akal dan rasio adalah hakikat dan substansi manusia, keduanya mustahil dapat dipisahkan dari wujud manusia, bahkan manusia menjadi manusia karena akal dan rasio. Tolak ukur kesempurnaan manusia adalah akal dan pemahaman rasional.

Akal merupakan hakikat manusia dan karenanya agama diturunkan kepada umat manusia untuk menyempurnakan hakikat dirinya. Dengan demikian maka kalau keputusan orang-orang yang menyatakan metode hisab atau rukyat bil’ilmi itu haram dan tercela sebagai hujjah penentu awal bulan baru bagi penanggalan Hijriyah khususnya lagi dalam kaitannya penentuan tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawal, maka mereka seharusnya tidak pula setuju dan ikut dalam hal penetapan waktu sholat setiap harinya, ataupun penentuan waktu imsak dibulan Ramadhan. Mengapa dalam urusan menetapkan permulaan puasa dan hari raya kita berkeras harus melihat wujud bulan secara lahiriah dengan mata kepala ? Sementara diluarnya kita justru mengandalkan penglihatan berdasarkan ilmu?

Pada jaman kehidupan Nabi Muhammad Saw, oleh beliau orang diberi pimpinan bahwa waktu dzuhur adalah ketika kedudukan matahari telah tergelincir (sehingga telah membentuk bayangan) dan waktu ashar adalah ketika panjangan bayangan sama dengan panjang benda, dan demikian seterusnya sampai Ashar, waktu maghrib, semuanya dengan ukuran melihat matahari. Pada waktu Isya diarahkan kepada para sahabat agar melihat hilangnya tanda merah ditepi langit hingga tengah malam begitupun pada waktu subuh orang supaya melihat terbit fajar sampai hampir terbit matahari.

Dari Jabir bin Abdullah meriwayatkan “ Malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw  lalu berkata: “Marilah sholat”. Lalu ia melakukan solat dzuhur di waktu matahari telah condong (tergelincir). Kemudian Jibril datang kepada Nabi di waktu Asar lalu berkata: “Marilah sholat”. Lalu ia solat Asar di waktu bayangan tiap-tiap sesuatu jadi sama panjangnya dengan keadaan dirinya. Kemudian Jibril datang kepada Nabi Saw di waktu maghrib lalu berkata: “ Marilah Sholat” lalu ia solat Maghrib di waktu matahari telah masuk (terbenam).

Kemudian Jibril datang kepada Nabi Saw di waktu Isya lalu berkata: “Marilah Sholat”. Lalu ia sholat Isya lalu berkata; “ Marilah sholat”. Lalu ia sholat Isya di waktu telah hilang tanda merah – di tempat matahari terbenam. Kemudian Jibril datang kepada Nabi Saw di waktu fajar lalu berkata: “Marilah sholat” Lalu ia sholat Fajar (subuh) di waktu fajar telah terbit. Kemudian Jibril datang kepada Nabi Saw pada esok harinya lagi di waktu dzuhur lalu berkata: “Marilah solat”.

Lalu ia solat dzuhur, di waktu bayangan tiap-tiap sesuatu itu jadi sama panjangnya dengan keadaan dirinya. Kemudian Jibril datang kepada Nabi Saw di waktu Asar lalu berkata: “Marilah sholat”. Lalu ia sholat di waktu Asar, di waktu bayangan tiap-tiap sesuatu itu jadi dua kali panjang daripada dirinya. Kemudian Jibril datang kepada Nabi Saw di waktu maghrib yang sama waktunya dengan kemarin, lalu ia sholat maghrib. Kemudian jibril datang kepada Nabi Saw di waktu Isya, sehabis tengah malam, lalu berkata: “marilah sholat”. Lalu ia sholat Isya. Kemudian Jibril datang kepada Nabi pada waktu telah terang cuaca (sebelum terbit matahari). Lalu berkata: “Marilah sholat”. Lalu ia sholat fajar. Kemudian Jibril berkata: Antara dua waktu itulah waktu bagi tiap-tiap sholat.” (HR. Ahmad, Tarmizi, Nasa’I, Ibnu Hibban dan Hakim)


Demikian juga menyangkut berbuka puasa pada setiap harinya, orang diberi tuntunan supaya melihat tanda tenggelamnya matahari, dan waktu imsak sehabis makan sahur orang supaya melihat terbitnya fajar sebagaimana dinyatakan dengan jelas didalam al-Qur’an pada surah Al-Baqarah ayat 187, “Wakuluu wa(i)syrabuu hattaa yatabayyana lakumu (a)lkhaythu (a)l-abyadhu mina (a)lkhaythi (a)l-aswadi mina (a)lfajri … dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar”.

Nyatanya, dijaman kita sekarang ini hampir bisa dipastikan bila semua orang Islam telah menunaikan sholatnya tidak lagi melihat kedudukan matahari begitupun mengakhiri waktu sahurnya berdasarkan jadwal yang telah ada dan dicetak melalui brosur, surat kabar, papan pengumuman dan lain sebagainya yang semua itu merupakan hasil perhisaban. Mari bersama ini, saya, Armansyah, mengajak setiap diri, khususnya yang mengharamkan hisab agar melakukan introspeksi. Masihkah diri kita mengikuti tuntunan Allah dan Nabi seperti yang kita sampaikan itu ?

Orang dijaman sekarang sudah lebih banyak mengikuti keputusan atau penetapan ahli hisab dimana mereka mengatur ketentuan waktu sholat, waktu berbuka dan berimsak setiap hari melalui jam, jadwal, program  komputer semacam “shollu” dan sebagainya. Oleh karena itu, jika diantara kita masih banyak yang bersikeras bahwa penetapan untuk awal puasa dan awal syawal harus dengan ru’yat bil fi’li alias melihat visual bulan secara langsung, maka penulis mengusulkan hendaknya mereka dalam mengerjakan sholat yang lima waktu setiap hari atau berbuka puasa dan berimsak harus benar-benar melihat matahari dan sebagainya sebagaimana diterangkan sebelumnya sebagai hal yang dicontohkan dan diperintahkan oleh Nabi. Ini agar kita tidak pincang dalam berpikir dan konsisten dengan apa yang dipermasalahkan.


Sekarang kita akan coba mempersempit masalah dengan mengabaikan perdebatan tentang hisab dan rukyat (bil fi’li) dan kita membahas tentang adanya kesaksian sejumlah orang yang melakukan pengamatan terhadap hilal secara langsung pada tempat-tempat tertentu. Pada praktek dilapangan, seringkali kesaksian-kesaksian individu tersebut ditolak oleh pihak yang berkuasa hanya karena dalam kalendar yang berlaku dan sudah terlanjur beredar dimasyarakat tertulis hari raya baru jatuh pada hari lusa dan bukan esok hari. Kita tidak akan membahas mengenai pengaruh adanya perubahan kebijakan pemerintah terhadap kondisi politik serta perekonomian negara, karena memang ketetapan agama harusnya dinomor satukan dari semua kepentingan yang ada.

Kitab hadis “Nailul Authar” yang berisi kumpulan hadis-hadis hukum dari Nabi Saw hasil jerih payah Asy-Syaukani dari kitab Al-muntaqa Ibnu Taimiyah memuat secara khusus masalah kesaksian atas hilal ini (saya mempergunakan Terjemahan Nailul Authar : Himpunan Hadits-Hadits Hukum, Penerbit PT. Bina Ilmu). Kita bisa melakukan introspeksi diri kita sendiri dari hadis-hadis tersebut, apakah tindakan yang dilakukan oleh pemerintah sudah melanggar ataukah memang sudah benar dalam mengikuti ketetapan Nabi Muhammad Saw mengenai hal ini. Dari sini kita bisa pula mengoreksi tentang sikap kita yang mengaminkan atau juga melakukan pembangkangan pada keputusan pemerintah (serta ulama-ulama yang menyarankan untuk mengikutinya).

Dari Umar, ia berkata : Orang-orang pada melihat bulan, lalu aku memberitahu Rasulullah Saw bahwa akupun melihatnya. Lalu ia berpuasa dan menyuruh orang-orang supaya berpuasa. (HR. Abu Daud dan Daraquthni. Tetapi Daraquthni berkata : Marwan bin Muhammad menyendiri dengan hadis ini dari Abu Wahab, sedang dia adalah kepercayaan).

Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata : Ada seorang Badui datang ketempat Nabi Saw, lalu ia mengatakan : Sungguh aku melihat bulan. Kemudian Nabi bertanya : “Apakah engkau percaya bahwa Tiada Tuhan selain Allah ?” Ia menjawab : “Ya”. Lalu Nabi bertanya lagi : “Apakah engkau juga percaya, bahwa sesungguhnya Muhammad utusan Allah ?” Ia menjawab : “Ya”. Lalu Nabi menyuruh Bilal : “Hai Bilal, beritahukanlah kepada manusia, supaya mereka besok berpuasa”. (HR. Imam yang lima, kecuali Ahmad).

Dan Abu Daud meriwayatkan juga dari hadis Hammad bin Salamah dari Simaak dari Ikrimah secara mursal (tanpa menyebut nama sahabat), semakna dengan itu, dan ia berkata : Lalu Nabi menyuruh Bilal, kemudian Bilal menyeru pada manusia : “Hendaklah mereka sholat tarawih dan berpuasa”

Dari Rib’I bin Hirasy, dari seorang laki-laki dari sahabat Nabi, ia berkata : Orang-orang berselisih tentang akhir Ramadhan, lalu datanglah dua orang Badui kemudian mereka bersumpah dihadapan Nabi Saw bahwa bulan Syawal telah nampak kemarin sore, lalu Rasulullah Saw menyuruh orang-orang agar berhari raya fithri. (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Dari Abdurrahman bin Zaid bin Khattab, sesungguhnya dia berkhutbah pada hari yang ia ragu-ragu padanya sebagai berikut : Ketahuilah, bahwa aku adalah berkawan dengan sahabat-sahabat Rasulullah Saw dan pernah bertanya kepada mereka, lalu merekapun menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda sebagai berikut : “Berpuasalah kalian karena melihat bulan dan berhari rayalah kalian karena melihat bulan, dan beribadahlah kalian karena melihat bulan. Kemudian jika bulan itu terdinding awan maka genapkanlah tiga puluh hari. Tetapi jika ada dua saksi muslim yang melihatnya maka berpuasalah kalian dan berhari rayalah”. (HR. Ahmad dan Nasa’i, tetapi Nasa’I tidak menyebutkan kata-kata “muslim” pada teks “dua saksi”).

Dari Amir Mekkah, Al-Harits bin Hathib, ia berkata : Rasulullah Saw memerintahkan kita supaya beribadah karena melihat bulan. Tetapi jika kita tidak melihatnya sedang ada dua orang saksi adil yang menyaksikan bulan tersebut, maka kita pun beribadah lantaran kesaksian dua saksi tersebut. (HR. Abu Daud dan Daraquthni, Daraquthni berkata sanadnya bersambung dan shahih).

Syarah dari kitab Nailul Authar menjelaskan bahwa dua hadis yang menyebutkan “manusia melihat bulan” menunjukkan kesaksian seseorang atas datangnya hilal Ramadhan bisa diterima. Inilah pendapatnya Ibnu Mubarak, Ahmad bin Hambal serta Imam Syafe’I dalam salah satu dari dua pendapatnya. Imam Nawawi sendiri berkata : “Itulah pendapat yang lebih benar.” Akan halnya pendapat dari Imam Malik serta sejumlah Imam sunan lainnya bahwa kesaksian seseorang tidak dapat diterima kecuali dua orang adalah mengandung pengertian tidak diterimanya seorang saksi karena semata-mata paham dari apa yang tersirat, sedang yang tersurat dalam hadis tersebut adalah diterimanya seorang saksi.

Sekali lagi bila kita mengabaikan perselisihan tentang jumlah satu atau dua orang saksi yang melihat hilal dimalam dua puluh sembilan, maka adanya kesaksian untuk itu secara nash keagamaan sudah memenuhi syarat untuk menentukan awal bulan yang baru. Bila kemudian pemerintah mengabaikan kesaksian tersebut dan bersikukuh dengan pendapatnya bahwa umat baru boleh berhari raya pada lusa harinya, berarti pemerintah sudah berseberangan dengan nash-nash hukum keagamaan. Sebagai seorang muslim, maka kita juga sudah memiliki tuntunan dari Rasul yang sebelumnya dijadikan hujjah dari kelompok pertama,

“Kewajiban seorang muslim adalah mendengar dan taat dalam melakukan perintah yang disukai ataupun yang tidak disukai, kecuali bila diperintahkan melakukan maksiat. Bila dia diperintah melakukan maksiat, maka tidak ada kewajiban untuk mendengar serta taat” (HR. Muslim)

Maksiat yang kita coba kaitkan disini adalah mengajak kepada jalan selain jalan Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana hal ini disampaikan oleh Imam Ali bin Abi Thalib, “Tidak ada ketaatan kepada seorang makhluk yang dapat dibenarkan jika hal itu berupa perbuatan maksiat terhadap al-Khaliq” (Silahkan baca: Mutiara Nahjul Balaghah, Muhammad Al-Baqir, Penerbit Mizan, 1999, Hal. 130).

Persatuan umat bukan menjadi alasan untuk mengabaikan nash-nash agama yang telah pasti kecuali bila memang untuk melakukannya dibatasi oleh situasi dan kondisi (misalnya seperti dalam masa Orde Baru). Adapun makna dari Ulil Amri pada surah an-Nisa ayat 59, memang oleh mayoritas ulama dinyatakan sebagai pemerintah yang berkuasa. Ahli Mufassir terkemuka bernama Imam Fakhruddin Razi yang menulis kitab “Mafatihul Gaib” (w. 1228 M) mengartikan Ulil Amri sebagai Ahli Ijmak (orang-orang yang kesepakatannya menjadi hukum yang harus ditaati).

Imam Naisaburi serta Muhammad Abduh memahaminya sebagai Ahli Halli wal’aqdi (orang-orang yang mempunyai hak kekuasaan untuk membuka dan mengikat yang setiap keputusannya mengikat seluruh negara dan wajib ditaati oleh seluruh umat), Silahkan baca : Z.A. Ahmad, Konsepsi Tatanegara Islam, Penerbit Pustaka Ilmu, 1949, hal. 51-52.

Apapun defenisi yang diberikan untuk istilah Ulil Amri tersebut, penulis disini ingin menekankan bila cara kerja Ulil Amri yang terdapat dalam surah An-Nisa ayat 59 harusnya juga mengacu pada lanjutan ayat tersebut, “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama dan lebih baik akibatnya”. Sabda Nabi Saw pula, “Hendaklah kamu mengikuti dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk dimasa setelah aku”. (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Jadi kita tetap punya parameter yang tegas bahwa kepatuhan pada penguasa adalah selama mereka juga mengembalikan pengaturan hak rakyatnya yang muslim kepada tuntunan Allah dan Rasul. Al-Qur’an disisi lain memberikan petunjuk bila jumlah orang tidaklah menentukan nilai kebenaran yang mereka serukan (suara mayoritas tidak selalu berarti suara kebenaran) :

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al-An’am (6) :116)

Adapun makna Al-Jama’ah dimana menurut Imam Ahmad bin Hanbal dengan perkataannya “Tangan Allah Swt bersama Al-Jama’ah”, secara lughat berarti kumpulan, himpunan atau persatuan. Salah seorang sahabat Nabi bernama Ibnu Mas’ud diriwayatkan pernah berkata kepada Amr bin Maimun : “Al-Jama’ah adalah apa-apa yang bersesuaian dengan kebenaran walaupun engkau sendirian”. Dikesempatan lain, beliau juga berkata, “Jama’ah itu adalah apa-apa yang bersesuaian dengan ketaatan pada Allah Azza Wajalla” (Baca: H. Moenawar Chalil, Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, Penerbit Bulan Bintang, 1969 hal. 395) .

Imam Alipun diriwayatkan berkata, “Jama’ah itu, demi Allah, adalah kumpulan orang-orang ahli kebenaran walaupun mereka itu sedikit” (sumber: Idem hal. 396).

Jadi al-Jama’ah itu bisa dimaknai sebagai kebersatuan dengan nilai-nilai kebenaran. Dalam hal ini adalah kumpulan satu atau lebih orang yang taat pada Allah. Sesuai firman Allah :

Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkanmu pada satu hal, yaitu supaya kamu menghadap Allah berdua-dua atau sendiri-sendiri”. (QS. Saba (34) :46)

Nabi Muhammad Saw disinyalir telah bersabda dalam satu hadis dengan status dhaif (lemah), “Sesungguhnya umatku tidak berkumpul diatas kesesatan. Maka dari itu bila kamu melihat perselisihan maka hendaklah kamu Sawadul-A’zham”. (HR. Ibnu Majah dari Anas bin Malik, kedhaifan hadis ini disebabkan salah satu perawinya bernama Hazim bin ‘Atha yang dianggap lemah oleh sebagian ahli hadis, sebagaimana kata Imam Al-Iraqy). Istilah Sawadul-A’zham pada hadis diatas sering dinisbatkan pada al-Jama’ah, sebagaimana ini dilakukan oleh ahli hadis dan fiqih terkenal bernama Imam Sofyan ats-Tsauri (w. 161 H) serta Imam Ishaq bin Rahawaih. Penafsiran tersebut tidak menyalahi lahiriah hadis tersebut yang intinya adalah untuk selalu memegang pihak yang benar, walaupun jumlahnya sedikit.

Permasalahan hisab dan rukyat pada dasarnya sudah terlalu sering dibahas di ruang-ruang diskusi Islam. Baik yang melibatkan para ahli dibidang Astronomi, pakar keagamaan, ormas-ormas Islam sampai orang awam dengan pengetahuannya yang terbatas. Akan tetapi sampai hari ini –setidaknya ketika tulisan ini dibuat—belum tercapai kesepakatan mengenai penyatuan kalendarisasi Islam secara Internasional ataupun secara nasional. Banyak faktor kepentingan yang melatar belakangi terwujudnya rasionaliasi kalendar hijriyah tersebut.

Seringkali faktor-faktor tadi justru hanya berkesan untuk mempertahankan keortodokan pola pikir kita atas argumentasi-argumentasi usang yang mestinya sudah harus diperbaharui sesuai semangat jaman. Celakanya usaha kearah tersebut sangat panjang dan berliku. Para pengagum status quo yang diperkuat oleh penguasa saling tarik menarik terhadap kaum pembaharu yang menyerukan terbentuknya kesepakatan dalam hal ini melalui sudut pandang ilmiah.

Perintah Rasulullah Saw untuk merukyat hilal pada intinya adalah supaya kaum muslimin mengetahui datangnya bulan baru secara yakin. Dengan perkembangan dan kemajuan dibidang ilmu pengetahuan serta teknologi yang ada pada jaman kita sekarang, datangnya bulan baru pada hakekatnya sudah bisa diprediksi dengan tingkat akurasinya yang jauh lebih tinggi ketimbang menggunakan cara-cara rukyat konvensional.  Bahkan, setiap pergerakan bulan atau matahari sampai siklus terjadinya gerhana-gerhana tertentu sudah dapat kita prediksi secara tepat meskipun kejadian tersebut baru akan terjadi pada lima atau puluhan tahun dari sekarang.

Selama ini sebagian besar dari kita cenderung mengabaikan akal untuk memahami agamanya. Padahal kita tidak melanggar pernyataan Allah bahwa kita harus menggunakan akal dalam memahami ayat-ayatNya. Berbicara masalah ayat-ayat Allah, maka wahyu Allah itu ada yang tertulis langsung menjadi kitab suci seperti al-Qur’an yang kita imani sekarang dan ada pula wahyu yang bersifat tidak tertulis, dan ini justru lebih banyak dari apa yang sudah tertulis, itulah alam semesta dan isinya yang juga disebut sebagai Ayatullah.

Sehingga seberapa jauh kebenaran penganalisaan suatu kaum terhadap wahyu tak tertulis ini bisa dikembalikan lagi kepada seberapa jauh sudah metode dan teknologi yang digunakan untuk membacanya.

Fakta, keberhasilan suatu metode dijaman baru ini sangat terbuka lebar untuk pembuktian validitasnya dari berbagai sisi, apalagi disini khususnya kita berbicara masalah penentuan Hilal dengan metode hisab Astronomi yang memanfaatkan semua unsur kemajuan teknologi dibidang angkasa luar dimana pengetahuan manusia tidak hanya masih sebatas pada pengenalan wujud bulan dan sistematika peredarannya saja tetapi bahkan sudah mampu menginjakkan kakinya kesana dan sudah mampu pula melakukan perjalanan keluar angkasa sebagai suatu perjalanan wisata, lebih jauh lagi, peradaban kita saat ini sudah pula mampu mengirim pesawat yang InsyaAllah bisa menembus batasan tata surya kita.

Anda pilih hisab atau ru’yah … terserah, kalau pertanyaan ini diajukan kesaya maka saya akan dengan tegas menjawab bila saya mengikuti hasil hisab bil’ilmi.


Tidak ada paksaan dalam berkeyakinan,.


Semua gambar copyright(c) Armansyah,
Dilarang mempergunakan gambar diatas untuk kepentingan komersial tanpa izin.
Untuk penyebaran tulisan ini secara luas diperbolehkan dengan mencantumkan sumber asal dan penulisnya.

Advertisements

Me, My dad and My Children.,

Me, My dad and My Children.,

By : Armansyah

Dad, it’s been a long time since you’ve been gone away …
I never thought I’d ever need someone as much as I need you
Everytime I think of you, I always catch my breath, and I’m still standing here while you are miles away on the way to heaven, you don’t know how desperate I’ve become and it’s look like I’m loosing this fight !

I know time will always heal the pain, but it’s the hardest things I’ve ever had to do …
It wasn’t very easy when you left, and now as I walk away, I won’t look back, I won’t break down what I was living for, I know it’s the things that you want me to do …. You’re the best thing in my life, Dad.

Everything about you now like fantasies right now, they’re not reality …. only a paintings in my mind, faded memories of another place and time we were happy as can be, I’ve been seeing the same visions night after night till the morning light.

Sometime, … I really miss you Dad, yes I do.
I want to spend the time with you if I could … and if I still have the time.
I want you teach me how to dreams and lean me when I’m down.

But, I know it will not be happen.
Time goes on and we step to the future just like Qur’an said :

For each community, there is a predetermined life span. Once their interim comes to an end, they cannot delay it by one hour, nor advance it. – Qs. 7 al-A’raf : 34

I do understand that life can’t be lived on one thing
For that one thing could be that something

Now, I have my own family.
I have children and wife.
I become a daddy like you,
I become a husband like you.

I do my best for them
I do all that I can do to fight for them
For their right to live, for their future

I realize that I become my children’s first and best teachers
Thanks for everything that you taught me Dad,
I love you so much and will always be.

My Lord, forgive me and my parents, and the believers, on the day when the reckoning takes place. – Qs. 14 Ibraahim : 41

My Lord, direct me to appreciate the blessings You have bestowed upon me and upon my parents, and to do the righteous works that please You. Let my children be righteous as well. I have repented to You; I am a submitter. -Qs. 46 al-Ahqaaf :15

My children, Sultan Daffa, Masayu Haura and Masayu Khanza.,
I do know that when I am myselfish or inconsiderate, when I mistreat my wife or closefriends, when I cut corners or fail to control my tempers, you as children will learn from that.

When I was a young, just like you, I thought life was all about me.
Everyone must follow my rules whatever it was.

All I did was only about how I’d make my way in the world, become successful, and get the things I want
But now, I have you.

Three of you came into my life with all your curiosity and mischief and those smiles that never fail to fill my heart and light up my day. You are everything in my life. I will teach you how to pray and how to live. I will teach you everything that I know.

I’ll show you the way to a better day
You will look what I have done
To all the people, to our country and sure to our faith

I hope one day, you will remember me as I remember my daddy.
I wish, you can proud of me.

Life is not easy at all
There are many war in this world
But the most war you must care is come from your self

No matter what, you are my children
I’ll cover you as I can
I’ll be by your side …
I will be in your heart, mind and pray

Goodluck next generations.,

I love you.,

Armansyah

SUNNI-SYIAH DALAM TINJAUAN

SUNNI-SYIAH DALAM TINJAUAN
Oleh : Armansyah

[Tulisan ini dikirim ke milis_iqra@googlegroups.com | note on facebook | arsiparmansyah.wordpress.com]

Kita harus bisa bersikap arif dan bijak dalam memahami nash keagamaan yang ada. Kita harus mampu menembus batas pikiran yang menyumbat kejujuran kita dalam hidup beragama. We are pilot in our life and mind. Kita adalah nahkoda dari hidup serta pikiran kita. Setiap dari kita pasti memiliki dua keyakinan, yaitu keyakinan lama dan keyakinan baru. Mari kita analisa ulang keyakinan lama tersebut, sebab bisa jadi tidak benar dan harus diluruskan. Pikiran manusia pada dasarnya sangat luas, holistik dan universal. Tanpa ada sekat atau pengkotakan. Seiring perjalanan waktu, timbullah kotak-kotak yang diakibatkan ketidak arifnya kita menyikapi apa yang terlihat dan apa yang terbaca, baik secara tekstual atau kontekstual. Semakin banyak kota-kotak tadi maka akan semakin sempit cara kita memahami sebuah kejadian. Akhirnya kita bersifat tertutup terhadap informasi baru yang berseberangan.

Kita harus selalu Iqra (belajar). Bukan sembarang belajar tetapi belajar yang menghasilkan kesadaran, awareness ! Memang Islam sudah terpecah kedalam banyak madzhab dimasa lalu dan madzhab-madzhab itulah yang kadangkala menjadikan kita bersikap fanatis, ekstreme, taklid serta tertutup dari dunia luar. Kita butuh madzhab baru dizaman sekarang, madzhab itu adalah seperti yang diucapkan oleh almarhum Buya Hamka sebagai madzhab kesadaran, madzhab kebangunan, madzhab tahu akan harga diri dan madzhab menguburkan segala perselisihan tetek bengek, lalu bersama-sama menuju kepada satu tujuan, yaitu mengembalikan kemuliaan Islam.

sikap ego centris of mind yang hinggap pada kebanyakan kita tentang isu-isu sentral antara Sunni dan Syi’ah bisa diminimalisir. Sudah bukan saatnya lagi kita meributkan isyu-isyu primadorial seperti itu. Kita juga tidak perlu mewariskan pertentangan tersebut untuk dibahas oleh generasi mendatang. Mari kita memulai langkah tersebut dari sekarang. Melalui sejumlah pembelajaran yang jujur, kita akan dapat saling memahami latar belakang pemikiran kelompok Islam Ahlus-Sunnah atau Syi’ah -dalam kasus ini- sebagai pijakan sikap mereka berkaitan dengan sejumlah gagasan permasalahan agama. Raihlah penyelesaian konflik tersebut dengan segenap kemampuan yang ada pada kita sekarang ini. Kuncinya adalah berpegang pada sikap yang obyektif dan pada prinsip cinta dan benci karena Allah. Kita hormati semua sahabat serta para keluarga Rasulullah namun bagaimanapun kita harus tetap meletakkan rasa hormat itu dibawah ketentuan kitab suci, meletakkannya pada posisi yang memang seharusnya. Itulah yang adil.

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (fakta) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. (QS. An-Nisaa [4] :135)

Imam Ali bin Abu Thalib pernah berkata :
Manusia itu ada tiga macam : Rabbani yang berilmu atau orang yang senantiasa belajar dan selalu berusaha agar berada dijalan keselamatan atau orang-orang awam yang bodoh dan picik, yang mengikuti semua suara – yang benar maupun yang batil -bergoyang bersama setiap angin yang menghembus, tiada bersuluh dengan cahaya ilmu dan tiada melindungkan diri dengan pegangan yang kukuh-kuat.
Ilmu adalah lebih utama daripada harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan kau harus menjaga hartamu. Harta akan berkurang bila kau nafkahkan, sedangkan ilmu bertambah subur bila kau nafkahkan. Demikian pula budi yang ditimbulkan dengan harta akan hilang dengan hilangnya harta. Makrifat ilmu seperti juga agama, merupakan pegangan hidup terbaik. Dengannya orang akan beroleh ketaatan dan penghormatan sepanjang hidupnya serta nama harum setelah wafatnya, ilmu adalah hakim dan harta adalah sesuatu yang dihakimi. Kaum penumpuk harta-benda telah mati dimasa hidupnya, sedangkan orang-orang yang berilmu tetap hidup sepanjang masa. Sosok tubuh mereka telah hilang, namun kenangan kepada mereka tetap dihati.
(Sumber : Mutiara Nahjul Balaghah : Wacana dan surat-surat Imam Ali R.a, Penerbit Mizan, 1999, Pasal 13 : Nasehat untuk Kumail bin Ziyad an-Nakha’y, Hal. 35 s/d 37)

Semoga pula kecenderungan kita terhadap pembenaran diri sendiri dan menolak kebenaran lain diluar diri kita, tidak menjerumuskan pada sejarah bangsa Israel sepanjang masa. Mereka selalu berharap dan menantikan kehadiran sosok messias yang diramalkan oleh Nabi-nabi mereka, akan tetapi mereka membutakan matanya setelah messias tersebut hadir hanya karena ketidaksepahamannya dengan kelompok diluar komunitasnya.

Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat (yang lain).Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), (QS. Faathir [35] :42)

Sunni adalah kependekan dari Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah atau Ahlus-Sunnah wal Jama’ah atau kadang juga lebih sering disingkat Ahlul-Sunnah saja. Istilah ini memiliki pengertian sebagai kumpulan dari orang-orang yang menganut sunnah Nabi Muhammad Saw seperti yang sudah dilakukan oleh kelompok para sahabat dimasa lalu. Dalam prosesnya, istilah tersebut identik dengan manhaj atau madzhab para sahabat Rasul.

Syiah berarti pembela.
Dalam hal ini maksudnya adalah pembela keluarga atau Ahli Bait Nabi Muhammad.
Ini mengacu pada sekelompok orang yang menjadikan dirinya selaku pembela para keluarga Nabi Muhammad dari dinasti Fatimah dan Ali bin Abi Thalib atas kezaliman dinasti Muawiyah.

Pada proses perjalanan waktu, kelompok ini membentuk madzhab atau komunitas tersendiri. Sama seperti halnya kaum Sunni. Mereka justru membuat agama menjadi parsial, sesuai dengan kelompok mereka masing-masing.

Sunni dan Syiah, tidak ada yang salah dengan kedua istilah tersebut, Syiah dan Sunni merupakan istilah yang terbentuk setelah ajaran Islam selesai diwahyukan, keduanya pada dasarnya merupakan polarisasi pemahaman yang berawal dari pemilihan pemimpin umat Islam pasca kematian Nabi yang akhirnya meluas sampai pada tingkat penyelewengan dimasing-masing pemahaman oleh generasi-generasi sesudahnya.
Sudah sampai saatnya masing-masing kita melakukan koreksi diri terhadap apa yang selama ini terdoktrinisasi, bahwa pelurusan sejarah serta pentaklidan buta sudah saatnya dilakukan.
Isyu perpecahan didalam Islam memang bukan hal yang baru dan rasanya ini sesuatu yang wajar karena setiap orang bisa memahami ajaran Islam dari sudut pandang keilmuan yang berbeda, apalagi Islam mencakup pengajaran semua bangsa dan daerah yang masing-masingnya memiliki corak budaya, tradisi serta situasi yang beraneka ragam sebagai salah satu sifat universalismenya.

Semua perbedaan tersebut seharusnya tidak dijadikan sekat dalam mengembangkan rasa kebersaudaraan dan toleransi beragama, sebagaimana sabda Nabi sendiri bahwa umat Islam itu bagaikan satu tubuh, semuanya bersaudara yang diikat oleh tali Tauhid, pengakuan ketiadaan Tuhan selain Allah, Tuhan yang satu, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan dalam berbagai bentuk, penafsiran serta sifat apapun.
Karenanya kecenderungan untuk menghakimi pemahaman yang berbeda dari apa yang kita pahami apalagi sampai melekatkan label kekafiran atasnya sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang disampaikan oleh Allah melalui nabi-Nya.

“Barangsiapa bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah, menghadap kiblat kita, mengerjakan Sholat kita dan memakan hasil sembelihan kita, maka ia adalah seorang Muslim. Baginya berlaku hak dan kewajiban yang sama sebagai Muslim lainnya.” – Riwayat Bukhari

Maraknya ajaran-ajaran sesat yang terjadi diberbagai belahan dunia akhir-akhir ini memang sewajarnya membuat umat Islam merasa prihatin, terlebih lagi mereka yang menggunakan nama dan tata cara Islam sebagai topeng yang menutupi kesesatannya. ; Akan tetapi kita juga harus mampu bersikap objektif, berpikiran terbuka dan jernih menyikapinya, selama kita belum mengetahui secara jelas seberapa jauh penyimpangan yang dianggap sudah dilakukan oleh mereka maka selama itu pula hendaknya kita menahan diri dari komentar maupun tanggapan yang justru menimbulkan keresahan dimasyarakat.

Saya tidak terikat dengan organisasi keagamaan manapun atau juga madzhab apapun yang ada, secara plural saya menganggap semuanya mengajarkan kebaikan dan dari masing-masing kebaikan yang diajarkan itu saya memetik nilai-nilai kebenaran yang sesuai dengan nash kitab suci serta objektifitas berpikir.

Islam adalah satu, semuanya bersumber dari ajaran yang satu, yaitu Yang Maha Kuasa yang kemudian diturunkan kepada kita melalui salah seorang hamba terkasih-Nya bernama Muhammad bin Abdullah ditanah Arab pada abad ke-6 masehi.

Jika Islam adalah satu, maka umatnya pun adalah satu dan ini konsekwensi logis darinya, karena itu Nabi bersabda :

“Dari Miqdad bin ‘Amr ; ia pernah bertanya kepada Nabi : Bagaimana jika ia berperang dengan kaum kafir, lalu berkelahi dengan seorang diantaranya hingga tangannya terputus dan dalam satu kesempatan sang musuh berhasil dijatuhkan lalu saat akan dibunuhnya dia berseru “Aslamtu lillah” – aku Islam kepada Allah – namun masih dibunuhnya, apa jawab Nabi ?

– Jangan kau bunuh dia, jika kau bunuh dia maka sesungguhnya dia sudah berada dalam kedudukanmu sebelum engkau membunuhnya, yaitu seorang Muslim, sedangkan kamu berada dalam posisinya sebelum dia mengucapkan kalimat itu (yaitu kafir).; lalu dijawab oleh Miqdad bahwa pernyataan orang itu hanya untuk menghindari pembunuhan saja, jawab Nabi lagi, bahwa dirinya diutus Allah tidak untuk menghakimi hati seseorang.”

“Islam adalah kesaksian bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan pembenaran kepada Rasulullah Saw, atas dasar itulah nyawa manusia dijamin keselamatannya. Dan atas dasar itu juga berlangsung pernikahan dan pewarisan serta terbina kesatuan kaum Muslimin.” – Riwayat Sama’ah

“Nabi bersabda : bahwa Jibril datang kepada beliau dan mengabarkan tentang keutamaan seseorang yang meninggal dunia dalam keadaan bertauhid secara murni maka ia akan masuk syurga kendati ybs pernah berzina dan mencuri.” – Riwayat Bukhari dari Abu Dzar

Kita semua tahu bagaimana vitalnya posisi dan peranan Ali bin Abu Thalib dikehidupan Nabi dan putrinya Fatimah.
Sejak kecil, Nabi dibesarkan dalam lingkungan keluarga ayahnya dari suku Bani Hasyim yang merupakan salah satu keluarga terpandang dikalangan penduduk Mekkah saat itu. Ketika kakeknya Abdul Muthalib wafat, hak pengasuhan atas diri Nabi pindah ketangan pamannya yang bernama Abu Thalib, dari pamannya inilah Nabi belajar banyak hal mengenai perdagangan dan kejujuran hingga beliau dikenal sebagai al-Amin (orang yang terpercaya) sampai-sampai beliau dipercaya untuk membawa dan menjualkan dagangan sejumlah saudagar hingga kenegri Syam dan bertemu dengan Khadijjah yang kelak dinikahinya.
Dimasa awal turunnya wahyu, selain istrinya, orang kedua yang mengimani kenabiannya adalah Ali putra pamannya, Abu Thalib yang dengan beraninya mengumumkan keislamannya secara terbuka kepada keluarganya.

Dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Hidup Muhammad”, hal 89, Muhammad Husain Haekal menggambarkan pernyataan kesetiaan Ali terhadap Nabi sebagai berikut :
“Tuhan menjadikanku tanpa aku perlu berunding dengan Abu Thalib, apa gunanya aku harus berunding dengannya untuk menyembah Allah ?”; selanjutnya pada halaman 92 juga dituliskan pernyataan Ali yang lain : “Rasulullah, aku akan membantumu, aku adalah lawan siapa saja yang menentangmu”.

Meskipun demikian, Abu Thalib sendiri menurut riwayat tetap pada keyakinan lamanya sebagai penyembah berhala, bertolak belakang dengan sikap putranya. Namun perbedaan keyakinan antara mereka tidak membuat Abu Thalib melepaskan perlindungan dan kasih sayangnya pada diri Nabi, Ali dan Khadijjah, beliaulah yang sering melakukan pembelaan manakala ada pihak Quraisy yang bermaksud mencelakakannya dan ini terus dilakoninya sampai ia wafat.

Ali bin Abu Thalib telah ikut bersama Nabi semenjak usia anak-anak, jauh sebelum Nabi bertemu dengan para sahabat lainnya, karena itu juga mungkin beliau digelari Karamallahuwajhah (yaitu wajah yang disucikan Allah dari penyembahan berhala).

Allah sendiri melalui wahyu-Nya telah menekankan kepada Nabi agar terlebih dahulu menyerukan ajaran Islam kepada keluarga terdekatnya :

Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat, Limpahkanlah kasih sayang terhadap orang-orang beriman yang mengikutimu; Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah:”Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan”. – Qs. Asy-Syu’araa 26:214-216

Seruannya memang di-ikuti oleh keluarganya dimulai oleh Khadijjah istrinya, Ali bin Abu Thalib sepupu sekaligus menantunya kelak, paman sesusuannya, Hamzah bin Abdul Muthalib, Ja’far bin Abu Thalib dan pamannya Abbas bin Abdul Muthalib.

Olehnya tidak menjadi suatu kesangsian lagi bila Ali mengenal betul sifat dan watak yang ada pada diri Nabi sehingga tidak ada alasan baginya untuk menolak perintah maupun membantah keputusannya, terlebih dalam kapasitasnya selaku seorang Rasul Tuhan. ; Jelas dalam hal ini sikap Ali bin Abu Thalib tidak bisa disejajarkan dengan sikap beberapa sahabat yang kritis dan vokal terhadap beberapa pendapat Nabi, bisa dimaklumi bahwa notabene mereka mengenal Nabi tidak lebih lama dari Ali bin Abu Thalib selain juga ditentukan oleh faktor watak dan kondisi lain yang melatar belakanginya.

Dimalam hijrahnya ke Madinah, Nabi meminta Ali bin Abu Thalib menggantikan posisi tidurnya dipembaringan dengan mengenakan mantel hijaunya dari Hadzramut, menyongsong rencana pembunuhan yang sudah disusun oleh para kafir Quraisy yang saat itu berada disekitar kediaman Nabi.

Tindakan Nabi ini seolah mengisyaratkan bahwa beliau berkeinginan untuk menjadikan sepupunya itu pengganti dirinya dikala hidup dan mati.

Saat Nabi mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar dikota Madinah, Nabi sendiri justru mengangkat Ali bin Abu Thalib sebagai saudaranya (padahal keduanya sama-sama Muhajirin), berbeda misalnya dengan Abu Bakar yang disaudarakan dengan Kharija bin Zaid, Umar bin Khatab dengan ‘Itban bin Malik al-Khazraji, bahkan pamannya sendiri yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib dipersaudarakan dengan Zaid, mantan budaknya.
Persaudaraannya ini sering di-ingatkan oleh Nabi dalam hadis-hadisnya bahwa kedudukannya terhadap Ali laksana kedudukan Musa terhadap Harun (bukankah dalam al-Qur’an surah al-A’raaf 7 : 142 disebutkan bahwa Harun menjadi pengganti Musa tatkala beliau berangkat ke Sinai untuk mendapat wahyu ? )

Dari Sa’ad bin Abu Waqqas : “Rasulullah Saw mengatakan kepada Ali : Engkau dengan aku serupa dengan kedudukan Harun dengan Musa, tetapi sesungguhnya tidak ada Nabi sesudah aku” – Hadis Riwayat Muslim
Saat semua sahabat utamanya mengajukan lamaran untuk menyunting Fatimah sebagai istri mereka, Nabi menolaknya dan menikahkan putri tercintanya itu dengan Ali bin Abu Thalib.

Tatkala Hisyam bin Mughirah meminta izin kepada Nabi agar memperbolehkan mengawinkan anak perempuannya dengan Ali, Nabi juga menolaknya dan bersabda :

“Aku tidak mengizinkan, sekali lagi aku tidak mengizinkan dan sekali lagi aku tidak mengizinkannya kecuali bila Ali bin Abu Thalib mau menceraikan puteriku dan kawin dengan anak-anak perempuan Hisyam, karena sesungguhnya, puteriku darah dagingku, menyusahkanku apa yang menyusahkannya dan menyakitkanku apa saja yang menyakitkannya” – Riwayat Muslim

Ali juga merupakan satu-satunya orang yang diserahi panji Islam dalam peperangan Khaibar oleh Nabi yang menurut beliau bahwa panji itu hanya layak bagi laki-laki yang benar-benar mencintai Allah dan Rasul-Nya lalu ditangannya Allah akan memberikan kemenangan.; Padahal Umar bin Khatab sangat berambisi agar tugas itu diserahkan kepadanya. (Riwayat Muslim dan Bukhari)

Saat akan terjadi Mubahalah antara Nabi dengan para pendeta dari Najran, beliau memanggil Ali, Fatimah serta kedua cucunya yaitu Hasan dan Husin untuk mendampinginya baru para istri beliau (ini ditegaskan juga dalam surah 3 Ali Imron ayat 61 yang mendahulukan penyebutan anak-anak Nabi dari istri-istrinya, ditambah riwayat dari Imam Muslim bahwa saat itu Nabi menunjuk Ali, Fatimah, Hasan dan Husin sebagai keluarganya).

Dalam haji terakhirnya disuatu daerah bernama ghadir khum, beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi sempat menyinggung tentang regenerasi kepemimpinan umat sepeninggal beliau dan mengumumkan Ali sebagai penerusnya.; dan memperingatkan kaum Muslimin agar memperhatikan keluarga beliau sepeninggalnya kelak, ucapan ini sampai diulangnya sebanyak 3 kali, dan Zaid bin Arkam menyatakan bahwa yang dimaksud oleh Nabi adalah keluarga Ali, ‘Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga ‘Abbas. – Riwayat Muslim

Menjelang akhir hayatnya, Nabi menugaskan sebagian besar sahabat utamanya termasuk Abu Bakar dan Umar kedalam satu ekspedisi ke daerah Ubna, suatu tempat di Syiria dibawah komando Usamah bin Zaid bin Haritsah, sementara Ali sendiri diminta untuk tetap menemani hari-hari terakhirnya dikota Madinah serta memberinya wasiat agar mau mengurus jenasah dan pemakamannya bila waktunya tiba.
Ini juga tersirat tentang keinginan Nabi menjadikan dan memantapkan posisi Ali sebagai pengganti beliau memimpin umat, dijauhkannya para sahabat senior lain dari kota Madinah agar ketika mereka kembali tidak akan terjadi keributan seputar suksesi kepemimpinan.

Hanya sayang rencana Nabi kandas karena sebagian sahabat senior merasa enggan berada dalam komando Usamah bin Zaid yang masih relatif remaja sampai Nabi marah dan mempertanyakan kredebilitas dirinya dihadapan mereka mengenai penunjukan Usamah itu.

Pada akhirnya kehendak Nabi harus mengalah dengan kehendak Tuhan yang sudah mentakdirkan jalan lain, tidak ubah seperti keinginan Isa al-Masih agar cawan penyaliban dihindarkan darinya namun Tuhan tetap menginginkan semuanya terjadi sesuai mau-Nya.

Nabi wafat dipelukan Ali setelah membisikkan kepada Fatimah agar tidak bersedih sepeninggalnya karena dalam waktu tidak berapa lama setelah kematiannya, putrinya itupun akan menyusulnya.
Ali juga yang memandikan jenasah Nabi bersama Ibnu Abbas dan mengurus pemakamannya, saat yang sama sekelompok orang disaat itu malah meributkan suksesi kepemimpinan dan akhirnya menobatkan Abu Bakar selaku Khalifah penerus Nabi dalam memimpin umat serta melupakan semua peran dan posisi Ali dihadapan Nabi.

Inilah awal dari isyu perpecahan ditubuh Islam, sebagai bentuk protes terhadap perbuatan mereka ini, Ali, Fatimah dan sejumlah sahabat lainnya menolak mengakui kepemimpinan Abu Bakar, lebih-lebih lagi setelah sang Khalifah menolak memberikan tanah Fadak yang diwariskan Nabi kepada Fatimah hasil rampasan perang Khaibar.; Padahal semua orang tahu, bahwa menyakiti Fatimah sama seperti menyakiti Nabi, namun mereka mengabaikannya hingga akhirnya Fatimah wafat dalam keadaan tetap mendiamkan Abu Bakar dan menolak berbaiat kepada pemerintahannya.

Ali bin Abu Thalib memakamkan jenasah istrinya disuatu tempat pada malam harinya secara diam-diam dan hanya dihadiri oleh para simpatisan dan pengikut mereka karena tidak ingin dihadiri oleh pihak yang berseberangan dengannya.

Menyangkut perseteruan antara Ahli Bait dalam hal ini adalah Fatimah dan Ali bin Abi Thalib dengan Abu Bakar, maka untuk perbandingan yang jujur, saya coba hadirkan nilai-nilai kebenaran sejarah tersebut dengan menggunakan literatur yang dipercayai oleh kelompok sunni ( Ahli sunnah wal Jamaah ).

Dalam hal ini saya langsung merujuk ke Shahih Bukhari yang dianggap paling otentik dibanding yang lainnya …

Shahih ini saya nukilkan dari the Hadith Software versi 1.0 dengan modul database Shahi Bukhari yang bisa anda download dari situs http://www.islamasoft.co.uk/downloads.html
Hadis masih dalam bahasa inggris ( sesuai softwarenya ) sengaja tidak saya terjemahkan agar lebih menambah obyektifitas literatur yang saya bawa …saya juga sengaja memberikan referensi online softwarenya agar anda yang penasaran bisa melakukan cross check sendiri atas apa yang saya tuliskan disini.

Shahi Bukhari Vol 4, Book 53. One-fifth Of Booty To The Cause Of All…. Hadith 325.
Narrated By ‘Aisha: (Mother of the believers) After the death of Allah ‘s Apostle FATIMA the daughter of Allah’s Apostle asked Abu Bakr As-Siddiq to give her, her share of inheritance from what Allah’s Apostle had left of the Fai (i.e. booty gained without fighting) which Allah had given him. Abu Bakr said to her, “Allah’s Apostle said, ‘Our property will not be inherited, whatever we (i.e. prophets) leave is Sadaqa (to be used for charity).” FATIMA, the daughter of Allah’s Apostle got angry and stopped speaking to Abu Bakr, and continued assuming that attitude till she died. FATIMA remained alive for six months after the death of Allah’s Apostle.
Shahi Bukhari Vol 5, Book 59. Military Expeditions Led By The Prophe…. Hadith 546.

Narrated By ‘Aisha: FATIMA the daughter of the Prophet sent someone to Abu Bakr (when he was a caliph), asking for her inheritance of what Allah’s Apostle had left of the property bestowed on him by Allah from the Fai (i.e. booty gained without fighting) in Medina, and Fadak, and what remained of the Khumus of the Khaibar booty. On that, Abu Bakr said, “Allah’s Apostle said, “Our property is not inherited. Whatever we leave, is Sadaqa, but the family of (the Prophet) Muhammad can eat of this property.’ By Allah, I will not make any change in the state of the Sadaqa of Allah’s Apostle and will leave it as it was during the lifetime of Allah’s Apostle, and will dispose of it as Allah’s Apostle used to do.”

So Abu Bakr refused to give anything of that to FATIMA. So she became angry with Abu Bakr and kept away from him, and did not task to him till she died. She remained alive for six months after the death of the Prophet. When she died, her husband ‘Ali, buried her at night without informing Abu Bakr and he said the funeral prayer by himself.
Padahal … apa yang disabdakan oleh Nabi untuk puterinya itu ?
Shahi Bukhari Vol 5, Book 57. Companions Of The Prophet. Hadith 061.

Narrated By Al-Miswar bin Makhrama: Allah’s Apostle said, “FATIMA is a part of me, and he who makes her angry, makes me angry.”
Shahi Bukhari Vol 5, Book 57. Companions Of The Prophet. Hadith 111.

Narrated By Al-Miswar bin Makhrama: Allah’s Apostle said, “FATIMA is a part of me, and whoever makes her angry, makes me angry.”
Conclusion : Saat Abu Bakar telah membuat Fatimah menjadi marah dan kecewa bahkan hingga beliau wafat tidak mau berbaiat dan menolak melakukan komunikasi apapun dengan Abu Bakar dan kelompoknya …. lebih jauh lagi dari hadis diatas puteri kesayangan Nabi inipun seolah tidak rela jasad tak bernyawanya dilihat oleh Abu Bakar dan disholatkan oleh beliau ….. sungguh mereka sudah terkena apa yang disabdakan oleh Nabi … dalam hadis Bukhari no 061 dan 111 diatas.

Fatimah adalah bagian dari diri Rasul, siapapun yang membuatnya murka maka sesungguhnya orang itu telah membuat Rasul murka. Ada diantara anda yang mau mendapat murka Rasul ?
Orang yang telah sampai hati bersikap seperti ini sama artinya telah durhaka kepada Rasul, sebab telah melanggar apa yang beliau katakan.
Artinya apa ?

Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah:”Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan”. -Qs. 26:216

Menarik, ada hadis lainnya :
Shahi Bukhari Vol 6, Book 60. Prophetic Commentary On The Qur’an (Ta…. Hadith 149.

Narrated By Ibn Abbas: Allah’s Apostle delivered a sermon and said, “O people! You will be gathered before Allah bare-footed, naked and not circumcised.” Then (quoting Quran) he said: “As We began the first creation, We shall repeat it. A promise We have undertaken: Truly we shall do it…” (21.104)

The Prophet then said, “The first of the human beings to be dressed on the Day of Resurrection, will be Abraham. Lo! Some men from MY FOLLOWERs will be brought and then (the angels) will drive them to the left side (Hell-Fire). I will say. ‘O my Lord! (They are) my companions!’ Then a reply will come (from Almighty), ‘You do not know what they did after you.’ I will say as the pious slave (the Prophet Jesus) said: And I was a witness over them while I dwelt amongst them. When You took me up. You were the Watcher over them and You are a Witness to all things.’ (5.117) Then it will be said, “These people have continued to be apostates since you left them.”

Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. -Qs. an-Nisa’ 4:14

Wallau’alam … kembali lagi kepada anda masing-masing bagaimana memahami hal ini.
Bagaimana sekarang dengan kisah keributan di Saqifah seputar pemilihan Abu Bakar ?
Bukhari bercerita … dalam Vol 9, Book 88. Afflictions And The End Of The World. Hadith 227.
allegiance was given, are to be supported, lest they both should be killed.

And no doubt after the death of the Prophet we were informed that the Ansar disagreed with us and gathered in the shed of Bani Sa’da. ‘Ali and Zubair and whoever was with them, opposed us, while the emigrants gathered with Abu Bakr. I said to Abu Bakr, ‘Let’s go to these Ansari brothers of ours.’ So we set out seeking them, and when we approached them, two pious men of theirs met us and informed us of the final decision of the Ansar, and said, ‘O group of Muhajirin (emigrants) ! Where are you going?’ We replied, ‘We are going to these Ansari brothers of ours.’ They said to us, ‘You shouldn’t go near them.
Carry out whatever we have already decided.’ I said, ‘By Allah, we will go to them.’ And so we proceeded until we reached them at the shed of Bani Sa’da. Behold! There was a man sitting amongst them and wrapped in something. I asked, ‘Who is that man?’ They said, ‘He is Sa’d bin ‘Ubada.’ I asked, ‘What is wrong with him?’ They said, ‘He is sick.’

After we sat for a while, the Ansar’s speaker said, ‘None has the right to be worshipped but Allah,’ and praising Allah as He deserved, he added, ‘To proceed, we are Allah’s Ansar (helpers) and the majority of the Muslim army, while you, the emigrants, are a small group and some people among you came with the
intention of preventing us from practicing this matter (of caliphate) and depriving us of it.’

When the speaker had finished, I intended to speak as I had prepared a speech which I liked and which I wanted to deliver in the presence of Abu Bakr, and I used to avoid provoking him. So, when I wanted to speak, Abu Bakr said, ‘Wait a while.’ I disliked to make him angry. So Abu Bakr himself gave a speech, and he was wiser and more patient than I. By Allah, he never missed a sentence that I liked in my own prepared speech, but he said the like of it or better than it spontaneously. After a pause he said, ‘O Ansar! You deserve all (the qualities that you have attributed to yourselves, but this question (of Caliphate) is only for the Quraish as they are the best of the Arabs as regards descent and home, and I am pleased to suggest that you choose either of these two men, so take the OATH OF ALLEGIANCE to either of them as you wish. And then Abu Bakr held my hand and Abu Ubada bin Abdullah’s hand who was sitting amongst us.

I hated nothing of what he had said except that proposal, for by Allah, I would rather have my neck chopped off as expiator for a sin than become the ruler of a nation, one of whose members is Abu Bakr, unless at the time of my death my own-self suggests something I don’t feel at present.’

And then one of the Ansar said, ‘I am the pillar on which the camel with a skin disease (eczema) rubs itself to satisfy the itching (i.e., I am a noble), and I am as a high class palm tree! O Quraish. There should be one ruler from us and one from you.’

Then there was a hue and cry among the gathering and their voices rose so that I was afraid there might be great disagreement, so I said, ‘O Abu Bakr! Hold your hand out.’ He held his hand out and I pledged allegiance to him, and then all the emigrants gave the Pledge of allegiance and so did the Ansar afterwards. And so we became victorious over Sa’d bin Ubada (whom Al-Ansar wanted to make a ruler). One of the Ansar said, ‘You have killed Sa’d bin Ubada.’ I replied, ‘Allah has killed Sa’d bin Ubada.’ Umar added, “By Allah, apart from the great tragedy that had happened to us (i.e. the death of the Prophet), there was no greater problem than the allegiance pledged to Abu Bakr because we were afraid that if we left the people, they might give the Pledge of allegiance after us to one of their men, in which case we would have given them our consent for something against our real wish, or would have opposed them and caused great trouble. So if any person gives the Pledge of allegiance to somebody (to become a Caliph) without consulting the other Muslims, then the one he has selected should not be granted allegiance, lest both of them should be killed.”

Ternyata dari literatur Sunni paling otentik pro dan kontra pemilihan Abu Bakar sebagai Khalifah dan juga kerusuhan antar sahabat dihari wafatnya Rasul memang terbukti ada …. ini selaras dengan apa yang kita lihat dalam sumber-sumber Syiah.

Manakala keadaan Madinah semakin memanas, dan beberapa pihak berusaha menghasut terjadinya peperangan antara pihak Ali dan Abu Bakar, sebuah keputusan berdamai diambil oleh Ali demi menjaga persatuan umat dan terciptanya kedamaian.

“Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah). – Qs. al-Ahzaab 33:6

Berikut sambungan dari hadis Shahi Bukhari Vol 5, Book 59. Military Expeditions Led By The Prophe…. Hadith 546.

When FATIMA was alive, the people used to respect ‘Ali much, but after her death, ‘Ali noticed a change in the people’s attitude towards him. So Ali sought reconciliation with Abu Bakr and gave him an oath of allegiance. ‘Ali had not given the oath of allegiance during those months (i.e. the period between the Prophet’s death and FATIMA’s death). ‘Ali sent someone to Abu Bakr saying, “Come to us, but let nobody come with you,” as he disliked that ‘Umar should come, ‘Umar said (to Abu Bakr), “No, by Allah, you shall not enter upon them alone ” Abu Bakr said, “What do you think they will do to me? By Allah, I will go to them’ So Abu Bakr entered upon them, and then ‘Ali uttered Tashah-hud and said (to Abu Bakr), “We know well your superiority and what Allah has given you, and we are not jealous of the good what Allah has bestowed upon you, but you did not consult us in the question of the rule and we thought that we have got a right in it because of our near relationship to Allah’s Apostle.”

Thereupon Abu Bakr’s eyes flowed with tears. And when Abu Bakr spoke, he said, “By Him in Whose Hand my soul is to keep good relations with the relatives of Allah’s Apostle is dearer to me than to keep good relations with my own relatives. But as for the trouble which arose between me and you about his property, I will do my best to spend it according to what is good, and will not leave any rule or regulation which I saw Allah’s Apostle following, in disposing of it, but I will follow.” On that ‘Ali said to Abu Bakr, “I promise to give you the oath of allegiance in this after noon.” So when Abu Bakr had offered the Zuhr prayer, he ascended the pulpit and uttered the Tashah-hud and then mentioned the story of ‘Ali and his failure to give the oath of allegiance, and excused him, accepting what excuses he had offered; Then ‘Ali (got up) and praying (to Allah) for forgiveness, he uttered Tashah-hud, praised Abu Bakr’s right, and said, that he had not done what he had done because of jealousy of Abu Bakr or as a protest of that Allah had favored him with. ‘Ali added, “But we used to consider that we too had some right in this affair (of rulership) and that he (i.e. Abu Bakr) did not consult us in this matter, and therefore caused us to feel sorry.” On that all the Muslims became happy and said, “You have done the right thing.” The Muslims then became friendly with ‘Ali as he returned to what the people had done (i.e. giving the oath of allegiance to Abu Bakr).

Yah, itulah sikap bijak Ahli Bait Nabi … sebuah keteladanan yang paripurna sebagai buah dari didikan sang guru yang mendapat bimbingan Allah sang empunya semesta alam ini.
sebuah riwayat dari Umar bin Abdul Aziz yang juga berhubungan dengan kasus ini dan sebuah hadis lain dari Abu Daud yang memperlihatkan betapa kasihnya Rasul terhadap diri Fatimah puterinya itu :
Abu Dawud Book 13. Tribute, Spoils, and Rulership. Hadith 2966.

Narrated By Umar ibn Abdul Aziz: Al-Mughirah (ibn Shu’bah) said: Umar ibn AbdulAziz gathered the family of Marwan when he was made caliph, and he said: Fadak belonged to the Apostle of Allah (pbuh), and he made contributions from it, showing repeated kindness to the poor of the Banu Hashim from it, and supplying from it the cost of marriage for those who were unmarried. FATIMAH asked him to give it to her, but he refused.

That is how matters stood during the lifetime of the Apostle of Allah (pbuh) till he passed on (i.e. died). When AbuBakr was made ruler he administered it as the Prophet (pbuh) had done in his lifetime till he passed on. Then when Umar ibn al-Khattab was made ruler he administered it as they had done till he passed on. Then it was given to Marwan as a fief, and it afterwards came to Umar ibn AbdulAziz. Umar ibn AbdulAziz said: I consider I have no right to something which the Apostle of Allah (pbuh) refused to FATIMAH, and I call you to witness that I have restored it to its former condition; meaning in the time of the Apostle of Allah (pbuh).
Abu Dawud Book 28. Combing the Hair. Hadith 4201.

Narrated By Thawban: When the Apostle of Allah (pbuh) went on a journey, the last member of his family he saw was FATIMAH, and the first he visited on his return was FATIMAH. Once when he returned from an expedition she had hung up a hair-cloth, or a curtain, at her door, and adorned al-Hasan and al-Husayn with silver bracelets. So when he arrived, he did not enter. Thinking that he had been prevented from entering by what he had seen, she tore down the curtain, unfastened the bracelets from the boys and cut them off.

They went weeping to the Apostle of Allah (pbuh), and when he had taken them from them, he said: Take this to so and so’s family. Thawban. In Medina, these are my family, and I did not like them to enjoy their good things in the present life. Buy FATIMAH a necklace or asb, Thawban, and two ivory bracelets.

Kondisi ini terus berlangsung hingga wafatnya Umar bin Khatab dan turunnya kredibelitas Usman bin Affan selaku Khalifah ke-3 akibat ulah para keluarganya yang tamak dan haus kekuasaan.
Keterbunuhan Usman bin Affan dan pengangkatan dirinya sebagai Amirul Mukminin membangkitkan dendam lama Quraisy terhadap Bani Hasyim keturunan Nabi, walaupun berakhir dengan baik dan terhormat, tidak urung pertempuran Jamal yang dipimpin langsung oleh ‘Aisyah istri Nabi merupakan awal yang bagus untuk dimanfaatkan oleh Muawiah bin Abu Sofyan dalam mengobarkan pemberontakan terhadap otoritas kepemimpinan Ali.

Ali akhirnya terbunuh dimasjid Kufah akibat tusukan pedang beracun milik salah seorang dari kelompok Khawarij bernama Abdurahman bin Muljam pada suatu Jum’at pagi dan menghembuskan nafas terakhirnya pada malam Ahad 21 Ramadhan 40 H.

Setelah kematian Ali bin Abu Thalib, Hasan puteranya tertua diangkat oleh sekelompok besar sahabat Nabi selaku Khalifah pengganti. Namun lagi-lagi Muawiyah tidak senang dan terus mengobarkan semangat permusuhan dengan Ali dan keturunannya, orang dipaksa untuk mencaci maki keluarga Nabi itu sejahat-jahatnya bahkan termasuk dalam mimbar-mimbar Jum’at.

Kenyataan ini jelas semakin memperdalam kehancuran persatuan umat Islam, suatu ironi yang tidak dapat dihindarkan, betapa dengan susah payah Nabi menggalang satu tatanan kehidupan masyarakat yang madani dengan mengorbankan air mata dan tetesan darah para syuhada harus hancur dihadapan cucu beliau sendiri.

Akhirnya Hasan bin Ali memutuskan untuk berdamai dengan Muawiyah dan menyerahkan tampuk kekuasaan Khalifah kepadanya demi untuk menghindarkan jurang yang lebih dalam lagi dikalangan umat Islam dengan beberapa persyaratan perjanjian.

Beberapa isi dari perjanjian itu adalah pemerintahan Muawiyah akan menjalankan pemerintahan berdasarkan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, menjaga persatuan umat, menyejahterakannya, melindungi kepentingannya, tidak membalas dendam kepada anak-anak yang orang tuanya gugur didalam berperang dengan Muawiyah juga tidak mengganggu seluruh keluarga Nabi Muhammad Saw baik secara terang-terangan maupun tersembunyi dan menghentikan caci maki terhadap para Ahli Bait ini serta tidak mempergunakan gelar “Amirul Mukminin” sebagaimana pernah disandang oleh Khalifah Umar bin Khatab dan Khalifah Ali bin Abu Thalib.

Akan tetapi selang beberapa saat sesudah Muawiyah diakui sebagai Khalifah, dia mulai melanggar isi perjanjian tersebut, orang-orang yang dianggap mendukung keluarga Nabi diculik dan dibunuh, perbendaharaan kas baitul mal Kufah disalah gunakan, caci maki terhadap keturunan Nabi dari Fatimah kembali dibangkitkan malah lebih parah lagi mereka memaksa orang untuk memutuskan hubungan dengan ahli Bait Nabi.
Tidak hanya sebatas itu, beberapa hukum agama yang diatur oleh Nabi Muhammad Saw pun dirombak oleh Muawiyah, misalnya Sholat hari raya mempergunakan azan, khotbah lebih didahulukan daripada sholat, laki-laki diperbolehkan memakai pakaian sutera dan sebagainya.

Mereka juga membuat pernyataan-pernyataan yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad Saw dan beberapa sahabat utama yang sebenarnya tidak pernah ada.
Hal ini membuat prihatin para pendukung Hasan bin Ali bin Abu Thalib, mereka sepakat untuk kembali menyatakan cucu Nabi Saw ini selaku seorang Imam atau pemimpin mereka.
Orang-orang ini diantaranya Hajar bin Adi, Adi bin Hatim, Musayyab bin Nujbah, Malik bin Dhamrah, Basyir al-Hamdan dan Sulaiman bin Sharat.

Akan tetapi selang tak lama, putera pertama dari Fatimah az-Azzahrah ini wafat karena diracun, lama masa pemerintahan Khalifah Hasan ini 6 bulan lebih 1 hari.
Kekejaman dinasti Bani Umayyah terhadap Bani Hasyim keturunan Nabi Muhammad Saw terus berlanjut sampai pada masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah bin Abu Sofyan yang melakukan pembantaian besar-besaran atas diri Husain sekeluarga dan para pengikutnya dipadang Karbala pada hari Asyura.

Kepala Husain yang mulia telah dipenggal, wanita dan anak-anak di-injak-injak, wanita hamil serta orang tua pun tidak luput dari pembunuhan kejam itu.
Seluruh keturunan Nabi Muhammad Saw melalui Ali bin Abu Thalib terus dicaci maki meskipun tubuh mereka telah bersimbah darah merah, semerah matahari senja yang meninggalkan cahaya ke-emasannya untuk berganti pada kegelapan.

Kekejaman Yazid dalam membunuh Husain, menyembelih anak-anak dan pembantu-pembantunya, begitu pula memberi aib kepada wanita-wanitanya, ditambah dalam tahun ke-2 memperkosa kota Madinah yang suci serta membunuh ribuan penduduknya, tidak kurang dari 700 orang dari Muhajirin dan Anshar sahabat-sahabat besar Nabi yang masih hidup.

Marilah sekarang kita berpikir secara objektif, apakah perbuatan ini dianggap baik oleh orang yang mengaku mencintai Nabinya dan senantiasa bersholawat kepada beliau dan keluarganya dalam setiap sholat ?
Masihkah kita berpikir jahat terhadap orang yang mencintai dan mengasihi ahli Bait sementara kita sendiri justru berusaha untuk membela orang-orang yang justru telah secara nyata melakukan pembasmian terhadap keluarga Nabi Muhammad Saw ?

Permusuhan Muawiyyah bin Abu Sofyan terhadap Bani Hasyim terus menurun kepada generasi sesudahnya seperti Yazid bin Muawiyah, Marwan, Abdul Malik dan Walid, barulah pada pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz keadaan berubah.

Sekalipun Umar bin Abdul Aziz berasal dari klan Bani Umayyah sebagaimana juga pendahulunya, namun beliau bukan orang yang zalim, seluruh penghinaan terhadap keluarga Nabi dilarangnya, sebaliknya beliau membersihkan nama dan sangat menghormati para ahli Bait.

Sebagai tambahan catatan, dendam lama antara Bani Umayyah terhadap Bani Hasyim pernah secara nyata dilakukan pada jaman Nabi Muhammad Saw masih hidup, yaitu manakala Hindun istri Abu Sofyan (orang tua dari Muawiyah) melakukan permusuhan terhadap Rasul dan bahkan ia juga yang membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib secara licik dalam peperangan Uhud lalu tanpa prikemanusiaan mencincang tubuh paman Nabi itu lalu mengunyah hatinya dimedan perang.

Namun pembalasan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad Saw ketika berhasil menguasai seluruh kota Mekkah pada hari Fath Mekkah ?
Seluruh kejahatan Abu Sofyan dan Hindun justru dimaafkan begitu saja oleh Nabi dan rumah Abu Sofyan dinyatakan sebagai tempat yang aman bagi semua orang sebagaimana juga Masjidil Haram dinyatakan bersih dan terjamin keselamatan orang-orang yang berada disana.

Sungguh bertolak belakang sekali perlakuan generasi Bani Hasyim dibanding perlakukan Bani Umayyah terhadap sisa-sisa Bani Hasyim dari keturunan Nabi.
Jika keagungan tujuan, kesempitan sarana dan hasil yang menakjubkan, adalah tiga kriteria kejeniusan manusia, siapa yang berani membandingkan manusia yang memiliki kebesaran didalam sejarah modern dengan Muhammad ?

Orang-orang paling terkenal menciptakan tentara, hukum dan kekaisaran semata.
Mereka mendirikan apa saja, tidak lebih dari kekuatan material yang acapkali hancur didepan mata mereka sendiri.
Nabi Muhammad Saw, Rasul Allah yang agung, penutup semua Nabi, tidak hanya menggerakkan bala tentara, rakyat dan dinasti, mengubah perundang-undangan, kekaisaran. Tetapi juga menggerakkan jutaan orang bahkan lebih dari itu, dia memindahkan altar-altar, agama-agama, ide-ide, keyakinan-keyakinan dan jiwa-jiwa.

Berdasarkan sebuah kitab, yang setiap ayatnya menjadi hukum, dia menciptakan kebangsaan beragama yang membaurkan bangsa-bangsa dari setiap jenis bahasa dan setiap ras.
Dalam diri Muhammad, dunia telah menyaksikan fenomena yang paling jarang diatas bumi ini, seorang yang miskin, berjuang tanpa fasilitas, tidak goyah oleh kerasnya ulah para pendosa.
Dia bukan seorang yang jahat, dia keturunan baik-baik, keluarganya merupakan keluarga yang terhormat dalam pandangan penduduk Mekkah kala itu. Namun dia meninggalkan semua kehormatan tersebut dan lebih memilih untuk berjuang, mengalami sakit dan derita, panasnya matahari dan dinginnya malam hari ditengah gurun pasir hanya untuk menghambakan dirinya demi Tuhannya. Dia lebih baik dari apa yang semestinya terjadi pada seseorang seperti dia.

Mari kita semua berpikir objektif dan mengedepankan kejujuran … sekali lagi, jika dengan mencintai keluarga Nabi maka seseorang disebut sebagai Syiah, maka saya adalah Syi’ah … tetapi apakah Syi’ah dalam arti aliran keagamaan ? – Tidak – Islam yang saya yakini bukan Islam yang disekat oleh aliran dan madzhab.

Semoga bermanfaat dan lebih obyektif …
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.” -QS. Al-Ma’idah 5:8

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125

Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa’ : 63


Salamun ‘ala manittaba al Huda

ARMANSYAH (Palembang)
Penulis buku Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih, Jejak Nabi Palsu, Ramalan Imam Mahdi dan Misteri Kecerdasan Syahadat
Pendiri Milis_Iqra@googlegroups.com
Beberapa ebooknya bisa didownload di http://www.pakdenono.com/ebook_islam/ebookislam.htm
Arsip tulisan dan diskusi bisa diakses di https://arsiparmansyah.wordpress.com

Telisik akidah : Keep my finger cross and peace, man …. !

Telisik akidah : Keep my finger cross and peace, man …. !
Oleh : Armansyah

Tulisan ini mestinya sudah dibuat beberapa waktu yang lalu sekaitan dengan merebaknya berbagai fenomena anomali para remaja Indonesia, khususnya generasi muda Muslim yang sudah terjebak dalam segala hal yang berbau barat dan eropa atau dalam bahasa sederhananya terintervensi secara global dengan kilau istilah internasional disetiap lini kehidupan mereka. Sayang padatnya kesibukan saya sebagai seorang pendidik dan sekaligus seorang ayah yang baru kembali mendapat amanah momongan ke-3 dari Allah membuat tulisan ini terus tergerus waktu hingga sempat ditulis dan dipublikasikan sekarang.

Saya disini tentu saja bukan orang yang anti dengan peradaban barat dan hal-hal lain yang berkaitan dengannya, apalagi latar belakang saya sebagai seorang sarjana dibidang komputer justru menuntut saya untuk banyak mempelajari literatur yang berasal dari negeri berteknologi maju seperti Amerika, Inggris, Prancis Jepang dan lain sebagainya. Lebih tidak mungkin lagi bila ditinjau dari sudut kemusliman saya yang harus bersifat open minded dan obyektif dalam melihat kehidupan ini.  Namun sebagaimana yang sudah jamak sekali diketahui oleh umum, bila tidak semua yang bersifat kebarat-baratan harus dicontoh dan diterima begitu saja oleh kita. Ada banyak hal negatif datang dari barat yang justru wajib untuk kita hindari dan selisihi karena bertentangan dengan norma agama maupun budaya kepatutan kita sebagai masyarakat timur, lebih-lebih umat Islam.

Misalnya seperti budaya hidup bersama tanpa ikatan nikah, pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan, model pakaian yang mengumbar aurat, menyamakan semua agama, makanan instan atau siap saji, gila kerja tanpa kenal batas waktu, mengejar harta dan kedudukan dengan berbagai cara, menolak untuk memiliki anak dan keluarga, tidak mengindahkan sisi-sisi kehormatan isteri terhadap suami dan hak suami terhadap istri, pengucapan selamat natal dan lain sebagainya.

Sudah puluhan buku maupun artikel ditulis menyangkut hal-hal diatas baik yang dipublikasikan dalam bentuk berbayar atau juga gratis dengan format e-book yang bisa didownload dari sejumlah situs di internet. Oleh karena itu saya tidak akan membahasnya secara berulang-ulang kecuali memang dibutuhkan untuk melakukannya.

Disini saya hanya akan menyoroti 2 fenomena istilah dan perbuatan yang juga berasal dari barat … Keep my finger cross dan Peace Man … !

Istilah ini hampir semua dari kita tahu dan mungkin justru termasuk dari mereka yang menyerukannya … tetapi apakah kita tahu dan sadar apa maksudnya dan bagaimana datangnya istilah ini ? apakah sebatas istilah tanpa arti atau justru menyelisihi akidah yang kita anut dan imani sebagai seorang muslim ?

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada engkau sebelum kamu mengikuti “millah” mereka. Katakanlah:”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. 2:120)

Sahabat, saudaraku seakidah didalam Islam …

Istilah Keep my finger cross sembari menyilangkan jari-jari tangan adalah sebuah bentuk  aksi saat kita bermaksud untuk menyatakan bahwa kita akan menyimpan suatu komitmen dengan baik [termasuk misalnya kita berjanji untuk menjaga rahasia dan seterusnya].  Pertanyaannya adalah kenapa harus disilangkan atau menggunakan istilah cross ?

Kata ‘cross’ bisa berarti juga kayu salib atau palang, yaitu kayu dibentuk menyerupai tanda tambah didalam matematika yang ditujukan sebagai salah satu bentuk hukuman sebagaimana yang pernah dikenakan oleh bangsa Yahudi dengan bantuan tentara Romawi untuk menghukum mati Yesus alias Nabi Isa al-Masih pada jamannya. Masing-masing kedua tangan beliau a.s. dipaku pada sisi-sisi kayu horizontal  yang memang sudah disiapkan sementara kedua kakinya disatukan dan dipaku pada kayu yang dipasang secara vertikal. Menurut keyakinan umat Kristen, disanalah Nabi Isa menemui ajalnya untuk kemudian hidup lagi dihari ke-3 dan 40 hari kemudiannya naik kelangit dan bersatu dengan Tuhan diatas tahtanya.

Simbol salib kemudiannya dipergunakan oleh masyarakat kristiani sebagai lambang keagamaan mereka dan akidah mereka terhadap Nabi Isa yang mereka sebut sebagai anak tuhan. Simbol ini diletakkan sebagai icon digereja atau juga rosario dikalung dan lain sebagainya. Simbol kayu palang dipergunakan juga dalam peperangan mereka melawan tentara Islam seperti dalam perang salib.

Kayu palang yang sama juga menjadi icon dari bentuk bantuan kecelakaan yang dikenal dengan istilah Palang Merah atau Red Cross.
Kenapa harus palang dan bukan yang lainnya ? Tidak lain karena mereka memang ingin menyusupkan makna kekristianian mereka didalam banyak bentuk kehidupan.

Itulah kenapa akhirnya umat Islam lalu menolak simbol Palang Merah dan diganti dengan bulan sabit merah.
Ini kronologisnya … kemudian kita akan paham bahwa makna dari istilah Keep My finger cross yang sesungguhnya adalah kita akan menjaga komitmen kita dibawah hukum kristiani atau dibawah nama yesus sebagai Tuhan !

Innalillahi … kita tidak menyadarinya bukan ?

Jadi berhentilah kita melakukan hal demikian sesudah mengetahuinya …

Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim. (Qs. 2 al-Baqarah: 145)

Hal kedua menyangkut penggunaan istilah Peace (baca: piiss) sembari mengacungkan dua jari tangan (telunjuk dan tengah) sebagai simbol perdamaian … lihatlah dibanyak foto yang tersebar, beredaran orang berpose dengan gaya tersebut sambil senyum.

Kenapa harus dua jari ? kenapa tidak satu ?
Apa maksudnya ?

Kembali lagi kita pada akidah kekristenan, seperti yang kita ketahui bahwa mereka mengakui adanya 3 oknum ketuhanan yang mesti mereka imani.
Yaitu Tuhan Bapa, Tuhan anak (yesus/Nabi Isa) dan Tuhan Roh Kudus (the Holy Ghost).

Doktrin gereja mengenai kedatangan tuhan dalam wujud anak dipercaya sebagai bentuk perdamaian dari Tuhan pada manusia atas dosa-dosa nenek moyang mereka dimasa silam yang telah melanggar perjanjian dengan Tuhan ditaman Eden, mereka adalah Adam dan Eva (Hawa).

Yesus sendiri merupakan oknum kedua dari ketuhanan tersebut, itulah kenapa simbol dua digunakan pada waktu kita mengatakan peace …. artinya apa ?
Sama seperti yang pertama ….

kita akan menjaga dan berdamai dibawah hukum kristiani atau dibawah nama yesus sebagai oknum Tuhan ke-2 !
Subhanallah.,

Rasulullah Muhammad Saw sudah mengingatkan akan hal ini pada kita … dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Kalian sungguh-sungguh akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai seandainya mereka masuk ke lubang dhabb [1], niscaya kalian akan masuk pula ke dalamnya. Kami tanyakan: “Wahai Rasulullah, apakah mereka yang dimaksud itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau berkata: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Ahaditsul Anbiya, bab Ma Dzukira ‘an Bani Israil (no. 3456) dan Kitab Al-I‘tisham bil Kitab was Sunnah, bab Qaulin Nabi r “Latattabi‘unna sanana man kana qablakum” (no. 7320) dan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-‘Ilmi (no. 2669) dan diberi judul bab oleh Al-Imam An-Nawawi dalam kitab syarahnya terhadap Shahih Muslim, bab Ittiba‘u Sananil Yahudi wan Nashara).

Semoga tulisan saya ini bisa bermanfaat bagi umat Islam dan menyepakati apa yang dimaksud oleh Rasulullah berikut :

“Akan terus menerus ada sekelompok dari umatku yang mendzahirkan al haq, tidak bermudharat bagi mereka orang yang menyelisihi mereka hingga datang perkara Allah tabaraka wa ta’ala sementara mereka dalam keadaan demikian.” (HR. Al-Bukhari no.7459 dan Muslim no. 1920)

Renungan Ujian Nasional


Renungan Ujian Nasional
Oleh : Armansyah

UN (aliasnya Ujian Nasional dan bukannya United Ngation 🙂 baru saja digelar dan hasilnya seperti yang dilansir oleh Harian Umum Kompas dari 1.522.162 peserta ujian nasional tingkat sekolah menengah atas dan madrasah aliyah, sebanyak 154.079 siswa di antaranya, atau sekitar 10,12 persen tidak lulus.  [Baca : http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/24/04250288/154.079.siswa.tidak.lulus.un.]

Masih menurut Kompas, jumlah daerah paling banyak siswa yang tidak lulus dan harus mengikuti ujian  nasional ulangan adalah daerah Istimewa Yogyakarta (23,7 persen), Kalimantan Tengah (39 persen), Kalimantan Timur (30,53 persen), Nusa Tenggara Timur (52,8 persen), dan Gorontalo (46,22 persen). Adapun persentase siswa yang paling banyak lulus ada di Bali (97,18 persen), Jawa Barat (97,03 persen), Jawa Timur (96,69 persen), dan Sumatera Utara (95,85 persen).

Sementara itu, pelaksanaan dari Ujian Nasional sendiri dari awal sudah menuai kontroversi dikalangan pemerintah maupun masyarakat. Mahkamah Agung dalam Perkara No. 2596 K/Pdt/2008 tanggal 14/09/2009 memutuskan, menolak permohonan kasasi pemerintah terkait dengan pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Dengan kata lainnya, UN tidak boleh diselenggarakan. Dan status hukumnya adalah in kracht van gewijsde (mempunyai kekuatan hukum tetap). Tetapi fakta dilapangan, Departemen Pendidikan melalui Menteri Pendidikan Nasionalnya sendiri justru mengambil sikap berseberangan dengan Mahkamah Agung. Ujian Nasional masih terus digelar.

Akibatnya bisa ditebak seperti tahun-tahun sebelumnya, berita tentang lulus dan tidak lulus seusai pelaksanaan UN tersebut langsung memenuhi hampir seluruh surat kabar, situs web hingga statius televisi dan beragam bentuk media penyampai informasi lainnya.

Saya tidak akan lebih jauh lagi memasuki polemik yang ada diantara pemerintah sendiri melalui Departemen Pendidikan dan Mahkamah Agung, bukan karena saya tidak perduli dengan dunia pendidikan ataupun penegakan hukum, namun karena memang tulisan ini tidak dikhususkan untuk berkonsentrasi pada pembahasan mengenai hal itu. Saya akan menyoroti kondisi para siswa paska pengumuman Ujian Nasional itu sendiri, baik mereka yang dinyatakan lulus maupun tidak.

Sebagai seorang pemerhati masalah sosial, penulis buku dan sekaligus juga pendidik, saya agak miris melihat mental dari generasi muda sekarang ini. Bagaimana tidak, didaerah Wonogiri seorang siswa salah satu SMA swasta mencoba bunuh diri dengan menenggak pengharum ruangan gara-gara ia tidak lulus Ujian Nasional.  Nun jauh di Nusa Tenggara Barat, ada ratusan siswa SMK mengamuk dan menghancurkan sekolahnya sendiri dengan melempar batu karena hal yang sama. Masih ada banyak lagi contoh kasus yang serupa diberbagai tempat diseluruh Indonesia.

Tingkah laku mereka yang lulus juga sering kebablasan, baju yang tadinya putih bersih dan sangat layak untuk dipakai justru dicoret sana-sini bahkan disemprot dengan cat. Seolah tidak puas dengan hal itu, banyak siswa kemudian turun kejalan dan melakukan konvoi kendaraan dijalan. Menimbulkan kemacetan serta hal-hal menakutkan lainnya bagi pengguna jalan raya diluar mereka.

Pertanyaannya, apakah ini hasil dari proses pendidikan, saya ulangi lagi, pendidikan (dengan penekanan kuat diunsur mendidiknya) terutama yang menyangkut moral-akhlak dan agama selama mereka sekolah dari tahun ketahunnya ?

Pendidikan tidak hanya terletak pada tanggung jawab para guru disekolah namun juga para orang tua dan masyarakat secara umum. Saya rasa kita semua terlibat dan ikut bertanggung jawab dalam hal “mendidik” generasi masa depan ini.

Apabila kemudian generasi masa depan kita ini melakukan hal-hal yang tidak patut maka kitalah yang pertama harus introspeksi diri atas kegagalan kita mendidik mereka. Kita sudah gagal mendidik mereka sebagai seorang guru, seorang da’i dan lebih lagi sebagai orang tua kandung mereka. Kita juga sudah gagal mendidik mereka sebagai bagian dari sebuah komunitas masyarakat Indonesia yang konon jaman dahulu kala terkenal dengan kesantunan dan adatnya yang sangat sopan.

Kita melarang mereka merokok tetapi nyatanya berapa banyak dari kita sendiri yang justru merokok ?

kita mewajibkan mereka buat sholat, taat pada nilai-nilai dan syariat agama tetapi berapa banyak dari kita yang justru tidak pernah sholat, jarang sholat, jarang puasa dan malah kerjanya korupsi, menonton tayangan sinetron yang nyaris selalu mengumbar aurat ? Kita sibuk bicara soal hinanya para penzina tetapi banyak dari kita sendiri yang berselingkuh dan menebar perzinaan ? Kita sendiri kadang selaku aparat telah “memberi izin” para bule dan orang-orang yang tidak paham tata krama untuk bertelanjang ria dipantai-pantai dan tempat renang, kita tidak mengindahkan lagi aturan moral dan agama. Kita biarkan praktek permesuman merajalela dinegeri ini. Saat MK menolak UU penodaan agama dibatalkan orang pada ribut dengan dalih HAM dan sebagainya, begitupun saat Menteri Dalam Negeri mengatakan bahwa para penzina dilarang untuk mencalonkan diri sebagai Kepala Daerah.

Salah satu akibatnya, mari kita lihat apa pengakuan sutradara film “Cowboys in Paradise” yang menjadi latar belakang pembuatan film tersebut. Ide ini bermula ketika dirinya bertemu dengan seorang bocah berusia 12 tahun di pantai Kuta Bali. Si bocah mendesaknya untuk mengajarinya bahasa Jepang. “Ketika saya dewasa, saya ingin menjadi gigolo bagi perempuan Jepang. Bocah itu menjawab dengan riang gembira,”. [Lihat : http://www.tempointeraktif.com/hg/film/2010/04/26/brk,20100426-243334,id.html]

MasyaAllah …

Padahal al-Qur’an sudah berkata : Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS. 61 Ash-Shaaf :3) | Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu (QS. 66 At-Tahriim :6)

Masih banyak sebenarnya yang ingin saya tulis disini, tetapi ah … apakah ada efeknya ? apakah anda tidak sekedar membaca sekilas lalu mendelete bacaan ini serta mengun-install secara penuh dari pikiran anda sehingga next time, next year kejadian-kejadian ini masih akan terus terjadi dan terulang.

Sudahlah, anggap ini sebagai sentuhan kecil untuk bahan introspeksi diri saya sendiri … jika memang berguna maka manfaatkanlah apa yang bisa dilakukan untuk pendidikan anak-anak kita diwaktu berikutnya.

Kebenaran itu datang dari Allah …
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan. (QS. 31 Luqman:17)


Salamun ‘ala manittaba al Huda

ARMANSYAH

Tanggapan pending dari pengasuh www.isadanislam.com

Berikut adalah tanggapan untuk menunda jawaban email saya dari pengasuh situs http://www.isadanislam.com ;

———- Forwarded message ———-
From: Masukan <Masukan@idionline.info>
Date: 2010/4/27
Subject: RE: Konfirmasi :::::
To: Armansyah

Saudara Armansyah,
Kami sudah menerima email saudara beberapa hari yang lalu, tetapi karena ada deadline yang harus kami lakukan dan juga begitu banyak email yang masuk kepada kami, jadi maaf, kami belum bisa menjawab email saudara sekarang. Tetapi secepatnya kami akan membalasnya.
Wassalam,
Saodah
Facebook: Isa dan Islam Indonesia


From: Armansyah
Sent: Sun 4/25/2010 9:43 PM
To: Masukan

Subject: Konfirmasi :::::

Salamun ‘ala manittaba al Huda.,

Untuk melihat artikel terkait silahkan klik ini : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2010/04/26/menunggu-jawaban-dari-httpwww-isadanislam-com/ dan ini https://arsiparmansyah.wordpress.com/2010/04/21/undangan-dialog-buat-situs-isa-dan-islam-dot-com/ serta ini https://arsiparmansyah.wordpress.com/2010/04/22/jawaban-tanggapan-balik-u-www-isadanislam-com/

Semoga bisa bermanfaat untuk kita semua, khususnya umat Islam dalam memperkuat akidah kita.

Menunggu jawaban dari http://www.isadanislam.com

Setelah beberapa hari sejak saya menanggapi email dari pengasuh situs http://www.isadanislam.com yang menawarkan diri sebagai tempat “konsultasi/konseling” atau kursus mengenai agama Islam-Kristen khususnya yang berkaitan dengan apa yang mereka sebut sebagai “misteri Isa al-Masih”, tidak juga ada tanggapan balik dari mereka (terhitung sejak email terakhir saya tanggal 22/04/2010 sampai 26/04/2010) maka saya kembali mengirimkan konfirmasi kepada mereka.

———- Forwarded message ———-
From: Armansyah
Date: 2010/4/26
Subject: Konfirmasi :::::
To: Masukan
Cc: “Milis_Iqra@googlegroups.com” <milis_iqra@googlegroups.com>

Salamun ‘ala manittaba al Huda.,

Dear pengasuh situs www.isadanislam.com yth.,

Bersama email ini, saya ingin menanyakan kembali perihal tanggapan balik saya kepada anda sekaitan dengan Isa al-Masih yang baru lalu. Karena sampai hari ini, saya masih belum menerima jawaban dari anda atas tanggapan saya tersebut.

Saya hanya bermaksud untuk konfirmasi saja bila posting tersebut sudah diterima dan sedang dalam proses pembahasan disana, saya yakin anda pastinya sedang banyak sekali urusan penting sehingga email saya –mungkin– sementara ini ditangguhkan dulu. Tetapi agar saya lebih yakin bahwa email tersebut sampai dan diterima maka ada baiknya saya kirimkan ulang.

Seperti biasa, email ini saya cc ke milis_iqra@googlegroups.com dan saya tayangkan diblog saya yang ada di wordpress.com

———- Forwarded message ———-
From: Armansyah
Date: 2010/4/22
Subject: Re: Salam kenal
To: Masukan <Masukan@idionline.info>
Cc: “Milis_Iqra@googlegroups.com” <milis_iqra@googlegroups.com>

Terimakasih atas jawabannya, berikut ada beberapa point yang saya coba runut dan pertanyakan ulang.
Saya harap anda tidak keberatan …

|—————————————————————–|

[ Untuk selanjutnya, bagi pengunjung https://arsiparmansyah.wordpress.com silahkan klik disini untuk melihat isinya …, dengan pertimbangan penghematan bandwith maka saya mencukupkan pada posting yang sebelumnya]

Inilah screenshot dari website isadanislam.com yang mengklaim diri sebagai tempat himpunan orang-orang ahli dalam bidang Isa al-Masih dan Islam serta kaitannya dengan alkitab

Sayangnya mereka tidak mau diajak dialog terbuka dan sama sekali menutup jati diri mereka, silahkan klik link ini untuk melihat pernyataan mereka mengenai ini


%d bloggers like this: